Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 154 - Permintaan Maaf Wanita Berambut Pirang



Melihat jika Arya benar penghuni kamar nomor 30, wanita berambut pirang itu menganga dan menatap Arya dengan ketidakpercayaan. Dia sangat yakin jika pemuda ini bukan penghuni kamar nomor 30. Selain itu, dia sudah di hotel ini selama beberapa hari tapi dia tidak pernah melihat Arya sebelumnya.


Perlahan, wajah wanita berambut pirang itu terasa panas dan akhirnya berubah jadi merah padam. Rasa malu memenuhi hatinya ketika dia ingin mencari lubang dan mengubur kepalanya di sana untuk menghilangkan rasa malunya.


Awalnya, dia mengira kalau Arya adalah seorang penguntit karena pemuda ini mengikutinya dari minimarket ditengah malam begini. Hal ini sempat membuatnya takut, makanya saat pulang dari minimarket tadi, dia mempercepat langkahnya karena takut dengan Arya.


Dia adalah seorang wanita muda, jadi berjalan seorang diri di malam hari dan diikuti seorang pria membuatnya merasa takut.


Menunduk, wajahnya benar-benar merah saat ini. Dia merasa sangat malu hingga tidak berani menatap Arya.


"Jadi, bagaimana? Apa kau sekarang sudah percaya, Nona?"


Arya bertanya, menunjukkan ekspresi mengejek.


Wanita tersebut tetap diam, bahunya bergetar ringan sebelum dia tiba-tiba menggertakkan giginya dan berlari melewati Arya, langsung memasuki kamar nomor 31 tanpa mengatakan apapun pada Arya.


Melihat itu, Arya terkejut dan wajahnya dipenuhi kedutan tanpa henti. Dia merasa sangat kesal saat ini. Dia dianggap sebagai penguntit oleh orang yang tak dia kenal. Bahkan setelah dia menjelaskan dan memberikan bukti yang kuat, wanita tadi tidak meminta maaf sama sekali dan malah meninggalkannya begitu saja.


"Biarlah, wanita memang makhluk yang sulit dimengerti. Jika tidak, bagaimana mungkin mereka disebut wanita?"


Arya menghela napas panjang, masuk ke dalam kamar hotelnya dan tidur.


*****


Memasuki kamar hotelnya, wanita berambut pirang tersebut langsung melemparkan diri ke kasur dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut, berguling-guling di sana hingga dia membentuk seperti kepompong.


"Apa yang baru saja aku lakukan?! Aku menuduh seseorang sebagai penguntit, yang di mana padahal dia adalah penghuni kamar sebelah?! Ah! Aku hanya membuat malu diriku sendiri!"


Wanita tersebut meringis dalam selimutnya, merasa sangat malu dan menyesal.


"Ugh, padahal aku baru liburan beberapa hari, tapi sudah membuat masalah. Aku datang ke kota Vant ini untuk liburan karena aku sedang bosan di Inggris. Tapi kenyataannya, aku malah membuat masalah. Bagaimana jika dia tahu siapa aku sebenarnya? Bukankah itu akan sangat memalukan diriku dan keluargaku? Aku harus minta maaf padanya besok..."


Wanita berambut pirang tersebut mengoceh panjang lebar, memutuskan untuk meminta maaf pada Arya esok harinya. Jika tidak, dia hanya akan merasa malu seumur hidup.


Esok harinya, ketika Arya membuka matanya dengan berat, dia segera duduk dan memegang dahinya, merasa agak pusing. Sepertinya itu disebabkan kurang tidur dan angin malam.


"Jam berapa ini?"


Arya menoleh ke arah jam di meja sebelah kasurnya, mengetahui jika saat ini sudah jam delapan pagi.


Arya tidak terlihat panik meski dia bangun lebih lambat padahal dirinya sedang study tour. Hari ini study tour dilakukan siang hari, makanya dia tetap santai.


Menguap, Arya masih mengantuk dan hendak tidur lagi, namun dia mengurungkan niatnya. Dia beranjak dari kasurnya dan mengambil handuk lalu mandi.


Setelah membersihkan diri, Arya duduk di sofa dan menonton TV.


Dia menikmati acara TV di pagi hari ini, namun tiba-tiba dia mengingat sesuatu dan wajahnya segera dipenuhi kedutan.


"Sial, wanita tadi malam benar-benar menyebalkan. Aku difitnah secara acak dan setelah memberi bukti, aku tidak mendapat permintaan maaf? Huh, dia hanya cantik tapi kepalanya kosong!"


Arya mengutuk wanita berambut pirang yang menuduhnya sebagai penguntit.


Dia sangat kesal dan setelah dia pikir kembali, dia berniat menuntut permintaan maaf dan tidak akan berhenti mengutuk wanita tersebut sebelum dia mendapat permintaan maafnya.


Tiba-tiba, ketika sedang menikmati kutukannya pada wanita berambut pirang itu, Arya mendengar suara ketukan pintu. Dia menoleh, agak heran.


"Siapa yang datang? Apakah itu Lucy? Dia punya kunci cadangannya, kenapa masih mengetuk? Apakah itu kepala sekolah?"


Arya bergumam, langsung berdiri dan membuka pintu kamar hotelnya, hanya untuk terkejut melihat orang yang mengetuk bukanlah orang yang dia pikirkan.


"Ha-halo, selamat pagi..."


Yang mengetuk ternyata adalah wanita berambut pirang tadi malam. Dia tersenyum canggung sambil melambaikan tangannya dengan kaku pada Arya.


Wajah Arya langsung berkedut dan perasaan kesal memenuhi hatinya.


Baru saja dibicarakan, sekarang wanita ini malah muncul di hadapannya. Jika dia datang hanya untuk mengolok-olok dan bukannya minta maaf, Arya pasti akan memakinya sekarang juga.


"Ya, ini tentang tadi malam..."


"Oh, ada apa? Apakah Anda masih ingin menuduh saya sebagai penguntit lagi?"


Arya segera menyela, nadanya penuh dengan sarkasme.


"Ti-tidak! Aku justru ingin minta maaf tentang yang tadi malam!"


Wanita tersebut memerah karena malu, melambaikan tangannya dengan panik. Sepertinya pemuda di hadapannya sangat kesal padanya.


Arya diam, agak terkejut. Namun karena wanita ini berniat meminta maaf padanya, setidaknya di dalam kepalanya masih terpasang otak yang bekerja dengan baik.


Menghela napas panjang, wanita berambut pirang berkata.


"Tentang yang tadi malam, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah menuduhmu sebagai penguntit dan ternyata, kamu adalah penghuni kamar sebelah. Aku tidak menyangka itu. Oleh karena itu, tolong terima permintaan maafku."


Wanita tersebut berkata dengan tulus, dia benar-benar menyesal.


Arya tersentuh mendengar permintaan maafnya. Semua rasa kesalnya hilang seketika. Kesan buruknya pada wanita ini juga telah berubah drastis.


"Tidak apa-apa, Nona. Semua hanya kesalahpahaman, mari anggap semua tidak pernah terjadi sebelumnya."


"Um, benar. Aku benar-benar menyesal karena menuduhmu seenaknya. Aku takut karena tadi malam tiba-tiba merasa diikuti seseorang sejak kembali ke minimarket, aku kira itu penguntit."


"Tidak masalah, Nona. Aku paham ketakutanmu. Bagaimanapun, berbahaya bagi seorang wanita berjalan seorang diri di malam hari."


Wanita tersebut mengangguk mendengarnya.


"Oh, ya. Apakah kamu sudah sarapan pagi? Jika belum, bagaimana jika keluar bersama? Aku yang traktir, anggap saja ini sebagai permintaan maafku tentang tadi malam."


Arya berpikir sejenak, lalu tersenyum dan dengan lembut menolak.


"Maaf, Nona. Sepertinya aku harus menolak ajakanmu. Aku akan keluar dengan kekasihku sebentar lagi."


"Benarkah itu? Luangkan waktumu sebentar saja. Jika aku tidak mentraktirmu, aku akan merasa menyesal seumur hidup."


Wanita tersebut memaksa, membuat Arya tidak tahu harus menangis atau tertawa. Dia sudah menolak, tapi sepertinya ucapannya diabaikan barusan.


"Maaf, Nona. Aku benar-benar tidak bisa. Mungkin lain kali saja."


Setelah melambaikan tangannya, Arya berbalik dan menutup pintu kamar hotelnya.


Namun, baru saja pintu itu tertutup, suara ketukan segera terdengar lagi.


Arya membuka pintu dan melihat jika wanita berambut pirang itu yang mengetuk. Dia memiliki ekspresi polos tanpa dosa saat matanya yang indah berbinar.


"Bagaimana? Mau pergi keluar bersamaku?"


"Nona, tidakkah kau dengar tolakanku tadi?"


"Ugh, aku dengar itu. Tapi bisakah kamu menemaniku sebentar? Aku sedang berlibur sendirian di kota ini dan aku tidak memiliki teman untuk diajak mengobrol bersama. Kebetulan sekali kita bertemu dan sepertinya kamu orang yang mudah diajak bicara, jadi tidak ada salahnya kita pergi keluar sebentar dan berkenalan."


Wanita tersebut berkata dengan nada sedih, dia menundukkan kepalanya seakan dia merajuk.


Arya terdiam, tidak tahu harus merespon seperti apa. Dia hadapannya bukanlah Lucy, jadi dia tidak perlu memikirkannya dan hanya perlu mengabaikannya. Namun, mengingat Lucy ingin berkenalan dengan wanita ini, sepertinya tidak ada salahnya pergi keluar sebentar dan berkenalan dengannya.


Dengan begitu, akan mudah untuknya mengenalkan wanita ini pada Lucy nantinya.


"Baiklah, hanya sebentar saja, oke?"


Arya menghela napas panjang.


Wanita tersebut segera mengangkat kepalanya dan matanya langsung berbinar cerah. Dia tersenyum manis.


"Ayo pergi!"