
Arya sudah bersikap sangat dingin pada Lylia, tapi gadis ini benar-benar tidak mempan jika hanya dihadapi dengan sikap dingin, jadi dia pasrah dan membiarkan Lylia terus menempel padanya.
Setelah mengobrol cukup lama, bel berbunyi, menunjukkan jika sudah memasuki jam pelajaran.
Para siswa yang sibuk mengobrol segera menuju bangku mereka masing-masing, termasuk Lylia. Dia melambaikan tangannya pada Arya sambil tersenyum manis, seakan dia sedang mengucapkan selamat tinggal pada pemuda tersebut.
Arya tanpa sadar berkedut dan melambaikan tangannya dengan kaku. Dia merasa Lylia terlalu berlebihan, karena sebenarnya jarak antara bangkunya dengan bangku Lylia kurang dari sepuluh langkah, jadi menurutnya melambaikan tangan tidak terlalu diperlukan.
Kembali pada Lylia, dia tersenyum dan bersenandung pelan. Dia tiba-tiba tersenyum lebih lebar ketika suatu ide melintas di benaknya.
"Arya suka makanan seperti apa, ya? Aku ingin tahu makanan kesukaannya, siapa tahu aku bisa mengajaknya makan makanan kesukaan Arya bersama."
Lylia bergumam. Dia memiliki rencana yang bagus, tapi dia segera menyadari suatu hal. Yaitu, dia tidak tahu makanan kesukaan Arya, jadi dia tidak bisa melakukan rencananya itu.
Setelah berpikir cukup lama, Lylia melirik Lucy yang duduk di barisan yang sama dengannya. Dia kini bertekad untuk bertanya pada Lucy tentang makanan kesukaan Arya.
Lylia melakukan hal ini karena ingin lebih akrab dengan Arya. Selain itu, sedikit orang yang mau berteman dengannya di sini, karena identitasnya yang merupakan seorang putri dari seorang CEO terkenal. Ada beberapa orang yang ingin berteman dengannya, tapi semuanya memiliki motif tersembunyi, jadi dia mengabaikan mereka semua.
*****
Setelah jam istirahat tiba, ketika hampir semua orang meninggalkan kelas, Lylia yang melihat Lucy hendak keluar kelas itu segera memanggilnya dan mengajaknya mengobrol.
Lucy tentu saja tidak keberatan. Keduanya duduk bersebelahan di bangku tempat Lylia.
"Jadi, ada apa, Lylia?" Tanya Lucy.
"Tidak banyak. Aku ingin bertanya sesuatu, apakah tidak masalah?"
"Tentu saja, tanyakan saja, Lylia."
Lylia menghela napas dengan ini. Dia kemudian menatap Lucy.
"Lucy, jika aku boleh tahu, apakah Arya memiliki makanan kesukaan atau semacamnya? Jika dia menyukai sesuatu, beritahu aku, ya."
Lylia berkata dengan ekspresi polos.
Lucu terkejut dengan ini. Dia segera mengerutkan dahinya dengan tidak senang dan diam cukup lama.
'Apa ini? Kenapa Lylia tiba-tiba bertanya tentang Arya? Ini... Tidak mungkin, kan? Lylia tidak mungkin menyukai Arya, kan?'
Berpikir cukup lama, Lucy menemukan jawaban yang tidak menyenangkan. Jika tebakannya benar, maka kemungkinan besar Lylia sudah jatuh hati pada Arya, makanya dia bertanya-tanya tentang pemuda tersebut.
Dengan tatapan tajamnya, Lucy menatap Lylia dari atas hingga bawah sebelum akhirnya menatap matanya.
"Lylia... Apakah kamu menyukai Arya?"
Tanpa keraguan sedikitpun, Lucy bertanya dengan dingin. Matanya menunjukkan kemarahan.
Dia menyukai dan mencintai Arya, jadi melihat ada orang lain yang kemungkinan menjadi saingan cintanya, Lucy tidak ragu membuang pertemanannya dengan Lylia. Baginya, Arya adalah miliknya meski hubungan mereka sedang memburuk saat ini.
"Ti-tidak! Maksudku bukan begitu! Aku bertanya secara iseng saja! Aku hanya ingin mengetahui makanan kesukaan Arya, karena aku ingin mentraktirnya. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan aku menyukai Arya atau tidak. Jangan salah paham, Lucy!"
Lylia panik. Dia melambaikan tangannya dengan cepat, membantah sebisa mungkin.
Jantungnya berdebar kencang saat ini. Dia tidak tahu mengapa, setelah mendengar apa yang diucapkan Lucy tadi, dia merasa ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
Lucy mengerutkan dahinya dengan erat dan tatapan tajamnya tidak meninggalkan Lylia sedetikpun. Dia hanya menghela napas pada akhirnya.
Namun, itu bukan berarti dia menyerah dan akan mengatakan makanan kesukaan Arya. Dia memiliki rencana lain.
"Tenang saja, Lylia. Aku hanya bercanda." Lucy tertawa kecil.
"Ngomong-ngomong, soal makanan kesukaan Arya, dia itu sangat menyukai masakanku. Dia bilang jika masakanku adalah yang terlezat kedua setelah masakan ibunya. Juga, Arya itu memiliki hobi bermain game. Dia terkadang bermain game di rumahku hingga malam hari dan akan sangat sulit bangun di pagi harinya. Jika bukan aku yang membangunkannya, dia tidak akan bangun awal. Dia itu benar-benar sulit dibangunkan."
Lucy berkata dengan bangga saat senyum mengejek muncul di wajahnya. Dia tentu saja tidak ingin mengatakan hal-hal yang bisa membuat Arya dan Lylia semakin dekat. Jadi, dia sengaja mengatakan provokasi semacam ini.
Lylia hanya mengangguk namun matanya jelas menunjukkan ketidaksenangan. Hatinya dipenuhi rasa kesal saat dia tahu bahwa Arya dan Lucy ternyata sangat dekat.
Memutar otaknya, Lylia menemukan ide lainnya dan berkata.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong, apakah Lucy sendiri menyukai Arya? Aku dengar teman masa kecil itu biasanya saling jatuh cinta. Kamu dan Arya juga sama, kan?" Lylia tidak mau kalah.
"Te-tentu saja. Aku dan Arya saling jatuh cinta. Ta-tapi karena beberapa hal, hubungan kami agak buruk. Namun, ingatlah bahwa hubunganku dengan Arya akan segera membaik!"
Lucy mengatupkan giginya saat dia berbicara dengan suara yang lantang. Di dalam kelas, hanya ada dia dan Lylia jadi mengatakan ini bukan masalah besar.
"Omong kosong. Sejak kapan kita saling jatuh cinta? Anda pasti bermimpi. Selain itu, bukankah Anda sudah memiliki kekasih? Jika Anda berkata begitu, bukankah itu artinya Anda selingkuh? Wah, sungguh mengejutkan. Saya tidak menyangka jika seseorang yang baik seperti Anda ternyata tukang selingkuh."
Ketika Lylia dan Lucy tengah mengobrol, sebuah suara datang dari belakang.
Baik Lylia dan Lucy terkejut mendengar suara ini. Selain Arya, siapa lagi?
Dengan langkah kaki yang mantap, Arya menatap dingin Lucy dan ekspresi jijik muncul di wajahnya. Dia baru saja kembali dari toilet dan secara tidak sengaja mendengar obrolan Lylia dan Lucy.
Lucy segera berdiri dan menatap Arya dengan marah.
"Arya, apa maksudmu?!"
"Kenapa Anda masih bertanya? Anda memiliki kekasih, tapi Anda di sini malah berkata jika kita saling jatuh cinta. Jika Anda bukan selingkuh, lalu apa?"
Nada mengejek dan menghina Arya menusuk hati Lucy, membuatnya merasakan sakit yang luar biasa. Dia belum pernah merasakan sakit yang seperti ini sebelumnya.
Menggertakkan giginya karena marah, Lucy meluapkan semua emosinya pada Arya. Lagipula, jika dia menahan diri, itu tidak akan berguna karena Arya tidak akan mendengarkannya. Jadi, dia lepaskan saja semuanya.
"Arya, jangan mengatakan omong kosong! Aku tidak memiliki kekasih, jadi bagaimana bisa aku selingkuh?! Kamu hanya salah paham dan setiap penjelasan dariku, kamu tidak pernah mau mendengarkannya! Arya, aku bisa bersumpah saat ini juga, jika aku, Lucy, hanya menyukai dan mencintai dirimu seorang!"