Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 8 - Keterkejutan Arya



"Tolong jangan panggil aku kakak. Aku ibu Niko, kau tahu?"


Yuki tersenyum tapi matanya menunjukan kemarahan. Tentu, dia tidak senang dipanggil kakak oleh Arya. Bagaimana juga, dia adalah seorang ibu yang sudah memiliki anak remaja, jadi dipanggil kakak sedikit membuatnya tidak nyaman.


Ketika kata-kata itu jatuh, Arya yang awalnya tersenyum ringan perlahan terkejut. Matanya melebar hingga hampir lepas dari rongganya saat rahangnya terjatuh, terbuka lebar untuk waktu yang cukup lama.


Dalam pikiran terliarnya, dia tidak pernah menyangka kalau wanita yang masih muda di hadapannya ternyata adalah ibu dari temannya. Awalnya, dia mengira kalau Yuki adalah kakak Niko karena penampilannya. Tapi kemudian, dia mendapatkan sebuah fakta mencengangkan.


'Sial, bagaimana bisa aku tertipu oleh penampilan luarnya? Ayolah Arya, ibumu sendiri masih awet muda dan cantik! Jika ibumu saja bisa, mengapa orang lain tidak?'


Arya menggerutu dalam hatinya. Ketika mendengar bahwa Yuki adalah ibu Niko dan melihat penampilannya yang masih awet muda, dia langsung mengingat ibunya.


Ibu Arya juga memiliki penampilan awet muda dan masih cantik. Jika ibunya saja bisa memiliki penampilan demikian, tentu saja orang lain juga bisa memiliki penampilan yang sama.


Setelah beberapa saat, Arya akhirnya kembali ke akal sehatnya dan segera berdeham dengan wajah memerah karena malu.


"Maafkan ketidaksopananku, Tante."


"Hm? Tante?"


Yuki tampak sedikit terkejut ketika dipanggil demikian, membuat Arya berkeringat dingin karena takut salah ucap lagi.


Tapi kemudian, Yuki tersenyum gembira.


"Tante, ya? Sudah lama aku tidak dipanggil begitu. Biasanya orang-orang akan meremehkanku dan menganggap aku seorang gadis padahal aku sudah memiliki anak remaja....!"


Yuki menggembungkan pipinya yang tidak sesuai usianya. Dia tampak tidak senang karena diremehkan oleh orang-orang hanya karena penampilannya.


'Yah, mau bagaimana lagi. Kau terlalu cantik untuk wanita seusiamu.'


Arya menjawab dalam hati. Tentu, dia tidak berani mengungkapkan apa yang dia pikirkan begitu saja.


Sadar bahwa dia lalai, Yuki berdeham sekali dan kembali ke tampilan dewasanya.


"Kau boleh memanggilku Tante tapi tidak dengan Kakak."


Yuki mengingatkan sekali lagi.


Kemudian, selama lima belas menit ke depan keduanya mengobrol santai dengan Yuki menanyakan Arya beberapa pertanyaan tentang Niko saat di sekolah.


Dari obrolannya dengan Yuki, Arya sedikit yakin kalau ibu dari Niko ini tidak mengetahui kalau anaknya menjadi korban dari Roy dan kelompoknya. Dia yakin kalau Niko juga tidak mengatakan apapun tentang Roy kepada ibunya.


"Tante, maaf menyela tapi bolehkah aku tahu dimana Niko? Aku ingin bertemu dengannya sebentar."


Setelah merasa cukup basa-basi, Arya tak mau membuang waktu lebih banyak dan bertanya.


Mendengar pertanyaan ini, wajah Yuki terlihat berubah menjadi sedikit bermasalah.


Setelah beberapa saat diam, Yuki akhirnya berdiri dari tempatnya duduk dan mengajak Arya ke lantai dua.


Arya hanya mengikutinya dengan patuh dan ketika tiba di lantai dua, Yuki menunjukan kamar Niko sebelum dirinya kembali ke lantai satu.


Kemudian, Arya mengetuk pintu kamar Niko beberapa kali tapi karena tidak ada respon, dia memutuskan masuk tanpa menunggu lebih lama.


Ketika dia masuk, Arya melihat Niko sedang berbaring di kasurnya. Tampaknya dia sedang tertidur.


Karena Niko masih tidur, Arya tak mengganggunya dan melihat sekeliling.


Di kamar Niko, tidak banyak hiasan selain meja belajar, rak buku yang penuh dengan buku dan beberapa foto yang dipasang di dinding. Di foto tersebut terlihat Niko, Yuki dan seorang pria yang tak dikenali yang kemungkinan besar merupakan ayah Niko.


Sambil menunggu, Arya menuju rak buka dan mengambil beberapa buku yang membuatnya tertarik lalu duduk di meja belajar dan membaca buku yang dia ambil.


Setengah jam kemudian, Arya yang tengah asik membaca buku tiba-tiba mendengar suara berderit.


Mengabaikan Niko yang masih mengantuk, Arya berkata.


"Niko, bagaimana kabarmu?"


Arya bertanya dengan ringan tapi Niko terkejut dan menoleh ke sumber suara dan melihat wajah yang tak asing baginya.


"Arya? Kenapa kau di sini?"


"Aku di sini karena mengkhawatirkanmu. Kenapa kau jadi sering absen dan jarang hadir di kelas?"


"Itu..."


Entah karena habis bangun tidur atau semacamnya, Niko tampak tidak bisa menjawab pertanyaan Arya. Dia memiliki ekspresi bermasalah di wajahnya dan matanya melihat ke kiri dan kanan, kebingungan.


Tentu saja, dia tidak bisa mengatakan kalau dirinya jarang hadir di kelas karena terlibat dengan Roy. Jika dia mengatakan ini, dia yakin Arya akan marah karena Arya sendiri sudah sering menyuruhnya untuk menjauhi Roy dan kelompoknya.


"Hei, aku bertanya padamu."


Arya bertanya lagi, tampak tidak sabar.


Tapi sama seperti sebelumnya, Niko tak menjawab.


Arya menjadi sedikit kesal karena Niko tidak menjawab. Dia menyipitkan matanya dan segera terkejut karena menyadari sesuatu yang salah.


"Niko, bagaimana bisa kau terluka dan babak belur begini? Siapa yang membuatmu seperti ini? Katakan padaku!"


Arya sedikit meninggikan suaranya, membuat Niko terkejut.


Dia diam beberapa saat sebelum menjelaskan semuanya pada Arya secara singkat.


Mendengar penjelasan Niko, Arya jadi tahu kalau Niko babak belur karena Roy dan kelompoknya. Dia juga mengetahui kalau Niko terlibat dengan mereka karena dirinya.


Niko awalnya disuruh Roy untuk memanggil dirinya agar Roy dan kelompoknya bisa menyelesaikan masalah di masa lalu tapi karena Niko keras kepala, dia jadi berakhir seperti ini dan mengajukan permintaan kepada Roy bahwa dirinya mau melakukan apa saja untuk Roy asalkan yang terakhir tidak menganggu Arya.


Ini membuatnya kesal karena hampir semua masalah yang menimpa Niko ada hubungannya dengan dirinya.


Dirinya memang memiliki masalah dengan Roy dan kelompoknya di masa lalu, tapi dia tidak menyangka kalau Roy masih menyimpan dendam padanya.


Terlebih lagi, Roy dan Niko menggunakan dirinya sebagai pertukaran.


Niko menjadi budak Roy dengan imbalan yang terakhir tidak mengganggu Arya.


Dia tidak terima dirinya diperlakukan sebagai alat pertukaran semacam ini. Dia benar-benar kesal saat ini.


"Arya, maafkan aku karena tidak memberitahu dirimu tentang masalah ini. Aku takut Roy dan kelompoknya mengganggumu. Roy memiliki selusin anak buah, jadi..."


"Aku tidak peduli. Bahkan jika harus berkelahi dengan selusin orang, aku tidak takut."


Sebelum Niko menyelesaikan ucapannya, Arya menyela dengan dingin dan tatapannya berubah menjadi tajam.


Melihat ini, Niko menjadi merinding. Meski dia sudah berteman dengan Arya cukup lama, dia tidak terbiasa dengan hal ini.


"T-tapi Arya, melawan selusin orang sendiri..."


Niko hendak memperingati Arya tapi dia terdiam ketika ditatap tajam dan dingin oleh Arya.


"Niko, aku akan pergi sekarang. Semoga kau lekas sembuh."


Arya mengucapkan ini dengan dingin sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Niko seorang diri di kamarnya.


Niko ingin menghentikannya tapi karena kondisi tubuhnya yang masih babak belur, dia tidak bisa banyak bergerak.