
Pada saat yang bersamaan, di dalam sebuah kamar, terlihat seorang gadis sedang duduk di kasurnya, memeluk bantalnya dengan erat.
Gadis ini tidak lain adalah Lucy. Dia sengaja absen sekolah, karena beberapa faktor. Perasaannya sendiri saat ini masih campur aduk, membuat moodnya hancur total.
Dia merasa sakit hati dan sedih karena Arya telah memutus hubungan dengannya, baik hubungan kasih mereka, janji yang mereka buat, bahkan hubungan sebagai teman masa kecil mereka sudah hancur berantakan.
Apalagi, saat melihat Arya berbaring di pangkuan Lylia setelah Arya berkelahi dengan Guru James saat itu, Lucy mendengar sekilas jika Arya menceritakan masalah keluarganya pada Lylia. Ini membuatnya hancur. Arya biasanya akan datang padanya, melepas stresnya kepada dirinya. Tapi sekarang, karena adanya Lylia, posisinya telah digantikan.
Dia juga marah dan kesal pada Lylia, karena gadis itu merebut Arya darinya.
Dia juga menyesal, menyesal karena menerima perasaan William dengan dalih membuat Arya cemburu, dengan harapan Arya kembali padanya.
Terisak, Lucy membenamkan wajahnya ke bantal yang dia peluk.
"Lucy, aku masuk, ya."
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, sebelum akhirnya pintu terbuka dengan suara derit.
"Lucy, sampai kapan kamu akan mengurung diri di kamar? Kamu bahkan absen sekolah hari ini."
David yang melihat Lucy terisak itu menghela napas. Ini sudah sekian kalinya dia masuk ke kamar adiknya dan mendapati adiknya itu terisak.
Lucy mengangkat kepalanya dan menatap David, berkata dengan sedih.
"Aku tidak akan keluar dari kamar jika Arya tidak memperbaiki hubungannya denganku..."
"Ya ampun, apa lagi yang terjadi di antara kalian berdua? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja? Kakak ingat jelas jika saat itu Arya mengatakan dia masih menyukaimu. Jadi kenapa kamu bisa berkata seperti itu?"
Lucy terdiam sejenak mendengar ini. Dia belum mengatakan pada David tentang dirinya menerima William sebagai kekasihnya, dengan dalih agar Arya cemburu dan kembali padanya.
Dengan ragu dan takut, Lucy menjelaskan semuanya pada David.
Wajah David segera menjadi suram, menggelap dan sudut mulutnya tanpa henti berkedut. Dia benar-benar tidak menyangka jika itu semua yang terjadi antara Arya dan Lucy selama beberapa minggu terakhir.
"Lucy, kenapa kamu begitu bodoh? Sudah bagus hubunganmu dengan Arya sepertinya biasanya. Meski Arya bersikap dingin padamu, tapi di dalam hatinya dia masih mencintaimu. Tapi sekarang, karena kebodohanmu yang ingin membuat Arya cemburu, hubunganmu dengannya mengalami kemunduran yang signifikan. Jika sudah seperti ini, siapa yang patut disalahkan?" David terlihat marah.
Lucy terdiam, tidak mengatakan apapun. Dia sadar jika ini adalah salahnya. Tapi semua itu dia lakukan demi Arya kembali padanya. Jika dia tahu akhirnya akan menjadi seperti ini, dia tidak akan bermain-main dengan William.
"Tapi, Kak. Kenapa Arya harus marah, padahal aku sendiri tidak marah ketika dia berpacaran dengan Lylia? Aku bahkan tidak mengubah sikapku padanya."
"Lucy, Arya salah paham denganmu, jadi dia menganggapmu sudah memiliki seorang pacar dulu. Juga, keluarga Arya sedang bermasalah, ingat? Dia sedang mengalami stres, aku yakin itu."
"Tapi Kak..."
"Lucy, kamu harus mengerti Arya. Dia bukan hanya memiliki masalah denganmu, tapi juga masalah dengan keluarganya."
"Aku tahu, Kak."
Lucy mengangguk, merenung.
David kemudian mengatakan beberapa hal penghibur pada Lucy, lalu pergi meninggalkannya untuk membiarkan dia merenung.
*****
Saat pulang dari sekolah, Lylia tiba di rumahnya. Dia segera dijemput oleh seorang pelayan wanita. Pelayan itu mengambil tas Lylia.
Lylia merupakan anak dari seorang CEO yang terkenal dan kaya raya, jadi wajar jika dia memiliki banyak pelayan. Rumahnya saja sebesar istana, jadi memerlukan banyak orang untuk mengurusnya.
"Nona, Tuan berpesan pada saya jika Anda sudah kembali dari sekolah, Anda diminta untuk menemui Tuan di ruangan pribadinya."
Pelayan yang membawa tas Lylia berkata pada Lylia, yang berjalan di depannya.
Lylia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Ayah memanggilku?"
"Ya, Nona. Tuan bilang ada yang ingin dibicarakan dengan Anda."
Lylia mengangguk, menyuruh pelayan itu meletakkan tasnya di kamarnya sementara dia pergi menemui ayahnya.
Lylia kemudian mengetuk pintu ruang pribadi ayahnya.
Setelah menerima persetujuan masuk, Lylia masuk dan menemukan dua orang di dalam ruangan tersebut. Satu pria, satu wanita.
Pria tersebut sedang duduk di meja kerjanya, bersandar pada kursinya sambil merokok dengan santai. Dia memiliki wajah yang tampan, dengan janggut yang cukup tebal di dagunya. Tubuhnya juga berisi, terutama bagian dada dan tangannya yang terlihat jelas jika sering dilatih dengan beban berat.
Adapun sang wanita, di duduk di sofa tidak jauh dari sang pria. Wanita ini memiliki wajah cantik, dengan rambut putih keperakannya, mirip dengan Lylia. Dia memiliki tubuh ramping dan memiliki pesonanya sendiri.
Pria dan wanita ini adalah orang tua Lylia, Gerald dan Vera.
"Kamu sudah pulang, Putriku?"
"Ya, Ayah. Aku sudah pulang, tapi itu tidak penting sekarang."
"Oh, apakah ada yang lebih penting sekarang?"
"Tentu, Ayah. Itu, yang ada di tanganmu, rokok yang sedang Ayah nyalakan, matikan sekarang juga."
Lylia berkata, menatap tajam ayahnya tanpa ragu. Dia sangat membenci asap rokok, makanya dia tidak ragu meminta Gerald untuk mematikan rokoknya.
Terlebih lagi, Lylia sudah berulang kali meminta Gerald untuk berhenti merokok, karena itu tidak baik untuk kesehatannya.
"Baiklah, baiklah. Ayah mengalah."
Lylia tersenyum puas dan menghilangkan tatapan tajamnya. Dia kemudian duduk di sebelah ibunya, mencibir.
"Ibu, kenapa Ibu membiarkan ayah merokok? Ayah sudah tua, jika dia terus merokok, dia bisa jatuh sakit."
"Ya ampun, Lylia. Kami selalu keras pada ayahmu jika menyangkut rokok, ya?"
"Tentu saja, aku tidak ingin ayah jatuh sakit, makanya aku peduli padanya."
Lylia berkata, melirik Gerald sejenak sebelum menarik kembali tatapannya.
Vera tertawa kecil pada Lylia, merasa jika putrinya begitu perhatian pada anggota keluarganya.
Setelah mengobrol sedikit dengan Gerald dan Vera, Lylia lalu menanyakan alasannya dipanggil. Dia cukup penasaran tentang apa yang akan orang tuanya katakan padanya.
Gerald dan Vera terdiam sesaat, saling memandang dan tersenyum aneh.
Lylia tanpa sadar menelan ludahnya dalam tegukan, merasa ayah dan ibunya memiliki sesuatu yang aneh untuk disampaikan padanya.
"Lylia, apakah kamu sudah pacar?"
"Pfftt!!!"
Lylia terkejut, tersedak udara yang dia hirup dan batuk beberapa kali.
Dia tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan menanyakan hal semacam ini.
"Pacar?! A-aku belum punya pacar... Aku sedang fokus belajar sekarang."
Lylia terbata-bata, menyeka sudut mulutnya dan mengalihkan pandangannya. Dahinya dipenuhi keringat yang menetes ke pipinya. Dia benar-benar gugup dan takut, takut jika dia ketahuan memang memiliki seorang pacar.
Bagaimanapun, dia belum memberitahu keduanya tentang Arya.
"Ya ampun, lihat wajahmu itu, Putriku. Wajahmu sangat merah. Ayah penasaran, pria mana yang beruntung mendapatkan hatimu." Gerald tertawa meledek melihat wajah merah Lylia.
"Sayang, katakan pada Ibu, pria seperti apa yang menjadi pacarmu itu? Apakah dia tampan? Apakah dia orang baik? Apakah dia kaya seperti kita?" Vera bertanya dengan semangat.
Lylia mau tak mau terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia takut jika dia mengatakan tentang Arya, hubungannya mungkin tidak akan direstui. Terutama ibunya, karena ibunya begitu ingin dia memiliki kekasih yang kaya raya dan memiliki kekuasaan seperti keluarganya.
Menatap Gerald, Lylia menunjukan ekspresi rumit seakan meminta bantuan, tapi sayangnya ayahnya hanya menunjukan senyum penuh makna. Ini membuatnya dilema.
Lylia kemudian berpikir cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas tanpa daya.
"Aku memang sudah memiliki kekasih, Ayah, Ibu."
"Oh, itu terdengar menyenangkan. Aku harap kamu bahagia dengan kekasihmu itu, Lylia." Gerald berkata, menghela napas pelan.
Dia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan siapa putrinya berpacaran. Asalkan kekasihnya pria baik, bertanggung jawab dan mencintai Lylia sepenuh hati, maka dia akan melepas putrinya itu ke pria yang menjadi kekasihnya tersebut.
"Kamu sepertinya sangat bahagia dengan kekasihmu, Lylia. Sayang, katakan pada Ibu, seperti apa kekasihmu itu?"
Kini Vera bertanya, penuh rasa penasaran.
Lylia diam sejenak, lalu berkata.
"Pacarku... Dia sangat tampan. Dia orang yang baik, tulus dan penuh perhatian serta kasih sayang. Dia terkadang bersikap manja padaku, tapi sebenarnya aku yang sangat manja padanya. Dia selalu memanjakanku dengan berbagai cara. Saat dia berbicara juga selalu lembut dan tidak pernah berbicara kasar pada orang di sekitarnya..."
Lylia menjelaskan, merasa sangat malu. Dia benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan menceritakan hubungannya dengan Arya, bahkan menceritakan bagaimana dirinya bersikap manja pada Arya.
"Lalu, siapa nama kekasihmu itu?"
"Arya, namanya adalah Arya, Ayah."
"Arya, ya? Namanya yang bagus. Kupikir putriku sudah menemukan pasangan yang sangat mencintainya, ya?"
Gerald tertawa kecil, merasa bahagia ketika melihat putrinya bahagia.
Lylia mengangguk dengan malu-malu.
Vera di sisi lain mengerutkan dahinya sejenak.
"Sayang, Arya yang kamu maksud, apakah dia dari keluarga terpandang, atau seseorang yang memiliki perusahaan seperti kita?"
Vera bertanya dengan sedikit penekanan pada nadanya.
Lylia diam, berpikir keras cara menghindari pertanyaan dari ibunya. Jika dia mengatakan Arya hanya dari kalangan biasa dan bukan dari keluarga terpandang, serta tidak memiliki perusahaan besar, dia yakin ibunya pasti tidak akan merestui hubungannya.
Gerald menyadari ini dan menghela napas. Dia bisa melihat jika putrinya kesulitan menjawab, karena ekspresinya terus-menerus berubah.
"Lylia, kamu pasti lelah, kan? Kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Jangan lupa kerjakan pekerjaan rumahmu, oke?"
Gerald berkata demikian, membuat Lylia yang mendengarnya segera menatapnya dengan mata berbinar.
"Ya, Ayah."
Lylia mengangguk, bangkit dan sofa dan meninggalkan ruangan pribadi ayahnya. Dia sangat senang karena ayahnya membantunya di saat-saat genting.
Pada saat yang sama, Vera menatap tajam Gerald karena menyuruh Lylia pergi sebelum dia mendapat jawaban.
Gerald hanya tersenyum penuh makna dan mengabaikannya.