
"Ikut aku."
David berkata dengan dingin, mengajak Arya keluar.
Arya menelan ludahnya dengan tegukan saat dia merasa bahwa dirinya akan dimarahi kali ini.
Menghela napas tanpa daya, Arya beranjak dari kasur dan mengikuti David.
Di dalam ruang TV, David sudah duduk bersila di depan TV sambil memegang controller game. Dia telah menyalakan konsol gamenya dan siap bermain.
Arya bingung namun sepertinya, dia tidak akan mendapat masalah. Mungkin David memanggilnya karena dia butuh teman main.
Duduk di sebelah David, Arya mengambil controller lainnya dan siap bermain bersama David.
Setelah bermain beberapa saat, David bertanya.
"Arya, kamu ingat lusa depan adalah ulang tahun Lucy, kan?"
"Tentu saja aku ingat. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya, Kak?"
Arya bingung karena tiba-tiba ditanyai begini. Bagaimanapun, dia jelas tidak akan melupakan ulang tahun Lucy, karena gadis itu adalah kekasihnya.
"Bagus jika kamu mengingatnya. Ngomong-ngomong, hadiah macam apa yang akan kamu berikan pada Lucy nanti?"
"Hm, ini sebenarnya cukup sulit, Kak. Aku benar-bebar kehabisan ide harus memberikan hadiah apa untuk Lucy. Apakah kamu ada ide, Kak?"
"Itu dia permasalahannya. Aku juga kehabisan ide di sini. Aku memanggilmu karena ingin meminta saran padamu. Tapi kamu malah tidak ada ide."
Mendengar ini, Arya menghela napas. David juga melakukan hal yang sama.
Keduanya kini sedang bermain game bersama, tapi bukannya terhibur, mereka malah stres karena memikirkan hadiah ulang tahun Lucy.
Setelah bermain sambil memikirkan hadiah ulang tahun Lucy selama hampir 30 menit, Arya dan David tidak mendapat ide apapun dan ekspresi mereka semakin jelek.
Sebenarnya, tanpa diberikan hadiah sekalipun dan hanya diberikan ucapan 'Selamat ulang tahun', Lucy sudah sangat senang dan bahagia.
Tapi, hal ini tidak cukup bagi Arya dan David. Mereka berdua sangat berterima kasih pada Lucy, karena dia, keduanya tidak perlu khawatir tentang masalah kehidupan sehari-hari mereka.
Mulai dari sarapan pagi hingga makan malam, Lucy menyediakan semuanya dan memasaknya seorang diri.
Semua pakaian kotor milik Arya dan David juga Lucy yang menyucikan semuanya.
Adapun kebersihan rumah, Lucy juga yang mengurusnya.
Hampir semua pekerjaan rumah tangga Lucy yang mengurusnya, jadi Arya dan David hanya menerima hasil. Karena itu, mereka berdua sangat berterima kasih pada gadis tersebut.
Keduanya tahu betapa melelahkannya pekerjaan rumah tangga, jadi Arya dan David ingin memberikan hadiah terbaik dari yang terbaik.
Menghela napas, Arya berkata dengan pasrah.
"Kak, bagaimana jika kita merayakan ulang tahun Lucy seperti biasa?"
"Seperti biasa? Maksudmu, hanya dengan kue ulang tahun dan merayakannya seperti tahun-tahun sebelumnya?"
"Ya, kita akan melakukannya seperti itu. Adapun untuk hadiahnya, mari kita pikirkan esok hari. Masih ada waktu dua hari sebelum ulang tahun Lucy, jadi masih ada waktu."
"Begitu, ya? Baiklah, mari kita pikirkan hadiahnya besok."
Setelah merenung sejenak, David menyetujui usulan Arya.
Keduanya kemudian fokus bermain game lagi dan setelah kurang lebih satu jam bermain, keduanya berhenti dan pergi ke kamar masing-masing, mulai mengantuk.
Saat memasuki kamar Lucy, Arya melihat gadis itu sudah tertidur lelap. Dia bernapas dengan pelan dan wajahnya yang cantik itu menunjukkan kebahagiaan saat senyum tipis menghiasi bibirnya.
Arya tersenyum lembut melihat wajah cantik kekasihnya ini.
Dengan perlahan, Arya berbaring di sebelah Lucy. Dia dengan perlahan dan hati-hati mengelus kepala Lucy. Dia melakukannya dengan pelan, takut Lucy terbangun.
Tangan Arya yang mengelus kepala Lucy perlahan mulai turun, membelai pipi Lucy yang menggemaskan.
Setelah merasa puas, Arya menghentikan tangannya. Dia ingin menutup matanya dan tidur, tapi karena dia sedang memikirkan hadiah ulang tahun Lucy, dia jadi terjaga.
Berpikir sejenak, Arya tiba-tiba mendapat ide dan segera mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan pada Helen dan Nia.
"Helen, lusa depan adalah ulang tahun Lucy. Aku butuh saran darimu, hadiah ulang tahun macam apa yang sebaiknya kuberikan pada Lucy? Aku berniat ke mall besok, apakah kau memiliki waktu luang dan ikut berbelanja denganku?"
Arya mengirimkan pesan demikian pada Helen, salah satu sahabatnya dan sahabat Lucy juga.
Setelah beberapa saat, Arya mendapat balasan dari Helen.
"Tentu saja aku ikut! Aku juga ingin memberikan Lucy hadiah, jadi tidak ada salahnya ikut denganmu. Soal saran hadiah, aku menyarankanmu untuk memberikan sesuatu yang menurutmu berharga dan bisa jadi kenangan selamanya. Sebaiknya benda itu adalah sesuatu yang bisa digunakan setiap hari, jadi saat Lucy memakainya, dia akan selalu ingat padamu!"
Arya mengerutkan dahi ketika membaca pesan Helen, merasa bahwa itu cukup masuk akal.
Arya lalu mengucapkan terima kasih pada Helen.
Setelah itu, Arya merasa lega setelah mendapat ide tentang hadiah ulang tahun untuk Lucy. Dia merasa beban di pundaknya telah diangkat, membuatnya tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.
Menatap Lucy, Arya tersenyum lembut sebelum menutup matanya, tertidur.
*****
Esok harinya, di SMA Daeil, saat jam makan siang tiba, Arya yang biasanya akan pergi ke kantin bersama Lucy kini pergi bolos pelajaran, bersama dengan Helen dan Nia. Mereka bertiga setuju untuk pergi mencari hadiah ulang tahun Lucy seperti yang sudah mereka rencanakan tadi malam.
Tentu saja, mereka pergi tanpa sepengetahuan Lucy.
Tiba di mall, Arya tidak langsung mencari hadiah ulang tahun Lucy, tapi mengajak Helen dan Nia ke restoran lebih dulu untuk makan siang. Bagaimanapun, ini sudah masuk waktunya makan siang dan karena dia yang mengajak keduanya pergi, setidaknya dia tidak boleh membiarkan kedua gadis ini kelaparan, atau dia tidak akan layak menjadi seorang pria.
Helen dan Nia secara alami tidak menolak ajakan Arya. Mereka bertiga kemudian memasuki salah satu restoran dan segera mencari tempat duduk.
Helen dan Nia duduk bersebelahan, sementara Arya berada di seberang keduanya.
"Pesanlah apapun yang kalian inginkan, aku yang bayar semuanya."
Arya memberikan menu pada Helen dan Nia.
"Wah, sepertinya aku harus memanfaatkan kesempatan ini. Jarang-jarang aku mendapat traktiran darimu, jadi jangan salahkan aku jika memesan sesuatu yang mahal." Helen tertawa, mencari menu termahal yang ada.
Nia yang duduk disebelahnya terlihat kebingungan. Dia kesulitan memilih makanan yang ingin dia pesan, karena hampir semua menu yang ada terlihat lezat. Dia jelas hanya boleh memilih satu menu, tidak ingin merepotkan Arya.
"Nia, jangan sungkan untuk memesan. Pesanlah lebih, tidak masalah, kok."
Arya jelas menyadari kebingungan Nia, makanya dia berkata demikian.
"Ta-tapi, bukankah itu hanya akan merepotkanmu, Kak?" Nia ragu.
"Tidak, itu tidak merepotkanku, Nia. Pesanlah apapun yang kau mau."
"Itu benar, Nia. Pesanlah yang banyak. Arya adalah bos toko roti, jadi tidak masalah jika kita memesan lebih. Lagipula, dia punya uang yang banyak!" Helen menambahkan, membuat keraguan Nia berkurang.
Omong-omong, Nia sekarang jadi lebih sopan dengan Arya. Dia kini memanggilnya, 'Kak' dan jarang bersikap kasar lagi padanya.
Tentu saja, semuanya terjadi karena Arya telah menolong ayahnya dan melunasi semua hutang ayahnya, makanya Nia menjadi lebih sopan pada Arya. Dia juga telah meminta maaf pada Arya atas sikap kasarnya selama ini.
Setelah memilih makanan yang ada di menu, Arya memanggil pelayan dan mengatakan semua pesanannya.