
"Oh, begitu? Sarapan bersama wanita berambut pirang, benar?" Lucy mencibir.
Arya terdiam, sangat terkejut dalam hatinya. Namun, dia tidak mau menutupi fakta jika dia pergi bersama Marissa. Bagaimanapun, Lucy berniat berkenalan dengan Marissa, jadi mungkin alangkah baiknya dia menjelaskan sejujurnya agar tidak terjadi salah paham.
"Lucy, wanita yang kamu maksud itu...
"Arya, kenapa kamu berbohong padaku? Kamu pergi keluar bersama wanita lain tanpa sepengetahuaku, apakah kamu selingkuh di belakangku? Siapa wanita itu? Dua jam yang lalu, Helen melihatmu keluar bersama wanita dan dia langsung memberitahuku, makanya aku menunggumu di sini. Katakan padaku, siapa wanita itu dan hubungan macam apa yang kamu miliki dengannya?"
Tanpa menunggu kalimat Arya selesai, Lucy menyela dan melontarkan banyak pertanyaan.
Arya diam mendengarkan, lalu menghela napas pelan dan menarik Lucy ke dalam pelukannya.
"Dia bukan siapa-siapa, Lucy. Diam sejenak dan dengarkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya padamu."
Arya memeluk erat pinggang Lucy dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengelus kepala kekasihnya itu.
Lucy diam, menurut dan membenamkan wajahnya ke dada Arya. Dia tidak sabar mendapat penjelasan.
"Lucy, apakah kamu ingat wanita berambut pirang dengan mata biru berlian kemarin malam, yang secara tidak sengaja kamu lihat di restoran keluarga dekat sini?"
Lucy mengangguk.
"Nah, wanita berambut pirang yang Helen lihat adalah dia, wanita yang kita lihat di restoran keluarga kemarin malam. Karena beberapa kebetulan, aku berpas-pasan dengannya dan kami berkenalan pagi ini."
Lucy terkejut mendengar ini. Dia langsung menatap mata Arya dengan dalam, seakan dia ingin melihat apakah Arya berbohong atau tidak. Dia tidak melepaskan tatapannya selama satu menit, sebelum menghela napas.
Lucy tahu dari tatapan Arya, dia tidak berbohong.
Setelah itu, Arya menjelaskan semuanya pada Lucy tanpa menutupi apapun. Dia menjawab jujur, mengatakan jika ketika tengah malam, dia pergi keluar mencari angin segar dan berakhir di minimarket dan melihat Marissa di sana.
Arya juga menjelaskan bagaimana Marissa menuduhnya sebagai penguntit.
Mendengar semua penjelasan Arya, Lucy masih kurang puas. Dia tahu semua itu bukanlah kebohongan. Tapi mengetahui kekasihnya, pria yang dia cintai dan percaya, pergi bersama wanita lain tanpa sepengetahuannya membuatnya sakit hati.
Lucy cemburu bukan main.
Pertama kali dia melihat Marissa di restoran keluarga malam itu, dia terpesona dengan kecantikannya dan berniat berkenalan dengannya. Tapi sekarang, setelah tahu bagaimana Marissa mengajak Arya pergi berdua dengannya, Lucy kehilangan minatnya pada Marissa.
Sekarang, dia sangat ingin menemui Marissa dan berteriak sekencang mungkin padanya, mengatakan jika Arya adalah miliknya dan tidak boleh diajak pergi sesuka hati.
Mendorong dada Arya, Lucy mundur dua langkah dan melepas pelukannya.
"Jadi, wanita berambut pirang itu bernama Marissa dan dia berasa dari Inggris, sedang berlibur ke kota ini dan secara kebetulan berada di kamar nomor 31?"
Lucy menajamkan tatapannya, nadanya sedingin es.
Arya mengangguk tanpa ragu.
"Huh, sepertinya kamu tahu banyak tentang wanita bernama Marissa ini! Kamu juga terlihat bersenang-senang dengannya saat keluar tadi!"
Arya tersenyum masam mendengarnya. Jika ditanya apakah dia senang atau tidak, tentu dia senang. Dia bisa bertemu dan berkenalan dengan orang dari luar negeri, mempelajari aksen Inggris dengan lebih baik dan dia jadi bisa melancarkan beberapa bahasa Inggris yang sulit dia ucapkan.
Menghela napas ringan, Arya mendekati Lucy dan memeluknya lagi.
Lucy tidak melawan dan membiarkan Arya memeluknya.
"Lucy, kamu cemburu?" Arya berbisik di telinga Lucy, menghembuskan napasnya di sana dan berusaha menggoda gadis tersebut.
Lucy tersentak, merinding saat dia merasakan napas hangat Arya berhembus di telinganya. Namun, dia segera mendorong dada Arya dan menjawab dengan nada datar.
"Tidak, aku tidak cemburu."
Setelah mengatakan itu, Lucy bergegas melewati Arya dan keluar kamarnya.
Arya tidak menghentikan Lucy dan tidak mengatakan apapun. Dia tahu jika Lucy sedang marah dan cemburu padanya. Jadi tidak heran jika dia merajuk saat ini.
Setelah itu, setidaknya rasa cemburu Lucy akan terobati.
*****
Setelah selesai study tour di hari keempat, para siswa kembali ke hotel dan mulai memasuki kamar mereka masing-masing, bersama kelompok mereka tentunya.
Arya yang berjalan di lobi hotel itu segera mengejar sosok gadis berambut hitam, yang jelas merupakan Lucy. Selama beberapa jam terakhir, dia terus-menerus membujuk Lucy dan menggodanya agar rasa cemburu dan merajuknya hilang sehingga mereka bisa bermesraan lagi.
Namun, karena Lucy selalu tutup telinga dengan penjelasan dan godaan Arya, gadis itu sama sekali tidak mau bicara sepatah kata pun pada Arya. Dia bahkan tidak mau menemui ataupun menatap Arya dan selalu memberikan tatapan tajam.
Lucy juga selalu menghindari Arya selama ini. Dia masih sakit hati karena Arya pergi bersama Marissa tanpa memberitahunya.
"Lucy, tunggu!"
Arya meraih tangan Lucy, menariknya dengan pelan, berhasil membuatnya terkejut.
Lucy segera menatap Arya dengan tajam ketika keterkejutannya menghilang.
"Apa? Kenapa kamu menghampiriku dan selalu menempel padaku dan bukannya pergi bersama wanita bernama Marissa itu?" Lucy mencibir dengan jijik.
Arya tersenyum masam dengan ini. Rasanya sakit mendengar kekasihnya mengatakan hal seperti itu padanya secara langsung.
Menghela napas pelan, Arya berkata.
"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf atas semuanya, oke? Aku salah kali ini, jadi tolong berhenti mengabaikanku. Aku tidak tahan melihatmu mengabaikanku, tahu? Rasanya sangat tidak nyaman dan sakit di sini." Arya menunjuk ke dadanya, menunjukkan jika dia merasakan sakit juga.
Lucy menatap Arya sejenak, sebelum mendengus dan menginjak kaki Arya dan kabur darinya.
Arya mengerang kesakitan, lalu menatap punggung Lucy yang berlari menjauh darinya. Dia menghela napas tanpa daya. Sepertinya kali ini akan benar-benar sulit untuk membujuk Lucy.
"Lihat, itulah yang kau dapat jika kau pergi bersama wanita lain tanpa sepengetahuan kekasihmu."
Sebuah suara terdengar dari belakang.
Arya menoleh dan melihat Helen menghampirinya dengan helaan napas panjang.
Arya tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar Helen. Jika bukan karena gadis sialan ini, bagaimana mungkin Lucy akan tahu dia pergi bersama Marissa? Semuanya salah Helen.
"Bukankah itu salahmu karena memberitahu Lucy?"
"Salahku? Aku melakukan hal benar! Yang salah itu kau! Kau pergi bersama wanita lain tanpa sepengetahuan Lucy!"
"Baiklah, baiklah. Aku salah, aku salah."
Arya tidak mau berdebat dengan Helen, jadi dia segera mengalah sambil memutar matanya.
"Siapa sebenarnya wanita itu? Aku hanya melihat sekilas, tapi aku tahu dia wanita yang cantik. Apakah dia selingkuhanmu di kota ini, Arya?"
"Selingkuhan gigimu!"
Arya berkedut mendengar tuduhan Helen. Dia kemudian menjelaskan secara singkat tentang Marissa dan bagaimana dia bisa bertemu dengannya.
Helen mendengarkan penjelasan Arya dengan seksama. Dia mengerutkan dahinya kemudian berkata.
"Sungguh kebetulan yang tidak biasa. Menurutku, tidak ada salahnya kau pergi bersama Marissa ini, karena dia salah paham denganmu dan berniat meminta maaf dengan cara mentraktirmu."
"Um, itu benar! Tidak ada yang salah dengan itu!"
"Ya, Marissa tidak salah, tapi yang salah itu kau, Arya! Kau pergi tanpa memberitahu Lucy!"
Arya terdiam.