Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 14 - Saran Bisnis



Setelah diintrogasi polisi beberapa kali, Arya akhirnya bebas dan dia segera ke tempat parkir motor di sekolah. Di sana, dia bertemu dengan Lucy yang menunggunya karena mereka akan pulang bersama. Tapi yang mengejutkan adalah Lucy bersama dengan Brent dan Niko, membuat Arya bertanya, kenapa mereka bersama Lucy?


Mendekati ketiganya, Arya bertanya pada Niko dan Brent.


"Kenapa kalian berdua ada di sini?"


"Oh, aku lupa mengatakan ini. Ibuku ingin mengundangmu makan malam di rumah. Kapan kau memiliki waktu luang?"


Niko menjawab dengan cepat sementara Brent diam dengan wajah pucat dan matanya tidak menatap Arya. Dia masih ketakutan dengan Arya yang membunuh Roy dan kelompoknya.


Bagaimanapun, dia mengetahui rahasia Arya dan seminggu yang lalu dia diancam olehnya untuk menjaga rahasia ini agar orang lain tidak tahu. Jika dia membocorkan rahasia ini, nyawanya mungkin akan hilang.


Melihat Brent yang ketakutan, Arya mengabaikan. Tapi dia juga bingung di sini. Jika Brent takut dengannya, kenapa dia repot-repot menunggunya?


Ternyata, Brent datang dan menunggu Arya di tempat parkir motor di sekolah adalah karena dia dipanggil oleh Niko. Dia mau tak mau menanggapi Niko dan tidak menyangka kalau Arya akan datang.


"Aku akan pergi ke rumahmu jika aku luang. Ngomong-ngomong Niko, Brent, ayo ikut aku ke rumah Lucy sebentar. Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian."


Arya berkata pada Niko sebelum melirik Lucy dan mengajaknya pulang bersamanya, menaiki motor miliknya.


*****


Di rumah Lucy, Arya yang baru saja tiba meletakkan tasnya di kamar sementara Lucy pergi ke kamarnya sendiri untuk mengganti pakaiannya.


Rumah Lucy cukup besar, dengan ruang keluarga dengan beberapa sofa, tiga kamar tidur, kamar mandi dan dapur.


Ada juga ruang TV, tempat dimana Arya dan Lucy menghabiskan waktu bersama. Di ruangan ini tidak ada sofa, hanya beralaskan karpet ambal tebal yang lembut dan empuk.


Di ruangan ini juga memiliki TV yang cukup besar dengan konsol game yang sering Arya mainkan.


Rumah Lucy juga tampak sepi. Alasan rumahnya cukup sepi adalah karena dia hanya tinggal berdua dengan kakak laki-lakinya karena kedua orang tua Lucy sudah meninggal sejak dia tahun ketiga SMP.


Setelah pulang sekolah, Lucy akan seorang diri di rumah karena kakaknya masih bekerja hingga sore hari, bahkan terkadang malam hari. Oleh karena itu, Arya hampir setiap hari berada di rumah Lucy sehabis pulang sekolah untuk menemaninya hingga kakaknya pulang.


Sementara Lucy pergi ke kamarnya, Arya mengajak Niko dan Brent untuk ke teras samping rumah untuk mengobrol.


Arya duduk dengan ekspresi serius. Dia kemudian meminta kedua temannya untuk duduk juga. Keduanya kemudian duduk berseberangan dengan Arya.


"Niko, apakah kau tahu kemana hilangnya Roy dan kelompoknya?"


Arya tiba-tiba bertanya dengan serius, membuat Niko sedikit terkejut.


"Kenapa kau bertanya padaku?"


"Jawab saja pertanyaanku."


"Ti-tidak, aku tidak tahu kemana hilangnya Roy dan kelompoknya."


Niko menjawab dengan sedikit takut. Dia memiliki firasat buruk tentang ini.


Mendengar jawaban Niko, Arya mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke Brent lalu menanyakan hal yang sama.


Brent yang mendengar ini langsung merinding. Tubuhnya yang besar gemetar dan wajahnya memucat, dipenuhi keringat dingin. Dia seketika langsung mengingat adegan Arya membunuh Roy tanpa mengedipkan matanya.


Niko yang melihat Brent terlihat ketakutan terkejut. Dia menduga kalau Brent mengetahui sesuatu.


Perlahan, dengan rasa takut yang membayanginya, Brent mengangguk.


Terkejut, Niko menatap Brent dengan ketidakpercayaan. Dia tidak menyangka kalau Brent mengetahui sesuatu dan tidak mengatakan apapun.


"Brent, kau..."


Niko membuat suara aneh, entah terkejut atau takut.


Arya hanya mengangguk setelah mendapat konfirmasi dari Brent. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke Niko.


"Niko, apakah kau penasaran kemana perginya Roy dan kelompoknya selama satu minggu ini? Jika kau ingin tahu, aku akan memberitahumu."


Arya berkata demikian, membuat Niko semakin terkejut.


Wajahnya menjadi pucat dan dipenuhi keringat dingin. Ternyata firasat buruknya benar, menyebabkannya menyesal sudah datang dan mendengarkan Arya.


Dia memiliki dugaan kalau Arya dan Brent mengetahui sesuatu tentang hilangnya Roy dan kelompoknya lalu keduanya berencana memberitahu dirinya agar jika mereka ketahuan oleh polisi, maka dirinya juga akan ikut terkena dampaknya.


Melihat Niko diam ketakutan, Arya tidak menunggu jawabannya lagi dan segera berkata.


"Hilangnya Roy dan kelompoknya ada hubungannya denganku. Meski mereka dicari hingga ujung dunia sekalipun, merela tidak akan ditemukan karena mereka sudah mati di tanganku."


Tidak ada tanda-tanda kebohongan dari nada Arya, menyebabkan Niko semakin terkejut hingga tanpa sadar dia menelan ludahnya.


Wajahnya kini semakin memucat, seakan darah tidak pernah mengalir ke wajahnya. Dia kini dilanda kebingungan dan memiliki banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan pada Arya.


Setelah jeda beberapa saat, Niko akhirnya mendapat kembali kesadarannya dan dia segera menatap Arya dengan ngeri dan takut. Bahunya gemetar dan dia ingin melarikan diri, tapi dia terlalu takut hingga tenaganya menghilang entah kemana.


Arya tidak terlalu terkejut melihat reaksi Niko. Dia sudah menduga kalau ini akan terjadi.


Niko bertanya dengan suara gemetar.


"Ya, mereka sudah mati. Jika kau tidak percaya, tanya saja pada Brent. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri."


Kemudian, Niko melirik Brent dengan penuh harapan, berharap kalau apa yang dikatakan Arya hanyalah candaan dan omong kosong.


Tapi sayangnya, harapan Niko hancur seketika karena Brent mengangguk dan menjelaskan secara singkat dengan suara gemetar dan wajah pucat yang penuh dengan keringat dingin.


Setelah mendapat konfirmasi dari Brent, Niko menjadi yakin sepenuhnya dan dia menatap Arya dengan penuh ketidakpercyaan dan ketakutan. Dia sangat tidak menyangka kalau Arya, yang dia kenal sebagai teman baiknya yang selalu menolongnya ketika diganggu ternyata adalah seorang pembunuh.


Dia segera gemetar hebat dan ingin melarikan diri tapi kakinya kehilangan tenaga karena takut.


"Niko, kau memiliki dua pilihan. Pertama, tetap menjadi temanku dan menjaga rahasiaku. Atau kedua, pergi menjauh dan tidak pernah berhubungan denganku sekalipun."


Tiba-tiba, suara Arya terdengar. Dia benar-benar serius kali ini. Dia memberitahu Niko rahasia terbesarnya kalau dia adalah seorang pembunuh bukan tanpa alasan. Baginya, karena Brent sudah mengetahui kalau dia seorang pembunuh, maka tidak masalah jika memberitahu Niko juga.


Selain itu, orang yang mengetahui kalau dia adalah pembunuh bisa dihitung dengan jari, jadi dia tidak perlu terlalu khawatir. Orang-orang yang mengetahui rahasia ini juga merupakan orang yang dipercaya olehnya.


Mendengar Arya, Niko menjadi bimbang dan tidak bisa memutuskan dalam waktu singkat.


Di satu sisi, dia selalu berterima kasih pada Arya karena telah selalu menolongnya saat diganggu Roy. Tapi sekarang, dia menjadi takut padanya setelah mengetahui rahasia terbesarnya.


Jika dia tetap menjadi teman Arya, maka dia mungkin akan menghadapi masalah besar jika Arya ditangkap polisi di masa depan. Tapi jika dia menjauh dari Arya, maka dia hanya akan menjadi seseorang yang tidak tahu terima kasih.


Ketika Niko sedang berpikir keras tentang pilihannya, seorang gadis cantik berambut hitam panjang datang dengan pakaian santai dan mendekati Arya, duduk di sebelahnya.


Ya, gadis itu adalah Lucy. Setelah mengganti pakaiannya, dia segera menghampiri Arya.


Mengabaikan Niko dan Brent, Arya dan Lucy mulai mengobrol ringan sambil tertawa.


Setelah lebih dari sepuluh menit, Niko yang sedang berpikir keras tiba-tiba mengangkat kepalanya dan memanggil Arya. Dia tampaknya telah mengambil keputusan.


"Arya, setelah aku pertimbangkan. Aku akan tetap menjadi temanmu. Aku sangat berterima kasih padamu karena telah selalu menolongnya saat diganggu oleh Roy dan kelompoknya."


Begitu kata-kata ini jatuh, Brent menghela nafas, merasa lega. Dengan keputusan yang Niko ambil, dia memiliki teman yang sama-sama mengetahui rahasia terbesar Arya.


Mendengar ucapan Niko, Arya mengangguk puas dan kembali mengabaikan kedua temannya, sibuk dengan Lucy.


Jika awalnya mereka hanya mengobrol santai, kini keduanya saling bersandar tanpa memperdulikan Niko dan Brent yang melihat mereka.


Lagi pula, bagi Arya sendiri Niko dan Brent bukan seseorang yang perlu dia pedulikan saat sedang bermesraan dengan Lucy. Sementara itu, bagi Lucy, dia hanya menganggap keduanya adalah patung tak bernyawa ataupun angin lewat yang tidak perlu diperdulikan.


Jika di sekolah, Lucy akan merasa malu jika bermesraan dengan Arya. Tapi sekarang, dia sedang berada di rumahnya, istananya, jadi dia merasa santai dan mengabaikan sekeliling.


Niko dan Brent yang melihat mereka bermesraan tersenyum masam. Keduanya belum pernah merasakan cinta, jadi mereka sedikit iri dengan Arya karena memiliki Lucy yang begitu cantik di sisinya.


Seiring berjalannya waktu, Arya dan Lucy benar-benar jatuh ke dalam dunianya sendiri. Mereka yang awalnya bersandar kini Arya mulai mengelus kepala Lucy sesekali. Dia juga terkadang membenamkan wajahnya ke bahu Lucy ketika gadis itu sedang bermain handphonenya.


Semakin melihat kemesraan ini, semakin iri Niko dan Brent. Mereka ingin pergi agar tidak iri, tapi mengingat Arya belum membiarkan mereka pergi, keduanya secara alami tidak berani mengangkat kaki dan pergi begitu saja. Mereka takut Arya akan membunuh mereka jika keduanya melakukan itu.


Beberapa saat kemudian, Lucy akhirnya kembali ke dalam rumah untuk membereskan rumah sedikit, meninggalkan Arya dan dua lainnya.


Niko dan Brent segera menghela nafas lega. Mereka benar-benar tersiksa karena melihat Arya dan Lucy bermesraan.


Keduanya juga jadi meragukan kalau Arya itu sebenarnya seorang pembunuh. Mereka malah yakin kalau Arya sebenarnya adalah seorang budak cinta, yang akan selalu menuruti permintaan Lucy.


Kembali pada Arya, dia menatap Niko dan Brent lalu berkata.


"Apakah kalian memiliki ide untuk membuka suatu usaha? Jika ada, maka berikan saran kalian padaku."


Mendengar ini, Niko dan Brent terkejut dan saling memandang, terdiam cukup lama.


"Kenapa mau tiba-tiba membicarakan hal seperti ini?" Niko bertanya.


"Ah, aku berpikir untuk membuka suatu bisnis. Aku ingin mengumpulkan uang untuk persiapan di masa depan. Lebih baik bersiap daripada tidak sama sekali."


Arya menjelaskan dengan singkat.


Mendengar ini, Niko dan Brent berpikir untuk sesaat tapi pada akhirnya, Niko menggelengkan kepalanya, tidak menemukan ide dan saran yang bagus untuk diberikan.


Dia sebenarnya terkejut dengan ini. Dia bahkan tidak memiliki pemikiran sejauh Arya.


Arya hanya melambaikan tangannya pada Niko, menandakan kalau dia tidak mempermasalahkannya. Dia kemudian melirik Brent.


Brent memiliki ekspresi yang cukup rumit. Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatai tapi ragu.


"Brent, katakan apa saja yang kau pikirkan." Arya menyadari keraguan Brent dan berkata.


"Begini, Arya. Aku memiliki ide untuk membuka toko roti. Aku cukup ahli membuat roti karena orang tuaku dulu membuka toko roti dan roti buatan kami cukup enak dan dan toko kami juga ramai pengunjung. Aku mengusulkan ide ini karena aku memiliki keyakinan pada skill pembuatan rotiku."


Brent mengeluarkan isi pikirannya. Matanya berbinar dan dipenuhi harapan. Dia mengatakan yang sebenarnya tentang dirinya yang pandai membuat roti.