
Setelah diantarkan Arya pulang, Nia langsung masuk ke dalam rumahnya.
Begitu dia masuk, dia langsung disambut oleh bau alkohol dan asap rokok yang menyengat hidungnya.
Nia segera menutup hidungnya dan dia mengerutkan dahinya dengan tidak senang saat dia menatap seorang pria berusia empat puluhan sampai lima puluhan sedang berbaring di tengah ruangan.
Di sekitar pria tersebut, banyak botol alkohol dan puntung rokok yang berserakan. Pria tersebut juga memiliki wajah merah karena mabuk dan suara dengkurannya terdengar nyaring, tidak nyaman untuk didengar.
"Dia mabuk lagi!"
Nia hampir mengutuk pria tersebut, namun dia segera mengurungkan niatnya.
Bagaimanapun, pria ini adalah ayahnya.
Ayah Nia merupakan seorang pemabuk. Dia menjadi seperti ini setelah kehilangan istri dan anak pertamanya dikarenakan kecelakaan yang menimpa keduanya setengah tahun yang lalu.
Nia kemudian dengan berjinjit berjalan melewati botol-botol alkohol dan menuju kamarnya.
"Sial, bau alkohol ini membuatku gila!"
Nia berdecak kesal. Aroma alkohol benar-benar menusuk hidungnya, membuatnya merasa tidak nyaman jika berlama-lama di rumah.
Mengabaikan aroma alkohol yang mengganggu, Nia mengganti pakaiannya dan pergi belajar sebentar sebelum akhirnya pergi tidur.
*****
Satu minggu berlalu dan selama satu minggu ini, Nia hampir selalu berkunjung ke rumah Lucy dan selalu pulang larut.
Jelas, alasannya pulang larut adalah karena dia tidak nyaman berada di rumah karena ayahnya seorang pemabuk dan aroma alkohol yang mengganggu membuatnya tidak ingin berada di rumah.
Nia lebih senang ketika berada di rumah Lucy. Rumahnya terasa nyaman dan tidak memiliki aroma alkohol sedikitpun. Sebaliknya, setiap ruangan di rumah Lucy selalu mengeluarkan aroma harum yang menyenangkan.
Karena Nia selalu pulang larut, Arya selalu mengantarkannya pulang.
Namun, bukan berarti hubungan keduanya membaik. Mereka tetap bermusuhan karena rasa cinta mereka pada Lucy.
Adapun Lucy, dia hanya merasa khawatir karena Nia selalu pulang larut. Dia takut kedua orang tua Nia marah pada gadis itu karena selalu pulang larut.
David juga sudah beberapa kali menasehati Nia agar tidak pulang terlalu larut, namun gadis ini tidak mendengarkannya.
"Nia, apakah kamu benar-benar diizinkan pulang larut?"
Lucy bertanya dengan cemas untuk kesekian kalinya.
"Um, ayahku sudah mengizinkannya. Dia bilang aku boleh pulang larut."
Nia mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja, dia mengatakan omong kosong. Dia tidak benar-benar diizinkan pulang larut oleh ayahnya, bahkan dia sebenarnya tidak meminta izin ayahnya.
Arya menghela nafas saat melihat senyuman Nia.
'Lagi-lagi gadis ini tersenyum palsu. Sepertinya dia benar-benar memiliki masalah dengan keluarganya.'
Rasa curiga Arya semakin menguat. Kini dia benar-benar yakin Nia memiliki masalah dengan keluarganya.
Selain itu, setiap kali Nia membicarakan tentang kedua orang tuanya, dia pasti akan selalu tersenyum palsu dan senyuman itu terkesan dipaksakan.
Sebagai seseorang yang pernah mengalami masalah dengan keluarganya, Arya sering tersenyum palsu. Jadi, dia sangat paham jika seseorang sedang tersenyum palsu.
"Baguslah kalau kamu memang diizinkan pulang larut."
Lucy menghela nafas, masih agak ragu dengan jawaban Nia.
Setelah itu, Lucy pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Nia yang melihat ini tidak diam saja. Dia mengikuti Lucy ke dapur dan membantunya memasak.
*****
"Ayo, aku akan mengantarmu."
Arya mengambil jaketnya dan memakainya sebelum mengantarkan Nia pulang. Dia tidak ingin membiarkan gadis kecil ini pulang seorang diri larut malam begini. Dia takut Nia mengalami kejadian yang tidak diinginkan.
Setibanya di rumah Nia, Arya melihat sekitar selusin botol alkohol kosong yang diletakkan di depan rumah, dibuang oleh pemiliknya.
Arya mengerutkan dahi saat melihat ini. Botol-botol tersebut dibuang di depan rumah Nia, jadi pemiliknya jelas merupakan bagian dari keluarga Nia.
Nia mengucapkan terima kasih pada Arya dan dia segera masuk.
Arya menatap punggung Nia sejenak sebelum dia kembali ke rumah Lucy.
Pada saat yang sama, ketika Nia masuk ke dalam rumahnya, dia disambut oleh ayahnya yang wajahnya memerah karena mabuk.
Aroma alkohol tercium dari nafasnya dan aroma asap rokok menempel di pakaiannya.
Nia menahan nafas ketika dia mencium aroma ini. Rasa jijik memenuhi hatinya.
"Kamu... Dari mana saja kamu?"
Ayah Nia bertanya dengan suara yang agak serak dan dia bersendawa beberapa kali.
"Aku dari tempat temanku." Nia menjawab, acuh tak acuh.
"Kamu bocah sialan! Siapa yang menyuruhmu untuk pergi bermain?! Kamu seharusnya belajar di rumah!"
Ayah Nia tiba-tiba berteriak marah. Mungkin karena mabuk, emosinya jadi tidak stabil. Dia mengepalkan tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum akhirnya melayangkan pukulan ke Nia.
Nia berteriak terkejut.
Ketika Nia merasakan pukulan ayahnya pada wajahnya, dia merasakan kepalanya terguncang dan dia langsung pusing. Matanya segera menunjukan kengerian dan dia hampir menangis.
Namun, meski begitu, Nia tetap diam dan tidak melawan. Tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan.
Ayah Nia mengepalkan tangannya lagi dan melayangkan beberapa pukulan pada Nia.
Nia tetap diam saat dia terjatuh dan dipukuli. Air mata menetes deras dari matanya. Wajahnya yang dipukul pertama segera membiru.
Nia benar-benar pasrah dengan keadaannya saat ini. Dia tidak berani melawan ayahnya.
Sebelumnya, Nia pernah mengalami kejadian semacam ini dan dia melawan ayahnya. Tapi, sebagai hasilnya, dia malah memancing amarah ayahnya.
Ayahnya yang amarahnya terpancing saat itu mengambil botol alkohol kosong dan memukul kepala Nia menggunakan botol tersebut. Beruntung botol tersebut tidak pecah, jadi kepala Nia tidak terluka terlalu parah.
Setelah beberapa saat, Ayah Nia akhirnya berhenti memukul dan pergi ke toilet.
Saat ayahnya pergi ke toilet, Nia yang habis dipukuli itu memiliki memar di beberapa bagian tubuhnya. Dia menangis dan kesedihan memenuhi hatinya.
"Ibu, Kakak, aku merindukan kalian..."
Nia bergumam ketika wajah ibu dan kakaknya yang telah meninggal melintas di benaknya.
Dia kemudian menyeka air matanya dan segera berdiri. Dia kemudian keluar dari rumahnya dan berlari sekencang mungkin. Dia tidak ingin berada di rumah lagi dan ingin menjauh dari sana.
Tidak lama setelah Nia berlari kabur dari rumahnya, hujan deras tiba-tiba turun dari langit, membuat seluruh tubuh gadis itu basah kuyup dan dia mengigil karena dinginnya hujan.
Meski begitu, Nia mengabaikan dinginnya hujan dan terus berlari tanpa tujuan. Dia tidak tahu harus ke mana. Sampai akhirnya, wajah Lucy terlintas di benaknya dan gadis itu segera memutuskan untuk pergi ke rumah Lucy.
Setelah berlari hampir satu jam, Nia tiba di depan rumah Lucy. Dia berdiri di depan rumah Lucy cukup lama karena dia ragu-ragu untuk mengetuk pintu.
Tapi, karena tubuhnya kedinginan dan mengigil, Nia memberanikan diri untuk mengetuk pintu dengan harapan ada seseorang yang akan membukakannya pintu.