
Empat hari kemudian, Arya sudah pulih sepenuhnya dan dia sudah keluar dari rumah sakit. Luka di pinggangnya telah menutup rapat dan tidak lagi terasa sakit, namun itu meninggalkan bekas luka yang kemungkinan permanen dan sulit untuk dihilangkan.
Adapun luka di bahu Arya, itu sudah menutup namun jika Arya terlalu banyak bergerak, bahunya akan terasa nyeri dan itu benar-benar tidak nyaman baginya.
Pada saat ini, Arya dan Lucy sedang berada di kamar hotel dan keduanya sedang bermesraan seperti biasanya.
Besok adalah hari kepulangan dari study tour. Study tour harusnya berakhir beberapa hari yang lalu, namun karena ada insiden penculikan, study tour dihentikan di hari kelima dan sejak saat itu, semua kegiatan siswa dihentikan dan para siswa tidak boleh meninggalkan hotel tanpa seizin kepala sekolah.
Selain itu, para siswi yang menjadi korban penculikan masih mengalami trauma dan Tuti selaku kepala sekolah jelas menunda kepulangan study tour sampai para gadis itu tenang dan menghilangkan sedikit traumanya.
Kembali pada Arya, dia tampak sedang menikmati waktunya bersama Lucy. Bisa dilihat dari dirinya yang berbaring dengan nyaman di sofa dengan menggunakan paha Lucy sebagai bantal.
Menatap Lucy, Arya memiliki tatapan manja dan dia tersenyum lembut ketika dia mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pipi Lucy.
"Lucy, ada yang ingin kusampaikan padamu." Kata Arya tiba-tiba.
"Oh, apa itu? Apakah itu tentang Marissa?"
"Um, kamu benar. Sepertinya aku akan mengikuti saranmu. Aku akan pergi ke Inggris dan menerima undangan dari Marissa."
"Baguslah, aku takut kamu tetap keras kepala menolak undangan Marissa. Kamu sudah menghubungi Marissa? Ada baiknya kamu menghubunginya, jadi dia tidak menunggu terlalu lama."
"Aku akan melakukannya, tapi mungkin nanti. Aku masih mau bermanja ria bersamamu."
Arya terkekeh, lalu membenamkan wajahnya ke perut ramping Lucy dan mengusapkan dahinya di sana, menggelitik Lucy.
Lucy yang merasa geli itu tertawa, mencoba menghentikan Arya dari menggelitiknya.
"Berhenti, Arya... Itu geli..."
Lucy tertawa, membuat Arya tersenyum dan menghentikan menggelitik Lucy. Dia kemudian menatap wajah Lucy dengan tatapan hangat. Dia merasa sangat bersyukur karena tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Lucy ketika diculik pada saat itu. Dia benar-benar takut Lucy mengalami luka, yang mana jika itu terjadi, Arya akan merasa sangat bersalah.
Setelah keheningan, Arya dan Lucy hanya saling menatap dengan Lucy mengelus kepala Arya dengan lembut, menyisir rambut kekasihnya itu dengan gerakan menyayangi.
"Arya, besok adalah kepulangan kita dari study tour. Bagaimana jika besok kita langsung ke kota Bern dan menemui mama untuk memberitahunya jika kamu akan pergi ke Inggris?"
"Itu... Aku juga berniat seperti itu, tapi aku masih bingung cara menjelaskan jika aku akan pergi ke Inggris pada mama. Bagaimanapun, rasanya tidak masuk jika aku tiba-tiba mendapat undangan dari Putri Inggris, kan?"
"Kamu benar, itu memang tidak masuk akal tapi itu terjadi sekarang. Tenang saja, aku akan membantumu menjelaskan pada mama. Aku yang akan bicara pada mama, jadi kamu bisa tenang."
Lucy berkata dengan lembut, tersenyum sambil mengelus kepala Arya.
Hati Arya menghangat mendengarnya. Rasanya begitu menyenangkan memiliki kekasih yang sangat peka dan sangat perhatian padanya. Dengan begini, dia bisa tenang menjelaskan bahwa dia akan pergi ke Inggris untuk memenuhi undangan dari Putri Inggris itu langsung.
Pada esok harinya, Arya menghubungi Marissa dan mengatakan jika dia akan pergi ke Inggris untuk memenuhi undangannya.
Marissa yang mendapat kabar ini menjadi gembira. Dia sudah menunggu cukup lama tentang kepastian dari Arya dan pada akhirnya dia mendapat hasil yang memuaskan.
"Itu kabar baik. Baiklah, aku berencana kembali ke Inggris lusa depan. Aku harap waktu itu cukup untukmu mempersiapkan apa yang perlu kamu siapkan, jadi kita bisa berangkat tepat waktu."
"Baiklah, aku menunggu kabar darimu."
Setelah perbincangan singkat itu, Arya menutup panggilan teleponnya.
*****
Setelah kembali dari study tour, Arya dan Lucy pulang ke rumah masing-masing terlebih dahulu dan beristirahat.
Lucy kembali ke rumahnya dan Arya kembali ke rumah kakeknya.
Setelah merasa cukup beristirahat, Arya berpamitan pada kakeknya untuk pergi ke kota Bern, menemui ibunya karena ada beberapa hal yang harus dia katakan pada ibunya dan hal itu cukup penting, jadi Arya tidak bisa menundanya terlalu lama.
Erwin awalnya agak kebingungan dan dia sempat mencegah Arya pulang ke kota Bern dengan alasan Arya baru saja pulang dari study tour dan masih perlu istirahat. Namun, karena cucunya itu memaksa, jadi dia hanya bisa pasrah dan membiarkannya pulang ke kota Bern.
Setelah mendapat izin dari kakeknya, Arya menjemput Lucy terlebih dahulu dan setelah itu, keduanya pergi ke kota Bern.
*****
Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, Arya dan Lucy akhirnya tiba di kota Bern dan saat ini mereka sudah di depan rumah Rosa, mengetuk pintu dan setelah beberapa saat menunggu, sosok Rosa terlihat ketika wanita tersebut membukakan pintu untuk orang yang mengetuk.
"Arya? Lucy?"
Rosa tampak terkejut melihat Arya dan Lucy.
"Halo, Ma. Maaf karena pulang tiba-tiba lagi tanpa mengabari lebih dulu."
Arya terkekeh, mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Rosa.
Rosa mendengus ringan mendengarnya. Dia kemudian menyambut keduanya masuk dan mereka mengobrol di sana.
"Bagaimana study tour-mu, Nak? Apakah itu menyenangkan?"
Rosa bertanya ketika semua orang sudah duduk.
"Ya, Ma. Itu sangat menyenangkan."
Arya tersenyum pahit. Bagaimanapun, study tour kali ini adalah study tour terburuknya. Dalam perjalanan study tour-nya awalnya menyenangkan, karena bisa makan di meja yang sama dengan Putri Inggris secara tidak sengaja. Namun, penculikan tiba-tiba terjadi dan Lucy menjadi korbannya.
Arya tentu menyelamatkan Lucy, namun dia harus menerima luka di bahu dan pinggangnya. Jadi, bagian mana yang menyenangkan selain dari bertemu dengan Putri Inggris?
Arya memiliki keluhan tentang ini, namun tentu dia tidak bisa mengatakannya pada Rosa.
"Syukurlah jika semuanya menyenangkan."
Rosa menghela napas lega, lalu tersenyum lembut pada Arya dan Lucy
Setelah itu, mereka bertiga membicarakan banyak hal.