
Setelah selesai mandi, Arya terlihat lebih segar dan wajahnya menunjukan sedikit lega. Dia telah menghilangkan semua pikiran kotornya
Berjalan menuju ruang TV, Arya tiba-tiba mengerutkan dahinya, terkejut.
Dia mendengar suara isak tangis seorang gadis dari dalam ruang TV itu.
Di rumah hanya ada dia dan Lucy. Gadis itu sedang berada di ruang TV tadi, jadi jelas suara siapa yang terisak itu. Ini membuat Arya segera ke ruang TV dan terkejut. Dia melihat Lucy menangis sambil memeluk bantal.
Arya langsung panik. Dia segera menyesal karena mengabaikan Lucy bahkan meninggalkannya mandi tadi. Dia berpikir bahwa Lucy menangis karena gadis tersebut tidak dimanja seperti biasanya.
Dia lalu duduk di sebelah Lucy, berkata dengan lembut.
"Lucy, maafkan aku. Aku sudah mengabaikanmu sejak tadi, jangan menangis lagi. Kemari, katakan apa yang kamu inginkan dan aku akan mengabulkannya."
Arya membuka kedua tangannya, siap memeluk Lucy.
Lucy berhenti menangis sejenak, menatap Arya dengan matanya yang berkaca-kaca sebelum dia menjatuhkan dirinya ke pelukannya.
Arya memeluk Lucy dan gadis tersebut memperbaiki posisi duduknya, pindah ke pangkuan Arya. Dia melingkari leher Arya menggunakan tangannya dan kakinya juga mengunci pinggang Arya.
Lucy membenamkan wajahnya yang menangis itu ke dada Arya.
Arya mengelus kepala Lucy dengan lembut.
"Lucy, jangan menangis lagi. Maaf karena sudah mengabaikanmu tadi."
"Tidak... Bukan itu, aku tidak menangis karena itu..."
Lucy menjawab dengan terisak. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Arya.
"Lalu apa yang membuatmu menangis? Ceritakan padaku."
Arya menyeka air mata Lucy
"Arya, aku ini beban untukmu. Hanya kerena diriku, kamu jadi kehilangan uang seratus jutamu. Gara-gara aku, kamu jadi kehilangan uang sebanyak itu. Selama dua minggu terakhir ini aku terus berpikir bagaimana cara agar aku bisa membalasmu, tapi aku tidak tahu caranya. Aku bingung harus bagaimana."
Lucy mengatakan alasannya. Dia merasa bersalah pada Arya, karena masalahnya dengan Rui yang menyebarkan rumor buruk tentangnya, Arya jadi kehilangan uang seratus juta karena saat itu Ibu Rui meminta uang ganti rugi karena Arya sudah menampar Rui.
Lucy selalu memikirkan cara untuk membalas budi Arya, bahkan dia berniat mengganti uang yang telah Arya gunakan untuk ganti rugi itu. Namun, meski sudah dua minggu memikirkannya, dia tidak menemukan solusi, membuatnya semakin merasa bersalah pada Arya.
Arya agak terkejut, tidak menyangka jika itu alasan Lucy menangis. Dia kemudian tersenyum lembut, membelai pipi Lucy.
"Ratuku, dengarkan aku. Kamu adalah wanita yang aku cintai. Kamu adalah cinta kedua setelah ibuku, wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Kamu adalah wanita yang akan menemaniku selama sisa hidupku. Kamu sebagian dari hidupku. Ratuku, aku, Arya, sangat dan sangat mencintaimu. Jadi, bagaimana bisa kamu menyebut dirimu beban untukku, sementara kamu adalah peran terpenting dalam kehidupanku?"
"Aku tidak ragu mengeluarkan uang sebanyak itu karena aku memang memilikinya. Kamu bukan beban, kamu adalah penyemangat hidupku. Aku mencari uang bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk keluargaku dan dirimu."
Arya sangat tulus saat dia berkata demikian.
Mendengar ini, hati Lucy dipenuhi kehangatan. Dia menyeka air matanya,tersenyum dan mencium Arya.
Arya agak terkejut karena ini adalah pertama kalinya Lucy berinisiatif untuk menciumnya. Dia segera membalas ciuman itu.
Kedua bibir saling menyatu erat, tidak terlihat akan mengendur jika belum kehabisan nafas.
Jantung Arya maupun Lucy berdebar kencang. Ketika mereka menarik kembali bibir mereka, nafas hangat bisa dirasakan dengan jelas.
Berciuman sekali lagi, Arya merasakan bibir lembut dan manis Lucy. Namun, ciuman dangkal semacam ini membuatnya kurang puas.
Dengan ragu-ragu, Arya membuka sedikit mulutnya, menjulurkan lidahnya dan memasukkannya ke dalam mulut Lucy.
Lidahnya mencari keberadaan lidah mungil Lucy dan menjalinkannya.
Dia sudah lama ingin melakukan ciuman semacam ini, tapi mengingat Lucy yang tidak terlalu berpengalaman, Arya tidak ingin buru-buru dan membiarkannya terbiasa dulu.
Tapi sekarang, mereka sudah berciuman beberapa kali, jadi Arya berpikir tidak masalah jika dia memainkan lidahnya. Dia juga ingin menjadi semakin mesra dan intim dengan Lucy.
Lucy melebarkan matanya karena terkejut. Dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh lidahnya, membuatnya mendorong pundak Arya dan menjauhkannya.
Arya tidak marah dengan ini. Dia hanya menatap Lucy yang terengah-engah dan terlihat terkejut itu.
Lucy tidak berani menatap Arya, mengalihkan pandangannya. Dia jelas tahu apa yang baru saja menyentuh lidahnya tadi.
"Apakah kamu membencinya?" Arya bertanya.
"Bu-bukannya aku membencinya... Hanya saja, kamu melakukannya tiba-tiba. Rasanya... Agak aneh dan geli..."
"Tidak apa. Mungkin itu akan aneh dan menggelikan di awal, tapi percayalah padaku. Setelah beberapa saat, rasanya akan berubah."
Arya menyakinkan Lucy sambil mengusap pipinya. Dia kemudian memiringkan kepalanya dan mendekati wajah Lucy.
Lucy kebingungan, tapi dia segera menutup matanya dan menerima ciuman Arya.
Awalnya, itu ciuman ringan dan dangkal. Tapi perlahan, Arya mulai memasukkan lidahnya lagi dan Lucy berusaha mengikuti gerakan lidahnya.
Kedua lidah saling terjalin erat, tidak ingin melepaskan satu sama lain. Bahkan suara decakan lidah terdengar, menunjukkan betapa intimnya ciuman yang dilakukan keduanya.
Arya terus-menerus memainkan lidahnya, menghisap lidah Lucy dan menikmati lidah mungil gadis kesayangannya itu. Rasa lidah Lucy sangat manis, sangat lembut dan sangat nikmat.
Keduanya lalu memisahkan diri karena kehabisan nafas, menciptakan jembatan air liur ketika mereka berdua mengakhiri ciuman yang panas itu.
"Lucy... aku mencintaimu."
"Aku juga... Mencintaimu, Arya..."
Terengah-terengah, Lucy menggumamkan nama Arya dengan suara yang manis. Dia memegangi kepala Arya dengan kencang dan menariknya ke arah wajahnya, membuat ciuman mereka semakin dalam.
Lidah Lucy yang lembut dan berwarna merah ceri memasuki mulut Arya semakin dalam, membuatnya agak kewalahan namun dia berhasil mengimbanginya.
Arya merasa senang, berpikir bahwa Lucy sepertinya sudah mulai menikmati french kiss mereka.
Pikiran Arya perlahan mulai kosong karena lamanya mereka berciuman. Dia perlahan membaringkan Lucy dan menungganginya.
Menarik bibirnya sejenak, Arya mencium Lucy lagi.
Gadis yang berada di bawah tubuh Arya itu menerima ciumannya.
Tangan besar Arya mulai meraba bagian kaki Lucy dan naik ke pahanya dengan cepat. Sementara itu, tangan lainnya sudah memasuki pakaian Lucy dan mengelus perut Lucy dengan gerakan nakal.
Lucy sangat terkejut dengan Arya yang menjadi lebih agresif. Jantungnya berdetak semakin kencang. Sudut matanya sudah memiliki air mata yang akan tumpah.
Lucy sadar, jika dia tidak menghentikan Arya sekarang, maka semuanya akan menjadi penyesalannya. Dia tidak ingin melakukannya sebelum menikah.
Kedua tangan Arya memegang celana Lucy, siap membukanya.
Namun segera, dia dihentikan oleh Lucy.
"Arya... Jangan..."
Lucy hampir menangis, membuat Arya tersentak dan tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Terlambat sedikit saja, dia pasti sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, yang bisa membuatnya menyesal untuk waktu yang lama.
Arya dengan cepat menyingkir dari tubuh Lucy dan menjauh, meminta maaf berulang kali.
Tapi sayangnya, Lucy tidak mengatakan apapun. Dia segera lari ke kamarnya.
Arya menghela nafas panjang, merasa bahwa dirinya berlebihan tadi. Bagi keduanya, melakukan hubungan badan sebelum menikah adalah suatu hal yang buruk, jadi mereka hanya ingin melakukannya ketika mereka sudah menikah.
Selain itu, sudah semestinya melakukan hubungan badan ketika mereka sudah menikah.
Setelah setengah jam berlalu, Arya yang sudah menenangkan pikirannya menghampiri Lucy di kamarnya. Dia mengetuk pintu beberapa kali.
Membukakan pintu, Lucy terlihat merah seperti tomat rebus. Jantungnya yang sudah tenang mulai berdebar kencang. Dia menatap Arya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke bawah. Menatap Arya hanya membuatnya mengingat kejadian panas yang mereka lakukan tadi.
"Lucy, aku minta maaf. Aku sudah berlebihan tadi." Arya sangat menyesal.
"Ti-tidak apa-apa..."
Lucy terdengar canggung.
Arya lalu menjatuhkan dirinya ke pelukan Lucy, membenamkan wajahnya ke pundaknya.
Lucy agak terkejut tapi dia segera tersenyum dan mengelus kepala Arya dengan gerakan menyayangi.
"Lucy, aku mengantuk. Ayo tidur bersama."
"A-apa?! Ja-jangan sembarangan!"
"Apa yang salah? Sejak aku membunuh preman tempo hari, kita selalu tidur bersama karena kamu ketakutan. Jadi, tidak masalah, bukan?"
Lucy berpikir sejenak.
Memang benar apa yang dikatakan Arya.
Dia dan Arya selalu tidur bersama sejak Arya membunuh preman bayaran Vicktor di depan matanya. Sejak kejadian itu, dirinya menjadi ketakutan setiap malam karena mengalami trauma, bahkan dia selalu mengalami mimpi buruk setiap harinya. Dia hanya bisa tidur nyenyak jika Arya memeluknya.
Meski mereka tidur bersama, tapi mereka tidak melakukan hal yang melewati batas. Paling banyak, mereka hanya akan berpelukan atau bertukar ciuman sebelum tidur.
Lucy akhirnya mengangguk setelah berpikir cukup lama.
Kemudian, keduanya memasuki selimut dan tertidur hingga sore hari.
----
Jangan lupa like, komen dan share, ya. Like dan komen kalian bagai kopi untuk Mr A.N, bikin Mr A.N kuat begadang hingga larut malam untuk nulis My Life, supaya bisa up setiap harinya.