
Setelah mengantarkan Nia pulang, Arya disambut hangat oleh Lucy.
Sesaat setelah dia kembali, hujan deras turun dan Arya diam-diam bersyukur karena dia tiba di rumah sebelum hujan turun.
Menghampiri Arya, Lucy memeluknya dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada Arya.
Mengangkat kepalanya, Lucy menatap Arya.
"Nia tidak dimarahi orang tuanya, kan?"
Lucy bertanya dengan agak khawatir.
"Aku tidak tahu. Aku langsung pulang setelah mengantarnya."
"Ish, kamu..." Lucy menghela nafas.
Bagaimanapun, Arya hanya berniat mengantarkan Nia pulang. Dia mungkin cemas tentang Nia yang mungkin memiliki masalah dengan keluarganya, tapi karena Nia sendiri tidak menceritakan masalahnya, maka dia tidak berniat ikut campur dalam hal apapun.
Menatap Arya, Lucy melingkarkan tangannya di leher pemuda tersebut. Dia meraih kepala Arya dengan satu tangannya dan menariknya, mencium Arya dengan bibir lembutnya.
Arya segera membalas ciuman itu dan setelah beberapa saat, mereka berdua menarik kembali bibir mereka.
"Arya, ini sudah malam. Ayo tidur."
"Ah, aku belum mengantuk. Kamu tidur duluan, ya?"
Arya berkata demikian, membuat Lucy cemberut.
Dia ingin tidur dalam pelukan Arya, tapi karena dia menolak, Lucy tidak memaksanya dan pergi ke dalam kamarnya untuk tidur.
Di sisi lain, Arya menuju ruang TV dan menonton TV sambil menunggu rasa kantuknya datang.
Tidak banyak acara TV yang bisa Arya tonton di larut malam begini. Dia hanya menonton beberapa acara berita tentang kejadian yang terjadi akhir-akhir ini dan acara komedi yang cukup membuatnya terhibur.
Setelah hampir satu jam menonton TV, Arya tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu. Dia awalnya mengabaikannya karena mengira bahwa dirinya salah dengar.
Namun, semakin lama, suara ketukan itu terdengar semakin kuat dan Arya mau tak mau mengerutkan dahinya. Dia segera menjadi waspada saat dia menuju pintu masuk rumah. Jelas tidak normal bagi seseorang untuk berkunjung di tengah malam, terutama saat hujan deras begini.
Sebelum membuka pintu, Arya mengintip dari balik jendela untuk melihat siapa yang berkunjung.
Matanya melebar ketika dia melihat sosok berambut hitam panjang. Arya langsung merinding bukan main. Dia mengira dia baru saja melihat hantu dan menjadi ketakutan karenanya.
Mengintip sekali lagi, Arya memperhatikan dengan seksama. Dia terkejut ketika menyadari bahwa sosok berambut hitam ini memiliki wajah yang familiar.
Arya segera membuka pintu dan benar saja, ternyata sosok berambut hitam tersebut adalah Nia.
Dia mau tak mau menjadi terkejut dan mengerutkan dahinya. Dia tidak tahu mengapa gadis ini tiba-tiba datang di saat hujan deras begini. Apalagi, Nia basah kuyup dan nafasnya terengah-engah.
"Masuk, di luar dingin."
Arya tidak banyak bertanya dan menyuruh Nia masuk.
Nia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Tubuhnya mengigil dan suaranya gemetar.
Arya meminta Nia menunggu sebentar di ruang tamu sementara dia pergi ke kamar Lucy, mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Nia.
Arya juga membangunkan Lucy untuk meminta pakaian ganti untuk dipakai oleh Nia. Dia mungkin bisa mengambilnya langsung dari lemari pakaian Lucy, tapi itu akan menjadi tidak sopan dan dia akan merasa tidak enak hati pada Lucy jika dia benar-benar melakukannya.
Lucy yang sudah tertidur itu perlahan membuka matanya. Dia kemudian duduk dan menggosok matanya.
"Arya, ada apa?"
"Lucy, tolong pinjamkan aku pakaianmu."
"Cepat, jangan banyak bertanya! Ambilkan saja dan bawa ke ruang tamu!"
Arya tidak menjelaskan dan pergi ke rumah tamu untuk memberikan Nia handuk.
Lucy kebingungan dengan ini tapi dia segera mengambilkan pakaian seperti yang Arya minta. Setelah itu, dia membawa ke ruang tamu dan matanya langsung melebar.
Lucy sangat terkejut melihat Nia basah kuyup dan mengigil. Gadis itu saat ini sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang Arya berikan tadi.
Lucy sekarang paham mengapa Arya meminta pakaiannya.
"Nia, apa yang terjadi padamu?!"
Lucy berteriak panik dan wajahnya memucat. Dia mengguncang bahu Nia dengan cukup kuat.
Nia tetap diam dan tidak menjawab. Dia menundukkan kepalanya dengan sedih dan bahu gemetar.
"Lucy, hentikan. Biarkan Nia mengganti pakaiannya dulu dan tolong buatkan dia sesuatu yang hangat."
Arya meraih pundak Lucy.
Lucy tersentak. Dia kemudian mengangguk dan mengajak Nia ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
*****
Setelah mengeringkan tubuhnya, Nia duduk di sofa ruang tamu dengan memakai pakaian Lucy yang agak kebesaran. Lengan bajunya melewati pergelangan tangannya, membuatnya tampak imut.
Namun di saat seperti ini, itu bukanlah poin utamanya.
Arya duduk di hadapan Nia dan tidak menanyakan apapun padanya. Dia hanya menatap Nia dengan dahinya yang berkerut dengan erat. Dia memiliki tebakan bahwa Nia pasti kabur dari rumah karena masalah dengan keluarganya.
"Ini, minumlah."
Lucy datang dari dapur dengan membawa secangkir susu hangat untuk Nia.
"Terima kasih, Kak."
Nia menerima cangkir itu dan menyesap susu hangat tersebut. Tubuhnya yang kedinginan segera menjadi lebih hangat, membuatnya merasa lebih nyaman.
"Nia, kenapa kamu bisa ada di sini? Apakah kamu kabur dari rumah?"
Lucy bertanya dengan cemas. Ekspresinya penuh kekhawatiran dan dia tidak bisa untuk tidak memucat. Kepalanya juga terasa sakit karena memikirkan Nia yang kemungkinan kabur dari rumahnya.
Nia diam beberapa saat dan mulutnya menggeliat saat dia bingung bagaimana harus menjelaskan semua ini. Dia terus-menerus memutar otaknya untuk memikirkan alasan yang bagus dan ketika dia sudah menemukan alasan yang bagus dan ingin mengatakannya pada Lucy, Arya tiba-tiba menyela.
"Lucy, ajak Nia ke kamar dan tidurlah, kalian berdua. Ini sudah larut malam. Nia, kau bisa menjelaskan semuanya besok."
Arya segera menasehati kedua gadis itu. Selain karena ini sudah larut malam, dia juga tahu bahwa Nia sepertinya belum siap untuk menjelaskan. Dari pada memaksanya, lebih baik membiarkannya dulu untuk beberapa saat hingga Nia siap bercerita dengan sendirinya.
Lucy merasa agak kurang puas dengan keputusan Arya. Tapi setelah melihat jam, dia mengangguk dan mengajak Nia ke kamar untuk tidur dan beristirahat.
Sementara keduanya pergi ke kamar, Arya yang duduk di sofa menghela nafas panjang dan bersandar pada sofa. Dia menatap langit-langit dan berbagai macam tebakan melintas di benaknya.
Memejamkan matanya sejenak, Arya membukanya lagi dan pergi ke kamar David.
Dia biasanya tidur bersama Lucy, tapi karena ada Nia, dia hanya bisa tidur bersama dengan David.
Ketika Arya memasuki kamar David, dia tersenyum masam ketika melihat kakaknya itu tertidur pulas dengan posisi yang berantakan. Suara dengkurannya juga terdengar jelas.
Arya mau tak mau berdecak kagum pada David. Bagaimanapun, saat Nia datang tiba-tiba tadi, Lucy berteriak cukup kencang dan seharusnya suara gadis itu cukup untuk membangunkan David.
Tapi melihat bahwa David tetap tertidur pulas tanpa terganggu, Arya kagum.