Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 139 - Alasan Membunuh



Setengah jam kemudian, Arya tampak masih terjaga ketika dia memeluk Lucy. Dia menatap kekasihnya yang sedang tertidur itu dengan senyum bahagia.


Ketika sedang menikmati wajah cantik Lucy, Arya tiba-tiba mendengar suara langkah kaki mendekat. Meski dia di dalam kamar, namun instingnya sebagai seorang pembunuh bisa mendengar suara kecil sekalipun.


Namun, di rumah ini hanya ada dia, Lucy dan David. Jika ada yang datang mendekat, maka itu kemungkinan besar adalah David.


Benar saja, tidak lama kemudian pintu diketuk dan suara David terdengar.


"Arya, Lucy, kalian sudah tidur?"


"Belum, Kak. Apakah ada masalah?" Tanya Arya dari dalam kamar, tidak berniat bangkit dan tetap memeluk Lucy.


"Begitu, aku masuk, ya. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Kemudian, pintu terbuka dan sosok David terlihat. Dia kemudian duduk di tepi kasur, memunggungi Arya.


Arya sedikit mengerutkan dahinya karena David datang di tengah malam. Namun, dia mengabaikan pemikirannya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku, Kak?" Tanya Arya, duduk dan bersandar di kepala ranjang, menatap punggung David.


"Tidak banyak, Arya. Tidak banyak. Hanya beberapa hal tentang dirimu yang sekarang." David tidak menoleh ke Arya. Dia menghela napas dengan berat.


"Tentang diriku? Apa ada yang salah denganku, Kak?"


"Jika kamu berkata seperti... Ya, kamu salah dalam banyak hal."


"Oh, bisakah kamu memberitahu apa saja kesalahanku itu, Kak?"


"Pertama, kesalahanmu adalah dirimu yang menjadi seorang pembunuh. Aku sebenarnya heran denganmu. Kenapa kamu menjadi pembunuh, karena masalah yang kamu hadapi dulu? Apa sebenarnya alasanmu menjadi seorang pembunuh? Arya, bisakah kamu berhenti membunuh?"


Rentetan pertanyaan David mengejutkan Arya. Dia bisa mendengar nada dingin dan kesal datang dari David.


"Kamu bilang alasanmu membunuh adalah karena kamu tidak terima karena ayahmu menelantarkanmu dan ibumu serta Andhika. Kamu juga bilang jika para tetanggamu di kota Bern menyebarkan rumor buruk tentang ibumu dan kamu tidak terima hal itu. Aku paham jika kamu tidak terima, tapi kenapa kamu harus membunuh mereka semua? Tidak bisakah kamu menyelesaikan semua masalah itu dengan damai?"


"Arya, aku tahu kamu tertekan dan mengalami stres karena semua yang kamu alami dulu, tapi sekarang semua sudah berubah. Kamu dulu mengalami kesulitan ekonomi dan menderita karena orang tuamu bertengkar terus-menerus. Tapi sekarang, kamu memiliki toko rotimu dan bisa menghasilkan banyak uang. Ayah dan ibumu sudah bercerai dan tidak pernah bertengkar lagi, bahkan kamu sudah menyiksa ayahmu. Jadi, kenapa kamu masih membunuh sampai sekarang? Seharusnya kamu berhenti membunuh!"


Suara David terdengar, terkadang dingin, terkadang gemetar dan sesekali menyesal.


Arya yang mendengar semua ocehan David terkejut dan terdiam. Dia tidak menyangka jika kakaknya akan mengatakan semua itu padanya.


Mengerutkan dahinya, ekspresi berpikir terlukis di wajah Arya.


'Apa yang dikatakan Kakak... Bukankah itu ada benarnya? Kenapa aku masih membunuh banyak orang sampai sekarang? Kenapa aku membunuh banyak orang? Alasanku membunuh adalah karena Vicky dan para tetangga di kota Bern. Aku sangat membenci Vicky dan mereka yang menyebarkan rumor tentang ibuku. Aku ingin membunuh mereka semua agar rumor mereda. Itu semua alasan yang masuk akal. Namun, apa alasanku membunuh orang-orang yang bukan targetku? Mengapa aku membunuh mereka semua? Mengapa aku bukannya membunuh para tetangga di kota Bern dan malah membunuh orang-orang yang menyinggungku di kota Century? Apa alasanku yang sebenarnya?'


Untuk sesaat, Arya kehilangan alasannya untuk membunuh. Apa yang dikatakan David benar-benar membuatnya terdiam.


Alasan mengapa dia membunuh adalah karena Vicky dan para tetangga di kota Bern. Namun, seiring berjalannya waktu, dia jadi melupakan tujuannya dan malah membunuh orang-orang yang sudah menyinggungnya di kota Century.


"Arya, kenapa kau diam saja? Jangan bilang padaku kamu membunuh tanpa alasan!"


David yang sedari tadi memunggungi Arya akhirnya menoleh pada Arya dan memberikan tatapan tajam.


Setelah jeda, Arya tiba-tiba menyeringai sambil tertawa kecil. Dia menatap David kemudian berkata.


"Alasan? Kamu bertanya padaku alasanku membunuh? Bukankah itu sudah jelas, Kak? Aku membunuh karena mereka berani menyentuh orang yang kusayangi. Berani macam-macam dengan orang yang kusayangi, maka sama saja dengan mencari kematian."


Arya berkata dengan santai saat bibirnya dipenuhi seringai yang terlihat mengerikan di mata David.


Merasa apa yang dia katakan sepertinya tidak ditanggapi serius oleh Arya, David menghela napas panjang dan kasar. Dia menatap Arya dengan serius cukup lama.


"Lakukan sesukamu, Arya. Aku sudah menasehatimu. Aku hanya berharap jika kamu suatu saat berhenti membunuh. Ingat, membunuh bukankah hal baik. Jaga rahasiamu sebagai seorang pembunuh dan jangan biarkan mama mengetahuinya, atau kamu hanya akan menyakiti hatinya."


David bangkit, mengelus kepala Arya sejenak dan pergi meninggalkan kamar Lucy.


*****


Sekitar jam sepuluh pagi, pada akhir pekan.


Arya dan Lucy terlihat sedang asik menonton TV di ruang TV. Akhir pekan ini cukup menyenangkan, karena David tiba-tiba mendapat panggilan dari bosnya di kantor tempatnya bekerja dan baru akan kemn ke rumah sore paling lambat.


"Um~! Ini sangat lezat!"


Lucy yang tengah memakan sepiring stoberi itu berkata dengan ekspresi gembira.


Arya yang mendengarnya menatapnya, tersenyum tipis. Dia ikut gembira jika melihat kekasihnya gembira.


Akhir-akhir ini, Lucy jadi sering memakan buah stroberi dan sepertinya dia sedang kecanduan dengan rasanya, sehingga selalu memakannya selama dua atau tiga hari ini.


Lucy sendiri sangat menikmati buah stroberinya. Rasa masam dan manis bercampur dalam mulutnya dan itu terasa menyegarkan baginya. Apalagi jika stroberi itu dimasukkan ke dalam kulkas lebih dulu sebelum disantap.


Melihat betapa Lucy menikmati stroberi itu, Arya jadi ingin memakannya juga. Dia agak penasaran, sebab menurutnya sendiri, stroberi merupakan buah yang masam.


"Lucy, aku minta stroberinya satu." Kata Arya, mengulurkan tangannya.


Lucy menatap tangan Arya lalu ke piring stroberi miliknya, mengetahui jika buah stroberi yang tersisa hanya dua lusin dan itu sepertinya tidak cukup untuknya hari ini.


"Tidak boleh! Kalau kamu mau, beli sendiri sana!"


Lucy segera memunggungi Arya, mencambuk rambutnya dan kalung semanggi berdaun empat di lehernya bergoyang.


Arya berkedut mendengarnya.


"Huh, tidak mau berbagi meski yang membelikan stroberi itu adalah aku? Pelit!"


Arya mencibir, buang muka. Dia agak tidak senang karena Lucy tidak mau berbagi, padahal stroberi yang sedang dimakan gadis itu dibeli menggunakan uangnya.


Seakan mengabaikan Arya, Lucy terus mengunyah stroberi miliknya dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, menunjukkan ekspresi gembira.


Ketika sedang asik mengunyah, Lucy tiba-tiba mendapat sebuah ide dan dia berpikir sejenak tentang idenya itu sebelum berbalik, menatap Arya yang cemberut itu.


"Arya, kamu mau stroberi?" Tanya Lucy, matanya berkedip dengan nakal.