
Arya segera menuju ke rumah Viktor, berharap Viktor ada di rumahnya. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, seolah-olah sudah tidak sabar untuk menghajar Viktor. Memang butuh waktu lama untuk tiba di rumah Viktor, karena dia harus berkendara hingga kota sebelah, yang mana membutuhkan waktu beberapa jam. Tapi, meski jarak yang harus dia tempuh jauh, selama itu untuk menghajar Viktor, bahkan jika di ujung dunia sekalipun dia tetap akan pergi.
Setelah perjalan yang cukup panjang, Arya tiba di sebuah rumah yang cukup besar. Tentu saja, rumah tersebut merupakan tempat tinggal Viktor.
Arya menatap rumah tersebut cukup lama, tatapannya menunjukkan kebencian.
Menghela napas pelan, Arya menekan bel rumah Viktor.
Ketika bel berbunyi, hanya perlu beberapa detik sebelum akhirnya seorang pria paruh baya berusia lima puluh awal keluar dan menyambut Arya.
Pria tersebut merupakan ayah dari Viktor.
"Siapa?"
Ayah Viktor membuka pintu dan terkejut ketika melihat wajah Arya. Dia mengerutkan dahinya, mencoba mengingat siapa nama pemuda di hadapannya ini. Dia merasa tidak asing dengan pemuda di hadapannya.
Setelah beberapa saat berpikir, Ayah Viktor akhirnya mengingat siapa pemuda ini.
"Ah, itu ternyata kau, Dik Arya. Apa kau memiliki keperluan dengan Viktor?"
Ayah Viktor bertanya dengan sopan sambil tersenyum. Dia ingat kalau putranya memiliki sedikit pertemanan dengan Arya.
"Apakah Viktor ada dirumah, Pak?"
Arya bertanya tanpa menatap Ayah Viktor. Dia melihat masuk ke dalam rumah dengan menyipitkan matanya, jengkel dan kesal. Tangannya sudah gatal ingin memukul Viktor.
"Kalau kamu mencari Viktor, dia ada di dalam. Masuk, silakan anggap rumah sendiri."
Ayah Viktor menyingkir dari depan pintu dan mempersilakan Arya masuk.
Arya lalu masuk tanpa pikir panjang, langsung mencari Viktor. Dia segera menggertakan giginya ketika melihat Viktor sedang bermain handphone sambil tersenyum main-main di ruang tengah.
Menghentakkan kakinya, Arya maju dengan langkah mantap lalu menendang Viktor dari samping, membuat Viktor jatuh dari tempatnya duduk dan mengerang.
Viktor terkejut karena dia tiba-tiba terjatuh karena ditendang oleh seseorang. Dia sempat mendengar langkah kaki mendekatinya, tapi sebelum dia menoleh, dia sudah ditendang.
Tanpa menunggu Viktor bangkit, Arya menendangnya lagi di bagian wajah, lalu mengcengkeram kerah baju Viktor, mengangkatnya mendekat ke wajahnya.
Dengan satu tangan mengcengkeram kerah baju Viktor, tangan Arya yang lain terkepal dan dia memukul Viktor tepat di hidung, membuat yang dipukul mengerang dan membeku sejenak
Viktor yang dipukul akhirnya tersadar, dia segera mengetahui jika yang memukulnya baru saja adalah salah seorang temannya, Arya. Dia menjadi marah karena dipukul tiba-tiba, tapi karena Arya terus-menerus memukulinya, dia tidak memiliki kesempatan untuk membalas.
Arya tanpa ampun terus-menerus melayangkan pukulan pada wajah Viktor hingga dia babak belur dan wajahnya dipenuhi memar serta hidungnya mengeluarkan darah.
Terengah-engah, Arya melepaskan tangannya yang mengcengkeram kerah baju Viktor. Dia kemudian meraih lengan Viktor dan memelintirnya dengan kuat, jelas dia ingin mematahkan lengan teman bajingannya ini.
Viktor terkejut ketika tangannya terpelintir, merasakan sakit yang luar biasa.
Di sisi lain, Ayah Viktor yang mendengar teriakan kesakitan dari tengah segera menuju ke sana dengan panik. Dia memiliki firasat buruk. Ketika dia tiba di ruang tengah, matanya melebar ketika melihat anaknya dihajar habis-habisan oleh Arya. Dia linglung untuk sementara waktu sebelum akhirnya mendekati Arya, ingin menghentikannya.
Tapi tiba-tiba, Ayah Viktor berhenti dan membeku di tempat. Dia teringat siapa ayah Arya dan jabatan macam apa yang dimilikinya di kepolisian. Ini membuatnya bimbang.
Ayah Viktor jelas ingin menghentikan Arya, tapi mengingat ayah Arya, dia takut menyinggung pihak lain.
Secara singkat, Ayah Viktor memiliki pertemanan yang cukup baik dengan ayah Arya. Dia bahkan memiliki beberapa hutang budi dengan pihak lain. Juga, dia sering meminta bantuan ayah Arya tentang beberapa masalah yang berkaitan dengan hukum.
Inilah yang membuatnya bimbang. Jika dia menghentikan Arya, dia takut Arya mengadu pada ayahnya dan semua pertemanannya dengan ayahnya hancur hanya karena beberapa pukulan.
Pada akhirnya, setelah berpikir cukup lama, Ayah Viktor mengurungkan niatnya untuk menghentikan Arya dan membiarkannya memukuli putranya.
"Ayah, lakukan sesuatu! Dia ingin mematahkan tanganku!"
Viktor tiba-tiba berteriak histeris saat tangannya terasa sangat sakit karena dipelintir oleh Arya. Matanya juga menunjukan ketakutan dan kengerian. Wajahnya berubah pucat seperti kertas dan keringat dingin memenuhi wajahnya.
Ayah Viktor yang awalnya ingin diam terkejut, berdecak kesal sebelum mendekati Arya dengan ekspresi rumit. Dia tidak ingin ikut campur, tapi sebagai ayah, dia tidak bisa melihat tangan anaknya dipatahkan begitu saja di depan matanya.
"Dik Arya, tolong berhenti! Jika Viktor melakukan kesalahan, mohon dimaafkan! Aku akan melakukan apapun, jadi tolong berhenti!"
Mendengar ini, Arya yang sudah setengah jalan mematahkan tangan Viktor tiba-tiba berhenti. Dia melepaskan tangan Viktor kemudian menatap Ayah Viktor dengan dingin dan ada sedikit ketidaksenangan di matanya.
Ayah Viktor menelan ludah melihat ini. Keringat dingin semakin banyak mengalir di wajahnya. Dia benar-benar takut kalau dia akan menyinggung Arya kali ini.
Perlahan, Arya menghela nafas dan menenangkan diri. Dia mendekati Ayah Viktor dan menepuk pundaknya sambil mengcengkeramnya dengan keras.
"Jika kau memang ayahnya, maka ajarkan anakmu untuk mencari wanitanya sendiri. Jangan pernah biarkan dia berpikir bahwa wanitaku bisa direbut dengan mudah. Sebagai peringatan terakhir, jangan pernah biarkan Viktor menghubungi wanitaku lagi."
Nada Arya sedingin es. Matanya menunjukan permusuhan. Dia benar-benar serius saat ini. Jika Viktor menghubungi Lucy sekali lagi, maka dia akan benar-benar membunuh Viktor beserta ayahnya.
*****
Setelah Arya pergi meninggalkan rumah Viktor, Viktor pukuli lagi. Tentu saja, yang memukulinya bukan Arya melainkan ayahnya sendiri.
"Dasar anak bodoh! Apa kau ingin merebut kekasih Arya?! Apakah kau tidak tahu seberapa tinggi jabatan ayahnya di kepolisian?! Aku memang tidak takut pada Arya, tapi jika ayahnya sudah bergerak, maka kau dan aku akan berada dalam masalah!"
Ayah Viktor memukuli Viktor tanpa ampun. Dia bahkan menggunakan sabuknya untuk mencambuk Viktor dan memukulinya hingga seluruh tubuhnya kesakitan dan bengkak di beberapa tempat.
Baru beberapa saat yang lalu, Viktor dipukuli oleh Arya. Dan sekarang, dia harus dipukuli lagi oleh ayahnya sendiri. Ini membuatnya marah pada Arya dan membencinya hingga ke tulang. Dia sangat ingin balas dendam pada Arya.
Dalam hatinya, Viktor bersumpah untuk benar-benar merebut Lucy dari Arya dan menyiksanya tepat di depan mata Arya agar dia menyesal telah memukulinya.
Setelah selesai dipukuli ayahnya, Viktor pergi ke kamarnya dengan terpincang-pincang, tubuhnya penuh dengan memar. Dia mengerang setiap kali dia membuat gerakan.
Setelah beberapa saat, dia mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Yo, aku punya pekerjaan untukmu." Viktor membuat seringai licik saat menghubungi orang itu.
"Pekerjaan macam apa itu?" Sebuah suara pria dewasa terdengar dari handphone Viktor.
"Mudah saja. Kau hanya perlu membawa seorang gadis bernama Lucy ke hadapanku. Untuk alamatnya, akan kuberikan nanti."
"Dipahami. Adapun untuk bayarannya, seperti biasa, kan?"
"Tentu saja, bayaran akan lebih banyak jika kau melakukan pekerjaanmu dengan cepat."
Viktor tertawa jahat saat dia memikirkan Lucy yang menjadi miliknya. Baru saja, dia menghubungi orang yang biasa dia gunakan untuk melakukan hal-hal kotor. Tentu saja, dia kali ini menyuruh orang tersebut untuk menculik Lucy agar dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
Kemudian, dia menghubungi Kana untuk meminta alamat Lucy. Viktor dengan mudahnya mendapatkan alamat Lucy dengan membodohi Kana yang polos itu.
*****
Sebelum jam makan malam tiba, Arya sudah kembali ke rumah dan disambut oleh Lucy. Gadis tersebut langsung memeluknya begitu dia sampai di rumah.
"Lucy, nomor Viktor tadi lebih baik kamu blokir dan hapus saja. Jika dia masih menghubungimu lagi, bilang padaku."
"Um, ya." Lucy mengangguk di dalam pelukan Arya.
Esok harinya, seakan tidak menyesal setelah dipukuli oleh Arya, Viktor masih saja menghubungi Lucy. Tapi sialnya, kali ini bukan Lucy yang menerima telepon tersebut, melainkan Arya.
Begitu mendengar suara Viktor, Arya kembali dibuat geram olehnya. Ia lalu bergegas pergi ke rumah Viktor untuk menghajarnya lagi, tidak, kali ini dia akan membunuhnya. Dia langsung mengambil sepasang belatinya dan pergi tanpa sepengetahuan Lucy.
Tapi sayangnya, yang tidak Arya ketahui adalah telepon itu hanyalah sebuah jebakan untuk membuatnya jauh dari Lucy.
Dalam perjalanan, Arya mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Dia tiba-tiba mendengar handphonenya berdering. Dia segera menepi lalu mengangkat telepon itu dengan ekspresi dingin.
"Hei Arya, aku tahu kau sedang menuju kemari. Tapi, lebih baik kau kembali saja dan selamatkan Lucy. Jika tidak, dia mungkin dalam bahaya."
Orang yang menelpon itu adalah Viktor. Dia tertawa jahat. Dia sengaja menelepon Arya untuk mengejeknya. Dia sangat yakin jika Arya sedang menuju rumahnya, makanya dia menelepon.
Kemudian, Viktor memberikan sebuah foto yang dimana di dalam foto itu, ada seorang preman yang berada di depan rumah Lucy.
Tangan Arya yang memegang handphonenya gemetar. Dia menggenggam handphonenya dengan keras, sangat marah hingga dia bisa menghajar siapapun untuk melampiaskan amarahnya.
Mendecakkan lidahnya, Arya segera putar balik dan kembali, ingin memastikan bahwa Lucy aman terlebih dahulu.