
Pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, Lylia mampir terlebih dahulu ke rumah Arya untuk memeriksa keadaan kekasihnya itu. Dia benar-benar cemas hingga kurang tidur tadi malam. Semuanya karena memikirkan keadaan Arya.
Namun, ketika tiba di sana, Erwin mengatakan jika Arya pergi tadi malam dan belum kembali pagi ini.
Erwin juga mengatakan jika dia tidak tahu ke mana Arya pergi, tapi dia yakin jika Arya pergi ke rumah Lucy, karena tidak ada lagi tempat bagi Arya pergi selain ke sana.
Lylia terkejut mendengar ini. Dia menggertakkan giginya dan segera menuju rumah Lucy. Kini, selain rasa cemas, dia juga merasa marah.
Ketika sampai di sana, Lylia mengetuk pintu dan segera dibukakan oleh David. Pria tersebut menyambutnya dengan sopan, tapi dia mengabaikannya.
Lylia segera masuk tanpa menunggu David menyuruhnya. Dia segera menuju kamar tempat Arya berbaring terakhir kali, namun dia tidak menemukannya di sana.
Lylia semakin marah, namun dia menahan diri. Dia menatap David yang tidak jauh darinya, berkata dengan senyuman yang menakutkan.
"Apakah kau tahu ke mana Arya? Jika tahu, katakan padaku. Jika tidak, jangan harap kau bisa hidup dengan tenang." Lylia mengancam.
David terdiam. Dia hanya berharap jika Arya tidak keluar dari kamar Lucy saat ini.
Bagaimanapun, Arya dan Lucy sepertinya tidur bersama tadi malam. David tentu tidak bisa mengatakan ini pada Lylia, karena takut membuat hubungan Arya dan Lylia memburuk. Dia juga takut Lylia mencari masalah dengan Lucy.
Berdeham, David mencoba mengatur nadanya agar terdengar menyakinkan.
"Jika kau mencari Arya, dia tidak ada di sini. Mungkin saja dia berada di rumahnya atau di sekolah." David serius.
"Baiklah, jika kau tidak tahu di mana Arya, maka aku ingin bertemu Lucy. Bisa tolong panggilkan Lucy?"
"Lucy masih tertidur dan dia sedang sakit. Jadi, tolong jangan menggangunya."
David masih menolak jujur. Dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengatakan kejujuran pada Lylia meski dia takut pada senyuman gadis ini.
Mendengar ini, Lylia menghela napas tanpa daya. Dia kemudian membuka tasnya, mencari sebentar sebelum mengeluarkan segepok uang berjumlah sekitar sepuluh juta dan melemparkannya pada David.
David yang terkejut menangkap uang itu dan melebarkan matanya. Dia menatap uang di tangannya dan Lylia secara bergantian.
Dia agak bingung di sini, apa maksud gadis ini?
"Itu, uang sepuluh juta. Kau boleh memilikinya, tapi kau harus mengatakan di mana Arya berada. Jika masih kurang, katakan saja. Aku akan memberi lebih untukmu asalkan kau jujur." Kata Lylia.
David terdiam dan mengerutkan dahinya.
Jika dia menolak, dia akan kehilangan uang sepuluh juta bahkan lebih. Namun, jika dia menerimanya, dia mungkin akan membuat hubungan Arya dan Lylia berantakan, bahkan hancur.
Berpikir sejenak, David masa bodoh dengan Arya. Jika Arya putus dari Lylia, pemuda itu masih punya Lucy sebagai simpanan.
Mengangguk, David meminta satu gepok lagi dan Lylia memberikannya dengan mudah, membuat pria berwajah galak itu sangat gembira.
Kemudian, David mengantarkan Lylia menuju kamar Lucy, tempat di mana Arya berada.
"Baiklah, jika kau mencari Arya, dia ada di dalam. Tapi, tolong jangan berisik, oke?"
David mengingatkan dengan serius sebelum membuka pintu kamar Lucy.
Setelah itu, dia pergi karena tidak ingin melihat pertengkaran pasangan kekasih.
Lylia agak kebingungan namun dia segera masuk.
Matanya melebar ketika dia melihat dua orang, satu pria dan satu wanita sedang tertidur di ranjang yang sama dan di bawah selimut yang sama. Keduanya berpelukan dengan erat, seakan tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Lylia benar-benar tanpa ampun saat mencubit, dia mengeluarkan semua tenaganya.
"Akh! Sakit!"
Arya mengerang, langsung terbangun dari tidurnya.
Dia menoleh ke sumber rasa sakit, melihat jika ada tangan putih ramping mencubitnya. Dia segera mengalihkan pandangannya ke orang yang mencubitnya.
"Lylia...?!"
Arya terkejut, segera beranjak dari kasur dan berdiri tegap di hadapan Lylia.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Lylia bertanya dingin.
Arya terdiam dan tidak menjawab.
Lylia merasa semakin sakit hati karena Arya hanya diam. Dia menggertakkan giginya dan menampar Arya dengan keras, meninggalkan bekas warna merah yang membentuk telapak tangan di wajah Arya.
Lylia kemudian berbalik dan mengabaikan Arya, keluar dari kamar Lucy.
Arya mendecakkan lidahnya dan segera mengejar Lylia, mengabaikan rasa sakit di wajahnya.
"Lylia, tunggu! Aku bisa jelaskan semuanya!"
Arya mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Lylia, namun gadis itu menepisnya dan melotot padanya, menatapnya dengan kebencian.
"Apa yang perlu kamu jelaskan?! Apa yang bisa kamu katakan ketika semuanya sudah jelas?! Aku tidak butuh omong kosongmu!"
David yang mendengar pertengkaran pecah terdiam. Dia ingin menghentikan keduanya, tapi sayangnya dia tidak menemukan celah. Selain itu, pertengkaran keduanya disebabkan olehnya, jadi dia sebenarnya tidak berhak ikut campur.
Sementara itu, Lucy yang mendengar suara berisik dari kamarnya perlahan membuka matanya. Dia duduk dan menggosok matanya sebelum keluar dari kamarnya.
Ketika sampai di sumber suara, Lucy terkejut melihat Arya dan Lylia sedang bertengkar dengan Lylia berteriak marah pada Arya.
Lylia yang melihat Lucy segera melotot padanya dengan matanya yang merah karena marah.
Lucy takut dan segera bersembunyi di balik punggung David yang tidak jauh darinya.
"Aku tanya padamu, kenapa kamu bisa ada di sini? Kenapa kamu bisa tidur bersama Lucy pagi imi? Kamu bilang padaku jika kamu sakit, tapi apa ini?! Kenapa kamu bisa ada di sini?!"
Lylia terisak namun teriakan marahnya terdengar jelas. Dia merasa sangat sakit hati. Dia merasa seakan dirinya diselingkuhi di sini.
Arya membuka mulutnya, ingin menjelaskan tapi suaranya tersangkut di tenggorokannya. Dia tidak menemukan alasan yang bagus untuk diberikan pada Lylia.
"Hei, Arya! Kenapa kamu diam?! Jawab aku!" Lylia semakin marah.
"Aku... Aku tidak memiliki alasan yang bagus untuk kuberikan padamu, Lylia. Ada beberapa hal yang tidak bisa aku katakan pasamu untuk saat ini." Arya pasrah, mengatakan yang sejujurnya jika dia tidak memiliki alasan yang bagus.
Lylia seketika membeku. Dia menatap Arya dengan air matanya yang semakin deras. Rasanya bagai disambar petir di pagi hari yang cerah ini.
Dengan nada gemetar dan ekspresi menyedihkannya, Lylia berkata.
"Arya, siapa yang sebenarnya kamu cintai? Aku, atau Lucy?"