
Arya terkejut dan terdiam, tidak menyangka jika seseorang akan melaporkannya pada polisi jika dia membunuh. Jantungnya berdebar kencang karena rasa takut. Namun, dia berusaha memasang ekspresi tenang di wajahnya.
Tuti dan Kepala Kepolisian mengerutkan dahi mereka sejenak ketika melihat Arya terkejut.
Adapun Lucy, dia sama terkejutnya dengan Arya. Dia takut Arya ketahuan membunuh.
"Aku membunuh? Bagaimana mungkin? Aku hanya seorang siswa biasa yang penakut dan pengecut, jadi bagaimana mungkin aku melakukan pembunuhan? Selain itu, apakah kau punya bukti jika aku membunuh?" Arya membantah.
"Memang benar aku belum memiliki bukti kuat, tapi aku memiliki pelapor dan saksi mata. Hanya dengan itu, kau bisa diperiksa lebih lanjut."
"Jika kau benar memiliki pelapor dan saksi mata, suruh dia kemari! Jangan hanya bicara omong kosong saja!"
"Baiklah, itu bukan masalah besar."
Kepala Kepolisian mengangguk dan menyetujui permintaan Arya. Dia memanggil Rem dan meminta Rem untuk menjelaskan apa yang dia lihat.
Namun, Arya tetap tidak percaya pada ucapan Rem. Dia meminta saksi lainnya.
"Aku tidak percaya dengan ucapannya! Bisa saja dia berbohong. Aku minta saksi lainnya jika memang ada. Jika tidak, maka jangan harap kau bisa lepas begitu mudah setelah menuduhku membunuh!"
Arya menatap dengan dingin, membuat Rem gemetar karena takut.
Setelah itu, Kepala Kepolisian bertanya apakah ada orang lain yang melihat Arya membunuh atau tidak dan Rem menjawab jika ada orang lain yang melihat selain dirinya. Dia segera memanggil mereka dan setelah itu, tiga orang gadis seusia Rem memberikan penjelasan yang sama seperti yang Rem katakan.
Bukti semakin menguat dengan adanya empat orang saksi, menbuat Arya memucat karena takut. Jantungnya berdebar kencang, dia mulai panik di sini.
Lucy sama terkejutnya dengan kesaksian empat gadis ini. Dia jelas mencoba membela Arya sebisa mungkin.
Adapun Tuti, dia menatap curiga Arya dan dia perlahan sedikit mempercayai ucapan Rem.
"Arya, kau tidak benar-benar membunuh, bukan?" Tuti bertanya dengan serius.
"Kepsek, Arya tidak mungkin membunuh! Dia hanya datang dan menyelamatkanku, itu saja!"
Lucy berkata, membela Arya sepenuhnya. Dia tidak ingin Arya ditangkap polisi karena membunuh.
"Lucy, aku juga percaya jika Arya tidak mungkin membunuh. Tapi, kita memiliki saksi mata di sini. Selain itu, jika Arya datang kemari dan hanya menyelamatkanmu, bagaimana caranya dia menyelamatkanmu? Arya, tolong bicara jujur. Apakah kamu benar-benar membunuh, atau tidak?"
"Kepsek, aku yakin kau tahu jawabanku."
Arya menjawab acuh tak acuh. Keringat menetes dari pipinya. Sepertinya dia akan ketahuan kali ini dan ini adalah akhirnya sebagai seorang pembunuh.
Dia sudah siap dengan semua ini, tapi tetap saja. Ketahuan membunuh membuatnya takut mendekam di penjara. Juga, Arya akan merasa sangat bersalah pada Rosa karena gagal menjadi anak yang baik untuk ibunya itu. Namun, semua sudah terlambat.
"Nak, sudah ada empat saksi mata. Apakah kau ingin ikut denganku dan diperiksa lebih lanjut, atau tetap membantah? Jika kau terus membantah, aku mungkin perlu bersikap keras padamu."
Kepala Kepolisian berkata dengan suara yang dalam, namun dalam hatinya dia merasa bangga. Bocah ini begitu arogan di awal, namun ketika dia terdesak, dia menjadi pendiam. Ini benar-benar membuatnya puas.
Arya terdiam lama, ekspresinya menggelap.
Lucy yang melihat itu merasa gugup dan terus-menerus membela Arya dengan berbagai cara. Dia tidak ingin kekasihnya ditahan di penjara.
Menghela napas panjang, Arya berkata dengan dingin.
"Baiklah, aku akan ikut untuk diperiksa lebih lanjut. Namun, aku memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, aku ingin kalian menemukan bukti jika aku membunuh dan bukan hanya berupa ucapan dari saksi mata saja. Kedua, jika aku terbukti tidak membunuh, maka aku akan melaporkan kau dan empat saksi mata ini atas tuduhan dan pencemaran nama baik. Ayahku juga polisi, jadi aku tahu pasal dan hukum yang berlaku. Aku juga tahu jika kalian para polisi tidak sepenuhnya bersih, jadi jangan anggap aku tidak tahu apapun tentang kalian."
Arya memasang senyum menantang di akhir kalimatnya. Dia siap diperiksa lebih lanjut, karena membantah dan membela diri tampaknya sudah tidak berguna lagi.
Kepala Kepolisian berkedut melihat senyum Arya. Dia juga agak terkejut mendengar jika Arya tahu jika polisi tidak sepenuhnya bersih.
"Tunggu, Arya! Kenapa kamu mau menuruti mereka?! Kamu tidak bersalah! Kamu tidak membunuh siapapun!"
Lucy berteriak panik ketika mendengar Arya mau diperiksa lebih lanjut. Dia menangis dengan air mata sebesar biji jagung. Dia meringkuk dalam pelukan Arya.
Arya tersenyum lembut pada Lucy dan memeluknya, mengelus kepalanya sebentar dan berkata.
"Tenang saja, mereka tidak akan punya bukti untuk menjebloskanku ke penjara."
Setelah mengatakan itu, Arya menunduk sedikit dan berbisik di telinga Lucy.
"Selain itu, ambil belatiku di mobil dan buang itu ke laut. Jangan gunakan tanganmu secara langsung atau sidik jarimu akan menempel di sana. Gunakan sarung tangan atau apapun itu, jadi kamu tidak akan terlibat jika aku benar ketahuan membunuh. Untuk sekarang, kamu tenang saja. Orang yang bersamaku tadi seharusnya bisa membantuku lepas dari polisi."
Orang yang Arya maksud merujuk pada Luois. Dia datang bersama Luois dan mengingat jika Luois adalah pengawal Putri Inggris dan dia juga membantu Luois menyelamatkan Putri Inggris, seharusnya dia mendapat bantuan juga dari Luois.
Mendengar Arya, Lucy agak lega dan dia mengangguk.
Setelah itu, Arya mengikuti Kepala Kepolisian diikuti oleh Tuti beserta empat orang gadis yang menjadi saksi mata.
Tuti menatap punggung Arya dengan rumit ketika mengetahui jika muridnya menurut untuk diperiksa lebih lanjut. Jika sudah seperti ini, ada kemungkinan jika Arya membunuh dan jika itu benar, maka Tuti akan sangat terkejut dan tidak menyangka hal ini. Dia tahu Arya memang murid yang bermasalah dan sering berkelahi, tapi dia tidak akan pernah berpikir jika Arya tega untuk membunuh seseorang.
Arya beserta Kepala Kepolisian terus berjalan menuju rombongan polisi lainnya.
Ketika Arya berjalan mengikuti Kepala Kepolisian, dia melirik ke sana-kemari untuk mencari keberadaan Luois. Hanya pria itu yang bisa dia andalkan di saat seperti ini.