Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 102 - Kencan di Jam Pelajaran



Sekitar satu jam kemudian, Arya mendapat panggilan dari kepala sekolah. Dia segera memasuki ruangan kepala sekolah, mendapat tatapan tajam ketika dia masuk ke sana.


Melihat sekeliling, Arya melihat ada Tuti, gadis tahun ketiga yang menghina ibunya, serta seorang pria berkumis. Ini membuatnya agak bingung. Dia berkelahi dengan beberapa orang, jadi kenapa yang datang hanya satu orang tua siswa?


Mengabaikan tatapan tajam pria berkumis itu, Arya melangkah dan mendekati Tuti, berbisik padanya.


"Kepsek, apakah hanya orang ini yang datang? Aku berkelahi dengan beberapa orang, jadi kenapa hanya ada pria berkumis ini?"


"Aku sudah menjelaskan beberapa hal pada orang tua siswa lainnya. Aku juga membuat omong kosong tentang dirimu yang tertindas dan semacamnya, jadi mereka pergi setelah mendengar kisah menyedihkan tentang dirimu, yang sebenarnya itu hanya cerita palsu."


Tuti berkata, menahan kedutan di sudut mulutnya.


Arya mengangguk puas dengan ini. Jika hanya ada satu orang yang mencari masalah dengannya, maka itu bukan masalah besar.


Berbalik, Arya menatap pria berkumis itu, lalu mengalihkan pandangannya ke gadis tahun ketiga yang menangis di sebelah pria berkumis itu.


"Apakah kau yang membuat putriku menangis?"


Pria berkumis itu bertanya dengan dingin, mengerutkan dahinya dengan kesal. Matanya menatap Arya dengan penuh kebencian.


Arya menatapnya dengan acuh tak acuh, lalu berkata.


"Lalu, apa pedulimu? Putrimu duluan yang mencari masalah denganku, jadi aku hanya membalasnya sesuai dengan apa yang dia lakukan."


"Kurang ajar!"


Pria berkumis itu menggertakkan giginya karena marah, membuat wajahnya memerah. Dia tidak pernah melihat pemuda seperti Arya, yang berani begitu lancang saat berbicara dengannya.


"Ayah... Dia itu sangat kejam padaku... Aku tidak sengaja menabraknya saat berjalan di koridor tadi, tapi dia tiba-tiba marah karena ketidaksengajaanku itu. Dia menamparku, menjatuhkanku ke lantai dan menginjakku. Aku sangat malu, Ayah. Dia melakukan semua itu di depan banyak orang..."


Gadis tahun ketiga yang menghina ibu Arya itu menangis dengan menyedihkan. Dari ekspresinya, dia terlihat seperti korban, tapi dari apa yang dia ucapankan, Arya tahu jika gadis ini tidak lebih dari pemain drama yang menjijikan.


Arya jelas tidak melakukan apa yang dikatakan gadis tahun ketiga itu. Dia marah karena ibunya dihina, bukan karena ditabrak secara tidak sengaja.


Mendengar ini, pria berkumis yang merupakan ayah dari gadis tahun ketiga itu menenangkan putrinya dengan lembut. Dia mengucapkan beberapa kata penghibur sebelum menatap Arya dengan tajam.


"Bocah, sebaiknya kau meminta maaf sekarang! Jika tidak..."


"Jika tidak apa? Kau akan mengancamku? Melaporkanku pada polisi? Menggunakan kekerasan padaku?"


Arya segera menyela, menatap pria berkumis itu dengan tajam. Nadanya dingin dan tidak kenal takut.


Tuti merasa sakit kepala karena Arya begitu tidak kenal ampun. Dia menghela napas dan berkata.


"Arya, cukup. Sekarang kau boleh pergi. Aku akan memanggil siswa yang menjadi saksi yang melihat kejadian sebenarnya. Jika memang kau menghajar gadis ini tanpa alasan, maka kau harus dihukum. Namun jika kejadiannya berbeda dari yang kau katakan, gadis kecil, bersiaplah untuk menerima hukuman dariku. Ingat, aku adalah kepala sekolah di sini, jadi aku tahu semua sikap dan perilaku semua muridku."


Tuti berkata pada Arya, lalu mengalihkan pandangannya ke gadis tahun ketiga itu, memberikan tekanan pada setiap kata yang dia keluarkan dari mulutnya, seakan memberikan ancaman.


Gadis tahun ketiga merinding mendengar ini, segera menghentikan tangisannya.


Pria berkumis berdecak kesal dan menatap Tuti, merasa tidak puas dengan apa yang diucapkannya.


Arya menatap kepala sekolah sejenak, mengangguk dan meninggalkan ruang kepala sekolah. Dia merasa lega karena kepala sekolah benar-benar membantunya. Dengan ini, setidaknya dia tidak perlu merepotkan Lylia.


Ketika melewati koridor, Arya bertemu dengan Lylia. Dia segera tersenyum pada kekasihnya itu.


"Lylia."


"Tunggu, Arya. Kenapa kamu di sini? Apakah kamu mencariku? Tenang saja, aku akan ke ruang kepala sekolah sekarang."


Lylia mengerutkan dahinya, merasa bingung.


"Oh, begitu..."


Lylia linglung. Arya sempat meminta bantuannya tadi, tapi sepertinya itu sudah tidak dibutuhkan lagi.


Menjalinkan jarinya pada jari Lylia, Arya tersenyum lembut.


Lylia terkejut sesaat, tapi dia segera tersenyum manis.


"Arya, ayo pergi keluar sebentar. Aku ingin kencan, sekarang."


"Sekarang? Tapi ini masih jam pelajaran."


"Tak apa, kali ini saja. Ayo kencan. Kita belum kencan lagi selama dua minggu ini, kan?"


"Um, baiklah. Ayo pergi keluar sebentar."


Arya mengangguk.


Segera, keduanya meninggalkan sekolah dan pergi kencan.


*****


"Arya, kamu lebih suka baju seperti apa? Apakah kamu punya tipe tertentu dalam memilih pakaian?"


Lylia bertanya pada Arya, matanya fokus memilih pakaian untuk Arya.


Pad saat ini, keduanya berada di sebuah mall dan sedang berbelanja, sambil berkencan. Mereka mengabaikan pelajaran di sekolah demi bisa kencan seperti sekarang.


Arya yang berada di belakang Lylia tersenyum lembut dan berkata.


"Aku bukan pemilih, pilihkan salah satu yang menurutmu bagus. Lagi pula, apapun yang kamu pilihkan untukku, maka itu pasti yang terbaik dari yang terbaik. Bagaimanapun kamu adalah kekasih tercintaku, Lylia."


Mendengar ini, Lylia terkejut dan tersipu malu. Dia berbalik dan menatap Arya dengan senyum manisnya.


"Aku tidak tahu kamu bisa mengatakan hal semanis itu, Arya."


"Aku bisa mengatakan itu sebanyak yang kamu mau, Cantikku."


Arya berkata, menggoda Lylia lebih jauh.


Lylia tersenyum manis, merasa sangat bahagia dengan ini.


Setelah saling menggoda sejenak, Lylia melanjutkan memilihkan pakaian baru untuk Arya. Dia memilih dengan serius, sebelum akhirnya memilih beberapa yang menurutnya keren jika Arya mengenakannya. Tak lupa, dia juga membeli miliknya.


Bahkan keduanya membeli pakaian yang dikhususkan untuk pasangan.


Setelah selesai dengan pakaian, mereka berkeliling mall sambil berpegangan tangan dengan erat, seakan tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Keduanya saling mengobrol sambil berkeliling, keduanya juga terkadang saling melontarkan kata-kata manis.


*****


Ketika Arya dan Lylia kembali ke sekolah, itu sudah hampir mendekati jam pulang sekolah. Hanya satu jam lagi sebelum akhirnya bel pulang berbunyi.


Duduk di bangkunya, Arya melihat sekeliling sejenak. Matanya kemudian secara tidak sengaja menatap salah satu bangku yang kosong karena orang yang menduduki bangku itu absen.


"Lucy tidak masuk? Jarang sekali dia absen. Tidak, kenapa juga aku harus memikirkannya?"


Arya segera menggelengkan kepalanya ketika wajah Lucy muncul di benaknya. Bukan berarti dia masih mencintainya, tapi itu murni karena rasa heran dan penasarannya.


Sebagai teman masa kecilnya, Arya sangat tahu jika Lucy jarang absen, kecuali gadis itu sakit atau sedang ada keperluan penting.