
Esok harinya, ketika pagi-pagi sekali Lucy yang baru bangun tidur itu menatap Arya dengan senyum bahagia. Dia terkekeh lalu mencium dahi Arya sebelum pergi membasuh wajahnya.
Dia benar-benar terlihat sangat bahagia. Bagaimana tidak, tadi malam dia dan Arya akhirnya berpacaran secara resmi.
Hubungan keduanya tidak jelas sebelumnya dan hal itu membuat Lucy sedih. Jadi, ketika hubungan mereka sudah jelas, gadis cantik ini sangat bahagia.
Setelah selesai membasuh wajahnya, Lucy kembali ke kamarnya dan membangunkan Arya.
Memang tidak biasanya Lucy membangunkan Arya pagi-pagi sekali, tapi hanya untuk hari ini, dia ingin Arya menemani kegiatannya di pagi hari, seperti membersihkan rumah dan memasak.
Lucy yang melihat Arya masih tidur dengan nyenyak itu perlahan duduk di sebelahnya dan mengelus kepalanya dengan lembut.
"Arya, ayo bangun~. Temani aku masak, ya~?"
Lucy mengguncang bahu Arya dengan pelan dan nadanya terdengar agak menggoda.
Arya yang bahunya diguncang membuka matanya sedikit dan mengubah posisi tidurnya lalu memejamkan matanya lagi, tertidur.
Lucy yang melihat ini hanya tersenyum manis dan mendekati Arya lagi. Kini dia mendekati telinga Arya dan berbisik di sana.
"Sayang, ayo bangun~. Kalau kamu tidak bangun, nanti kamu aku cium, lho~."
Arya langsung merinding mendengar ini. Nada Lucy benar-benar menggoda dan suaranya sangat jelas karena gadis itu berbisik di telinganya.
"Lucy, bukankah ini masih terlalu pagi? Biarkan aku tidur lima menit lagi, oke?"
Arya duduk dan menggosok matanya. Nadanya malas dan dia jelas terlihat masih sangat mengantuk.
"Tidak boleh begitu, kami harus rajin bangun pagi...?!"
Lucy belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika dia tiba-tiba ditarik oleh Arya.
Hanya dalam sekejap, Arya sudah menunggangi Lucy.
Lucy yang berada di bawah tubuh Arya terkejut dan mengedipkan matanya beberapa sebelum akhirnya tersenyum nakal.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku yakin kamu sudah tahu jawabannya, Lucy."
Arya tersenyum tipis dan mendekati wajah Lucy, mencium gadis itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Lucy juga segera membalas. Dia perlahan membuka mulutnya dan memasukkan lidahnya.
Arya agak terkejut karena Lucy tiba-tiba menggunakan lidahnya. Lagipula, mereka biasanya hanya akan melakukan ciuman ringan di pagi hari.
Tapi karena gadis itu telah memainkan lidahnya, Arya jelas tidak mau kalah dan segera mengikuti gerakan lidah Lucy.
"Ratuku, kamu benar-benar agresif pagi ini...!"
Arya terengah-engah dengan wajah memerah. Dia tersenyum hangat pada Lucy yang melingkari lehernya menggunakan kedua tangannya.
"Arya, apakah ini masih sakit?"
Lucy bertanya dengan ekspresi sedih. Satu tangannya mengusap pipi Arya yang telah dia tampar kemarin.
Lucy agak menyesal sekarang karena telah menampar Arya dengan keras kemarin.
"Tidak, ini sama sekali tidak sakit."
Arya meraih tangan Lucy yang mengusap pipinya dan menggosokkan pipinya ke sana dengan manja.
"Benarkah?"
"Ya, itu benar, Ratuku."
Arya mengkonfirmasi bahwa tamparan Lucy memang tidak menyakitkan baginya.
Mengetahui hal ini, Lucy tersenyum manis saat matanya menunjukan kenakalan.
Menarik kepala Arya, Lucy mencium pemuda itu dengan ganas.
Pagi yang sangat panas untuk dua orang yang baru berpacaran kurang dari satu hari.
*****
Tiba di sekolah, Arya dan Lucy memasuki kelas secara bersamaan dan mereka berdua disambut hangat oleh beberapa orang.
"Selamat pagi, Lucy."
"Hai Lucy, aku tidak melihatmu kemarin. Apakah kamu sibuk kemarin?"
"Lucy, bagaimana kabarmu pagi ini?"
Beberapa gadis mendekati Lucy dan menyapanya. Mereka semua memiliki senyum tulus dan itu membuat Lucy merasa hangat.
Sebelumnya, karena Rui menyebarkan rumor buruk tentang dirinya, Lucy jadi bahan gosip banyak orang dan dia menjadi dimusuhi oleh banyak orang, terutama para gadis seusianya.
Hal ini menyebabkan Lucy merasa dikhianati dan dia tidak lagi mau berteman dengan mereka yang menyebarkan rumor buruk tentang dirinya.
Namun, gadis-gadis yang menyapanya ini merupakan orang baik dan mereka semua tidak mempercayai rumor buruknya. Oleh karena itu, Lucy mau berteman baik dengan mereka.
"Aku kemarin ada urusan sebentar, jadi aku absen satu hari."
Lucy tertawa kecil saat dia menjawab teman-temannya.
Kemarin dia sibuk menyelesaikan masalahnya dengan Arya, jadi dia dan pemuda tersebut tidak masuk sekolah dan menyelesaikan masalah hubungan mereka lebih dulu.
Arya tersenyum tipis saat melihat Lucy bersama temannya. Dia kemudian pergi ke bangkunya dan tiba-tiba, dia disapa oleh beberapa pemuda seusianya.
"Yo, Arya. Bagaimana kabarmu?"
"Sialan kau, Arya. Kemarin kau tidak datang ke sekolah karena pergi dengan Lucy, kan?"
Ada tiga orang pemuda datang mendekati Arya dan mengajaknya mengobrol.
Biasanya, mereka akan takut padanya karena sikapnya yang kejam saat berkelahi dan dia juga sulit untuk didekati karena tatapan tajamnya.
Tapi, selama beberapa hari terakhir, beberapa orang selalu mendekatinya. Sepertinya sikap lembut yang dia tunjukan pada Lucy telah mengubah sudut pandang orang-orang padanya.
Di sisi lain, seorang gadis cantik tersenyum ketika melihat Lucy mengobrol dengan temannya. Dia tidak lain adalah Helen.
Lucy yang menyadari tatapan Helen segera melambaikan tangannya pada teman lainnya dan segera menghampirinya.
"Helen, apakah kamu mau tahu sesuatu?"
Lucy tersenyum bahagia sambil melompat-lompat kecil di hadapan Helen.
Helen kebingungan tapi dia segera tersenyum dan menjawab.
"Ada apa ini? Kamu terlihat sangat bahagia hari ini."
"Um, tentu saja aku sangat bahagia. Tadi malam, aku dan Arya akhirnya resmi pacaran!"
Lucy dengan gembira mengatakan ini, membuat Helen terkejut dan sudut matanya berkedut.
"Lucy, kamu bohong, bukan? Tidak mungkin kamu dan Arya baru pacaran tadi malam. Kalian selalu terlihat mesra, lho."
"Tidak, kami memang terlihat mesra, tapi kami belum pacaran sampai akhirnya tadi malam kami resmi pacaran."
Lucy mengerucutkan bibirnya, agak kecewa ketika mengingat kembali Arya yang hanya menganggapnya teman tempo hari.
Setelah itu, Lucy menjelaskan secara singkat tentang hubungannya dengan Arya yang agak rumit.
Helen yang mendengarkan menjadi semakin kebingungan.
'Apa ini? Mereka ternyata baru pacaran kurang dari satu hari ini? Lalu, bagaimana bisa mereka begitu mesra sebelumnya, padahal mereka bukan sepasang kekasih? Argh, kalian membuatku bingung!'
Banyak pertanyaan melintas di benak Helen, membuatnya sakit kepala sendiri.
*****
Setelah melewati pelajaran yang melelahkan, jam istirahat akhirnya tiba.
Para siswa segera meninggalkan kelas mereka dan menuju kantin untuk mengisi perut mereka, tidak terkecuali Arya dan Lucy.
"Lucy, ayo ke kantin."
Arya yang baru saja merapikan bukunya langsung mengajak Lucy ke kantin. Memahami pelajaran pagi ini membuatnya berpikir cukup keras dan itu membuatnya lelah, jadi dia ingin segera mengisi perutnya agak staminanya kembali.
Lucy hanya mengangguk dan segera berdiri dari bangkunya, menggandeng tangan Arya dan keduanya segera menuju ke kantin dengan mesra.
Melewati koridor, banyak pasang mata menatap Arya dan Lucy dengan iri, cemburu dan kagum.
Tentu saja, mereka yang iri dan cemburu adalah para pemuda yang tidak bisa mendapatkan kekasih secantik Lucy.
Sisanya, mereka adalah para gadis yang kagum dengan kecantikan Lucy.
Arya dan Lucy hanya mengabaikan tatapan orang-orang dan fokus mengobrolkan beberapa hal sepele namun menyenangkan.
Tiba di kantin, keduanya segera memesan makanan dan minuman lalu menuju salah satu meja dan duduk di sana.
"Tunggu di sini sebentar, aku mau ke toilet."
Arya tiba-tiba merasa ingin buang air kecil dan berkata demikian pada Lucy.
Lucy hanya mengangguk.
Arya pun pergi ke toilet dan setelah selesai buang air kecil, dia mencuci tangannya lalu kembali menuju ke kantin lagi.
Awalnya, ketika dia menuju ke toilet, dia merasa nyaman dan tidak merasa terganggu.
Tapi ketika perjalanan kembali ke kantin dari toilet, Arya merasa dirinya diikuti oleh seseorang.
Terlebih lagi, sepertinya orang yang mengikutinya ini telah menunggunya keluar dari toilet, karena orang ini sudah mengikutinya sejak dia keluar dari sana.
Arya jelas merasa tidak nyaman namun dia mengabaikan hal tersebut.
Menoleh ke belakang sejenak, Arya mengerutkan dahinya karena dia tidak melihat siapa sebenarnya orang yang mengikutinya karena ada beberapa orang yang mengobrol di koridor.
Ada setidaknya lima orang, tiga pria dan sisanya gadis.
Arya hanya menghela nafas dan melanjutkan perjalanan.
Ketika dia mulai melangkahkan kaki lagi, Arya segera merasa diikuti lagi. Tapi kali ini, dia benar-benar mengabaikannya dan langsung menuju kantin dengan langkah kaki yang dipercepat.
Saat Arya kembali ke toilet dan duduk bersama Lucy, makanan dan minuman yang dia pesan sudah ada di meja dan Lucy sudah menunggunya dengan senyuman manis.
Arya segera menarik kursi dan duduk. Dia melihat sekeliling dengan mata tajamnya, membuat Lucy memiringkan kepalanya karena bingung.
"Arya, ada apa?"
"Hm? Ah, tidak apa-apa. Aku hanya merasa ada seseorang yang mengikutiku sejak aku keluar dari toilet tadi, makanya aku melihat sekeliling. Aku ingin tahu, siapa yang berani mengikuti!"
Arya berkata dengan agak kesal saat wajahnya berkedut.
Setelah dia tiba di kantin dan duduk bersama Lucy, Arya dengan jelas merasakan bahwa orang yang mengikutinya dari toilet tadi telah pergi dan tidak mengikutinya lagi.
Lucy agak terkejut tapi dia segera tersenyum lembut.
"Tentu saja, kamu pasti akan diikuti oleh seseorang karena wajahmu itu sangat tampan, jadi tentu saja akan ada beberapa wanita lain yang tertarik denganmu."
Lucy berkata dengan senyum manis. Tapi apa yang dia katakan berikutnya membuat Arya terkejut dan merinding.
"Tapi tenang saja, jika ada yang berani mendekatimu bahkan merebutmu, aku tidak ragu membuat mereka babak belur. Tenang saja."
Lucy tersenyum lagi, tapi kali ini senyumannya sangat menakutkan.