
Jam dua pagi, di dalam kamarnya, Lucy yang sedang berbaring di kasurnya itu melamun, menatap langit-langit. Dia tidak bisa tidur malam ini, karena saat dia demam tadi, dia sudah tidur terlalu banyak sehingga dia terjaga.
Menoleh ke samping, Lucy menatap Arya yang sedang tertidur di sebelahnya. Pemuda itu tertidur nyenyak sambil bernapas dengan pelan.
Menghela napas, Lucy tersenyum tanpa daya. Dia ingat jika dia meminta Arya untuk menemaninya tidur, tapi hasilnya, dia jadi malah yang menemani Arya tidur.
Perlahan, karena menatap Arya cukup lama Lucy jadi memiliki gelitikan di hatinya, ingin menggangu Arya yang sedang tertidur itu. Dia lalu mengulurkan tangannya dan menyolek pipi Arya sambil tertawa kecil.
Lucy melakukan hal ini beberapa kali, hingga akhirnya Arya mengeluarkan suara dan mengubah posisi tidurnya, memunggunginya.
Lucy berkedut, merasa kurang senang karena Arya berpindah posisi, membuatnya kesulitan untuk menjahilinya. Dia lalu mengguncang bahu Arya beberapa kali, ingin membuatnya terbangun.
Dia mencubit, menyolek bahkan mengguncang bahu Arya selama lima menit, tapi pemuda itu tetap tidak bangun, membuatnya semakin tidak senang dan ekspresinya berubah cemberut.
"Arya, kamu tidur atau pingsan, sih?" Lucy terdengar kesal.
Lucy kemudian berpikir sejenak, mendapat ide bagus lalu segera menyeringai nakal. Dia merangkak sedikit, membalikkan tubuh Arya yang memunggunginya itu menjadi telentang. Dia kemudian duduk di atas perut Arya.
Alis Arya berkedut beberapa kali, merasa agak tidak nyaman karena Lucy duduk di atas perutnya. Dia sebenarnya sudah bangun sejak Lucy mencubitnya tadi, namun dia terlalu malas meladeni Lucy, jadi dia hanya diam dan berpura-pura tidur.
Tapi sekarang, jika dia tidak membuka matanya, Arya yakin Lucy pasti akan melakukan hal yang lebih dari ini.
"Lucy, kamu terlalu berat. Menyingkirlah..." Kata Arya malas.
"Apa maksudmu?" Tanya Lucy, tersinggung.
Sangat sensitif jika mengatakan tentang berat badan seorang wanita.
Arya terdiam, tidak menjawab dan kembali tidur, membuat Lucy naik darah.
Mencubit pinggangnya dengan keras, Lucy berkata.
"Bangun dan jawab pertanyaanku!"
Arya mengerang kesakitan dan segera bangun. Dia lalu duduk, memangku Lucy dan meminta maaf dengan senyum masam.
"Baiklah, sekarang aku sudah bangun. Apa yang kamu inginkan, Ratuku?"
"Aku tidak bisa tidur dan tidak ada yang bisa kukerjakan. Temani aku, ya?"
"Tapi aku mengantuk, Ratuku."
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menemaniku!"
Lucy merengek sambil menggungcang bahu Arya.
"Baiklah, baiklah. Aku akan menemanimu, jadi jangan berisik atau kakak akan bangun."
Lucy langsung tersenyum manis mendengar ini. Dia lalu melingkari leher Arya dengan satu tangan sementara tangan lainnya meraih kepala bagian belakangnya, menariknya dan menciumnya.
Arya terkejut dengan ini. Dia tidak tahu mengapa gadis ini tiba-tiba menciumnya, tapi karena dia sudah mendapat ciuman,dia tidak menolak. Dia membalas ciuman itu dan mengikuti gerakan bibir Lucy.
Menarik bibirnya, Lucy tersenyum manis saat rona merah menghiasi wajahnya.
"Arya, terima kasih karena sudah merawatku saat aku sakit. Aku sangat mencintaimu."
Lucy mencium Arya lagi.
Tapi kali ini, dia menggunakan lidahnya dan menarik kepala Arya, tidak ingin melepaskannya dengan mudah.
Setelah waktu yang tidak diketahui, Arya dan Lucy terengah-engah dan wajah mereka memerah saat jantung mereka berdebar kencang.
Seperti kemarin, Lucy menjadi agresif dan mencium Arya sebanyak yang dia inginkan.
Arya merasa agak kewalahan tapi dia bahagia. Dia hanya perlu menjaga pikirannya agar tidak hilang kendali seperti kemarin.
Dia tidak ingin membuat Lucy menangis lagi, tapi melihat betapa agresifnya gadis di pangkuannya ini, Arya mau tak mau merasa bergairah dan ingin menyerang Lucy.
Lucy terkejut dan melebarkan matanya.
"Lucy, boleh, ya?"
Arya berbisik di telinga Lucy, lalu mengigit telinganya dengan lembut, membuat tubuhnya menjadi tegang dan wajahnya semakin memerah.
"Ja-jangan... Aku tidak mau melakukannya sebelum menikah. Kamu juga begitu, kan?"
"Ya, tapi sepertinya aku tidak bisa menahan diri lagi. Sejak kemarin, kamu selalu menggodaku. Kamu bahkan meninggalkan bekas kecupan di leherku. Lihat ini."
Arya menarik sedikit kerahnya menggunakan tangan lainnya, menunjukan dua bekas kecupan berwarna merah.
Lucy terkejut dengan ini. Dia tidak menyangka jika dua bekas ciuman itu masih terlihat jelas. Sepertinya bekas ciuman itu tidak akan menghilang dalam waktu dekat.
"Arya... Jangan... Kecuali kamu menikahiku malam ini... Ah!"
Lucy tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, ketika Arya mengecup lehernya, membuatnya terkejut dan mengerang tanpa disadari.
Lucy mau tak mau panik dan takut. Jika dia tahu semuanya akan berakhir seperti ini, dia tidak akan pernah membangunkan Arya.
Arya kemudian mengangkat kepalanya setelah puas. Dia menatap leher putih Lucy, yang kini memiliki tanda merah bekas ciuman.
Mengalihkan pandangannya dan menatap Lucy, Arya melihat jika mata gadis itu gemetar dan sudut matanya dipenuhi air mata.
Namun, meski begitu, dia tidak berniat untuk berhenti. Lucy sendiri sudah menggodanya begitu banyak dan dia juga sudah menahan diri sebisa mungkin. Namun, karena gadis ini tidak tahu batasnya, maka tidak perlu segan-segan lagi
Arya kemudian meraih ujung baju Lucy, menariknya dan memperlihatkan perut Lucy yang indah dan putih tanpa lemak berlebih. Dia melihat jika gadis ini bernafas dengan cepat.
Mengulurkan tangannya, Arya menyentuh perut Lucy, lalu menggelitik pusarnya yang mungil.
Lucy mengigil dengan ini. Setiap gerakan tangan Arya bagai listrik yang menyetrum tubuhnya, membuatnya tidak bisa berhenti gemetar.
Arya menundukkan kepalanya, mencium perut Lucy dengan lembut.
"Hngh... Ah... Arya..."
Lucy mengerang dengan suara yang tidak sepantasnya. Pikirannya mulai kosong. Dia ingin menolak dan membuat Arya menjauh, tapi dia merasa jika dia tidak ingin berhenti.
Lucy tidak tahu datang dari mana perasaan semacam ini, membuatnya merasa jika dia bukanlah dirinya yang biasanya.
Arya mengangkat kepalanya kembali. Dia membuka bajunya, memperlihatkan tubuhnya yang cukup berotot, dengan dada bidang yang lebar.
Arya kemudian meraih perut Lucy lagi, namun tangannya tidak berhenti di sana. Tangannya terus naik ke tempat puncak kembar milik Lucy.
Namun, tiba-tiba, sebuah siluet terlihat. Arya segera membeku dan lupa cara bernafas. Dia dengan kaku menoleh ke samping, hanya untuk melihat seseorang berdiri di dekatnya dengan ekspresi marah.
Arya bahkan bisa melihat kobaran api kemarahan di mata orang itu.
Meraih tangan Arya, David menariknya hingga pemuda itu terjatuh dari kasur.
Dia benar-benar marah saat ini. Dia baru saja terbangun karena ingin buang air kecil. Ketika dia kembali dari kamar mandi, dia secara tidak sengaja mendengar suara dari kamar Lucy.
David seketika mengerutkan dahinya dan segera menuju kamar Lucy, untuk melihat kenapa kedua adiknya itu belum tidur.
Lagi pula, Arya dan Lucy tidur bersama malam ini, jadi dia takut jika keduanya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Bagaimanapun, Arya adalah seorang pria muda. Sebagai seorang pria juga, David sedikit banyak mengetahui isi pikiran Arya.
Dan benar saja, ketika dia masuk ke sana, yang dia takutkan benar-benar terjadi. Dia terkejut dan sangat marah.
Setelah Arya terjatuh, David segera menyeretnya keluar dari kamar Lucy, membawanya melewati ruang TV dan terakhir ruang tamu, sebelum melempar Arya keluar dari rumah.
Arya terkejut dengan ini. Dia sepertinya disuruh tidur di luar karena perbuatannya. Tapi, saat ini dia sedang telanjang dada, jadi setidaknya dia ingin meminta kembali bajunya agar tidak kedinginan.
Tapi, ketika dia mengetuk pintu dan memanggil, yang dia dapat bukan baju, melainkan bogem mentah dari David.
Pada akhirnya, Arya tidur di luar sambil telanjang.