Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 74 - Berdua dengan Yuki



Setelah makan malam, seperti yang sudah direncanakan, Yuki mengajak Arya menonton film bersama di ruang keluarga. Bersama Niko tentunya.


Setiap kali Arya berkunjung, dia pasti akan melihat bahwa Yuki memiliki banyak koleksi film.


Duduk di sofa, Arya dan Niko bersantai sementara Yuki sibuk menyiapkan beberapa camilan.


Setelah semuanya siap, film dimulai dan Yuki duduk di sebelah kanan Arya, sementara Niko berada di sebelah kirinya.


Film pertama yang mereka tonton adalah film drama romantis, yang berdurasi hampir dua jam. Kemudian, mereka lanjut menonton film aksi tentang gangster. Setelah itu, terakhir mereka menonton film horor, yang di mana Arya sangat membenci film horor karena dia takut.


Dulu, pada saat usianya tujuh tahun, Arya dipaksa menonton film horor oleh Lucy dan itu menyebabkannya trauma hingga sekarang.


Pada saat film horor dimulai, Niko sudah pergi ke kamarnya karena mengantuk. Dia juga telah memperingatkan Arya untuk tidak macam-macam pada ibunya ketika dia tidur.


Karena Niko sudah tidur, jadi hanya Arya dan Yuki saja yang menonton film horor.


Saat film dimulai, musik tegang dimainkan, menambah perasaan horor dan membuat Arya merinding.


Yuki sendiri sebenarnya bukan penikmat film horor, tapi karena dia penasaran, dia menontonnya untuk memenuhi rasa penasarannya itu.


Saat adegan menegangkan, hantu dalam film horor itu tiba-tiba muncul di layar TV, menyebabkan Yuki terkejut dan reflek memeluk lengan Arya dan membenamkan wajahnya ke pundak pemuda itu.


Yuki juga terkadang membenamkan wajahnya ke bantal. Dia terkadang bertingkah imut, yang tidak sesuai dengan usianya.


Arya terkadang merasa kesal, karena saat melihat tingkah imut Yuki, dia jadi teringat Lucy, membuatnya ingin membelai lembut Yuki agar tenang dan tidak takut lagi. Tapi, dia sadar bahwa wanita ini adalah ibu dari temannya.


Setelah satu jam setengah, film horor akhirnya selesai. Baik Arya dan Yuki menghela napas lega karena mereka telah menyelesaikan film yang sebenarnya mereka tidak sukai.


Melirik Yuki, Arya tersenyum masam.


"Tante... Bisakah Tante melepaskan tanganku sekarang? Filmnya sudah selesai."


"Tidak! Aku masih melihat jelas ada sesuatu di sana!"


Yuki gemetar pelan, menunjuk suatu sudut gelap. Dia memiliki ekspresi takut di wajahnya.


"Baiklah, itu hanya imajinasi Tante saja, oke? Tenang, jangan takut. Ada aku di sini."


Arya berkata dengan lembut. Dia memegang lengan Yuki yang memeluk lengannya lalu memindahkannya.


Yuki menatap sudut gelap itu sesaat lalu menatap Arya dengan mata berkaca-kaca.


"Arya, kamu tidak akan meninggalkanku sendiri, kan? Kamu tidak akan meninggalkan Tantemu ini sendirian, kan?"


Lengan Yuki yang baru saja Arya pindahkan kembali memeluk lengannya.


Arya tidak tahu harus menangis atau tertawa. Dia hanya bisa berkata dengan lembut dan menatap mata Yuki yang indah.


"Tante, aku tidak akan pergi ke manapun, oke? Aku akan menemani Tante di sini, sampai Tante tidak takut lagi."


"Benarkah? Kamu tidak akan meninggalkanku?"


"Benar, aku tidak akan meninggalkan Tante, aku janji."


Arya mengangguk sambil tersenyum lembut.


Yuki menghela napas lega lalu bersandar di dada Arya. Ekspresinya perlahan berubah rileks dan nyaman. Dia terkadang tersenyum ketika mendengarkan detak jantung Arya.


Arya, yang merasakan Yuki bersandar di dadanya, merasa wajahnya memanas dan memerah. Jantungnya berdetak kencang dan dia merasa malu sekarang. Yuki bersandar di dadanya, jadi dia dengan jelas dapat mendengar suara detak jantungnya.


"Arya, kamu berdebar-debar, lho." Yuki tertawa kecil.


"Tante, cukup! Jangan menggodaku terus!"


Arya mundur sedikit, membuat Yuki kehilangan sandarannya.


"Tu-tunggu! Jangan pergi! Kamu sudah berjanji tadi!"


"Tidak, Tante hanya menggodaku! Tante sebenarnya tidak ketakutan, kan?!"


"Tidak! Aku benar-benar takut di sini!"


Yuki berusaha mendekati Arya lagi, tapi pemuda ini terus-menerus menghindar.


"Tante, terima kasih makan malam dan filmnya, aku pamit pulang!"


Arya kesal, merasa dipermainkan oleh Yuki. Dia mengira bahwa Yuki benar-benar ketakutan tadi, tapi ternyata sebenarnya dia hanya digoda!


Ketika hendak pergi, Arya terkejut. Dia melihat jam di dinding dan menyadari bahwa ini sudah lewat tengah malam. Dia segera berkeringat dingin.


Arya dengan jelas ingat bahwa dia berjanji pada Erwin jika dia akan pulang paling lambat jam sebelas malam, tapi sekarang dia terlambat satu jam lebih.


Jelas, jika Arya pulang sekarang, semuanya akan sia-sia karena dia tidak akan dibukakan pintu oleh Erwin ataupun Emily.


Yuki tampaknya menyadari hal ini, jadi dia bertanya dengan khawatir.


"Maaf, sepertinya aku terlalu terbawa suasana dan mengajakmu nonton terlalu lama. Bagaimana jika kamu menginap saja, Arya?" Yuki merasa bersalah.


"Um... Jika Tante mengizinkan, aku sangat berterima kasih. Aku sudah melewati jam malamku, jadi jika aku pulang, aku tidak akan dibukakan pintu."


"Ya ampun, benarkah itu? Aku sungguh minta maaf."


"Tidak, tidak masalah Tante."


Arya melambaikan tangannya dan kembali ke duduk di sofa, duduk tidak jauh dari Yuki.


"Um... Jika kamu mau, kamu bisa tidur di kamar atas bersama Niko. Aku akan ambilkan kunci cadangan kamar Niko."


"Ah, tidak perlu, Tante. Aku tidur di sofa saja."


"Tapi..."


Sebelum Yuki menyelesaikan kalimatnya, Arya memaksanya dan mengatakan bahwa dia tidak masalah jika tidur di sofa.


Yuki menghela napas tanpa daya dan mengambilkan Arya selimut di kamarnya untuk pemuda itu gunakan.


"Ini, pakai jika kamu mau tidur. Jangan sampai tidak memakainya, atau kamu akan masuk angin."


"Terima kasih, Tante."


"Sama-sama."


Arya terkejut dan langsung ambil jarak.


"Hei, kenapa kamu bereaksi seperti itu? Aku tidak akan menggigitmu, tahu?"


"Aku tahu itu, tapi aku tidak mau dipermainkan seperti tadi! Seorang pria bukanlah pria jika dia dipermainkan oleh wanita!"


"Oh, apakah kamu sudah menjadi seorang pria? Seorang pria adalah mereka yang sudah dewasa dan sudah menikah. Sedangkan kamu, kamu masih bocah ingusan."


"Huh, aku sudah memiliki calon istri!"


"Hanya calon, bisa saja kamu gagal menikah dengan calonmu itu."


Yuki tersenyum meledek, membuat Arya berkedut.


"Baiklah, jangan menjaga jarak seperti itu. Aku tidak menggodamu, aku benar-benar takut tadi. Juga, aku hanya mengatakan fakta. Jantungmu memang berdebar-debar tadi."


Yuki menghela napas pelan.


Arya mengerutkan dahinya dengan curiga sebelum akhirnya mendekati Yuki. Keduanya duduk bersebelahan.


"Arya, bagaimana menurutmu film romantis tadi?"


Yuki angkat bicara ketika hening datang sesaat.


"Menurutku, filmnya bagus. Tapi terlalu agak dramatis, itu jadi poin minus dari film tadi."


"Kamu benar, tadi memang agak dramatis tapi itu bukan masalah besar. Juga, ada adegan yang paling bagus di film tadi, kan? Saat pemeran utama pria dan wanita berbagi ciuman. Itu adalah momen yang sangat bagus!"


"Um... Ya, itu bagus..."


Arya tidak tahu harus berkata apa.


Setelah itu, keduanya terus membahas film yang mereka tonton tadi. Keduanya berbagi pendapat dan saling tertawa ketika mereka mengingat adegan konyol di film tadi. Ketika membahas film horor lagi, keduanya agak tidak banyak berkomentar karena pada dasarnya mereka berdua takut dan tidak ingin mengingat film horor itu lagi.


Tanpa terasa, sudah satu jam mereka membahas film.


Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul satu pagi.


Yuki yang duduk di sebelah Arya menguap dan matanya menunjukkan tanda-tanda mengantuk.


Menatap Arya, Yuki perlahan bersandar di bahunya. Tangannya merangkul tangan Arya dan dia menjalinkan jari-jarinya.


Arya jelas terkejut. Dia bisa merasakan kehangatan dari genggaman tangan Yuki dan merasa nyaman, tanpa alasan yang dia ketahui.


"Arya, apakah kamu tahu? Kamu mirip dengan almarhum suamiku. Bukan dari wajahnya, tapi dari sikap. Sikap kalian berdua mirip, sangat mirip malah."


Entah karena mengantuk atau alasan lainnya, tapi Yuki tiba-tiba membahas tentang suaminya yang sudah meninggal.


Arya terkejut dan menatap Yuki dengan ketidakpercayaan.


"Arya, kamu tahu? Dulu, saat aku dan suamiku masih pacaran, kami menonton film bersama, seperti yang aku lakukan bersamamu sekarang. Kami menonton film bersama hingga tengah malam dan di saat terakhir, kami menonton film horor dan menjadi ketakutan bersama. Kejadian benar-benar mirip, bukan?"


"Selain itu, ketika aku ketakutan, suamiku terus-menerus mengatakan banyak kata-kata manis dan berjanji jika dia tidak akan meninggalkanku sebelum aku tenang. Selanjutnya, setelah suamiku dan aku merasa lebih tenang, suamiku ingin pulang ke rumahnya tapi sayangnya dia sudah melewati jam malamnya, seperti kamu. Pada akhirnya, dia menginap di rumahku. Ya ampun, itu benar-benar masa-masa yang indah."


Yuki tertawa kecil, namun Arya bisa merasakan kesedihan dan kesepian dari nadanya. Dia jelas tahu bahwa Yuki merindukan suaminya.


Adapun ceritanya itu karangan atau fakta, Arya tidak tahu.


Mengeratkan genggamannya pada Arya, Yuki menatap Arya dengan nakal.


"Karena suamiku menginap malam itu, apakah kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?"


Arya terdiam dengan ini. Dia mengalihkan pandangannya ketika wajahnya memerah.


"A-apa yang terjadi?" Arya bertanya karena penasaran.


"Yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tidak boleh diketahui anak kecil."


Yuki tertawa, jelas menjahili Arya.


Arya menggertakkan giginya karena marah. Dia menatap Yuki dengan tidak senang.


"Tante menggodaku lagi!"


"Habisnya, kamu terlalu lucu, sih."


"Ugh... Aku dipermainkan di sini."


Arya menarik tangannya, melepaskannya dari pelukan Yuki dan buang muka.


Yuki menjadi cemberut karena ini. Dia berkata dengan kesal.


"Baiklah, baiklah. Jangan marah, oke? Aku hanya ingin bercanda sedikit."


Arya tetap diam, masih kesal. Dia telah dipermainkan dua kali, jadi tidak mudah baginya untuk terbujuk.


Melihat ini, Yuki tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya, mengelus kepala Arya dengan pelan.


"Jangan marah lagi, ya? Aku minta maaf karena sudah menjahilimu."


Arya melirik Yuki dan dengan ragu-ragu, dia mengangguk.


Perlahan, Yuki mengambil posisi yang sama seperti tadi. Dia memeluk tangan Arya dan menjalinkan jari-jarinya dan bersandar pada Arya.


Arya membiarkannya dan menjalinkan jarinya dengan erat pada Yuki. Dengan penuh keraguan, dia ikut bersandar pada Yuki.


Perlahan, waktu berjalan dengan cepat.


Arya masih terlihat terjaga, tapi Yuki jelas sudah sangat mengantuk.


"Tante, jika Tante mengantuk, Tante harus pindah ke kamar. Jangan tidur di sofa."


Tidak ada jawaban dari Yuki.


Menatap Yuki, Arya menyadari bahwa wanita ini sudah tertidur. Dia tertidur di sandarannya sambil memeluk tangannya dengan erat. Jari-jarinya yang terjalin juga sangat erat, tidak terlihat akan mengendur.


Arya menghela napas pelan melihat ini. Dia kemudian tersenyum lembut dan membiarkan Yuki tertidur di sandarannya.