
"Arya, hati-hati! Mereka punya senjata api!"
Suara familiar terdengar dari samping.
Arya terkejut dan langsung menoleh, segera menghela napas lega. Dalam pandangannya, Lucy memperingatinya dengan cemas.
Mencoba tersenyum, Arya berkata dengan lembut.
"Lucy, tutup matamu dan jangan buka sampai aku menyuruhmu. Jangan dengarkan apapun yang terjadi. Semua hanya mimpi, oke?"
Lucy segera mengangguk mendengarnya, segera menutup matanya dan berusaha mengabaikan suara di sekitar meski itu sulit.
Arya menghela napas melihat Lucy sudah menutup matanya. Dia sudah berjanji pada kekasihnya itu, jika dia tidak akan membunuh siapapun lagi di depan matanya.
Terakhir kali Arya membunuh di depan mata Lucy, gadis itu mengalami trauma yang cukup lama, jadi Arya tak ingin mengulanginya kembali.
Di sisi lain, para gadis yang diculik juga ikut memejamkan mata mereka saat mendengar Arya tadi. Mereka tidak tahu siapa pemuda ini, tapi selama mereka bisa selamat, mereka sangat berterima kasih padanya.
"Arya, kau masih punya peluru?" Louis yang berada di sebelah Arya bertanya.
"Entah, mungkin masih."
Arya mengarahkan pistolnya dan menarik pelatuknya namun tidak ada peluru yang keluar.
"Sial, aku kehabisan peluru."
"Kalau begitu kita sama sialnya. Peluruku hanya tersisa tiga. Kau majulah, aku akan menjaga dari belakang."
Luois menatap serius Arya. Mereka dalam keadaan terdesak saat ini, karena pistol revolver yang mereka andalkan kehabisan peluru. Dengan sisa tiga peluru ini, Luois setidaknya harus bisa membunuh tiga orang dengan tiga peluru.
Adapun Arya, karena dia sudah benar-benar kehabisan peluru, dia hanya bisa mengandalkan belatinya meski itu berisiko.
Selain itu, baik Arya ataupun Luois tidak tahu senjata macam apa yang digunakan para penculik itu.
Mengangguk, Arya bersiap dengan belatinya dan maju secepatnya.
Melihat jika Arya maju dengan kedua belatinya sementara Luois berjaga di belakang pemuda ini sambil membidik sisa bawahannya, Bos tidak terlihat panik. Dia masih memiliki sikap tenang meski dalam hatinya dia sangat kesal karena setengah bawahannya tumbang begitu saja.
Dengan sisa bawahannya, Bos memimpin dan mengeluarkan pistol revolver mereka dan segera, suara tembakan beruntun terdengar.
Lima tembakan, lima peluru. Semua itu mengarah pada Arya dengan kecepatan tinggi.
Arya terkejut dan menjadi pucat. Dia segera menjatuhkan diri dan berguling ke samping secepat yang dia bisa, berhasil menyelematkan diri dari tembakan beruntun itu. Jika dia terlambat sedetik saja, dia pasti akan merasakan peluru mendarat di tubuhnya untuk pertama kalinya.
Ketika peluru Bos dan bawahannya gagal mengenai Arya, kini tembakan terdengar dari belakang. Tentu, itu adalah Luois yang menembak.
Dia menembak sekali, namun dia gagal mengenai musuhnya, membuatnya membuang peluru berharganya, yang sangat membuatnya kesal. Kini, dia hanya memiliki dua peluru tersisa.
Kemudian, suara tembakan terdengar dari Bos dan bawahannya.
Arya dan Luois mau tak mau mengambil jarak dan bersembunyi di balik meja ataupun dinding, mereka tidak ingin ambil risiko. Satu-satunya yang mereka harapkan adalah para penculik ini tidak menggunakan korban sebagai sandera dan mengancam mereka.
"Luois, menembaklah dengan benar, atau kita akan mati!" Arya menggertakan giginya saat dia mengeluh.
"Aku tahu! Tapi apakah menembak target bergerak itu mudah?" Luois mencibir.
Arya mendecakkan lidahnya dengan kesal. Dia tahu jika peluru Luois tersisa dua sekarang, namun musuh yang mereka hadapi saat ini adalah lima orang bersenjata api, sama seperti dia dan Luois. Jika Luois gagal menjatuhkan dua orang, maka besar kemungkinan kedua tamat di sini.
Menatap belati di genggamannya, Arya mengeratkan pegangannya dan matanya menajam dengan serius. Dia menekankan seluruh kekuatannya pada kakinya, melompat keluar dari dinding tempatnya berlindung dan segera berlari secepat mungkin menuju tempat Bos dan bawahannya.
Dia sudah tidak tahan dengan semua ini. Awalnya dia kira semua akan mudah karena Luois bilang rekan-rekannya akan datang. Namun setelah pertarungan dan pembunuhan yang Arya lakukan, rekan-rekan yang Luois bicarakan tak kunjung datang. Ini sama saja seperti dia menyelamatkan Lucy seorang diri.
Melihat kenekatan Arya, Luois menggertakan giginya, marah. Dia mau tak mau keluar dari persembunyiannya dan mengarahkan pistol revolver-nya dan bersiap menembak.
Bos dan bawahannya mengarahkan pistol revolver mereka pada Arya dan menembak secara bersamaan.
Arya berdecak, mengerutkan dahinya dan melompat ke samping untuk menghindar. Namun, yang tidak dia sadari adalah salah satu peluru datang terlambat dan berakhir menembak bahu kanannya.
Arya mengerang begitu keras saat bahu kanan tertembak. Rasanya sangat menyakitkan, seolah-olah ada sesuatu yang meledak dari dalam bahunya.
Arya yang tertembak itu mau tak mau terhuyung dan terjatuh, namun dia segera bangkit dengan segala upaya. Tubuhnya gemetar dan matanya mulai kabur. Kepalanya pusing.
Mengigit lidahnya agar kesadarannya tetap terjaga, Arya menerobos maju sekali lagi.
Luois berdecak dengan kenekatan Arya. Dia menarik pelatuknya ketika targetnya sudah dalam bidikan.
Dalam sekejap, Bos dan bawahannya menembak lagi, begitu juga dengan Luois.
Beruntung ketika baku tembak kali ini, Arya berhasil menghindar meski dia hampir melihat kematian. Luois sendiri berhasil mengenai targetnya dan membunuh dua orang, membuat orang yang perlu mereka hadapi tersisa empat orang, termasuk Bos penculik.
Membuang pistol revolver-nya yang sudah tak memiliki peluru, Luois mengeluarkan belati dari balik pakaiannya. Dia merupakan pengawal pribadi Putri Inggris, jadi wajar jika dia memiliki banyak persenjataan di balik pakaiannya. Semua demi situasi seperti saat ini.
Luois kemudian maju dan membantu Arya.
Kembali pada Arya, dia berhasil menghindari peluru satu per satu. Jaraknya dengan Bos dan bawahannya hanya beberapa meter lagi namun mereka tampak santai dan tidak mengambil tindakan. Bahkan mereka memasukkan kembali pistolnya dan mengeluarkan belati.
"Cukup tembak-tembakannya, mari kita saling menusuk!"
Bos tertawa, bersama dengan tiga bawahannya, dia maju dan menyerang Arya dan Louis.
Belati bertemu belati, menyebabkan percikan api.
Ketika beradu dengan salah satu bawahan, Arya tidak bisa menahan rasa sakit di bahunya sehingga dia terpaksa mundur. Setiap kali dia menggerakkan tangan kanannya, bahunya akan terasa seperti sedang dirobek secara perlahan, menbuatnya kesakitan setiap detiknya. Darahnya juga terkuras hingga wajahnya pucat pasi bagai kertas.
"Arya, mundurlah dan biarkan aku yang melawan mereka!"
Louis berteriak dan maju menyerang. Meski dia berkata begitu, dia tidak yakin bisa melawan empat orang sekaligus.
"Huh, kenapa makanan ikan seperti kalian sangat merepotkan?"
Bos mendengus dingin dan mencibir. Dia dan tiga bawahannya menyerang Louis bersamaan.
Louis pun terpaksa masuk mode bertahan. Dia hanya bisa menghindar dan menghindar.
Melihat dari kejauhan, Arya terengah-engah dengan napas berat. Kesadarannya mulai memudar. Tubuhnya tampaknya sudah mencapai batasnya, di mana dia bisa saja kehilangan kesadarannya kapan saja.
Namun, Arya tahu dirinya tidak boleh tumbang sekarang. Jika tidak, tidak ada yang tahu nasib seperti apa yang akan terjadi pada Lucy nantinya.
"Sial, aku tidak boleh pingsan sekarang!"
Arya mengigit lidahnya dengan keras untuk mempertahankan kesadarannya. Dia lalu hendak maju. Namun segera, belasan suara langkah kaki terdengar.
Menoleh ke belakang, Arya melebarkan matanya karena terkejut. Dalam pandangannya, dia melihat belasan orang bersenjata datang dengan pakaian serba hitam lengkap dengan rompi anti peluru.
"Angkat tangan! Jangan ada yang bergerak!"
Seseorang yang tampak seperti pemimpin berteriak dengan mengarahkan senapannya ke orang yang terlihat mencurigakan. Termasuk Arya.
Belasan orang di belakangnya juga mengarahkan senapannya. Mereka siap menembak kapan saja.
Melihat itu, Arya mengangkat tangannya. Para penculik juga melakukan hal yang sama. Mereka semua terkejut bukan main dan ketakutan. Mereka tidak mengharapkan ini.
Menoleh, Luois melihat bala bantuan yang dia hubungi akhirnya sampai. Dia bisa menghela nafas lega setelah menghindari serangan dari para penculik belasan kali.
Louis kemudian menghampiri teman-temannya. Dia lalu berkata.
"Dengar, mereka berempat adalah penculiknya. Tangkap mereka dan bunuh!"
"Baik, Pak!
Jawaban serempak langsung Luois dapatkan.