
Dua hari kemudian, pagi-pagi sekali, Arya berada di dalam kamarnya sedang berkemas. Dia berniat pulang ke kota Bern untuk bertemu ibunya setelah sekian lama berpisah. Dia sangat merindukannya, begitu juga Lucy.
Ketika hampir seluruh barang bawaannya selesai dikemas, Arya tidak lupa membawa belatinya. Dia selalu membawanya ke manapun dia pergi, waspada jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Oh, Arya. Kamu akan pergi, atau ingin menginap di rumah Lucy lagi?"
Erwin yang tidak sengaja lewat di depan kamar Arya melihat pemuda itu sedang mengemasi barang-barangnya, dia masuk dan bertanya.
"Ah, tidak. Aku berniat pulang ke kota Bern dan menemui mama. Sudah lama aku tidak pulang, Lucy juga merindukan mama."
"Oh, benarkah? Itu bagus. Sudah dua tahun lebih kamu tidak pulang, kan? Ngomong-ngomong, berapa lama kamu akan di sana?"
"Aku tidak tahu, Kek. Mungkin tiga hari, bahkan lebih. Semua tergantung pada Lucy dan Mama. Jika Mama menyuruh satu minggu, maka aku akan di sana satu minggu."
"Begitu, ya. Tidak masalah, tapi ingatlah sekolahmu. Kamu sebentar lagi lulus, jadi jangan terlalu sering absen, paham?"
"Tentu, Kek. Aku paham itu."
Erwin mengangguk kemudian meninggalkan kamar Arya.
Arya kemudian memeriksa kembali barang bawaannya, mengangguk puas karena tidak ada yang tertinggal lalu dia pergi ke kamar Emily, di mana Lucy berada.
"Lucy, kamu sudah siap?" Kata Arya dari luar kamar.
"Tunggu sebentar, aku sedikit lagi selesai."
"Baiklah. Aku masuk, ya?"
Arya membuka pintu, melihat Lucy duduk dan bercermin, merias diri secantik mungkin.
Melihat kecantikan kekasihnya, Arya terpesona. Dia tersenyum, mendekati Lucy dan membungkuk sedikit untuk mencium pipi Lucy dengan ringan.
"Kamu sudah cantik, Lucy. Tidak perlu berdandan lagi." Arya berkata, setengah bercanda setengah serius.
Lucy terkekeh mendengarnya, merasa bahagia.
Di sisi lain, Emily yang duduk di kasurnya berkedut melihat kemesraan pasangan kekasih itu.
"Kak, bisakah kamu berhenti bermesraan di depanku? Aku muak melihatnya, tahu?" Emily mengeluh.
Selama dua hari ini, Lucy menginap di rumah Erwin dan baik Arya atau Lucy selalu bermesraan, bahkan di ruang tamu ataupun saat makan malam.
Hampir setiap saat mereka bermesraan, tidak memedulikan sekitar.
Emily sudah lelah melihat kemesraan itu, merasa jika cinta kakak sepupunya itu terlalu berlebihan.
"Siapa yang peduli? Salahmu sendiri jomblo." Arya menjulurkan lidahnya, mengejek.
Emily berkedut di sudut mulutnya. Dia beranjak dari kasur, mendekati Arya dengan cemberut dan menginjak kakinya dengan keras.
"Aw! Itu sakit, Emily!"
"Hmph! Salah sendiri mancing emosi!"
Mengabaikan erangan Arya, Emily menjulurkan lidahnya dan balik mengejek Arya kemudian berlari keluar kamar, takut Arya membalas.
Arya mendecakkan lidahnya, namun dia mengabaikan kejahilan Emily.
"Kalian berdua sangat akur, ya." Lucy tertawa kecil.
"Ya, begitulah. Emily dulu adalah korban bullying saat dia SMP. Dia dibully habis-habisan hingga mengalami trauma. Dia bahkan tidak mau sekolah lagi hingga sekarang. Karena itu, dia tidak memiliki teman dan aku sebagai kakaknya harus bisa menjadi temannya sekaligus kakaknya." Arya menjelaskan.
Mendengar itu, Lucy agak terkejut tapi dia segera tersenyum hangat, mengulurkan kedua tangannya dan mencubit pipi Arya dengan gemas.
"Itulah sikap yang sangat aku sukai darimu, Arya. Meski kamu di sekolah terlihat dingin dan selalu memiliki tatapan tajam, tapi kamu sebenarnya sangat mencintai dan sayang pada keluargamu. Sikapmu ini yang membuatku semakin mencintaimu, Arya."
Arya tersenyum lembut mendengarnya, merasa hangat di hati.
"Terima kasih, Lucy. Aku anggap itu sebagai pujian."
"He-he-he, sama-sama. Ayo berangkat, aku sudah tidak sabar untuk bertemu mama!"
Arya mengangguk.
Keduanya kemudian keluar dari kamar, menemui Erwin dan Emily untuk berpamitan.
"Kakek, aku pulang dulu, ya. Mungkin aku akan agak lama di sana."
"Ya, tidak masalah. Titip salam untuk putriku, katakan padanya untuk berkunjung kemari jika dia punya waktu."
"Ya, Kek. Aku sampaikan itu pada mama nanti. Emily, aku pergi dulu, ya. Tolong temani Kakek selama aku tidak di sini."
"Hmph, pergilah! Jangan kembali lagi, Kak Arya bodoh!"
Emily mendengus, buang muka dengan kesal.
Arya mengabaikan itu dan bersalaman pada Erwin.
Lucy juga melakukan hal yang sama, bersalaman dan berpamitan.
Setelah itu, keduanya pergi ke kota Bern menggunakan motor milik Arya.
Perjalanan menuju kota Bern daru kota Century bukanlah perjalanan dekat. Setidaknya membutuhkan waktu tiga jam perjalanan.
Selama di perjalanan, Arya mengendarai motornya dengan santai, tidak pelan tapi juga tidak cepat. Dia menikmati perjalanannya sambil mengobrol bersama Lucy.
Di tengah perjalanan, Arya berhenti untuk beristirahat dan makan siang sembari menghilangkan rasa lelah.
Setelah mengisi perut, mereka melanjutkan perjalanan.
"Lucy, apakah kamu lelah? Ayo istirahat lagi, ya?"
Setelah melanjutkan perjalanan selama satu jam sejak istirahat tadi, Arya bertanya pada Lucy.
"Tidak, aku tidak lelah. Lanjutkan saja perjalanannya. Sebentar lagi juga sampai."
"Maaf, ya. Untuk saat ini aku hanya punya motor. Aku sebenarnya ingin membeli mobil tapi aku masih fokus menabung untuk membelikan Mama rumah."
Arya terdengar menyesal, meminta maaf dengan tulus. Dia merasa tidak enak hati. Jika saja dia punya mobil, Lucy pasti tidak akan merasa lelah, tidak kepanasan maupun kehujanan ketika pergi jauh seperti sekarang.
Lucy yang mendengar itu justru tidak senang.
"Ish, aku tidak masalah kamu punya mobil atau tidak. Fokuslah menabung untuk membelikan Mama rumah. Jangan pikirkan aku terus, Mama jauh lebih penting daripada aku!"
Lucy mengoceh sambil mencubit pinggang Arya, membuatnya mengerang kesakitan.
"Lucy itu sakit! Baiklah, baiklah! Aku paham, jadi jangan cubit aku lagi!"
Arya kesakitan. Dia ingin menghentikan Lucy mencubitnya tapi kedua tangannya sibuk berkendara.
Mendengus, Lucy melepaskan cubitannya.
'Ugh, gadis ini menggunakan seluruh kekuatannya hanya untuk mencubitku! Lihat saja, aku pasti minta ganti rugi!' Arya menghela napas.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, Arya dan Lucy tiba di tujuan.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana dan minimalis.
Rumah tersebut jelas merupakan rumah Arya yang sesungguhnya, di mana keluarganya berkumpul.
Rumah itu memang bukan rumah mewah, tapi itu terlihat sangat nyaman untuk ditinggali.
"Sudah lama aku tidak pulang, tapi tidak ada yang berubah, ya." Arya bergumam, tersenyum tipis.
Kemudian, dia membuka gerbang dan memarkirkan motornya di halaman rumahnya.
"Siap bertemu Mama?"
"Um!" Lucy mengangguk.
Mengetuk pintu, Arya dan Lucy menunggu dengan sabar, tersenyum penuh kasih.
Dengan suara derit pintu terbuka, seorang bocah laki-laki berusia empat belas hingga lima belas membukakan pintu untuk Arya dan Lucy.
"Siapa?" Tanya bocah itu, yang perlahan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah orang yang datang.
Melihat wajah Arya dan Lucy, bocah tersebut tertegun dan matanya segera berbinar.
"Kak Arya! Kak Lucy!"
"Yo, Andhika. Bagaimana kabarmu...?"
Arya menyapa bocah tersebut, yang merupakan adiknya. Namun, suaranya perlahan menghilang karena sang adik melewatinya begitu saja dan langsung memeluk Lucy tanpa membalas sapaannya.
Berkedut, Arya menoleh pada Lucy dengan kaku. Dia sangat kesal saat ini.
"Andhika, aku ini kakakmu tapi kenapa aku tidak mendapat pelukan sementara Lucy dapat?" Nada Arya penuh penekanan.
Andhika hanya diam, menikmati kehangatan dari pelukan Lucy.
Lucy tersenyum masam, memeluk Andhika sebentar kemudian berkata padanya.
"Lama tidak jumpa, Andhika."
"Um, lama tidak jumpa juga, Kak Lucy!" Andhika mengangkat kepalanya, menatap mata indah Lucy.
"Kak Lucy, aku sangat merindukanmu!"
"Aku juga merindukanmu, Andhika. Tapi, lihat kakakmu. Arya juga merindukanmu, tahu?"
Andhika diam, menghela napas saat dia mengetahui maksud ucapan Lucy.
Melepaskan pelukannya, Andhika berbalik dan membentangkan tangannya dengan malas.
Arya mendengus, tidak senang. Dia sepenuhnya kehilangan minat untuk memeluk Andhika.
Mengabaikan Andhika, Arya masuk ke dalam rumahnya.
Melihat Arya pergi, Andhika kembali memeluk Lucy.