
Setelah lebih dari setengah jam, Arya mengayuh sepedanya seperti orang gila. Dia terus mengayuh tanpa henti dengan sekuat tenaga agar tidak ketinggalan jejak mobil yang menculik Lucy.
Benar saja, mobil itu berhenti di pelabuhan.
Arya berhenti jauh dari pelabuhan dan mengambil napas. Rasanya benar-benar melelahkan mengayuh sepeda tanpa henti selama setengah jam. Paru-parunya rasanya seperti akan meledak karena napasnya yang terengah-engah. Keringat sebesar biji jagung menetes dari wajahnya.
Setelah lima menit, meski Arya sangat kesakitan di kakinya, dia memaksakan diri dan mengawasi pelabuhan sambil mengerutkan dahinya. Dia terkejut melihat pelabuhan yang cukup ramai di malam hari seperti ini.
"Sepertinya mereka kelompok penculik. Ini akan merepotkan!" Arya mengutuk.
Menurutnya, melihat ramainya pelabuhan, jelas penculikan ini bukan hanya menculik satu atau dua orang, tapi mungkin belasan bahkan puluhan orang.
Jika skala penculikan sebesar dugaannya, maka orang-orang yang menculik juga pasti banyak, yang berarti lawan yang akan Arya hadapi dan bunuh semakin banyak.
Semakin banyak musuh, maka semakin banyak stamina yang perlu dia keluarkan. Arya saat ini sedang kelelahan karena mengayuh sepeda tadi, jadi stamina tidak berada di dalam kondisi prima. Bahkan, jika dia dalam kondisi primanya, belum tentu dia bisa mengatasi belasan bahkan puluhan orang dewasa seorang diri.
Ini membuatnya frustasi.
"Satu, dua, tiga... Lima... Sepuluh... Lima belas!"
Arya perlahan mulai menghitung orang-orang yang berada di pelabuhan. Dia hanya menghitung yang tertangkap oleh matanya. Dia yakin jika ada lebih dari yang dia hitung.
"Nak, apa yang kau lakukan di sini?"
Sebuah suara tiba-tiba datang dari belakang. Selain itu, Arya juga merasakan sesuatu menyentuh pundaknya. Dia terkejut dan merinding, segera mengeluarkan belatinya dengan satu tangan dan menyerang orang yang menyentuh pundaknya dari belakang ini.
Namun sayangnya, serangannya gagal dan berhasil dihentikan oleh seorang pria bertubuh besar yang memiliki luka di bagian mata kirinya. Pria itu terlihat terkejut dan mencengkeram tangan Arya dengan kuat, takut pemuda ini menusuk lehernya dan membunuhnya.
"Tenang, Nak. Sepertinya kau datang ke sini karena menyadari penculikan, bukan?" Pria tersebut berkata dalam bahasa Inggris.
Suaranya dalam dan ekspresinya serius.
"Ya, lalu mengapa? Apa kau juga salah satu dari mereka?"
Arya meninggikan nadanya, berniat menusuk pria ini dengan belatinya yang lain.
"Pelankan suaramu! Aku bukan bagian dari penculik itu! Aku adalah salah satu bodyguard Putri Inggris. Karena kelalaianku, Putri Inggris berhasil diculik dan aku berusaha menyelamatkan. Tujuan kita sama, Nak!"
Pria itu dengan tenang menjelaskan, membuat Arya terkejut dan semakin curiga. Dia menepis tangan pria tersebut dan mundur dua langkah, mengeluarkan kedua belatinya dan mengambil posisi siap menyerang.
"Tenang, tenang! Aku sudah katakan, aku bukan penculik! Aku bodyguard Putri Inggris!"
Pria tersebut berkata, agak panik dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jelaskan dan katakan dengan sejujurnya. Jika kau memang bodyguard dan tujuan kita sama, maka kita bisa bekerja sama!"
Arya mengencangkan pegangannya pada kedua belatinya, siap menyerang kapan saja jika pria ini mengatakan hal tidak masuk akal lagi. Di situasi seperti ini, tidak baik mempercayai orang dengan begitu mudahnya, atau itu hanya akan menjadi bencana baginya.
Mendengar Arya, pria tersebut mengerutkan dahinya dengan serius dan mulai menjelaskan secepat mungkin namun jelas dan padat.
Arya yang mendengarkan penjelasannya perlahan percaya. Dari apa yang dia dengar, ciri-ciri serta kepribadian dan nama Putri Inggris diceritakan dengan tepat oleh pria ini. Selain itu, jika pria ini adalah bagian dari kelompok penculik, maka pria ini bisa saja membunuhnya sejak tadi.
Arya secara perlahan menurunkan kewaspadaannya dan kecurigaannya menghilang. Dia menghela napas lega. Dia kini sudah siap menghadapi puluhan penculik itu.
Menatap pria tadi, Arya berkata.
"Jika kau adalah bodyguard Putri Inggris, kau pasti ingin menyelamatkan Putri Inggris, benar? Bagus, kita bisa bekerja sama. Kau selamatkan Putri Inggris, aku selamatkan kekasihku."
"Bagus! Itulah yang kuinginkan sejak tadi! Kita akan berusaha menyelamatkan orang yang ingin kita selamatkan. Jika tidak bisa, maka kita tidak perlu memaksakan diri. Kita hanya perlu membuat kekacauan dan membuat para penculik itu kewalahan. Aku sudah menghubungi teman-temanku, jadi kita hanya perlu mengulur waktu."
Jelas pria tersebut, sebelum melanjutkan.
"Oh, ya. Namaku adalah Luois, siapa namamu?"
"Kau bisa memanggilku Arya, atau dengan panggilan apapun yang kau suka."
"Bagus, mari kita bekerja sama untuk saat ini."
Pria tersebut, Luois, tersenyum dan menjabat tangan Arya.
Dia kemudian mengerutkan dahinya dan mengalihkan pandangannya ke pelabuhan.
"Sepertinya mereka ini adalah pedagang manusia. Mereka menculik dan menjual para korban keluar negeri untuk mendapatkan uang. Mereka benar-benar sampah!"
Luois berkomentar, sedikit marah ketika dia memandang ke pelabuhan. Ini hanya tebakannya saja, namun itu memang kemungkinan besar pedagang manusia.
"Pedagang manusia? Bukankah itu ilegal?" Arya terkejut.
"Memang, tapi demi uang, apapun akan dilakukan."
"Huh, berani menculik wanitaku saja sudah mencari kematian. Jika mereka berani menjual wanitaku, mereka akan mendapatkan yang lebih buruk dari kematian!"
Arya mengatupkan giginya, menahan amarah. Jika yang Luois katakan benar, Lucy benar-benar dalam bahaya besar. Dia harus menyelamatkannya secepat mungkin sebelum semuanya terlambat.
"Baiklah, cukup basa-basinya. Mari kita pergi dan selamatkan orang yang ingin kita selamatkan. Ini, ambillah untuk berjaga-jaga."
Luois berkata, mengambil sesuatu dari balik pakaiannya dan memberikannya pada Arya.
Arya menerima benda tersebut, langsung melebarkan mata dengan terkejut.
Di tangannya merupakan sebuah pistol yang cukup berat, tampaknya berisikan pelurunya juga.
"Kau gila! Kau ingin baku tembak?!"
"Tidak. Jika bisa, hindari baku tembak sebisa mungkin. Akan berbahaya bagiku dan negaraku jika tersebar berita terjadinya baku tembak dari pihak Inggris di negara lain." Luois menggeleng.
Arya mengangguk. Dia menatap pistol di tangannya dan bertanya cara menggunakannya.
Luois menjelaskan sedikit dan Arya segera paham. Dia tampak bersemangat setelah mengetahui cara menembak menggunakan pistol.