
"Ada apa ini, kenapa berisik sekali?"
Suara Erwin terdengar.
Arya dan dua gadis itu menoleh ke arahnya.
"Oh, Lucy. Kamu datang, Nak? Kenapa tidak masuk dan hanya di depan pintu?"
Erwin mengangkat alisnya, sedikit penasaran karena Lucy yang bertamu itu tampak tidak disambut oleh Arya.
"Arya, jika ada tamu, kamu harus menyambutnya. Jangan biarkan tamumu ditelantarkan di depan pintu. Kemari, Lucy. Masuk dan mengobrol, kamu sudah lama tidak berkunjung ke sini, kan?"
Erwin tersenyum pada Lucy, lalu menatap tajam Arya. Dia sepertinya tidak senang karena Lucy diabaikan sebagai tamu. Bagaimanapun, Lucy sudah dia anggap sebagai cucu sendiri, sebagaimana dia memperlakukan Arya.
Arya memutar matanya, mendecakkan lidahnya dan mencibir sebelum kembali ke kamarnya, diikuti oleh Lylia.
Pada saat yang sama, Lucy dan Erwin duduk di ruang tamu dan mengobrol.
"Bagaimana kabarmu dan kakakmu, Lucy?"
"Kabarku baik, Kek. Kakak juga baik, dia sedang sibuk mencari pekerjaan akhir-akhir ini."
"Oh, benarkah? Itu terdengar bagus. Semoga dia cepat mendapat pekerjaan, ya." Erwin tersenyum tipis.
Lucy mengangguk ringan, lalu menundukkan kepalanya. Ekspresi sedih terlihat di wajahnya. Dia mengingat sikap dingin Arya tadi.
Erwin menghela napas melihatnya. Dia sedikit tahu jika hubungan Arya dan Lucy agak merenggang beberapa tahun ini. Dia tidak tahu titik permasalahannya, jadi dia agak kewalahan di sini.
"Lucy, apakah kamu punya masalah dengan Arya?" Erwin tersenyum masam.
"Eh? Tidak, Kek! Aku tidak punya masalah apapun dengan Arya! Kami masih berhubungan baik seperti biasanya!" Lucy agak panik, takut jika raut wajahnya terlalu mudah dibaca.
"Jangan begitu, Lucy. Katakan saja masalahmu pada Kakek, supaya Kakek bisa memarahi Arya jika memang dia yang salah."
Lucy diam, bingung harus bercerita atau tidak. Akan canggung rasanya jika harus bercerita pada kakek dari orang yang dia cintai.
Melihat ekspresi Lucy, Erwin tersenyum dan menggeleng.
"Lucy, dengarkan Kakek. Kakek tahu hubungan kalian agak buruk, tapi aku tidak tahu titik permasalahannya. Jika itu adalah salah Arya, tolong dimaafkan. Sikap Arya memang banyak berubah akhir-akhir ini. Kamu sendiri tahu penyebabnya, bukan? Arya terlalu banyak beban pikiran tentang keluarganya. Dia selalu memikirkan ibu dan ayahnya, bahkan karena kelakuan Vicky yang keterlaluan itu, Arya jadi membenci ayahnya sendiri. Jadi mohon dimaklumi jika sikap Arya agak berubah. Pikirannya sedang kacau saat ini."
Lucy mengangguk. Dia memahami semua itu, namun dia berharap jika kesalahpahamannya dengan Arya bisa diselesaikan dan sikapnya pada dirinya kembali hangat seperti dulu.
"Aku paham dengan keadaan Arya saat ini, tapi sikapnya padaku benar-benar berbeda, Kek. Dia selalu berbicara formal dan bersikap dingin padaku."
Lucy perlahan menceritakan masalahnya.
"Benarkah itu? Kenapa bisa begitu?" Erwin mengangkat alisnya.
Lucy kemudian menjelaskan bahwa awal permasalahan adalah ketika Arya pindah dari kota Century ke kota Bern. Pada saat itu, seseorang menjahili Lucy dan mengunggah foto dirinya bersama pemuda, yang terlihat mesra dengannya.
Lucy juga mengatakan jika Arya salah paham saat melihat foto itu dan menganggap dirinya sudah memiliki kekasih, sementara Arya yang salah paham merasa dikhianati dan dilupakan.
Lucy juga bilang kalau sejak saat itu sikap Arya berubah padanya. Dia jadi dingin dan formal.
Setelah mendengar penjelasan Lucy dengan seksama, Erwin mengerti secara garis besar. Tapi dibalik itu dia ingin tertawa. Dia merasa dirinya sudah terlalu tua untuk mengatasi masalah percintaan anak muda. Belum lagi ternyata masalahnya dimulai saat mereka masih SMP.
"Jadi, maksudmu kalian berdua memang saling mencintai sejak kecil, lalu saat Arya pindah kamu tidak sengaja mengunggah foto dengan pria lain dan Arya yang masih menyukaimu jadi salah paham dan hubungan kalian jadi berantakan, begitu?"
Erwin berkata sambil mencoba menahan tawa sementara Lucy mengangguk pelan saat mendengar itu.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Erwin perlahan berdiri dan pergi ke belakang. Dia menuju kamar Arya.
"Arya, kemari. Ada yang ingin Kakek katakan padamu."
"Tunggu sebentar, Kek."
Arya keluar dari kamarnya, wajahnya merah cerah ketika dia menyeka sudut mulutnya, terengah-engah.
Erwin berkedut melihatnya. Dia sepertinya tahu apa yang cucunya ini lakukan bersama kekasihnya di dalam kamar.
"Hei Arya, apa yang telah kamu perbuat pada Lucy? Dia sedih gara-gara kamu, tahu?"
"Lucy bilang hubungan kalian berdua berantakan. Kamu salah paham dengannya, Lucy bilang kalau dia belum pernah memiliki kekasih dan dia hanya menyukai dan mencintaimu. Kenapa kamu salah paham hanya karena sebuah foto?"
Erwin tertawa meledek, membuat Arya memiringkan kepalanya. Dia sedikit bingung tapi sepertinya dia tahu apa yang sedang Erwin bicarakan.
"Tunggu, jangan bilang Lucy menceritakan semuanya?!"
Arya terkejut saat memahami maksud Erwin.
"Ya, dia menceritakan semuanya. Arya, jika kamu memang sudah tidak mencintai Lucy lagi, maka katakan padanya. Jangan buat dia sedih. Kamu malah terlihat seperti Vicky jika seperti ini terus."
Arya mengerutkan dahinya, tidak senang. Dia sangat benci jika dibandingkan dengan Vicky.
"Jangan samakan aku dengan bajingan itu! Aku tidak akan pernah menjadi seperti dia!"
"Kalau kamu memang tidak ingin menjadi seperti Vicky, maka selesaikan masalahmu dengan Lucy. Jangan buat dia sedih."
"Baiklah! Akan aku tunjukkan pada Kakek jika aku tidak seperti Vicky!"
Arya mendengus, berbalik dan menuju ruang tamu.
Erwin menyeringai melihat provokasi kecilnya berhasil.
"Apakah kamu puas sekarang?"
Arya bertanya pada Lucy dengan nada kesal dan ekspresi rumit.
"Apa maksudmu?"
Lucy bangkit dari duduknya, mendekati Arya.
"Jangan berlagak polos! Kamu menceritakan semuanya pada kakek! Tidakkah kamu merasa malu menceritakan semua itu pada kakek?"
Arya menutupi wajahnya dengan kedua telapaknya. Daripada marah, lebih tepat menyebutnya malu setengah mati.
Dia tidak berharap jika kakeknya akan mengetahui rahasia kecilnya, di mana dia dan Lucy sebenarnya saling suka dan cinta sejak kecil.
Lucy terdiam melihat reaksi Arya. Dia perlahan memerah karena malu. Tentu, menceritakan kisah cintanya dengan Arya sejak dini sangat memalukan baginya.
"Aku... Aku tidak bermaksud..."
"Cukup, Lucy, cukup. Jangan katakan apapun lagi. Katakan saja apa maumu dan semuanya selesai."
Arya berkata, nada dingin dan formalnya hilang seketika, digantikan nada yang lebih lembut.
Lucy terkejut, mengedipkan mata beberapa kali sebelum tersenyum lebar.
"Aku ingin kamu seperti dulu lagi! Aku tidak mau mendengarmu formal ataupun bersikap dingin lagi padaku! Aku ingin Arya yang dulu, yang penuh kasih dan hangat padaku!"
"Baiklah, tapi sebagai teman, oke? Maaf harus mengatakan ini, tapi jujur saja perasaanku padamu sekarang tidak lebih dari teman masa kecil, Lucy."
Lucy agak diam, alisnya terkulai namun dia segera tersenyum dan melompat tiba-tiba dalam pelukan Arya, memeluknya erat hingga sesak
Arya terkejut dan mendorong pundak Lucy agar dia menjauh. Namun usahanya sia-sia.
"Oke, cukup. Lepaskan aku. Akan merepotkan jika Lylia melihat ini."
"Tidak mau! Kamu belum membalas pelukanku!"
"Apakah teman saling berpelukan erat seperti ini?"
"Kita bukan teman biasa, kita teman masa kecil! Aku tahu hampir semua rahasiamu, ingat?"
Lucy mengangkat kepalanya,menatap Arya dengan pipi menggembung.
Arya diam, tidak tahu harus berkata apa. Dia dengan pasrah melingkari pinggang Lucy dan memeluknya ringan. Pelukannya sama sekali tidak mesra, hanya pelukan biasa.
Lucy agak kecewa, tapi dia sudah puas. Dia memeluk Arya beberapa saat kemudian melepaskannya.
Setelah itu, Lucy menetap di rumah Arya hingga sore hari. Dia mengobrol banyak dengan Arya di ruang tamu, karena Erwin meminta Arya untuk menemani Lucy.
Adapun Lylia, Erwin melarangnya mengganggu waktu Arya dan Lucy yang sedang reuni kecil itu.