
Pada malam harinya, Arya yang sedang berbaring di kamarnya tiba-tiba mendapat telepon dari David. Dia disuruh ke rumahnya malam ini juga.
Arya mengerutkan dahinya saat kecurigaan melintas di matanya. Dia merasa jika David meneleponnya karena Lucy yang memintanya. Tapi meski dia merasa curiga, dia tetap pergi.
Tiba di rumah Lucy, Arya mengetuk pintu dan pintu pun segera terbuka, menunjukkan sosok gadis berambut hitam dengan wajah cantik. Jika bukan Lucy, siapa lagi?
Arya segera mengerutkan dahinya dan ekspresi ketidaksenangan muncul di wajahnya. Dia masih ingat jelas bagaimana Lucy menerima William sebagai kekasihnya tadi.
"Dimana Kakak?" Arya bertanya.
Meski dia tidak senang karena yang menyambutnya adalah Lucy, tapi dia tidak langsung pergi. David meneleponnya dan menyuruhnya datang pasti memiliki suatu hal yang ingin dibicarakan, makanya dia bertanya.
"Kakak sedang berada di kamar mandi. Katanya jika kamu datang, kamu harus menunggunya sebentar. Ayo, masuklah. Di luar dingin, kan?"
Lucy berkata, wajahnya terlihat bermasalah.
Arya menghela napas tanpa daya dan masuk, menunggu di ruang tamu. Dia sangat enggan menunggu jika hanya ada dirinya dan Lucy di sini.
Setelah menunggu cukup lama, David tak kunjung muncul. Ini membuat Arya sedikit kesal. Menghela napas pelan, dia berdiri dan hendak kembali ke rumahnya.
Namun, saat dia hendak pergi, Lucy tiba-tiba memanggilnya dari belakang.
Arya seketika menoleh dan mengerutkan dahinya.
"Apakah Kakak sudah selesai dengan kamar mandinya?"
"Ti-tidak... Belum, tapi bisakah kamu membantuku sebentar? Bonekaku tersangkut di atas lemari, aku tidak bisa menggapainya..."
Lucy berkata dengan pelan, menatap Arya dengan memohon ketika matanya yang indah gemetar dengan lembab.
Arya tidak tahu harus menangis atau tertawa. Dia menghela napas tanpa daya dan mengangguk meski dia enggan membantu Lucy. Lagipula, itu hanya mengambilkan boneka, jadi dia hanya perlu mengambilkannya dan kembali setelahnya.
Mendapat persetujuan Arya, Lucy gembira. Dia segera mengajaknya ke dalam kamar dan menunjukkan boneka yang tersangkut itu.
Arya mengangkat kepalanya dan melihat ke atas, menemukan jika boneka Lucy memang tersangkut di atas lemari.
Berjinjit sedikit, Arya mengambil boneka itu dengan mudah. Dia agak terkejut mengetahui jika boneka yang tersangkut adalah boneka beruang berwarna cokelat gelap dengan mata berwarna hitam. Dia jelas mengetahui boneka ini. Boneka beruang ini tidak lain adalah pemberiannya saat mereka lulus dari sekolah dasar.
Arya ingat jelas dia menabung satu bulan untuk membeli boneka ini sebagai hadiah untuk diberikan pada Lucy. Dia tidak menyangka Lucy masih menyimpan boneka ini. Bahkan, sepertinya Lucy merawatnya dengan baik, karena boneka ini masih tampak bersih.
Menatap boneka beruang itu cukup lama, Arya merasa bernostalgia dan senyum tipis muncul di bibirnya tanpa dia sadari.
Menyadari senyuman Arya, hati Lucy menghangat. Dia menatap Arya cukup lama lalu berkata.
"Arya, itu adalah boneka yang kamu berikan padaku dulu, ingat?"
Arya segera tersadar dari lamunannya dan segera menatap Lucy, ekspresinya segera berubah menjadi dingin dan tatapannya tajam.
Lucy tersenyum pahit melihat ini. Dia menyesal karena bertanya. Jika dia diam saja, mungkin dia bisa menikmati senyum Arya lebih lama.
"Ini, boneka Anda."
Arya menyerahkan boneka beruang itu pada Lucy, melewatinya dan hendak keluar dari kamar gadis tersebut.
"Arya, tunggu!"
Lucy segera menghentikan Arya, meraih ujung lengan bajunya.
Arya terhenti dan berbalik.
"Apakah Anda memiliki hal lain yang ingin disampaikan? Jika tidak, saya ingin kembali ke rumah saya. Kakek sedang menunggu." Arya terdengar tidak sabar.
"Arya, aku... Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Jadi, tolong dengarkan aku, sebentar saja."
Lucy mengabaikan reaksi Arya dan mengambil napas dalam-dalam dan berkata dengan serius pada Arya.
"Arya, kamu ingat kejadian tadi, kan? Sebenarnya, aku menerima William karena kamu... Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?"
Lucy yang awalnya serius itu perlahan menjadi gugup ketika tatapan dingin dan tajam Arya menguncinya. Dia berusaha menyelesaikan kalimatnya meski itu cukup sulit.
Ekspresi Arya segera berubah. Kobaran api amarahnya, yang sudah padam kini mulai berkobar lagi dengan hebat. Mendengar Lucy berkata seperti itu sangat menyiksa hatinya.
"Anda bertanya bagaimana perasaan saya? Huh, mudah saja. Perasaan saya sama seperti saat itu, perasaan terkhianati!" Arya mengatupkan giginya.
Lucy terkejut dengan ini, wajahnya berubah pucat. Dia tidak mengharapkan jawaban seperti ini. Dia berharap Arya cemburu, bukan merasa dikhianati.
"Tunggu! Maksudku bukan seperti itu!"
"Oh, lalu yang seperti apa? Sekarang saya sepertinya tahu wajah sebenarnya dari seorang Lucy. Anda berwajah dua, seorang pengkhianat dan seorang penggoda yang lihai."
"Arya, jangan sembarangan! Aku sengaja menerima William karena aku tahu kamu masih menyukaiku! Aku menerimanya agar kamu cemburu dan kembali padaku! Arya, kumohon padamu. Kembalilah padaku, aku tidak menyukai William, aku hanya menyukai dan mencintaimu."
Lucy berkata, mendekatkan dirinya pada Arya dan hendak memeluknya.
Arya menyadari ini dan segera mundur selangkah, tidak ingin dipeluk oleh orang yang dia anggap sebagai pengkhianat ini.
"Cukup, kita tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan sekarang, jangan pernah anggap saya sebagai teman masa kecil Anda lagi. Mulai detik ini, kita bukanlah siapa-siapa lagi!"
Dengan nada dinginnya, Arya memutuskan hubungannya dengan Lucy, memutuskan hubungan pertemanan masa kecil mereka bagai memutus benang menggunakan gunting. Dia lebih baik tidak memiliki hubungan apapun dengan Lucy, daripada harus merasakan sakit karena dikhianati.
Setelah kata-kata itu jatuh, Arya berbalik dan pergi.
Adapun Lucy, dia benar-benar mendapat jawaban yang tidak terduga dari Arya. Tubuhnya gemetar ketika dia mendengar Arya memutus hubungan pertemanan mereka.
Terjatuh lemas, Lucy menangis sepanjang malam, menyesali tindakannya yang bodoh karena menerima William untuk membuat Arya cemburu.
Setelah meninggalkan Lucy, Arya yang melewati ruang tamu itu tiba-tiba bertemu dengan David. Dia agak terkejut tapi karena dia sedang dalam mood yang buruk, dia mengabaikan David dan segera pergi.
David menatap tajam Arya dan berkata dengan dingin.
"Arya, aku hanya akan mengatakan untuk yang terakhir kalinya. Lucy belum pernah memiliki kekasih atau apapun itu. Dia hanya mencintaimu. Arya, ini adalah terakhir kalinya. Jika kau tetap menganggap Lucy mengkhianatimu, maka jangan pernah berharap kau bisa melihat Lucy lagi."
Mendengar itu, Arya yang sudah meraih gagang pintu membeku sejenak sebelum menggertakkan giginya dan pergi.
*****
Pada esok harinya, Lucy segera menemui William dan mengatakan jika dia ingin memutus hubungan pacarannya itu.
William jelas terkejut dan bertanya alasannya, namun dia tidak mendapat jawaban yang dia inginkan.
Setelah mengatakan apa yang ingin disampaikan, Lucy berbalik dan pergi, tapi dia dihentikan oleh William. Pemuda itu meraih pergelangan tangannya, namun dia segera menepis.
William berdecak kesal tapi dia berkata dengan serius.
"Tunggu, Lucy! Jangan mengambil keputusan secepat itu! Begini, bagaimana jika kita pacaran selama satu bulan lalu kita..."
Lucy tidak menunggu William selesai, langsung pergi meninggalkannya.
William mengutuk dalam hatinya. Dia diperintahkan Lery dan Tommy untuk mengajak Lucy kencan sebagai dalih dimulainya rencana melecehkan Lucy.
William berpikir keras, memutar otaknya dengan hebat saat dia memikirkan berbagai macam cara untuk mengajak Lucy kencan. Dia tidak ingin rencana Lery dan Tommy gagal. Jika rencana mereka gagal, maka dia akan terkena imbasnya. Dia jelas akan dibuat babak belur oleh keduanya dan dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia sangat menyayangi wajah tampannya.
Menghela napas tanpa daya, William menggelengkan kepalanya dan berhenti memikirkan masalah Lucy. Lery dan Tommy tidak memberinya batasan waktu, jadi dia masih bisa bersantai dan menjalankan tugasnya secara perlahan.