
"Ma, sudah belum? Aku bosan..." Andhika mengeluh untuk kesekian kalinya.
"Sebentar lagi, ya. Mama sedang memilih pakaian untuk kakakmu."
Rosa menjawab tanpa menatap Andhika. Dia fokus memilih pakaian untuk Arya.
Arya yang melihat Andhika yang bosan itu tersenyum pahit. Dia juga sudah mulai bosan menemani ibu dan kekasihnya berbelanja pakaian.
Bagaimanapun, mereka sudah tiga jam di dalam toko pakaian dan pakaian yang mereka beli sudah cukup banyak. Semua didominasi oleh pakaian Rosa dan Arya.
"Kak, ayo ke game center. Aku bosan menunggu Mama berbelanja pakaian terus..."
"Sabar, oke? Jika kamu mau, bagaimana jika kamu pergi sendiri?"
"Ugh, aku ingin bermain bersama kamu, Kak. Ah! Bagaimana jika aku mengajak Kak Lucy saja? Boleh, ya?"
Andhika tiba-tiba mengingat wajah Lucy. Dia segera berkata demikian.
"Baiklah, ajak Lucy jika dia memang mau. Jika tidak, jangan paksa dia, oke?"
"Oke, Kak!" Andhika mengangguk, penuh keyakinan.
Arya kemudian memberikan uang pada Andhika, setidaknya uang yang dia berikan cukup untuk bermain di game center selama dua jam penuh.
Andhika mengucapkan terima kasih pada Arya sebelum menghampiri Lucy dan menarik tangannya.
"Kak Lucy, ayo ke game center! Kita kencan di sana!"
"Oy!" Arya berkedut mendengar kata-kata Andhika.
Lucy terkejut, namun dia segera mengikuti Andhika, tersenyum masam dan melambaikan tangannya pada Arya.
Kembali pada Arya, dia tersenyum pahit melihat ibunya memiliki empat pasang pakaian di tangannya, yang mana semua itu dipilihkan untuknya dan dia harus memilih salah satunya.
*****
Selesai berbelanja pakaian di pusat perbelanjaan, Arya dan lainnya pergi makan siang sebentar sebelum pergi ke taman hiburan untuk bermain dan berkeliling di sana.
Selain itu, Arya dan Lucy ingin curi-curi waktu untuk kencan sebentar.
Namun, sayangnya Andhika mengambil alih tangan Lucy. Bocah itu memeluk tangan Lucy dan mengajaknya ke sana kemari, membuat Arya berkedut tanpa henti.
Melihat itu, Rosa terkekeh. Dia meraih tangan Arya dan melingkarinya.
"Kamu ingin berkencan dengan Lucy tapi tidak bisa, benar? Nah, kencan saja sama Mama. Ayo, temani Mama ke rumah hantu."
Arya terkejut, terdiam.
Dia bukan hanya terkejut karena Rosa tiba-tiba memeluk tangannya, tapi dia juga terkejut karena ibunya ini mengajaknya ke rumah hantu.
"Ma, bukankah seharusnya Mama tahu jika aku membenci sesuatu yang berbau horor dan hantu? Kenapa Mama masih memaksaku ke rumah hantu?"
"Tak apa, Nak. Mama akan menemanimu, kok. Tenang saja."
Rosa mengabaikan Arya, menarik paksa putranya menuju wahana rumah hantu.
*****
Setelah pergi jalan-jalan seharian penuh, Arya dan keluarganya pulang ke rumah sekitar jam sembilan malam. Mereka semua merasa lelah, tapi mereka bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama.
"Ah, akhirnya kita sampai rumah..."
Rosa berkata, langsung duduk dan bersandar di sofa. Sudah cukup lama sejak dia pergi keluar rumah seharian penuh, jadi tubuhnya agak lelah.
Adapun Andhika, dia sibuk dengan mainan gundam barunya. Dia segera masuk ke kamarnya dan membongkarnya.
Meletakkan semua belanjaan mereka di meja, Arya dan Lucy duduk bersebelahan di sofa dan saling bersandar. Mereka juga tidak kalah lelahnya dari Rosa, terutama Lucy.
Gadis itu diseret Andhika ke game center dan dia mau tak mau menemaninya bermain di sana. Tidak masalah jika sebentar, tapi Andhika bermain selama dua jam lebih sebelum akhirnya berhenti karena kehabisan uang.
"Nak, kapan kamu akan kembali ke kota Century?" Rosa bertanya, agak sedih.
"Mungkin besok atau lusa, Ma. Paling lambat tiga hari lagi. Maaf karena tidak bisa lama di sini, Ma. Sebentar lagi sekolah akan mengadakan study tour."
"Kamu mau study tour? Kapan?"
"Sekitar tiga minggu lagi paling lama. Aku ingin mengatakan ini pada Mama, tapi aku tidak mendapat kesempatan. Aku tinggal saja, ya, Ma? Daripada aku ikut study tour, lebih baik aku tinggal dan menetap di sini selama waktu study tour."
"Eh? Jangan begitu, Arya. Study tour hanya dilakukan sekali dalam masa SMA-mu, jadi sangat disayangkan jika kamu tidak ikut. Tidak perlu pikirkan Mama, Nak. Pergilah dan bersenang-senang bersama teman-temanmu. Lucy juga pasti ikut, kan? Kamu harus menemaninya, lho. Ingat, Lucy adalah calon istrimu." Rosa berkata, terkekeh di akhir kalimatnya.
Arya tersentak mendengar itu, wajahnya memerah karena malu. Dia kemudian melirik ke samping untuk melihat reaksi Lucy, namun apa yang dia lihat bukan wajah memerah Lucy, melainkan wajah tidurnya.
Sepertinya pergi seharian membuatnya kelelahan dan tertidur begitu sampai rumah.
Arya tersenyum masam melihatnya, sementara Rosa terkikik.
"Arya, bawa Lucy ke kamar. Dia pasti lelah meladeni Andhika tadi."
Arya mengangguk, bangkit. Dia kemudian meletakkan satu tangannya di punggung Lucy sementara tangan satunya lagi berada dibawah lututnya. Dia perlahan mengangkat Lucy dan menggendongnya
Arya menggendong Lucy dalam posisi tuan putri. Dia membawanya ke kamar Rosa dan meletakkannya di kasur. Dia duduk di tepi kasur dan menatap wajah tidur Lucy.
Arya tersenyum hangat, mengulurkan tangan untuk membelai wajah Lucy sejenak sebelum kembali pada Rosa.
"Ma, aku punya sesuatu untuk diberikan pada Mama."
Arya tiba-tiba berkata dengan, membuat senyum misterius.
Rosa agak terkejut, tapi dia langsung tersenyum lembut.
"Apa itu, Nak? Tunjukkan pada Mama."
Arya kemudian mengambil sesuatu dari kantung celananya. Di tangannya kini terdapat sebuah kotak kecil berwarna merah.
Arya perlahan membuka kotak merah tersebut, memperlihatkan sebuah kalung dengan berlian sebagai liontinnya. Berlian tersebut tidak terlalu besar, namun itu menampakkan kilau yang indah.
Liontin berlian itu sendiri membentu sebuah bunga mawar yang cantik, seakan Arya memilihnya berdasarkan nama Rosa, yang mewakili bunga mawar itu sendiri.
Mata Rosa melebar melihatnya. Dia menatap Arya dengan terkejut dan suaranya gemetar.
"Nak, apa ini?"
"Tentu saja kalung, Ma."
"Mama tahu itu kalung, tapi untuk siapa kalung ini? Katakan itu untuk Lucy!"
"Lucy memilki kalung semanggi berdaun empat dariku, jadi dia tidak membutuhkan kalung lainnya. Yang satu ini, tentu saja untuk Mama." Arya tersenyum lembut.
Rosa membuka mulutnya, namun tidak mengatakan apapun. Dia benar-benar terkejut ketika Arya menunjukkan kalung berlian ini padanya. Dia tidak tahu kapan putranya membeli kalung ini.
"Nak, berapa banyak uang yang kamu keluarkan untuk membeli kalung ini? Itu berlian, jadi pasti harganya mahal, kan? Katakan harganya dan Mama akan mengembalikan uangmu. Mama tidak mau menerima benda yang terlalu mahal darimu. Uangnya lebih baik kamu gunakan untuk biaya study tour-mu daripada untuk perhiasan, Nak." Rosa menghela napas panjang.
"Tidak apa, Ma. Kemari, aku akan bantu Mama memakainya."
"Tidak, Nak. Katakan dulu harganya, baru Mama akan memakainya." Rosa memaksa.