Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 18 - Rumor



Di sebuah cafe, Lucy duduk berhadapan bersama dengan seorang pria yang tampak berusia empat puluh tahun. Pria tersebut tidak diragukan lagi adalah pamannya.


Adapun Arya, dia sedang memesan minuman di cafe tersebut.


Beralih pada Lucy, dia tampak mengobrol dengan pamannya.


"Lucy, ini uang dari Paman. Tolong diterima."


Paman memberikan sebuah amplop pada Lucy dan gadis tersebut menerimanya dengan sedikit enggan. Dia lalu berkata.


"Um, terima kasih banyak, Paman. Ngomong-ngomong, Paman tidak perlu repot-repot memberiku uang belanja. Kakak sudah bekerja, jadi Paman tidak perlu khawatir."


"Aku tahu itu. Tapi bagaimanapun, kebutuhan kalian pasti banyak. Aku takut kalian kekurangan uang untuk berbelanja."


Paman segera menasehati Lucy dengan lembut.


Mendengar ini, Lucy segera menggelangkan kepalanya.


"Paman tidak perlu khawatir. Selain kakak sudah bekerja, pria disebelah sana juga memberikanku beberapa uang jajan. Paman tidak perlu khawatir."


Lucy berkata sambil menunjuk Arya.


Paman secara alami menoleh dan melihat Arya. Dia mengenal Arya dengan cukup baik karena Arya adalah teman masa kecil Lucy. Dia tahu bagaimana kepribadian Arya dan yakin dengan apa yang baru saja Lucy katakan tadi adalah fakta.


"Sepertinya kamu telah menemukan orang yang bisa diandalkan, ya."


Paman tertawa kecil, membuat Lucy sedikit memerah.


Pada waktu yang sama, di luar cafe tampak seorang gadis dengan wajah familiar berambut merah. Dia menatap cafe tempat Lucy dan pamannya berada.


Gadis tersebut secara alami adalah Rui. Dia menyeringai penuh makna saat mengeluarkan handphonenya, memfoto Lucy yang sedang menerima amplop dari pamannya.


"Lucy, kau akan berakhir kali ini!"


Rui bergumam, penuh kegembiraan. Jelas, dia memiliki niat buruk terhadap foto yang baru saja dia ambil.


Di sebelah cafe tempat Lucy berada, terdapat sebuah hotel.


Dengan hotel di dekat situ, ditambah dengan Lucy yang menerima uang dari seorang pria paruh baya yang tidak dikenal, ini akan menjadi sebuah rumor yang benar-benar menjatuhkan nama baik Lucy.


*****


Esok harinya, saat Arya dan Lucy sedang berjalan menuju kelas masing-masing dengan santai sambil mengobrol dengan riang, para siswa langsung melirik Lucy dan berbisik satu sama lain.


Dari apa yang Arya dengar, beberapa gadis mengatakan sedikit hal buruk tentang Lucy. Dia sedikit marah ketika mendengar ini tapi begitu melihat Lucy mengabaikannya, dia menahan amarahnya.


Bukan hanya para gadis, tapi pria di sana juga langsung berbisik satu sama lain. Mereka berbicara dengan agak keras dan semua ucapan mereka hanya berisi kata-kata vulgar yang tak sedap didengar.


Arya terkejut dan langsung menoleh ke kelompok tiga orang pria yang saling berbisik dan tertawa itu. Dia langsung menatap mereka dengan tajam dan hendak menghampiri mereka.


Tidak masalah jika para gadis membicarakan Lucy, karena wanita memang terbiasa bergosip. Tapi pria yang bergosip sama sekali tidak gentle.


Ketika Arya hendak menghampiri mereka, Lucy dengan cepat menghentikannya. Dia meraih lengan Arya dan menatapnya, menggelengkan kepalanya saat ekspresi memohon terlihat di wajahnya. Dia tidak tahu mengapa tapi sepertinya ada beberapa desas-desus tentangnya, makanya banyak yang membicarakannya.


Lucy sudah menyadari hal ini tapi dia mengabaikannya.


Kali ini, sepertinya Arya juga menyadarinya dan Lucy segera menghentikannya. Dia yakin jika dia tidak mengambil tindakan, maka Arya sudah jelas akan berkelahi.


Arya segera mengurungkan niatnya ketika Lucy menghentikannya. Dia menatap Lucy sejenak lalu menatap tiga pria tadi tapi sepertinya tiga orang tersebut sudah pergi tanpa dia ketahui.


Sepertinya tiga orang itu menyadari tatapan tajam Arya dan mereka langsung melarikan diri seperti seorang pengecut.


Menghela nafas, Arya menatap Lucy lagi.


"Apa yang terjadi? Kenapa banyak yang membicarakanmu saat ini?"


"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya ada rumor buruk tentangku, Arya."


"Huh, berani menyebarkan rumor buruk tentang wanitaku? Mereka sepertinya bosan hidup!"


Arya segera menggertakan giginya, mengepalkan tangannya.


"Arya, tenanglah. Itu hanya rumor kecil. Beberapa hari juga akan hilang."


"Tapi..."


Arya membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu tapi Lucy segera meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, menyuruhnya diam.


"Jangan terlalu dipikirkan. Mereka hanya iri denganku."


Lucy menarik kembali jarinya lalu tersenyum manis.


Lagi pula dia memang cantik dan memiliki tubuh yang ramping, jadi wajar jika orang lain iri. Siapa saja ingin memiliki tubuh dan kecantikan seperti Lucy.


Melihat Lucy begitu percaya diri, Arya mengangguk setuju.


Kemudian, keduanya mengabaikan rumor tentang Lucy.


Di dalam kelas 3-1, Lucy yang baru saja berpisah dari Arya langsung disambut belasan tatapan oleh teman sekelasnya. Mereka memiliki tatapan jijik, tidak percaya dan ada juga beberapa tatapan vulgar.


Lucy terkejut dengan sambutan ini. Dia melihat sekeliling hanyaa untuk melihat semua orang menatapnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi tapi dia merasa canggung.


Perlahan, Lucy berjalan menuju bangkunya dengan kaku. Ditatap banyak orang membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.


Ketika Lucy tiba di bangkunya, matanya melebar saat dia mengetahui kalau mejanya penuh dengan coretan dan kutukan.


Dia tidak mengetahui siapa yang melakukannya tapi Lucy segera mengangkat kepalanya. Matanya yang indah menyapu seluruh orang yang berada di kelas seakan dia ingin menemukan pelakunya.


Lucy sangat tidak senang dengan ini. Dia tidak menyinggung siapapun akhir-akhir ini, jadi seharusnya dia tidak menerima perlakuan seperti ini.


"Bisakah seseorang memberitahuku siapa yang melakukan ini?"


Lucy bertanya dengan ekspresi sedikit kesal.


"Tentu saja, kami yang melakukannya. Lagi pula kau memang pantas mendapat itu semua, Lucy."


Seorang gadis dengan wajah cantik namun galak maju menjelaskan dengan tawa mengejek. Tentu saja, gadis itu adalah Rui.


Lucy terkejut melihat Rui yang menjelaskan. Dari apa yang dia dengar tadi, sepertinya Rui memang tidak berbohong. Tapi yang membuatnya bingung adalah, mengapa mereka melakukan semua ini padanya?


Seingatnya, hubungannya dengan yang lainnya baik-baik saja. Bahkan hubungannya dengan Rui juga tidak ada masalah.


Segera, Lucy mengerutkan dahinya dengan tidak senang dan bertanya lagi.


"Apa maksudmu aku pantas mendapatkannya? Apakah aku melakukan kesalahan pada kalian? Jika memang begitu, maka kalian hanya perlu mengatakannya padaku. Tidak perlu berbuat keterlaluan!"


Lucy marah namun anehnya tidak ada yang menanggapinya. Mereka semua hanya menatapnya dengan dingin dan jijik.


"Lucy, sepertinya kau masih belum sadar posisimu saat ini. Biar kujelaskan. Lucy, kau benar-benar murahan! Lihat ini, kau mau membuka kakimu untuk pria paruh baya ini agar mendapat uang, bukan? Sungguh menjijikan. Aku tidak menyangka kalau seorang Lucy yang merupakan orang paling cantik di seluruh SMA Daeil ini sebenarnya adalah sosok murahan!"


Rui berkata dan menjelaskan. Dia mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sebuah foto. Di dalam foto tersebut terlihat Lucy sedang menerima uang dari seorang pria paruh baya.


Tentu saja, pria paruh baya tersebut adalah paman Lucy.


Ini adalah rencana Rui.


Tadi malam, dia sedang pergi berjalan-jalan santai dan secara tidak sengaja melihat Lucy sedang bersama seorang pria paruh baya. Sebuah kebetulan bahwa dia melihat Lucy menerima amplop dari pria paruh baya tersebut.


Berdua di cafe bersama dengan pria paruh baya, menerima amplop dan tepat di sebelah cafe tersebut adalah sebuah hotel, tentu saja Rui dengan cepat membuat sebuah rumor.


Pada awalnya, Rui menyebarkan rumor buruk tentang Lucy tapi tidak ada yang percaya padanya. Tapi dengan orang tuanya sebagai seorang pengusaha sukses, dia menggunakan uang untuk membayar beberapa orang dan memerintahkan mereka untuk menyebarkan rumor buruk tentang Lucy.


Rui sangat senang saat mengetahui rencananya lancar. Dia sengaja ingin membuat nama baik Lucy tercoret agar Arya menjauhi Lucy dan akhirnya dia bisa mendekati Arya, pria yang dia cintai.


Melihat foto tersebut, Lucy terkejut dan segera mengingat kejadian tadi malam.


Semalam, Lucy pergi ke tempat pamannya bekerja, yaitu cafe itu sendiri. Dia disuruh pamannya untuk datang dan menerima uang belanja bulanan.


Tapi pagi ini, dia tiba-tiba mendengar sebuah rumor dari beberapa orang dan sepertinya dia tahu rumor macam apa yang tersebar.


Lucy tidak tahu kapan Rui mengambil foto tersebut tapi sudah jelas bahwa semua yang terjadi saat ini adalah kesalahpahaman.


"Tunggu sebentar! Aku paham apa maksudmu tapi semua yang kau katakan hanyalah omong kosong! Pria itu adalah pamanku!"


Lucy segera menjelaskan tanpa berbohong. Tapi pada titik ini, tidak akan ada yang mempercayainya.


"Pembohong! Kau pembohong, sudah jelas kau rela membuka kakimu hanya untuk uang!"


"Menjijikan. Aku tidak menyangka kalau kau ternyata seseorang yang murahan!"


"Lucy, berapa hargamu per malam? Katakan dan akan kubayar!"


Sorakan orang-orang terdengar. Mereka semua mengejek Lucy dan meneriakinya murahan. Ada beberapa dari mereka yang juga mengatakan kata-kata vulgar pada gadis cantik tersebut.


Tentu saja, sebagian orang yang berteriak tadi adalah orang bayaran Rui.


Melihat orang-orang mengejek dan menghina Lucy, Rui tersenyum lebar dan wajahnya sedikit memerah. Dia sangat bahagia saat ini.


Dia kini sudah bisa membayangkan dirinya akan berada di sisi Arya dan Lucy akan dijauhi.


Lucy yang diteriaki merasa sangat marah dan ingin membalas mereka semua. Tapi setelah berpikir sejenak, dia mengurungkan niatnya. Dia yakin kalau dia membalas, dia hanya akan diabaikan.