
"Nia sepertinya kabur karena aku pukul tadi malam. Tadi malam aku mabuk dan secara tidak sadar memukulnya."
Ayah Nia menjelaskan sedikit. Dia secara samar-samar ingat apa saja yang terjadi tadi malam ketika dia mabuk, terutama saat dia memukul Nia. Ini membuatnya sangat menyesal karena telah memukul putrinya itu.
"Omong kosong. Mana mungkin kau memukulnya secara tidak sengaja. Kau pasti sengaja, kan?"
"Ti-tidak! Aku sedang mabuk saat itu, jadi aku tidak terlalu sadar akan tindakanku. Tolong pahami itu."
Ayah Nia melambaikan tangannya, membantah Arya saat pemuda itu berkata dengan dingin.
"Aku ini bukanlah ayah yang baik. Sejak istriku dan anak pertamaku meninggal setengah tahun yang lalu, aku larut dalam kesedihan. Karena hal itu, aku mencoba melarikan diri agar tidak sedih lagi dengan cara mabuk. Aku sudah sering mencoba untuk berhenti mabuk-mabukan lagi, tapi aku selalu gagal. Setiap kali aku bermimpi atau saat aku mengingat wajah istri dan anak pertamaku, aku selalu merasakan kesedihan lagi dan aku berakhir mabuk lagi. Hal ini selalu terulang selama setengah tahun ini, membuatku menjadi ayah yang buruk bagi Nia."
Ayah Nia bercerita sedikit tentang bagaimana dia menjadi seorang pemabuk. Semuanya karena dia terlalu larut dalam kesedihan atas meninggalnya istri dan anak pertamanya.
Saat pria itu mulai bercerita, Arya mendengarkan dengan seksama. Dia memiliki ekspresi serius dan sedikit rumit.
"Sementara aku larut dalam kesedihan, Nia, dia selalu bekerja keras. Dia selalu belajar setiap hari, siang dan malam, dia selalu belajar dan menjadi anak yang rajin. Tapi karena aku menjadi seorang pemabuk, terkadang saat aku sedang kesal, aku tanpa sadar memarahi Nia dan memukulnya. Aku yakin Nia membenciku dan sikapnya sangat dingin padaku. Aku seorang pemabuk, pengangguran dan memiliki banyak hutang, Nia pasti sangat membenciku. Aku adalah ayah yang buruk. Jika saja aku tidak larut dalam kesedihan ini, Nia pasti tidak akan membenciku, kan?"
Ayah Nia menundukkan kepalanya dan tangannya yang terkepal gemetar. Dari suaranya, dia terdengar hampir menangis namun dia menahannya. Bagaimanapun, akan memalukan baginya, seorang pria berusia empat puluhan, menangis di hadapan seorang pemuda.
Bahkan saat ini, Ayah Nia sudah cukup malu karena mengatakan masalahnya pada seseorang yang baru dia temui sekali. Namun, dia tidak peduli. Dia hanya ingin melepaskan sedikit banyak stres yang dia alami dengan bercerita pada seseorang.
Arya yang mendengar semua cerita Ayah Nia menghela nafas pelan. Dia sekarang bisa menilai bahwa Ayah Nia bukanlah orang tua yang akan memukul putrinya hanya karena masalah keuangan.
Dari nada bicaranya ataupun pembawaannya yang terbuka, Arya yakin bahwa Ayah Nia adalah seorang ayah yang sangat menyayangi keluarganya.
Awalnya, Arya datang ke rumah Nia untuk melihat seperti apa sosok Ayah Nia. Jia dia terlihat seperti seseorang yang suka mabuk dan memukul anaknya hanya karena kekurangan ekonomi, maka dia tidak akan segan menghajarnya.
Tapi, setelah mengetahui bahwa Ayah Nia berbeda dari apa yang dia bayangkan, dia ingin mencari tahu lebih dulu kepribadian Ayah Nia sebelum melakukan pukulan.
Sekarang, setelah melihat Ayah Nia secara langsung dan setelah menilai kepribadiannya, Arya mengurungkan niatnya untuk menghajarnya.
"Pak, kau bilang kau pengangguran, bukan? Kalau begitu, datanglah ke sini besok atau lusa. Aku yakin, jika kau pergi ke sana, kau akan mendapat pekerjaan yang layak."
Arya mengambil sesuatu dari kantungnya dan memberikannya pada Ayah Nia.
Ayah Nia terkejut tapi dia segera mengambilnya.
Memeriksanya, ternyata yang Arya berikan adalah sebuah kartu nama yang berisikan alamat toko rotinya dan alamat itu merupakan alamat cabang utamanya.
"Apakah aku benar-benar bisa mendapatkan pekerjaan di sini?"
"Ya, tentu saja. Kau bahkan akan mendapat gaji yang lumayan besar di sana."
"Baiklah, aku akan datang ke sana dalam waktu dekat."
Ayah Nia agak ragu dengan ucapan Arya. Tapi karena dia sedang butuh pekerjaan, tidak ada salahnya mencoba.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong, berapa banyak hutang yang kau miliki, Pak?"
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja, jika jumlahnya tidak terlalu banyak, aku mungkin bisa membantu sedikit."
Mata Ayah Nia melebar mendengar ini. Dia seperti menemukan secercah harapan, tapi di saat yang sama, dia semakin ragu dengan pemuda ini.
Selain itu, dia merasa tidak sopan jika menolak bantuan dari seseorang yang hendak membantunya.
Mengatakan jumlah hutangnya, Arya agak terkejut mendengarnya.
Jumlah hutang Ayah Nia hampir mencapai jumlah tiga puluh juta.
Jumlah itu cukup banyak, tapi itu masih dalam kemampuan Arya.
"Pak, berterima kasihlah pada Nia. Jika bukan karena gadis itu memiliki hubungan baik dengan kekasihku, aku tidak akan berniat membantumu."
"Ma-maksudmu?" Ayah Nia kebingungan.
"Kau akan mengetahuinya nanti. Sekarang, katakan padaku berapa nomor rekeningmu dan aku akan mengirimkan uang untuk membayar semua hutangmu."
Ayah Nia terkejut dan dia menatap Arya dengan ketidakpercayaan.
"Pak, tolong sebutkan nomor rekeningmu."
"Ah, ya, ya."
Ayah Nia masih dalam keadaan terkejut dan dia mengatakan nomor rekeningnya dengan tergagap.
Setelah beberapa saat, sejumlah uang masuk ke dalam rekening Ayah Nia dan pria tersebut semakin terkejut ketika menyadari bahwa jumlah uang yang dia terima cukup untuk membayar seluruh hutangnya, bahkan ada lebih beberapa juta.
"Nak, apakah semua ini kau yang mengirimnya?!"
"Ya, tentu saja. Jika bukan aku, siapa lagi?"
Arya tertawa kecil.
Ayah Nia tidak bisa menutup mulutnya yang menganga untuk beberapa saat.
"Nah, karena hutangmu sudah lunas dan kau kemungkinan besar kau akan mendapat pekerjaan di masa depan, aku ingin kau berjanji padaku, Pak."
"Tentu, aku akan berjanji! Bahkan jika kau memintaku untuk menyerahkan Nia padamu, aku rela!"
"Tidak, aku sudah memiliki seorang kekasih!"
Arya segera membantah, membuat Ayah Nia sedikit memerah karena malu.
"Pak, tolong berjanji padaku bahwa kau akan berhenti mabuk-mabukan mulai detik ini. Selain itu, kau harus mulai menyayangi Nia seperti dulu dan kau juga harus minta maaf padanya atas apa yang telah kau lakukan padanya selama ini. Satu lagi, jika kau sudah bekerja, berikan Nia uang yang banyak agar dia bisa membeli apapun yang dia inginkan. Nia adalah gadis yang rajin dan cerdas, jadi kau harus memperlakukannya dengan baik."
"Tentu saja, aku berjanji padamu. Bahkan tanpa kau menyuruhku berjanji, aku akan minta maaf dan menyayanginya seperti dulu."
Ayah Nia mengangguk saat dia tersenyum tipis.
Setelah itu, Arya dan Ayah Nia mengobrol sedikit sebelum akhirnya Arya kembali ke rumah Lucy untuk mengajak Nia pulang.
Bagaimanapun, Ayah Nia tampaknya sudah mengalami perubahan dan dia terlihat sudah bertekad untuk berhenti mabuk-mabukan.
Ditambah dengan semua hutangnya telah dilunasi oleh Arya, dia kini merasa lega dan semakin bertekad untuk berkerja agar mendapat uang dan membalas budi.