Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 175 - Ciuman Sebelum Pergi



Setelah selesai dengan Rosa dan Andhika, Arya mengalihkan pandangannya pada Lucy yang tampak sedikit sedih. Tampaknya gadis ini tidak mau berpisah darinya.


"Aku pergi dulu, Lucy."


"Um, hati-hati di jalan. Tolong ingat baik-baik apa yang aku katakan padamu di kamar tadi."


"Tentu, aku ingat itu."


Arya tersenyum, meski sebenarnya dia samar-samar lupa apa saja yang Lucy katakan padanya saat di kamar. Satu-satunya hal yang dia ingat di kamar adalah dia berciuman cukup lama dengan Lucy.


Menatap Lucy, Arya agak enggan berpisah dengannya. Dia ingin berada di rumah, bersama keluarganya dan kekasihnya. Namun, dia sudah terlanjur berjanji pada Marissa.


Setelah bertukar beberapa kata dengan Lucy da6 Rosa, Arya kemudian memasuki mobil Luois. Namun sebelum dia benar-benar masuk, dia berbalik dan berdiri di hadapan Lucy dan tanpa peringatan, Arya mencium bibir Lucy dengan lembut.


Lucy melebarkan matanya dan wajahnya berubah merah sepenuhnya. Dia memukul dada Arya berkali-kali agar kekasihnya ini melepaskan bibirnya.


Bagaimanapun, mereka sedang di halaman rumah dan yang lebih parahnya lagi adalah Rosa yang menonton mereka dari samping.


Melepaskan bibirnya, Arya mundur dua langkah dan tidak berani menatap Lucy ataupun Rosa. Dia melakukannya tanpa sadar.


Setidaknya dia ingin sebuah ciuman sebelum pergi dan berpisah selama beberapa hari.


"Baiklah, aku pergi dulu, Ma!"


Arya menatap Rosa dengan wajahnya yang merah bagai apel. Dia berbalik dan hendak memasuki mobil, tapi sebelum dia bisa masuk, tangannya ditarik oleh Rosa, membuatnya terdiam dan menelan ludah tanpa disadari.


Berjinjit, Rosa berbisik di telinga Arya.


"Lain kali, jika kamu ingin berciuman dengan kekasihmu, lakukan di belakangku. Ini di luar rumah, jadi kamu sebaiknya berhati-hati. Selain itu, jika aku tidak menutup mata Andhika tepat waktu, bukankah dia akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya? Ingat kata-kataku ini dan tanamkan itu dalam benakmu, agar kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama."


Nada Rosa sangat dingin dan ketidaksenangan terdengar jelas dalam nadanya. Wajahnya terlihat marah dan itu sangat menakutkan bagi Arya.


Sepertinya dia agak kelewatan kali ini.


Mengangguk dengan kaku, wajah Arya pucat.


"Bagus jika kamu mengerti. Baiklah, sekarang kamu boleh pergi."


Rosa tersenyum lembut, kembali ke tampilan riang dan lembutnya. Dia juga memberikan kecupan manis di pipi Arya sebelum putranya benar-benar pergi.


Setelah Arya pergi, Rosa, Lucy dan Andhika berada dalam keadaan canggung, dengan Lucy terdiam dan menunduk.


"Andhika, masuklah duluan. Mama masih perlu membahas beberapa hal dengan Lucy."


Rosa berkata pada Andhika yang mematung dengan wajah merahnya.


Mendengar suara Rosa, Andhika tersentak dan segera mengangguk, kabur ke dalam rumah dengan cepat.


Kembali pada Rosa, dia perlahan merubah ekspresi wajahnya menjadi serius dengan tatapannya yang dingin. Dia mendekati Lucy dan menepuk pundak gadis tersebut.


"Jadi, bagaimana rasanya berciuman sebelum kalian berpisah?"


Rosa bertanya dengan nada dingin dan ketidaksenangan terdengar jelas. Matanya menatap tajam, membuat Lucy merinding bukan main.


Karena Arya, dia jadi kena imbasnya. Dia mengutuk Arya berulang kali dalam hatinya.


"M-Mama... Ini tidak seperti yang Mama pikirkan..."


"Oh, begitu? Aku tidak masalah jika kalian berciuman, tapi setidaknya lakukan itu di belakangku. Jangan pikir karena kalian pernah kepergok sekali olehku, kalian jadi seenaknya. Kalian kepergok, yang berarti kalian melakukan ciuman di belakangku. Tapi kali ini, kalian berani melakukannya terang-terangan di hadapanku? Sejak kapan putriku ini begitu berani?"


Rosa menekan pundak Lucy, sedikit mencengkeramnya, membuat Lucy merasa agak sakit.


Rosa sepertinya benar-benar marah kali ini.


"Aku tahu, tapi apakah aku harus menyalahkannya seorang? Kamu juga harus dimarahi, agar kamu lebih berhati-hati di masa depan."


Rosa membantah Lucy yang menyalahkan Arya.


Setelah itu, Lucy menerima amarah Rosa selama satu jam penuh.


*****


Di dalam mobil, Arya duduk di kursi belakang dengan Luois mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil bukan hanya ada dirinya saja, tapi ada dua orang lainnya.


Dua orang ini sepertinya ada pengawal pribadi Marissa, karena Arya merasa tidak asing dengan mereka.


Satu orang duduk di sebelahnya, sementara satu lagi berada di kursi depan bersama Luois.


"Kau cukup berani untuk berciuman dengan kekasihmu di hadapan kakakmu, Arya."


Luois yang sedang berkendara tiba-tiba berkata, tertawa kecil.


Arya kebingungan mendengarnya, karena dia tidak punya kakak. Dia berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengerti siapa yang dimaksud oleh Luois.


"Kakak? Luois, mungkin maksudmu adalah ibuku."


"Hah? Ibu? Wanita tadi adalah ibumu, bukan kakakmu?"


Luois terdengar terkejut, dia menatap Arya dengan tidak percaya melalui kaca spion dalam.


"Ya, dia adalah ibuku. Banyak yang mengira dia adalah kakakku karena wajahnya yang awet muda. Tapi pada kenyataannya, dia adalah ibuku."


"Sial, aku benar-benar terkecoh dengan tampilan luarnya."


Luois tersenyum masam, mendecakkan lidahnya. Namun, ketika dia mengingat wajah Rosa, dia jadi agak terpesona dan sedikit tertarik dengan sosok Rosa.


Menatap Luois dari kaca spion dalam, Arya bisa melihat tatapan Luois berubah dan itu menbuatnya tak nyaman. Apalagi tatapan bajingan ini berubah setelah dia mengatakan tentang ibunya.


Ini membuat Arya tidak senang.


"Luois, aku sarankan padamu untuk tidak memiliki pikiran liar tentang ibuku."


Dengan nada dingin dan mengancamnya, Arya berkata demikian.


Ini mengejutkan Luois dan dia segera tersenyum pahit. Dia segera membuang pikirannya tentang ibu Arya, dikarenakan dia sudah ketahuan. Ini membuatnya sedikit kagum pada Arya yang cepat tanggap.


"Baiklah, jangan berpikiran negatif tentangku. Aku tidak memiliki pemikiran liar tentang ibumu. Tenang saja." Luois membantah.


"Luois, aku bisa saja membunuhmu sekarang juga jika aku mau. Hal yang paling aku benci adalah seseorang yang memiliki pemikiran liar tentang ibuku."


Arya kembali mengancam, mengabaikan bantahan Luois. Dia tersinggung dengan perubahan tatapan Luois tadi.


Mendengar itu, Luois dan dua orang lainnya terkejut, menatap Arya dengan terkejut.


Dua orang lainnya itu segera mengerutkan dahi mereka dan mereka menjadi waspada. Seseorang yang bisa mengancam dengan begitu berani pada para pengawal pribadi Putri Inggris benar-benar tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya mereka mendengar ucapan yang begitu berani dan arogan.


Menghela napas tanpa daya, Luois berkata dengan nada menyesal.


"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi, Arya. Aku tidak bermaksud untuk memiliki pikiran liar."


Arya menatap tajam Luois yang sedang menyopir, sebelum akhirnya dia menutup matanya sejenak dan membukanya kembali, menghilangkan tatapan tajamnya.


Setidaknya rasa tersinggung dan marahnya berkurang banyak karena permintaan maaf Luois. Jika Luois tidak meminta maaf, mungkin saja dia membunuh tiga orang di dalam mobil ini meski taruhannya adalah nyawanya.