
Malam harinya, setelah makan malam, Nia masih berada di rumah Lucy dan dia selalu menempel pada Lucy dari waktu ke waktu.
Arya dan Lucy benar-benar kewalahan saat menghadapi Nia. Masalahnya, gadis ini tidak hanya menempel pada Lucy setiap saat, tapi dia juga terus-menerus mengungkapkan perasaannya pada Lucy berulang kali. Dia selalu membual tentang betapa dirinya sangat mencintai Lucy.
Nia juga memuji kecantikan Lucy tanpa henti, membuat Lucy lelah secara mental.
Bukan hanya itu, tapi karena adanya Nia di rumah ini, Arya dan Lucy jadi tidak bisa bermesraan seperti biasanya.
Pada saat ini, Arya, Lucy dan Nia sedang menonton TV bersama.
Nia duduk di antara Arya dan Lucy, membuat jarak di antara keduanya. Dia jelas tidak ingin Arya dan Lucy berdekatan satu sama lain.
Bersandar di bahu Lucy, Nia memiliki senyum bahagia dan ekspresinya terlihat nyaman.
Lucy tersenyum masam saat Nia bersandar di bahunya. Dia merasa agak aneh dengan keadaan semacam ini.
"Nia, bisakah kamu minggir sedikit?"
Lucy berkata dengan agak canggung.
Nia tersentak tapi dia segera mengangkat kepalanya dari bahu Lucy dan sedikit menyingkir dari Lucy.
Lucy diam-diam berterima kasih pada gadis ini karena mau mendengarkan permintaannya. Selain itu, dia juga agak merasa bersalah pada Nia karena sebenarnya dia memintanya untuk menyingkir karena dia ingin duduk dan bersandar bersama Arya.
Merangkak mendekati Arya, Lucy duduk di sebelah pemuda itu dan bersandar di bahunya.
Lucy merasa agak kesepian hari ini karena dia tidak bisa bermesraan dengan Arya. Jadi, dia agak manja saat ini.
Nia yang melihat Lucy pindah merasa agak kecewa dan cemberut. Dia menggembungkan pipinya dan menatap Arya dengan mata permusuhan yang menakutkan.
Melirik Nia, Arya menyeringai dan mengeluarkan tawa meledek. Ekspresinya seakan mengatakan, 'Lucy lebih menyukaiku daripada kau.'
Sudut mulut Nia berkedut saat melihat ekspresi Arya. Bibirnya menggeliat sesaat, ingin mengutuk Arya. Tapi pada akhirnya, dia hanya menghela nafas tanpa daya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Dari suaranya, itu sepertinya datang dari pintu masuk.
Nia mengerutkan dahinya ketika mendengar suara derit pintu terbuka. Dia merasa bingung dan heran. Bagaimanapun, suara pintu terbuka itu menunjukan bahwa seseorang masuk ke dalam rumah, tetapi melihat reaksi santai Arya dan Lucy, dia sepenuhnya kebingungan.
Setelah beberapa saat, seorang pria berusia dua puluh tiga atau lebih datang dan memasuki ruang TV. Pria tersebut memiliki wajah agak galak dan memakai kaca mata. Matanya yang tajam menatap Arya dan Lucy.
"Hei, aku baru saja pulang dan kalian tidak menyambutku? Bukankah itu terlalu kejam?"
David mengeluh. Dia merasa diabaikan oleh kedua adiknya. Selain itu, dia jadi agak kesal setelah melihat bahwa dia diabaikan karena Arya dan Lucy sedang sibuk bermesraan.
Nia yang melihat David merasa agak takut karena wajahnya terlihat agak galak.
Arya menghela nafas dan melirik ke arah jam di dinding lalu menoleh ke David.
"Kak, kamu pulang agak lambat hari ini. Apakah ada lembur di kantor?"
"Ya, begitulah. Ngomong-ngomong, apakah kalian sudah makan malam? Jika belum, ayo makan malam bersamaku. Aku cukup lapar di sini...?"
Suara David perlahan menghilang ketika dia menyadari sosok seorang gadis lain yang berada di dalam ruang TV tersebut. Dia menatap Arya dan bertanya.
"Ini... Siapa dia?"
"Oh, dia? Dia hanya penggangu bagiku dan Lucy. Dia datang entah dari mana dan menggangu kami berdua. Jika kamu tidak senang, kamu boleh mengusirnya, Kak."
Arya menjawab tanpa menoleh ke David. Nadanya terdengar kesal.
Nia berkedut mendengar ini. Dia menatap tajam Arya dan segera membantah.
"Enak saja! Aku bukan penggangu! Selain itu, wajar bagiku untuk menggangu kalian berdua. Aku tidak ingin Kak Lucy bermesraan dengan berandalan sepertimu!"
Setelah mengatakan demikian, Nia menoleh ke David dan tersenyum tipis sambil memperkenalkan dirinya.
"Halo, senang bertemu denganmu. Perkenalkan, namaku Nia."
"Oh, senang berkenalan denganmu juga. Kau boleh memanggilku David. Aku kakaknya Lucy."
Nia agak terkejut. Dia tidak menyangka kalau Lucy memiliki seorang kakak laki-laki.
'Bocah ini... Ternyata dia bisa bersikap sopan juga, ya?'
Arya yang memperhatikan Nia dan David berdecak kesal ketika mendengar nada sopan dari Nia.
Dia sebenarnya agak tidak senang karena sikap Nia padanya sangat berbeda dengan sikapnya pada Lucy dan David.
Sikap Nia pada Arya kasar dan penuh dengan permusuhan. Gadis ini selalu berusaha untuk menjauhkannya dari Lucy.
Nia bahkan tidak pernah sekalipun mendengarkannya dan selalu mengabaikannya.
Namun, sikap Nia pada Lucy sangat berbeda. Dia akan menjadi lembut, penurut dan penuh perhatian saat berbicara dengan Lucy. Dia bahkan mau melakukan apapun yang Lucy minta, tapi dia akan menolak jika yang Lucy minta bersangkutan dengan Arya.
Adapun sikap Nia pada David, itu sepenuhnya sopan. Tampaknya dia bersikap demikian karena David lebih tua dari dirinya.
"Nia, benar? Apakah kau sudah makan?"
"Um, aku sudah makan. Aku makan bersama Kak Lucy dan Berandalan tadi."
"Berandalan?"
David mengangkat alisnya, agak bingung dengan ucapan Nia mengenai berandalan yang dia maksud.
Berpikir sejenak, David tiba-tiba menyeringai dan menatap Arya.
"Berandalan, kamu sudah makan?" Tanya David mengejek.
"Kak, jangan panggil aku seperti itu, atau aku akan menghajarmu."
Arya menoleh dan mengepalkan tangannya.
"Lakukan saja. Paling buruk kamu hanya akan kutendang keluar dari rumah ini."
David tertawa meledek, membuat Arya semakin berkedut.
Lucy yang diam sejak awal dia tertawa kecil mendengar pertengkaran kecil Arya dan David ini.
*****
Beberapa jam kemudian, ketika jam sudah hampir jam sepuluh malam namun Nia belum terlihat akan kembali ke rumahnya.
Bukannya ingin mengusir, tapi baik Arya ataupun Lucy khawatir jika Nia dicari oleh kedua orang tuanya. Bagaimanapun, tidak baik jika seorang gadis seperti Nia pulang larut malam.
"Nia, kamu tidak pulang? Orang tuamu nanti mencarimu, lho."
Lucy bertanya dengan khawatir.
Nia tersentak dan dia tidak menjawab, diam selama beberapa saat. Alisnya juga menurun dan raut wajahnya berubah menjadi agak sedih.
Lucy seketika panik melihat ini. Dia takut bahwa ucapannya malah menyinggung Nia.
"Jika kamu masih mau di sini, tidak masalah. Tapi ada baiknya kamu menghubungi kedua orang tuamu lebih dulu.
"Tidak apa-apa, Kak Lucy. Hanya saja..."
Nia tersenyum tipis. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu, jadi dia menelan kembali kata-katanya.
"Tidak jadi. Kak Lucy, aku pulang dulu, ya."
Nia segera mengambil tas sekolahnya dan berpamitan pada Lucy dan David.
Arya yang memperhatikan ekspresi Nia yang tampak agak sedih itu segera mengerutkan dahinya. Dia merasa ada sesuatu yang salah pada Nia.
'Nia, dia tidak mungkin memiliki masalah dengan keluarganya, kan?'
Arya diam-diam berpikir demikian. Dia pernah mengalami masalah dengan keluarganya, jadi dia tahu sedikit banyak ciri-ciri orang yang memiliki masalah dengan keluarganya.
"Mari, biar aku antar kau pulang." Kata Arya.
"Tidak perlu."
Nia menolak. Dia memiliki permusuhan pada Arya, jadi dia tidak ingin terlalu dekat dengan pemuda ini.
Meski Nia awalnya menolak, setelah dibujuk oleh Lucy dan dipaksa oleh Arya, dia pasrah dan mengikuti keinginan dua orang ini.
*****
Saat Arya mengantarkan Nia pulang ke rumahnya, keduanya tidak mengobrol dan hanya diam sepanjang jalan. Selain karena mereka merasa canggung, keduanya memiliki sedikit banyak permusuhan dikarenakan rasa cinta mereka pada Lucy.
"Apa kau memiliki masalah dengan orang tuamu? Atau kau benci saat berada di rumah?"
Arya tiba-tiba bertanya. Nadanya tenang. Dia agak penasaran sejak tadi. Dia merasa bahwa Nia berubah ketika membahas tentang kedua orang tuanya.
Ini membuatnya yakin kalau Nia mungkin memiliki semacam masalah dengan keluarganya.
"Siapa kau, sehingga aku harus menjawab pertanyaanmu?"
"Baiklah, baiklah. Aku hanya bertanya dengan santai, terserah padamu ingin menjawab atau tidak. Tapi, ingatlah untuk bercerita pada seseorang jika kau memiliki masalah. Jangan memendam masalahmu seorang diri. Itu hanya akan membuatmu stres."
"Huh, omong kosong. Jangan berbicara seakan kau pernah mengalaminya."
"Ya, aku memang pernah mengalaminya."
Nia terdiam dan terkejut dalam hatinya. Dia tidak menyangka kalau Arya yang terlihat bahagia ini pernah mengalami stres karena suatu masalah yang tidak dia ketahui.
Arya memang pernah mengalami masalah dengan keluarganya dikarenakan sulitnya ekonomi dalam keluarganya dan ayahnya yang tidak bertanggung jawab. Namun, semuanya kini telah berubah.
Arya yang sekarang sudah merasa cukup bahagia dengan Lucy yang berada di sisinya. Dia juga tidak perlu merasa kesulitan ekonomi lagi karena dia memiliki toko roti yang selalu ramai setiap harinya.
Nia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Dia ingin bertanya tentang masalah apa yang pernah Arya hadapi. Tapi, dia segera menelan kembali kata-katanya. Dia merasa tidak sopan jika bertanya seenaknya.
"Ah, itu adalah rumahku. Kau bisa berhenti sekarang."
Setelah beberapa saat, Nia menunjuk salah satu rumah dan Arya segera berhenti di depan rumah yang Nia tunjuk.
Mata Arya melebar ketika melihat rumah Nia. Dia terkejut, bukan karena rumah Nia mewah, tapi itu rumah kecil yang terkesan kumuh dengan atap bocor di beberapa tempat.
Nia kemudian turun dari motor dan dia menghela nafas saat melihat keadaan rumahnya sendiri. Menoleh untuk menatap Arya, dia berkata.
"Terima kasih sudah mengantarkanku. Maaf karena telah merepotkanmu."
Kali ini, Nia menjadi lebih sopan.
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan memasuki rumahnya.
Arya melihat rumah Nia dengan seksama dan mengerutkan dahinya sambil mendecakkan lidahnya.
"Sepertinya aku telah melihat inti permasalahannya."
Arya bergumam pelan ketika dia menduga kalau Nia memiliki masalah ekonomi dalam keluarganya dan sepertinya dia juga tidak memiliki hubungan yang baik dengan salah satu anggota keluarganya.
Menghela nafas pelan, Arya kembali ke rumah Lucy.