Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 35 - Vicky



Ketika matahari terbit, Arya menghilang entah ke mana. Lucy yang baru terbangun dari tidurnya terkejut dan panik ketika melihat Arya tidak ada di sisinya.


Ini membuatnya merasa sedih dan marah.


Dia sedih dan marah karena sepertinya Arya membohongi dirinya. Dia ingat jelas tadi malam Arya sedang mengasah belatinya, yang menunjukkan dia akan membunuh seseorang.


Lucy memintanya untuk tidak membunuh lagi dan Arya berjanji tidak akan membunuh siapapun. Tapi hasilnya, pemuda itu mengingkari janjinya.


Karena Arya pergi tanpa memberitahunya apapun, Lucy mencoba bertanya pada David tapi kakaknya itu malah memarahinya dan mengabaikannya ketika dia bertanya tentang Arya.


Tampaknya, David mengetahui sesuatu tapi tidak ingin mengatakannya pada Lucy.


Pada saat yang sama, Arya sedang berkendara menggunakan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah salah satu teman baik ayahnya, Dio.


Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, Arya sampai di rumah Dio dan bertamu untuk sesaat agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Merasa cukup bertamu, Arya meminta Dio untuk mengantarkannya ke rumah ayahnya.


Dio dengan senang hati mengantarkan Arya ke tempat ayahnya. Bagaimanapun, Arya merupakan anak dari sahabat baiknya dan dia senang karena Arya berinisiatif untuk mengunjungi ayahnya setelah sekian lama.


Dio kemudian menyiapkan mobilnya dan keduanya segera berangkat.


Selama perjalanan, Dio mengendarai mobilnya dengan santai dan sesekali mengobrol dengan Arya meski pemuda itu tampak tidak memiliki mood untuk mengobrol dengannya lagi. Terlebih lagi, Arya terlihat melamun dan ekspresinya terkadang terlihat bermasalah, penuh kebencian dan bimbang.


Ini membuat Dio bertanya-tanya, apa yang membuatnya memiliki ekspresi demikian?


Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, Arya dan Dio akhirnya tiba di sebuah rumah yang cukup mewah dengan gaya klasik. Rumah ini adalah milik ayah Arya.


"Paman Dio, tolong tunggu di mobil saja. Aku ingin mengobrol dengan ayahku, berdua saja tanpa ada orang lain."


Arya berpesan. Dio segera mengangguk dan membiarkannya. Lagi pula, Arya sudah lama tidak bertemu ayahnya, jadi dia pikir lebih baik membiarkannya reuni sebentar.


Arya kemudian turun dari mobil sambil membawa sebuah tas yang sudah dia bawa dan persiapkan sejak tadi malam. Di dalam tas tersebut, berisi sebuah golok kecil, tali dan kain.


Tentu saja, dia telah mempersiapkan semua ini untuk seluruh rencana yang sudah dia siapkan.


Mengetuk pintu rumah tersebut, seorang pria berusia lima puluhan awal keluar dan dia agak terkejut melihat yang mengetuk pintu rumahnya adalah anaknya.


Ya, pria berusia lima puluhan awal itu adalah ayah Arya. Dia bernama Vicky dan memiliki tubuh besar, tinggi dan wajah yang lumayan untuk orang seusianya. Tubuhnya juga terlihat gagah dan maskulin.


"Halo, Pa. Apa kabar?" Arya tersenyum terpaksa.


"Oh, ternyata aku kedatangan tamu dari jauh. Kabarku baik, Nak. Bagaimana denganmu sendiri?"


"Kabarku juga baik, Pa."


"Baguslah. Kemari, masuk dan mengobrol di dalam."


Vicky mempersilahkan Arya masuk dan dia segera masuk.


Keduanya masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu, saling berhadapan.


Rumah Vicky cukup besar dan mewah, namun itu sebenarnya sangat sepi. Dia tinggal seorang diri untuk beberapa alasan.


"Ngomong-ngomong, dengan siapa kamu datang kemari?" Vicky bertanya.


"Ah, aku bersama Paman Dio. Dia ada di mobil. Dia bilang akan turun setelah selesai menelepon."


Vicky mengerutkan dahinya. Dia merasa curiga dengan ucapan Arya.


Dio merupakan sahabat dekatnya dan dia sangat mengenal kepribadian Dio yang selalu mengutamakan untuk menemuinya lebih dulu, tidak peduli apapun yang terjadi.


Meski begitu, Vicky mengabaikan kecurigaannya dan bertanya-tanya tentang kehidupan Arya akhir-akhir ini.


Arya tentu saja menjawab dengan omong kosong. Wajahnya berkedut berkali-kali, menahan setiap amarah yang terpendam dalam hatinya. Dia sangat ingin menghajar, menyiksa bahkan membunuh pria di hadapannya ini.


Namun, dia masih menahan diri.


Jika dia melakukan sesuatu yang gegabah hanya karena amarahnya, semua rencana yang sudah dia siapkan selama ini akan hancur berantakan. Juga, jika dia menyerang Vicky secara tiba-tiba, jelas bajingan ini akan melawan.


"Benar juga. Kenapa kamu datang tiba-tiba tanpa mengabari lebih dulu, Arya? Ini tidak seperti dirimu saja."


"Yah, tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin bertemu dengan Papa saja."


"Oh, benarkah? Kamu sepertinya mau menginap, ya? Kamu sepertinya membawa bajumu di dalam tas itu."


"Ya, begitulah rencanaku, Pa."


Vicky mengangguk mendengar ini. Dia kemudian bertanya lagi.


"Bagaimana kabar adikmu dan ibumu? Mereka sehat, bukan?"


"Ya, mereka sehat."


Arya menjawab, mengutuk Vicky dalam hatinya.


Arya dan Vicky terus mengobrol sampai akhirnya Vicky menyuruh pemuda itu untuk menyimpan pakaian yang dia bawa ke kamarnya.


Vicky sendiri pergi ke kamar mandi untuk buang air.


Arya menghela nafas panjang dan mempersiapkan diri.


Saat Vicky pergi ke kamar mandi, itu akan menjadi kesempatan baginya untuk menyerang Vicky. Arya tidak ingin membunuhnya karena banyak alasan, tapi setidaknya dia ingin menghajarnya dan menyiksanya.


*****


Perlahan, Vicky membuka matanya dengan berat dan kepalanya terasa pusing. Dia melihat sekeliling dan terkejut mengetahui dirinya berada di dalam sebuah mobil. Kedua tangan dan kakinya terikat dan mulutnya dibungkam oleh kain.


Menggelengkan kepalanya, Vicky berusaha mengingat apa yang terjadi. Hal terakhir yang dia ingat adalah ketika dia keluar dari kamar mandi, dia tiba-tiba dipukul oleh seseorang menggunakan botol kaca.


Pukulan tersebut menyakitkan hingga membuatnya kehilangan kesadarannya.


Melirik ke kursi supir, Vicky semakin terkejut melihat sahabat baiknya mengendarai mobil dengan ekspresi pucat dan ketakutan.


"Akhirnya kau bangun, keparat."


Sebuah suara terdengar dari samping. Vicky segera menoleh, melihat Arya menatapnya dengan dingin dan penuh kebencian.


"Hmph! Hmph! Hmph!"


Mulut Vicky dibungkam oleh kain, menyebabkannya tidak bisa berbicara. Dia hanya menatap Arya dengan marah dan ekspresi bertanya-tanya terlukis jelas di wajahnya.


Dio yang melihat Vicky sadarkan diri menghela nafas lega namun perasaan takut masih menghantuinya.


Kembali beberapa saat yang lalu, Arya tiba-tiba keluar dari rumah Vicky dengan membawa ayahnya yang tidak sadarkan diri dengan kepala yang berdarah.


Dio jelas terkejut dan bertanya pada Arya.


Arya hanya menjawab bahwa ayahnya tergelincir di kamar mandi dan kepalanya terbentur lantai dengan keras, menyebabkannya tidak sadarkan diri.


Dio jelas segera menyalakan mobilnya dan pergi ke rumah sakit terdekat agar Vicky mendapat perawatan.


Namun tiba-tiba, ketika di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Arya mengikat kedua kaki dan tangan Vicky, membuat Dio terkejut dan bertanya-tanya pada pemuda tersebut. Tapi sayangnya, pemuda itu tidak menjawab dan mengancamnya dengan belati.


Arya tanpa ragu mengarahkan belatinya padanya, tepat di lehernya. Dio sangat terkejut dan terdiam.


Dio secara alami ketakutan dan hanya bisa pasrah, berharap tidak terjadi sesuatu yang mengerikan.


"Dio, ketika kita sudah hampir sampai di rumah sakit, berhenti lima ratus meter dari rumah sakit itu."


Arya berkata dengan dingin, menyebabkan Dio merinding dan menelan ludahnya sambil mengangguk. Dia sangat takut pada Arya karena dia diancam menggunakan belati beberapa saat yang lalu.


Sebelumnya, saat Dio bilang ingin mengantarkan Vicky ke rumah sakit tadi, Arya menyetujuinya karena dia juga berencana untuk ke rumah sakit agar setelah dia menyiksa Vicky, Vicky bisa langsung dilarikan ke rumah sakit.


Tentu saja, siksaan yang dia berikan tidak akan mudah.