
Di pagi hari, awan gelap bisa terlihat dari luar jendela, tidak ada sinar matahari yang terlihat. Jika ada yang jatuh dari langit, itu pasti akan menjadi hujan daripada cahaya. Dan benar saja, hujan turun dengan begitu lebat.
Di dalam rumah, terdapat seorang pemuda yang duduk bersila di depan TV sambil memegang controler game. Pemuda tersebut adalah Arya. Dia sudah bermain game sejak pagi-pagi sekali.
Dia bangun terlalu awal dan tidak bisa tidur lagi, jadi dia memutuskan untuk bermain game saja.
Awalnya dia bermain game bersama David, tapi tiba-tiba David pergi keluar untuk membeli sesuatu tapi sepertinya dia terjebak hujan karena sejak dia pergi lebih dari satu jam yang lalu, dia belum kembali dan hujan di luar juga cukup lebat.
Melirik ke jam, ini sudah lewat jam tujuh pagi, hari Sabtu, hari libur, jadi Arya tidak perlu menjalani aktivitasnya seperti biasa. Dia juga berniat bermain game seharian, ditambah dengan cuaca yang dingin karena hujan, membuatnya ingin bermalas-malasan seharian.
Selain itu, saat ini dia sedang berada di rumah Lucy. Dia sudah berada di sini sejak beberapa hari yang lalu.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Arya menoleh dan melihat Lucy sedang berjalan menghampirinya dengan pakaian tidurnya. Matanya masih mengantuk dan ekspresi malas terlihat di wajahnya.
Lucy perlahan duduk di sebelah Arya dan bersandar pada pemuda tersebut. Matanya langsung tertutup, seakan dia ingin tidur di sandaran Arya.
"Lucy, jika kamu masih mengantuk kembalilah ke kamar." Kata Arya.
Tapi sayangnya, tidak ada jawaban dari Lucy
Arya menoleh dan menghela nafas. Dia melihat Lucy benar-benar tertidur di pundaknya dengan ekspresi nyaman dan tenang.
Dia perlahan meletakkan tangannya di punggung Lucy sementara gadis itu bersandar padanya.
Tangannya yang lain juga diletakkan di bawah lutut Lucy ketika Arya perlahan mengangkatnya.
Lucy tetap tidur nyenyak meski Arya menggendongnya untuk membawanya kembali ke kamarnya.
Arya yang menggendong Lucy kemudian membaringkan gadis tersebut ke kasurnya dengan lembut, tidak ingin membuatnya terkejut.
Tidak lupa, Arya juga menyelimuti Lucy.
Dia perlahan tersenyum hangat melihat wajah cantik Lucy yang masih tertidur. Dia menikmati pemandangan tersebut cukup lama sebelum dia mengecup dahi Lucy dan kembali bermain game di ruang TV.
******
Dua jam telah berlalu, namun hujan lebat belum berhenti. David juga belum kembali ke rumah, meninggalkan Arya dan Lucy berdua saja. Sepertinya David benar-benar terjebak hujan.
Lucy sendiri sudah bangun dari tidurnya. Dia saat ini sedang duduk di sebelah Arya, bersandar padanya dengan ekspresi cemberut. Dia saat ini sedang ingin dimanja oleh Arya, tapi pemuda tersebut terlalu sibuk dengan gamenya, mengabaikannya.
Lucy sendiri sudah berusaha keras menggoda Arya agar dia dilirik dan dimanja. Dia juga sudah melakukan banyak hal, seperti mencium pipi Arya, memeluknya dari belakang, menghalangi pandangan Arya dari TV, mencubitnya dan semacamnya.
Tapi semua usahanya itu gagal. Sebaliknya, Arya justru marah karena merasa diganggu saat dia sedang bermain game.
Bagi Arya sendiri, game lebih penting daripada wanita.
Lucy pun menjadi murung dan cemberut dengan pipinya yang menggembung. Dia sangat tidak senang karena Arya lebih mementingkan game daripada dirinya yang ingin dimanja ini.
Lucy yang sudah kesal itu akhirnya berdiri, membelakangi Arya dan menghalangi pandangannya dari TV, kemudian dia duduk dipangkuan pemuda tersebut.
"Tunggu, Lucy. Berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Kamu membuatku susah bergerak. Aku tidak bisa bermain game jika kamu duduk di pangkuanku!" Arya terdengar kesal.
Meski begitu, Lucy hanya mendengus dingin dan mengabaikannya. Dia masih memiliki ekspresi cemberut.
Arya menghela nafas panjang dan melanjutkan gamenya, mengabaikan Lucy. Dia memeluk Lucy dari belakang, namun tangannya tetap sibuk memainkan controller gamenya.
Lucy yang sedang duduk dipangkuan Arya itu tiba-tiba berbalik, mengunci pinggang Arya menggunakan kakinya dan tangannya melingkar di lehernya, membuat Arya agak terkejut
"Lucy, bisakah kamu membiarkanku bermain game dulu? Kumohon padamu."
"Aku tidak peduli. Siapa yang menyuruhmu mengabaikanku?"
Lucy dengan pipinya yang menggembung berkata demikian.
Perlahan, gadis tersebut membenamkan wajahnya di pundak Arya.
Arya menghela napas, mengabaikannya dan berusaha fokus pada gamenya.
Tapi tiba-tiba, Arya merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh tulang selangkanya. Dia merasa sesuatu yang lembut dan hangat ini menghisap di sana. Ini membuatnya terkejut.
"Lucy, apa yang kamu lakukan...?"
Arya bertanya dengan wajah merah cerah, menelan ludah dalam tegukan. Dia jelas menyadari bahwa sesuatu yang lembut dan hangat itu adalah bibir Lucy yang mengecup lehernya.
Lucy mengabaikan Arya dan terus mengecup lehernya. Dia berhenti sejenak untuk mengambil nafas sebelum membuka mulutnya lagi dan mengecup leher Arya lagi dan lagi, meninggalkan bekas ciuman berwarna merah yang menggoda.
Arya sangat terkejut dengan perubahan mendadak ini. Dia tidak berharap Lucy akan menjadi agresif.
Dia tahu kalau Lucy sudah mengambil inisiatif untuk melakukan hal mesra bersamanya, maka gadis tersebut sedang ingin dimanja.
Tapi jika hingga mengecup leher, itu bukan manja, melainkan mengundangnya untuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan.
"Ahhm." Lucy membuka sedikit mulutnya dan kembali mengecup leher Arya. Dia bahkan menjilat bekas ciuman berwarna merah tersebut dengan lidah mungilnya.
Arya merinding dengan ini dan jantungnya berdebar kencang. Baru kali ini dia merasakan seseorang mengecup bahkan menghisap lehernya hingga meninggalkan bekas.
Arya merasakan kepalanya pusing dan pikirannya mulai kosong. Dia segera menjauhkan Lucy dengan mendorong pundak gadis tersebut. Dia takut jika dia tidak mendorongnya, maka dia akan kehilangan akal sehatnya dan menyerang Lucy.
"Ratuku, ada apa denganmu hari ini? Kamu sangat agresif pagi ini!"
Arya bertanya sambil mengusap pipi Lucy.
Gadis itu memiliki rona merah di wajahnya dan jantungnya juga berdebar kencang.
"Aku... Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang kesal padamu. Kamu benar-benar mengabaikanku sejak tadi. Ratumu ini sedang ingin dimanja, tahu?"
Lucy menjawab dengan malu-malu. Dia menyadari tindakannya sepertinya agak berlebihan. Selain itu, dia juga semakin memerah menyadari bekas ciuman berwarna merah di leher Arya.
Arya yang mendengar ini tiba-tiba menjadi bersemangat tapi dia segera menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran kotornya.
"Lucy, aku ingin mandi. Bisakah kamu menyingkir sebentar?"
Lucy mengangguk dengan pertanyaan ini.
Arya yang berada di kamar mandi segera bercermin, melihat lehernya. Dia takut akan ada bekas ciuman di sana.
Benar saja, ketakutannya menjadi nyata.
Benar-benar ada bekas ciuman berwarna merah di lehernya!
Tidak masalah jika hanya satu, tapi ini ada dua!
Arya menghela nafas panjang melihat ini. Untungnya, bekas ciuman itu berada di dekat tulang selangkanya, jadi itu tidak akan terlalu terlihat jika dia memakai pakaian dengan kerah yang agak tinggi.
"Apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan dengan meninggalkan dua bekas ciuman di leherku? Apakah dia menandakan aku miliknya, atau dia sedang mengundangku? Ugh, aku tidak ingin melakukannya sebelum menikah."
Arya menghela nafas panjang lagi.