
"Sial, ke mana perginya Lery?"
Tommy berkata dengan kesal. Dia sudah sangat ingin memainkan tubuh Lucy, namun Lery sebagai bos tak kunjung kembali setelah sekian lama.
William hanya diam mendengar nada kesal Tommy. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Lucy, yang duduk berlutut dengan kaki terikat, menangis tersedu-sedu. Tatapannya penuh minat saat dia memperhatikan tubuh Lucy dari atas sampai bawah.
Menjilat bibirnya, William berkata dengan nada vulgarnya.
"Tommy, kenapa kita tidak mulai saja?"
"Ide bagus, mari kita mulai."
Tommy menoleh, mengangguk setuju atas saran William.
Mendekati Lucy, keduanya memperlihatkan senyum vulgar.
Lucy menjadi semakin takut. Air matanya semakin deras dan tubuhnya gemetar hebat.
'Arya...'
Wajah Arya melintas di benak Lucy, berharap dia bisa melihat pemuda itu. Dia memiliki sedikit harapan jika Arya datang menyelamatkannya. Namun, mengingat Arya tidak ada di sini, harapannya sirna.
Memejamkan matanya, Lucy berharap semua ini hanya mimpi.
"Sial, kenapa kau ada di sini?!"
Sebuah teriakan terkejut terdengar.
"Aku datang untuk mengambil nyawamu. Apakah salah?"
Sebuah suara familiar terdengar. Nadanya dingin namun sedikit gemetar.
Lucu terkejut dan membuka matanya perlahan, melebarkan matanya ketika matanya melihat seorang yang sangat dia cintai datang dan muncul di saat-saat dibutuhkan.
"Arya..." Lucy berkata dengan lemah.
Dia menatap Arya dengan tatapan melankolis. Dia terkejut menyadari jika wajah Arya pucat dan dia berkeringat dingin. Lucy kemudian tanpa sengaja melihat tangan Arya sedang memegang dua belati. Salah satunya bahkan berlumur darah.
Lucy semakin terkejut, tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Lucy, tutup matamu. Jangan buka matamu, apapun yang kau dengar."
Arya berkata, menatap Lucy sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada dua lainnya.
Dengan ragu dan takut, Lucy menutup matanya.
"Brengsek! Kau benar-benar datang di saat yang tidak tepat!"
William berteriak frustasi, dibalas dengan tatapan dingin Arya.
"Kau ingin membunuhku? Kemari, mari kita lihat siapa yang akan mati!"
Tommy maju dengan tangan terkepal, namun dia segera membeku ketika melihat Arya mengangkat tangannya yang memegang belati. Dia segera pucat dan berbalik untuk melarikan diri.
Dia benar-benar tidak menyadari jika Arya membawa belati karena marah tadi.
"Kembali kau, bajingan!"
Arya mengejar Tommy, mengerahkan seluruh kekuatannya pada kakinya.
Tommy berdecak kesal dan dia berlari secepat yang dia bisa. Jika dia melambat dan tertangkap, maka dia yakin dirinya akan mati.
"Akh!"
Tommy mengeluarkan erangan ketika dia tersandung dan terjatuh.
Arya mempercepat langkah, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera menginjak punggung Tommy, lalu menusuknya menggunakan belatinya.
Tommy mengerang kesakitan dengan nada yang menyedihkan. Arya tidak berhenti dan terus-menerus menusuknya lusinan kali, hingga menciptakan lubang tak terhitung jumlahnya.
Darah yang dikeluarkan dari tubuh Tommy membasahi tanah, mengotori pakaian Arya dan tangannya penuh akan darah segar.
"Jangan mendekat! Akan kubunuh dia jika kau berani mendekat!"
William berteriak, mencekik leher Lucy.
Arya terkejut dan mematung di tempat. Dia tidak ingin salah dalam mengambil tindakan, jadi dia diam dan mengawasi William.
"Bagus! Sekarang, buang pisau itu! Jika tidak..."
"Akh!"
Lucy mengerang kesakitan saat lehernya dicekik lebih keras oleh William. Dia semakin memucat dan ekspresinya terlihat kesakitan.
Arya segera menurut dan membuang belatinya ke samping. Dia kemudian segera berlari secepatnya, menghampiri William.
William terkejut, menggertakkan giginya karena marah. Dia mencekik Lucy semakin kuat tapi itu tidak menghentikan Arya sama sekali.
Mendecakkan lidahnya, William melepaskan cekikannya dan melarikan diri.
Arya terus-menerus mengejar. Dia mengambil batu yang cukup besar dan melemparnya pada William, mengenai punggung William.
"Sialan, kau benar-benar membuatku marah!"
William meraung, sempat kehilangan keseimbangan karena batu yang dilempar Arya tadi.
Arya mempercepat langkahnya dan berhasil mengejar William saat dia kehilangan keseimbangan sesaat tadi.
Meraih kerah William, Arya menariknya dan kedua beradu pukulan untuk waktu yang lama dengan Arya sebagai pemenang karena berhasil menjatuhkan William.
Dia menjegal William dan memukulinya terus-menerus hingga William babak belur dan kehilangan kesadaran.
Arya yang terengah-engah setelah memukuli William perlahan mengambil belatinya kembali, menusuk jantung William beberapa kali.
Melihat sekeliling, Arya merasa mual dan muntah lagi. Dia baru saja membunuh tiga orang di waktu bersamaan. Dia kemudian berbaring di tanah dan menenangkan pikirannya. Dia benar-benar ketakutan saat ini, karena ini adalah pertama kalinya dia membunuh.
Setelah waktu yang tidak diketahui, Arya bangkit dan perhatiannya kini terfokus pada Lucy yang terikat itu.
"Lucy?"
Arya menghela napas lega melihat Lucy masih menutup matanya. Jika tidak, gadis ini pasti sudah berteriak kencang karena ketakutan.
"Arya...? A-apakah aku sudah boleh membuka mataku sekarang?" Suara Lucy gemetar, ketakutan.
"Tidak! Jangan buka matamu sebelum aku menyuruhmu!"
"Ba-baiklah..."
Lucy mengangguk dengan mata tertutup.
Kemudian, Arya membereskan tiga mayat Lery dan lainnya. Dia mengambil pakaian mereka dan menghancurkan wajah ketiganya, agar ketika mayat ini ditemukan polisi, maka pihak polisi akan kesulitan mengenali mereka.
*****
Setelah menyelamatkan Lucy dari Lery dan lainnya, Arya mengendarai motornya dengan pelan. Lucy yang duduk di belakangnya, memeluk erat dirinya saat dia gemetar ketakutan. Wajah keduanya pucat dan mata mereka menunjukkan ketakutan yang mendalam.
Lucy sendiri menangis ketika dia memeluk Arya. Dia tidak menyangka jika dirinya akan mengalami kejadian seperti ini. Dia juga takut pada Arya, karena dia sempat melihat Arya berkelahi dan membunuh Tommy dan William.
Terlebih lagi, pakaian Arya penuh dengan noda darah, jadi dia sangat yakin jika pemuda ini membunuh William dan lainnya.
Lucy benci ini, tapi dia berterima kasih pada Arya karena sudah menolongnya. Jika tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini.
Lucy sendiri khawatir jika Arya ditangkap polisi karena pembunuhan, dia ikut terlibat karena dia merupakan orang yang diselamatkan, meski bayarannya Arya harus membunuh tiga orang.
Tapi, Lucy mencoba berpikir positif dan tidak membiarkan dirinya memiliki pikiran negatif karena itu hanya membuatnya semakin takut dan gelisah.
Karena ini adalah pertama kalinya Arya membunuh, perasaannya campur aduk. Dia merasa bersalah, takut dan cemas. Dia takut dirinya ketahuan membunuh dan berakhir mendekam di penjara.
Selama perjalanan pulang, Arya berusaha menenangkan diri dengan berbagai macam cara. Dia terus-menerus bergumam, mengatakan beberapa kata penghibur untuk dirinya sendiri.
Arya sendiri merasa lebih tenang berkat pelukan erat dari Lucy. Pelukan itu begitu hangat dan penuh kenyamanan.