
"Hei, apakah kalian melihat Arya?"
Lucy bertanya pada teman-temannya yang berada di kelas. Dia baru saja mencari Arya ke setiap sudut sekolah, tapi dia tidak menemukannya. Dia ingin menemui Arya dan menanyakan kondisinya.
Lucy tahu jelas jika Arya saat ini sedang tidak baik-baik saja, terutama ketika ibunya dihina di depan publik.
Setidaknya, Lucy ingin menghibur Arya, jika bisa dia ingin memeluknya juga.
Teman-teman Lucy yang ditanyai tentang Arya menggelengkan kepala.
Lucy mengangguk dengan ini dan mencari lagi. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke atap. Hanya atap yang belum dia datangi.
Tiba di atap, Lucy membuka pintu. Dia segera melebarkan matanya dengan terkejut ketika dia melihat dua orang, seorang pria dan seorang gadis sedang berduaan di atap.
Pria tersebut memiliki rambut hitam dengan wajah familiar, secara alami dia adalah Arya.
Adapun sang gadis, dia memiliki rambut keperakan dengan wajah cantik, jelas dia adalah Lylia.
Arya dan Lylia saat ini sedang menikmati momen bersama mereka.
Arya terlihat berbaring dan menggunakan paha Lylia sebagai bantal.
Lylia terlihat memerah ketika ekspresi kebahagian memenuhi wajahnya. Dia dengan lembut mengelus kepala Arya.
Lucy yang melihat ini merasakan sakit di dadanya, membuatnya hampir tidak bernapas untuk waktu yang cukup lama. Dia sepertinya tahu apa yang terjadi. Mungkin saja, Arya sudah bercerita pada Lylia tentang masalahnya sehingga pemuda itu merasa lebih baik.
Di sisi lain, Arya dan Lylia yang mendengar derit pintu terbuka segera menoleh, terkejut saat mengetahui yang datang adalah Lucy.
"Ma-maaf, aku tidak tahu jika ada kalian di sini. Abaikan saja aku, aku akan segera pergi sekarang."
Lucy berkata, menahan air matanya yang sudah memenuhi sudut matanya. Dia segera berbalik ketika menyadari air mata sudah menetes ke pipinya.
Arya mengerutkan dahinya dengan kesal melihat Lucy tiba-tiba datang dan pergi begitu saja setelah mengacaukan suasana damai dia dan Lylia.
Adapun Lylia, dia sepenuhnya memerah karena malu. Dia sedang membelai Arya yang berbaring di pahanya, jadi ketika dilihat orang lain, dia merasa sangat malu.
"Huh, dasar penggangu!"
"Itu... Itu tidak bisa disalahkan, lagipula kita tidak seharusnya bermesraan di sini."
Lylia membelai kepala Arya, menyisir rambutnya dengan gerakan menyayangi.
Lylia tidak tahu mengapa, tapi Arya menjadi sedikit manja setelah bercerita tentang keluarganya tadi. Ini merupakan berita baik baginya, jadi dia tidak menolak untuk memanjakan Arya.
Menatap Arya yang berbaring di pahanya, Lylia berkata dengan pelan dan ragu-ragu.
"Arya, kamu diskorsing selama tiga minggu, kan?"
"Um, aku diskorsing selama itu. Apakah ada masalah, Lylia?" Arya bertanya, mengubah posisinya dari berbaring jadi duduk.
Lylia tampak kecewa melihat Arya menyingkir dari bantal pangkuannya. Dia agak menyalahkan Lucy di sini.
Menghela napas pelan, Lylia menatap Arya dengan wajah merah cerah.
"Ka-karena kamu diskor, bolehkah aku berkunjung ke rumahmu? A-aku ingin meminjamkan buku catatan dan kamu bisa menyalinnya. Kamu mungkin memiliki beberapa hal yang tidak dipahami tentang pelajaran, kan? Aku mungkin bisa menjelaskan sedikit, jadi aku boleh berkunjung, ya?"
Suara malu-malu dan manis Lylia memasuki telinga Arya, membuatnya agak terdiam menikmati nadanya yang manis itu.
Tersenyum lembut, Arya mengangguk.
"Tentu saja boleh, Lylia. Aku sangat berterima kasih jika kamu mau berkunjung. Aku memang memiliki sedikit masalah jika disuruh belajar, jadi jika kamu datang, kamu akan sangat membantuku."
Lylia segera melebarkan senyumannya saat dia mendapat persetujuan. Matanya segera berbinar dan dia langsung melompat ke dalam pelukan Arya, membuat kekasihnya itu terkejut bukan main.
*****
Ketika tiba di rumahnya, Arya segera menemui Erwin. Dia dan kakeknya itu mengobrol di ruang keluarga karena Arya yang meminta.
"Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan pada Kakek?"
"Itu... Sebenarnya, Kek. Aku diskorsing selama tiga minggu dari sekolah."
Arya segera pada intinya, membuat Erwin terkejut dan diam membeku.
"Apa maksudmu?" Erwin bertanya, mengerutkan dahinya dengan erat.
"Seperti yang aku katakan, aku diskorsing selama tiga minggu. Aku berkelahi dengan seorang guru hingga mematahkan tangan, kaki serta hidungnya. Maafkan aku, Kek."
"Kau... Kau mematahkan tangan seorang guru?! Apa kau gila?!"
"Kek, jangan salahkan aku! Salahkan guru itu. Guru itu mengatakan kalau ayahku punya tiga istri di hadapan semua orang di kelas, dia bahkan mengatakan kalau aku anak dari istri kedua! Siapa yang tidak marah ketika rahasia keluarganya dibongkar di depan umum? Dia bahkan menghina ibuku! Bagaimana mungkin aku diam mendengar semua itu?"
"Jadi, karena semua itu, kau berkelahi hingga mematahkan tangan gurumu? Baiklah, Kakek tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Lagipula, dia menghina ibumu, yang sama saja dia menghina putriku! Bagus, setidaknya kau membela ibumu dengan baik!"
Ekspresi tidak senang Erwin segera berubah menjadi ekspresi bangga. Dia menepuk pundak Arya dengan kuat dan tertawa.
Arya terkekeh, merasa kakeknya memiliki sikap layaknya pria sejati.
*****
Esok harinya, karena Arya diskor selama tiga minggu, dia memiliki segudang waktu luang. Karena itu, dia menggunakan waktu luangnya dengan sangat baik, yaitu tidur sepanjang hari.
Ketika sore hari, seperti yang Lylia katakan kemarin, dia benar-benar datang ke rumah Arya. Dia mengetuk pintu rumah kekasihnya itu dan tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya membukakannya pintu.
"Siapa...?"
Ketika pintu sepenuhnya terbuka, Erwin melihat sosok gadis berambut putih keperakan berwajah cantik, bagai peri dari dunia lain.
Dia terdiam sesaat sebelum terbatuk ringan.
"Apalah ada yang bisa kubantu, Nona Kecil?"
"Itu... Apakah ini benar rumah Arya? Aku datang untuk menemuinya."
"Mencari Arya, ya?"
Erwin terkejut, tidak menyangka jika gadis secantik Lylia akan datang ke rumahnya dan mencari cucunya. Dia tidak tahu hubungan macam apa yang dimiliki Lylia dengan cucunya, tapi dia memiliki beberapa tebakan tentang Lylia, tapi dia tidak berani segera menyimpulkan.
"Silakan masuk, Arya ada di dalam."
Erwin tersenyum, dibalas dengan senyuman canggung dari Lylia.
Setelah itu, Erwin menuntun Lylia menuju kamar Arya, karena pemuda itu masih tertidur.
Erwin membuka pintu kamar Arya, memperlihatkan kamar Arya yang agak berantakan serta seorang pemuda yang berbaring di kasurnya, jelas itu adalah Arya.
Erwin berkedut melihat Arya yang masih tidur. Cucunya itu benar-benar tidak melakukan apapun selain tidur, bangun sebentar untuk makan lalu tidur lagi.
Menahan rasa kesalnya, Erwin tersenyum terpaksa pada Lylia.
"Nah, Arya ada di dalam. Masuk saja, dia sepertinya sedang tidur, jadi jangan ragu untuk membangunkannya."
Lylia mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum masuk.
Erwin tentu saja langsung pergi.
Kembali pada Lylia, dia melihat setiap sudut kamar Arya. Kamar Arya tidak terlalu besar, hanya ada sebuah kasur, lemari pakaian, meja belajar serta karpet ambal berbulu yang lengkap dengan meja kecil.
Di meja kecil itu, terlihat handphone Arya tergeletak di sana, bersama dengan cangkirnya yang masih berisi air.
Menghirup udara dalam-dalam, Lylia bisa mencium aroma tubuh Arya di kamarnya ini.
Mendekati Arya yang masih tertidur, Lylia duduk di tepi kasur, menatap wajah Arya yang masih tertidur. Dia diam-diam tersenyum lembut ketika matanya dipenuhi kebahagiaan.
Ini adalah pertama kalinya dia melihat wajah Arya yang benar-benar rileks. Biasanya, Arya terlihat memiliki tatapan tajam, ataupun dingin. Arya juga terkadang terlihat frustasi, membuatnya selalu mengerutkan dahinya dengan erat.
Jadi, menyadari ekspresi rileks Arya benar-benar membuat Lylia merasa jika Arya adalah dua orang yang berbeda ketika di sekolah dan di rumah.
Mengulurkan tangannya, Lylia membelai lembut pipi Arya. Dia menyolek pipinya dengan jari telunjuknya, tertawa kecil.
Perlahan, mata Arya berkedut beberapa kali sebelum dia akhirnya membuka matanya dengan berat.
Lylia terkejut dan panik, melihat sekeliling dan mencari tempat untuk bersembunyi. Dia takut Arya marah karena tidurnya terganggu.
"Um... Siapa itu?" Arya duduk, mengusap matanya dan berguman, kebingungan.
"Se-selamat pagi, ah tidak, maksudku selamat sore, Arya."
"Suara ini... Lylia?"
Arya terkejut, kantuknya seketika hilang.
"Um, ini aku, Arya. Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Ah, ya. Aku baik-baik saja hari ini. Tunggu, kenapa kamu bisa ada di kamarku?"
"Eh? Apakah kamu lupa? Kemarin aku bilang akan berkunjung ke rumahmu, jadi di sinilah aku sekarang."
Arya terdiam. Dia berpikir sejenak sebelum mengangguk, menunjukkan jika dia sempat melupakan Lylia yang akan berkunjung.
Beranjak dari kasurnya, Arya pergi ke kamar mandi sebentar untuk membasuh wajahnya, lalu kembali ke kamarnya.