Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 104 - Cinta Mengubah Kepribadian Seseorang



Setelah mengetahui jika hubungannya dengan Arya direstui ayahnya, Lylia sangat bahagia. Tapi ketika mengingat pertanyaan ibunya tentang Arya kaya atau tidak, kebahagiaannya seketika menghilang.


Dia tahu bagaimana kondisi keluarga Arya, karena Arya sudah bercerita padanya. Dia turut prihatin atas apa yang terjadi.


Ini membuat Lylia merasa tidak berdaya. Ibunya sangat pemilih tentang kekasihnya. Bahkan, Vera pernah memilihkannya calon suami beberapa tahun yang lalu. Namun, dia menolak dengan keras.


Vera awalnya memaksa, tapi karena Gerald membelanya, dengan alasan Lylia yang masih terlalu muda, Vera akhirnya menyerah.


Pada saat makan malam tiba, Lylia bersama dengan Gerald dan Vera makan malam bersama, hanya mereka bertiga di dalam ruangan tersebut.


Suasana agak canggung terjadi di antara Lylia dan Vera, karena Vera tanpa henti menatap Lylia dengan tatapan penasaran tanpa batas.


Lylia bagaimanapun hanya mengalihkan pandangannya dan tidak menatap ibunya. Dia yakin jika ibunya pasti akan menanyakan tentang Arya lagi jika dia menatapnya.


"Baiklah, hentikan kecanggungan ini, Putriku, Sayangku."


Gerald berdeham ringan, mencairkan suasana canggung Lylia dan Vera. Dia kemudian menatap keduanya.


"Suamiku, aku hanya penasaran tentang kekasih dari putriku. Aku ingin mengetahui lebih tentang dirinya. Apakah itu salah?"


"Tidak salah, Sayangku. Tapi, pertimbangkan Lylia. Apakah dia nyaman, atau tidak. Jika tidak, maka jangan paksa dia. Terlebih lagi, kita memiliki hal yang lebih penting untuk dibahas."


Gerald berkata dengan serius.


Vera tertegun sesaat, lalu mengangguk. Ekspresinya berubah jadi serius.


Lylia yang memperhatikan keduanya segera memiliki firasat buruk.


Mengalihkan pandangannya pada Lylia, Gerald tersenyum lembut.


"Lylia, bagaimana sekolahmu?"


"Sekolahku baik, Ayah. Aku mendapat banyak teman di sana."


"Itu terdengar bagus, Putriku. Ngomong-ngomong, bagaimana jika kita pindah sekolah, Putriku?"


"Eh? Maksud Ayah..."


Lylia terkejut, melebarkan matanya hingga hampir keluar dari rongganya. Dia terdiam, menatap ayahnya dengan ketidakpercayaan. Dia mengira jika telinganya salah dengar.


Melihat reaksi Lylia, Gerald menghela napas.


"Lylia, Putriku. Dengarkan Ayah. Sebenarnya, satu bulan yang lalu ada seseorang yang mengajak perusahaan kita bekerja sama. Mereka menawarkan banyak keuntungan. Tapi, salah satu syarat dari kerja sama itu adalah kita harus pindah. Kita akan pergi ke Amerika Serikat. Bagaimana menurutmu, Putriku? Jika kamu setuju, kita akan pindah bulan depan."


Gerald menjelaskan dengan lembut, sangat menyesal karena memberikan fakta semacam ini secara tiba-tiba pada putrinya.


Lylia terdiam, banyak pertanyaan melintas di benaknya. Dia tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa. Bagaimanapun, informasi yang disampaikan ayahnya terlalu tiba-tiba baginya.


Menatap Gerald, mata Lylia menajam ketika sebuah pernyataan melintas di benaknya.


"Ayah, sebenarnya yang dikatakan Ayah adalah bohong, kan? Ayah dan Ibu sebenarnya tidak ingin aku memiliki seorang kekasih, kan? Makanya, kalian merencanakan kepindahan ini secara tiba-tiba agar aku berpisah dari kekasihku, benar?!"


Lylia meninggikan nadanya dia akhir kalimatnya. Matanya menatap tajam ayah dan ibunya. Dia menduga jika setelah memberi tahu ayah dan ibunya tentang Arya, keduanya tidak merestuinya, sebenarnya. Oleh karena itu, mereka pasti membuat rencana secepat mungkin agar dia dan Arya berpisah.


Lylia tidak menginginkan ini. Dia tidak ingin pindah. Dia tidak ingin jauh dari Arya. Hubungan keduanya baru saja membaik akhir-akhir ini, jadi bagaimana mungkin dia menuruti orang tuanya dan pindah?


Gerald menghela napas, melirik Vera dengan rumit.


Vera mengangguk, lalu berkata dengan lembut.


"Lylia, Sayangku. Kamu salah paham, Nak. Ayah dan Ibu sangat mendukung hubunganmu dengan kekasihmu yang bernama Arya itu, tahu? Kami juga sebenarnya tidak tega memintamu untuk pindah begitu saja. Tapi ini demi kepentingan perusahaan kita, Lylia."


"Kalau begitu, tinggalkan saja aku di sini! Biarkan aku tinggal di kota ini, bersama beberapa pelayan! Biarkan mereka merawatku!"


"Lylia, jangan keras kepala, Nak. Mungkin itu ide bagus membiarkanmu tinggal di kota ini sendirian, tanpa ayah dan ibu. Tapi, kami sebagai orang tua akan khawatir, Lylia. Kamu adalah putri kami satu-satunya. Jika terjadi sesuatu padamu, kami akan sangat menyesal, Lylia."


"Jangan pindah! Jangan pikirkan perusahaan! Tetap tinggal saja di kota ini, bersamaku!"


Lylia membantah, tidak mau kalah. Dia menatap Vera dengan tatapan marah, sudut matanya dipenuhi air mata. Dia sangat marah pada orang tuanya, tapi dia juga merasakan sakit karena melawan perintah keduanya.


Jika dia menuruti mereka dan pindah, maka dia akan berpisah dari Arya. Jika dia menolak, dia yakin dirinya pasti akan bertengkar dengan Gerald dan Vera.


Vera terkejut, begitu pula Gerald. Mereka belum pernah melihat Lylia meninggikan nadanya ketika berbicara pada mereka. Bahkan, gadis ini tidak pernah melawan apa yang mereka katakan, sekalipun tidak pernah. Sepertinya cinta memang bisa mengubah kepribadian seseorang.


Lylia menatap kedua orang tuanya, menunggu jawaban dari mereka.


Gerald dan Vera saling memandang, menghela napas pelan lalu berkata.


"Lylia, Ayah mengerti perasaanmu. Kamu pasti sedih karena jika kamu pindah, kamu akan berpisah dari kekasihmu, benar? Tapi, jika kamu tinggal, kami juga akan sedih Lylia. Putriku, kamu bisa memilih. Membuat dirimu sedih untuk sesaat, atau membuat Ayah dan Ibu sedih selamanya, karena putri mereka tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan orang tuanya."


Nada Gerald memiliki penekanan di sini, seakan dia mendesak Lylia.


Lylia terdiam, tidak bisa menjawab.


Menggertakkan giginya, Lylia bangkit dari tempatnya dan meninggalkan ruang makan. Dia berlari keluar, meneteskan air matanya sepanjang jalan dia berlari menuju kamarnya.


Kembali pada Gerald, dia menghela napas tanpa daya.


Dia memijat kepalanya yang terasa sakit karena Lylia terus-menerus membantahnya. Dia belum pernah dibantah sedemikian rupa oleh putri kecilnya itu.


Menatap Vera, Gerald menghela napas panjang.


"Cinta benar-benar bisa mengubah seseorang. Benar bukan, Sayang?"


"Ya, kamu benar, Suamiku. Tapi, berbicara tentang kekasih Lylia, bukankah kita harus sedikit mempertimbangkannya?"


"Dalam hal?" Gerald mengangkat alisnya penasaran.


Vera berkata, sangat serius.


Gerald agak terkejut, namun dia segera menggelengkan kepalanya.


"Sayang, tidak masalah apakah kekasih Lylia kaya atau miskin. Yang terpenting adalah kebahagiaan putri kita. Jika dia mendapat suami kaya namun tidak bahagia, kita hanya akan membuatnya sedih."


"Tapi, jika kita membiarkan Lylia bersama pria miskin, hidupnya akan sulit dan dia hanya akan menderita."


Vera menyela tanpa ampun. Nadanya terdengar jijik saat dia mengatakan kata 'miskin'.


Gerald segera mengerutkan dahinya dan ekspresi tidak senang terlukis di wajahnya.


"Vera, jika memang kekasih Lylia miskin, maka tidak masalah. Jika dia adalah seorang pria bertanggung jawab, maka dia akan berusaha sebaik mungkin agar Lylia tidak menderita. Dia pasti akan selalu berusaha untuk membuat Lylia bahagia!"


"Berusaha? Apakah kamu pikir dengan berusaha, orang miskin bisa merubah takdir mereka? Huh, omong kosong. Tidak ada yang bisa dilakukan orang miskin kecuali..."


"Vera! Cukup! Jangan mengatakan apapun lagi! Ingatlah, aku hanya pewaris dari perusahaan ini. Ingatlah kakek dan nenekku, yang membangun perusahaan ini dari nol! Ingatlah jika mereka dulunya juga miskin!"


Gerald menyela, meninggikan nadanya. Dia sangat tidak senang dengan ucapan Vera. Baginya, seseorang yang kekurangan dalam hal ekonomi pasti bisa merubah kekurangan itu menjadi kelebihan.


Namun, Vera bertolak belakang dengannya. Istrinya ini selalu menganggap remeh mereka yang miskin dan selalu bangga dengan harta kekayaannya, meski sebenarnya mereka hanya pewaris yang meneruskan perusahaan mereka sekarang ini.


Vera diam, mendecakkan lidahnya. Dia kemudian berdiri, berbalik sambil mencibir.


"Gerald, ingatlah jika aku tidak akan pernah menyerahkam putriku pada pria miskin! Tidak akan pernah!"


Vera menatap tajam Gerald, lalu meninggalkan ruang makan.


Gerald menghela napas panjang dan bersandar pada bangkunya. Suasana makan malam yang seharusnya hangat itu kini berantakan karena berita kepindahan yang terlalu tiba-tiba bagi Lylia dan istrinya yang keras kepala tentang kekasih Lylia harus kaya raya.


*****


Di dalam kamarnya, Lylia berbaring di kasurnya, memeluk boneka kelinci pemberian Arya sambil terisak.


Dia sangat terkejut karena ayahnya tiba-tiba mengatakan akan pindah. Terutama dia harus pindah ke Amerika Serikat, tempat yang sangat jauh dari negara tempat kota Century berada.


Jika dia mengikuti permintaan ayah dan ibunya, dia jelas akan terpisah jauh dari Arya. Dia tidak menginginkannya. Dia hanya ingin bersama Arya, kekasihnya tercinta. Dia tidak ingin berpisah dari cintanya.


"Apa yang harus kulakukan? Kenapa ayah dan ibu ingin pindah, terlebih lagi mereka mengatakan hal ini secara tiba-tiba? Apa yang harus kukatakan pada Arya? Jika aku mengatakan aku akan pindah, apakah dia akan sedih?"


Lylia merenung, memeluk boneka kelinci itu semakin erat. Membayangkan jika dirinya harus jauh dari Arya saja sudah membuatnya sangat sakit. Jika dia benar-benar jauh dari Arya, dia merasa jika tidak ada gunanya lagi dia hidup.


Ketika Lylia sedang mengalami kesedihan, dia tiba-tiba mendengar ketukan pintu. Dia segera menyeka air matanya dan membukakan pintu, melihat jika yang datang adalah ibunya.


Lylia terkejut, hatinya segera dipenuhi firasat buruk


"Boleh Ibu masuk, Nak?"


Lylia diam sesaat, sebelum menyingkir untuk memberi jalan pada ibunya, mengizinkannya masuk.


Vera kemudian berjalan menuju kasur, duduk di tepi. Dia kemudian menepuk sebelah tempatnya duduk, meminta Lylia untuk duduk di sebelahnya.


Lylia menurut, duduk dengan kepala tertunduk.


Vera menghela napas pelan, lalu berkata.


"Lylia, apakah kamu akan ikut ayah dan ibu pindah, atau tetap di sini bersama kekasihmu?"


Lylia diam, tidak berani menjawab. Dia ragu antara harus ikut atau tinggal. Dia ingin bersama Arya, tapi dia tidak ingin jauh dari orang tuanya.


"Lylia, Sayangku. Dengarkan Ibu. Ibu sangat senang mendengarmu memiliki seorang kekasih yang baik dan peduli padamu. Tapi, Lylia, kamu belum menjawab apakah kekasihmu itu kaya, atau tidak? Jika dia kaya, maka baguslah. Jika miskin, sebaiknya kamu meninggalkannya dan mencari yang lain, yang kaya raya dan pantas untukmu."


"Tidak, Ibu! Arya mungkin bukan seseorang yang memiliki kekayaan, tapi dia sangat baik dan sangat mencintaiku!"


"Apakah cinta bisa membuatmu kenyang? Tidak, kan? Berpikirlah dengan jernih, Lylia. Sekarang, tolong putuskan. Kamu akan ikut ayah dan ibu, atau tinggal bersama kekasihmu?"


Vera bertanya, tidak ingin berdebat lebih jauh dengan Lylia. Ini adalah pertama kalinya Lylia membantah dan tidak menurutinya. Dia benar-benar kagum dengan bocah bernama Arya, karena bisa membuat Lylia berubah sedemikian rupa.


Lylia diam, diam sangat lama.


Vera menunggu dengan sabar, tidak memaksa Lylia untuk segera menjawab. Dia bisa melihat jika Lylia benar-benar mempertimbangkan pilihannya. Semuanya tertulis di wajahnya. Terkadang, putrinya itu akan terlihat sedih, kadang bingung dan terkadang meliriknya, seakan meminta bantuannya untuk memilih.


Setelah kurang lebih sepuluh menit, Lylia akhirnya memutuskan.


"Ibu, aku ingin tetap tinggal. Boleh, kan?"


Lylia menatap Vera dengan tatapan memohon, matanya lembab seakan jika ibunya menolak, dia akan menangis.


Vera tersenyum lembut.


"Lylia, ikutlah dengan ayah dan ibu. Kamu tidak bisa tinggal di sini, Nak. Tanpa ayah dan ibu, kamu tidak akan bisa hidup, begitu juga sebaliknya. Tanpamu, ayah dan ibu akan merasa hampa, Lylia. Kamu juga begitu bukan, Lylia?"


Lylia terdiam. Dia jelas mengetahui jika apapun yang dia katakan, ibunya pasti akan tetap memintanya ikut. Bahkan jika dia memberontak dan menolak dengan keras, dia yakin ibunya juga akan bersikap keras padanya.


Lylia mau tak mau mengangguk, setuju ikut bersama Gerald dan Vera. Semuanya akan sia-sia, bahkan jika dia menolak.


Vera tersenyum puas dengan keputusan Lylia. Dia kemudian memeluk putrinya, mengatakan beberapa hal lalu pergi menemui Gerald untuk memberitahunya jika Lylia akan ikut pindah.


Pada saat yang sama, Lylia menangis. Dia sangat menyesali keputusannya, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Orang tuanya tidak akan pernah setuju jika dia tinggal. Terlebih lagi, dia ingin berusaha menjadi anak yang baik, yang selalu menuruti permintaan kedua orang tuanya.


"Apa yang harus aku katakan pada Arya? Bagaimana jika dia marah karena aku pindah?"


Lylia terisak ketika wajah tampan Arya melintas di benaknya.