Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 125 - Kunjungan Tak Terduga



Pada sore hari yang cukup terik, terlihat seorang gadis berambut hitam berdiri di depan rumah Arya. Gadis ini memiliki senyuman manis di wajahnya, bahkan madu dan gula kalah saing dengan senyuman manis gadis ini.


Mengetuk pintu rumah Arya, Lucy tidak sabar bertemu kekasihnya itu. Dia sengaja datang tanpa memberi kabar pada Arya, ingin memberikan kejutan.


Juga, selama hampir dua minggu ini Arya selalu berada di rumahnya, tanpa pernah berkunjung ke rumah Lucy lagi karena Arya sudah terlalu lama di sana, tiga bulan lebih.


Dengan suara pintu berderik, sosok gadis mungil dengan pipi tembem membukakan Lucy pintu.


"Siapa?"


Emily bertanya, tersenyum ketika hendak menyambut tamu yang datang.


Ketika melihat wajah cantik dan senyuman manis Lucy, Emily membeku. Dia terpesona oleh kecantikan Lucy dan seketika mengaguminya.


Dia belum pernah melihat kecantikan seperti Lucy sebelumnya.


"Halo, maaf mengganggu waktumu, tapi apakah Arya ada di rumah? Aku Lucy, kekasih dari Arya."


Lucy bertanya dengan ramah. Dia tidak terlalu terkejut saat melihat seorang gadis seperti Emily yang membukakannya pintu karena Arya sudah bercerita tentang adik sepupunya ini.


Jika Lucy tidak tahu siapa Emily, mungkin dia akan langsung salah paham.


Ketika mengetahui siapa sebenarnya Lucy, Emily sangat terkejut dan terdiam seribu bahasa. Dia terus menatap wajah Lucy.


'Orang secantik dia adalah pacar Kak Arya? Apakah aku tidak salah dengar? Benarkah dia pacar Kak Arya? Bukankah dia terlalu cantik untuk jadi pacar Kak Arya yang biasa saja?'


Emily terkejut, menatap Lucy tanpa berkedip.


Lucy tersenyum masam melihatnya. Dia kemudian melambaikan tangannya di wajah Emily beberapa kali, membuat gadis mungil itu terkejut dan tersadar kembali.


"Maaf, tunggu sebentar! Akan aku panggilkan Kak Arya!"


Emily berbalik dan menuju kamar Arya, di mana kakak sepupunya itu sedang bermalas-malasan.


Di dalam kamarnya, Arya berbaring dengan malas. Dia menatap langit-langit, melamun ketika membayangkan bibir manis dan lembut Lucy.


"Ugh, aku ingin mencium Lucy..." Gumamnya pasrah.


Selama hampir dua minggu ini, dia selalu di rumah, sedang dihukum oleh Erwin karena dia terlalu lama menginap di rumah Lucy dan tidak pernah memberi kabar.


"Kak, pacarmu datang!"


Emily mendobrak pintu kamar Arya, berkata dengan tergesa-gesa.


Arya terkejut, segera bangkit dari kasurnya dengan mata berbinar. Jika apa yang dikatakan Emily benar, dia akhirnya bisa mendapat ciuman lagi.


Namun, saat hendak melangkah keluar kamar, Arya segera berhenti di tempat, merasa curiga.


'Bagaimana jika Emily berbohong? Mungkin saja dia hanya mengerjaiku!'


Arya segera berbalik dan berbaring lagi, menunjukkan ekspresi malas.


"Jangan berbohong, Emily. Tidak mungkin Lucy datang tanpa memberi kabar."


Arya mengibaskan tangannya, mengusir Emily.


Emily berkedut, agak kesal.


"Apakah kamu benar-benar tidak mau bertemu denganku, Arya?"


Suara familiar terdengar di telinga Arya, membuat semangatnya meningkat drastis dan langsung melompat dari kasurnya.


"Lucy, kenapa kamu bisa di sini?" Tanya Arya, tidak bisa menahan rasa bahagianya.


"Apakah ada masalah jika aku di sini? Apakah aku tidak boleh ada di sini? Oh, atau mungkin kamu menyembunyikan selingkuhanmu di sini?"


Arya terdiam.


Lucy tertawa kecil melihat reaksi Arya. Dia lalu memeluknya erat dan membenamkan wajahnya ke dadanya.


"Aku hanya bercanda, oke? Aku tahu kamu tidak akan pernah selingkuh dariku, tidak peduli apapun yang terjadi."


Arya mendengus ringan mendengarnya. Dia kemudian menangkupkan kedua tangannya pada wajah Lucy, mengangkatnya dan membuat gadis itu menatap matanya.


"Aku agak marah di sini. Buat aku ceria kembali."


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu ceria lagi?" Lucy tersenyum nakal.


"Apa, ya~? Aku juga tidak tahu."


Nada main-main terdengar dari Arya ketika pemuda itu meraih dagu Lucy.


Melingkari leher Arya, Lucy mendekatkan wajahnya ke wajah Arya.


Arya juga melakukan hal yang sama. Dia memeluk erat pinggang Lucy.


"Ahem! Maaf mengganggu, tapi aku masih di sini!"


Emily berdeham, mengejutkan Arya dan Lucy, segera memisahkan diri.


Wajah keduanya merah pada saat ini, malu karena hampir berciuman di depan mata Emily.


Mendengus tidak senang, Emily berbalik dan pergi ke kamarnya.


Melihat gadis mungil itu pergi, Arya menarik Lucy ke dalam kamarnya, menutup pintu dan mencium bibir Lucy sepuasnya.


Kembali pada Emily, dia masuk kamar dan mengunci pintu, langsung melompat ke kasurnya lalu membenamkan wajahnya ke bantal.


'Ahhhhhh!!!'


Emily berteriak dalam hatinya. Wajahnya benar-benar merah padam bagai tomat rebus. Jantungnya berdetak kencang dan perasaan aneh muncul di hatinya.


'Mereka benar-benar ciuman?! Apakah pasangan kekasih memang melakukan hal semacam itu setiap hari?!'


Dia berguling-guling di atas kasurnya, menendang-nendang udara.


"Ciuman..." Gumamnya.


Emily kini mulai berpikir. Dia jadi agak penasaran dengan apa yang disebut "ciuman" itu karena dirinya belum pernah merasakannya.


"Aku ingin merasakannya juga... Ciuman itu rasanya seperti apa, ya?"


Emily menyentuh bibirnya ketika wajah Arya melintas di benaknya.


*****


Pada saat jam makan malam, Arya beserta Lucy Erwin dan Emily duduk di meja makan dan menikmati makanan yang tersaji di meja.


Arya dan Lucy bersebelahan, sementara Erwin dan Emily berseberangan dengan keduanya.


Mereka makan dengan suasana hangat sambil sesekali mengobrol.


Makan malam kali ini juga Arya dan Lucy yang masak, jadi makanan malam ini lebih lezat karena ada bantuan dari Lucy.


"Kakek, aku izin menginap di sini, boleh?"


Ketika Erwin sedang mengunyah, Lucy tiba-tiba bertanya dan membuatnya hampir tersedak.


"Menginap?" Erwin mengangkat alisnya.


Lucy mengangguk penuh keyakinan.


Seketika, Erwin mengalihkan pandangannya pada Arya dengan tatapan tajam.


Arya yang ditatap membalas, menggeleng seakan menyiratkan jika bukan dia yang menyuruh Lucy datang dan menginap.


Berpikir sejenak, Erwin mengangguk sambil menghela napas pelan.


"Boleh saja kamu menginap, tapi kamu harus tidur bersama Emily."


"Um, tidak masalah!"


Lucy tersenyum ceria, mengangguk.


Lucy sudah cukup senang karena diizinkan menginap. Dia sudah menduga jika dia tidak boleh satu kamar bersama Arya, karena Erwin jelas tidak akan pernah mengizinkannya. Bagaimanapun, dia dan Arya bukan pasangan suami-istri.


Setelah selesai makan malam, Emily segera membereskan meja dan membawa semua peralatan makan yang kotor ke tempat cucian piring.


Arya yang bertugas mencuci piring segera mencucinya sambil bersenandung pelan.


"Mau aku bantu?"


Lucy mendekati Arya, tersenyum lembut.


Arya tertawa kecil, kemudian berkata.


"Ya, tolong bantu aku. Rasanya terlalu banyak jika aku mencucinya semuanya sendirian. Jika terlalu lama, kita tidak memiliki waktu bermesraan lebih, benar?"


Arya menggoda, membuat Lucy memerah namun bahagia.


Bersandar pada bahu Arya, Lucy membantu Arya mencuci piring.


Arya pun melakukan hal yang sama. Dia bersandar pada Lucy.


Pada titik ini, dunia adalah milik Arya dan Lucy.


Di sisi lain, Erwin dan Emily yang duduk tidak jauh dari sana menatap punggung pasangan kekasih itu, menghela napas dan menggeleng bersamaan.


"Kek, Kak Arya sangat beruntung, ya. Dia bisa punya pacar baik dan cantik seperti Kak Lucy." Kata Emily.


"Ya, kamu benar. Tapi, asalkan kamu tahu, Arya dan Lucy pernah memiliki masalah dan hubungan mereka merenggang cukup lama, lho. Selama masa itu, Arya pernah berpacaran dengan dua wanita lain."


"Apa?! Benarkah itu, Kek? Bagaimana bisa Kak Arya memikat dua wanita itu? Wajahnya biasa-biasa saja, lho!"


"Hei, jangan sembarangan begitu. Kakekmu ini tampan saat muda, jadi cucunya jelas juga tampan. Dengar, pacar pertama Arya itu bernama Lylia dan dia lebih cantik dari Lucy, bahkan Lylia itu kaya raya. Pacar keduanya itu Friska. Dia tidak kalah cantik dari Lucy." Erwin terkekeh.


Emiky terdiam, tidak menyangka jika Arya bisa memikat dua wanita selain Lucy.


Terlebih lagi ketika mendengar nama Lylia.


'Kak Lucy saja sudah cantik, tapi Kakek bilang jika Lylia lebih cantik. Jadi, seberapa cantik sebenarnya Lylia ini? Kak Arya, kamu benar-benar hebat dalam memikat wanita!"


Emily menatap punggung Arya dengan kagum.


*****


Di dalam kamarnya, Arya dan Lucy sedang bermesraan dengan Lucy duduk di pangkuan Arya, bersandar di dadanya.


Arya sendiri merangkul Lucy dengan hangat, meletakkan kepalanya di bahu Lucy sambil sesekali berbisik menggoda di telinga gadis kecilnya ini.


"Arya, aku rindu Mama."


Lucy tiba-tiba berkata demikian, membuat Arya agaj terkejut.


Mama yang Lucy maksud merujuk pada Rosa, ibu dari Arya.


Arya dan Lucy teman masa kecil, jadi bukan masalah besar jika Lucy memanggil Rosa dengan panggilan "Mama". Arya sendiri juga memanggil ibu Lucy dengan panggilan "Ibu" sebelum beliau meninggal.


"Kamu rindu Mama? Mau bertemu Mama?" Tanya Arya.


"Eh? Tidak, lakukan panggilan video saja cukup, tidak perlu harus bertemu langsung."


"Ayo pulang ke kota Bern besok atau lusa. Aku juga rindu Mama, tahu?"


"Um, baiklah. Terima kasih sudah mau mendengarkan dan menuruti keegoisanku, Arya."


Lucy tersenyum hangat, bersandar di dada Arya lalu mencium pipinya.


‍‍‍‍