Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 120 - Salah Tanggal



Memasuki kelas, semua orang menatap Arya dengan ekspresi rumit. Mereka semua menghela napas panjang ketika melihatnya.


Semua orang merasa kasihan pada Arya karena Lylia sudah pindah dan tidak ada lagi di kelas ini. Mereka tahu jika Arya dan Lylia begitu mesra dan intim, jadi ketika mengetahui Lylia pindah, mereka merasa simpati pada Arya.


Namun, ada beberapa pemuda yang diam-diam merasa bersyukur karena Lylia pindah. Mereka iri melihat kemesraan Ary adan Lylia. Apalagi Lylia begitu cantik.


Mendengar belasan helaan napas di saat bersamaan, sudut mata Arya berkedut hebat, merasa agak kesal.


'Apa-apaan kalian semua? Apakah kalian merasa kasihan padaku, atau bagaimana?' Arya berpikir demikian.


Mengabaikan sekeliling, Arya menuju bangkunya dan duduk, menunggu pelajaran dimulai.


Selama perjalanan berlangsung, Arya banyak melamun dan tidak fokus dalam belajar. Di dalam benaknya hanya ada wajah Lylia yang tersenyum padanya. Dia merindukannya.


Mulai hari ini, dia sudah tidak bisa merasakan kehangatan pelukan Lylia lagi, membuatnya merasa pahit dan sakit hati. Tapi, mengingat mereka yang sepakat melakukan hubungan jarak jauh, setidaknya rasa sakit hati Arya bisa disembuhkan dengan melakukan telepon ataupun panggilan video dengan Lylia.


Ketika para siswa lainnya pergi keluar kelas dan ke kantin, Arya masih tetap setia di bangkunya. Dia menatap keluar jendela dengan dagu terpangku pada tangannya. Dia masih mengenang sedikit kenangan manis yang dibuat bersama Lylia beberapa hari terakhir.


Juga, sebelum keduanya berpisah, mereka berciuman dengan mesra. Bahkan sensai bibir lembut, manis dan hangat Lylia masih terasa jelas di bibir Arya. Dia tidak akan melupakan kenangan berharga ini.


Tersenyum tipis, rona merah muncul di wajah Arya ketika mengingat ciumannya bersama Lylia.


Di sisi lain, tampak seorang gadis berambut hitam mendekati Arya dengan perlahan, berniat mengagetkannya. Namun, ketika gadis ini melihat senyum tipis dan wajah bahagia Arya, dia berhenti di tempat.


'Lylia baru saja pindah, jadi kenapa Arya terlihat begitu bahagia? Bukankah seharusnya dia merasa sedih?' Lucy berpikir demikian.


Mengabaikan kebingungannya, Lucy mendekati Arya lagi dan mengagetkannya.


"Ahh!"


Arya terkejut, mengeluarkan suara aneh dan segera berdiri dari duduknya. Dia kemudian menoleh dan mengerutkan dahi ketika melihat Lucy tersenyum masam padanya.


"Apakah ada sesuatu yang Anda perlukan dari saya?"


Arya bertanya, sedikit kesal karena diganggu.


Lucy terkejut mendengar nada dingin dan formal Arya. Dia kira setelah mereka mengalami kejadian dengan William dan berbagi cerita malam itu, hubungan keduanya membaik. Namun sepertinya itu hanya harapan kosong.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengajakmu makan siang. Sebentar lagi jam istirahat selesai dan aku lihat kamu belum meninggalkan kelas sejak tadi. Jadi, mau pergi bersama?"


Lucy berkata, merasa sakit di dadanya.


"Tidak, saya tidak lapar. Makanlah duluan, jangan menunggu saya. Jangan sampai Anda sakit, atau Anda akan merepotkan kakak."


Arya melambaikan tangannya, sedikit melunak dalam nadanya.


Lucy tersenyum lebar dan matanya segera berbinar mendengar ucapan Arya. Meski Arya masih formal padanya, setidaknya dia menunjukkan sedikit perhatian padanya.


Lucy sangat gembira dengan ini. Dia kemudian meninggalkan Arya, tidak ingin memaksanya karena takut memperburuk hubungan mereka yang sudah sedikit membaik ini.


*****


Pulang dari sekolah, Arya segera memasukkan motornya ke dalam garasi. Dia kemudian masuk, menuju kamarnya dan bertemu Erwin di dapur, sedang duduk sambil mengupas bawang.


"Oh, Arya. Kamu sudah pulang? Bagaimana sekolahmu hari ini?" Sapa Erwin.


"Seperti biasa, Kek. Belajar, makan siang, belajar dan berkelahi sedikit."


Erwin berkedut mendengarnya.


"Apa maksudmu berkelahi? Aku sudah muak mendapat surat panggilan ke sekolah karena kamu berkelahi terus, kamu tahu?"


"Aku hanya bercanda, Kek. Hanya bercanda."


Arya tertawa, senang karena menjahili kakeknya.


Erwin hanya menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum dan berkata.


"Kamu, tahu? Kamu sungguh beruntung, Arya."


"Beruntung? Beruntung bagaimana? Aku baru saja berpisah dari kekasihku, apa itu dianggap keberuntungan?"


Arya kebingungan, namun dia segera menuju kamarnya.


Memegang gagang pintu, Arya membuka pintu kamarnya.


"Memangnya ada apa di kamar...?"


Arya terdiam ketika dia membuka pintu kamarnya.


Di dalam kamarnya, seorang gadis berambut putih keperakan duduk di tepi kasurnya, tersenyum lembut padanya.


Gadis itu secara alami adalah Lylia.


Arya membeku cukup lama, matanya hampir keluar dari rongganya. Dia menggosok matanya, merasa jika dia salah lihat.


"Lylia? Apakah ini benar Lylia? Tidak, aku pasti salah lihat! Lylia sudah pergi sekarang ini!"


Arya bergumam, merasa tidak percaya.


Lylia yang mendengarnya segera cemberut. Dia menggembungkan pipinya, berdiri dan menjatuhkan diri ke pelukan Arya.


"Apakah aku sudah pergi sekarang? Apakah kamu salah lihat? Coba peluk aku dan kamu akan tahu jika kamu tidak salah lihat!"


Arya tersenyum masam, memeluk Lylia dengan erat. Tubuh hangat dan aroma khas Lylia ini benar-benar yang dia rindukan. Meski hanya berpisah kurang dari satu hari, dia benar-benar merindukan Lylia.


Melepaskan pelukannya, Lylia menatap Arya dengan hangat. Matanya penuh kebahagiaan.


Melingkari leher Arya dengan tangannya, Lylia menarik kepala bagian belakang Arya, berniat untuk menciumnya.


Arya terkejut, namun dia mengikuti irama. Dia memeluk pinggang Lylia dan menariknya dalam pelukannya.


Keduanya berciuman dengan mesra, menyatukan bibir mereka untuk ketiga kalinya.


Di sisi lain, Erwin yang sedang mengupas bawang itu terbatuk karena terkejut melihat Arya dan Lylia menyatukan bibir mereka. Dia segera berdeham kencang, membuat sepasang kekasih itu memisahkan diri karena terkejut dan malu.


*****


Di dalam kamarnya, Arya dan Lylia duduk bersebelahan di tepi kasur.


"Jadi, kenapa kamu masih di sini, Lylia?"


Arya bertanya. Dia sangat terkejut sekaligus bahagia karena Lylia belum pindah. Namun, Dia juga bertanya-tanya tentang alasannya.


Lylia kemudian menjelaskan alasannya masih berada di sini. Singkatnya, ayahnya, yaitu Gerald, salah hitung tanggal. Seharusnya mereka pindah minggu depan dan bukan hari ini.


"Jadi, karena ayahku salah hitung tanggal, aku meminta izin ayah untuk menginap di sini."


"Kamu mau menginap? Apakah kakek mengizinkannya?"


"Kakek mengizinkannya, tapi dia bilang aku harus tidur di kamar yang lain dan tidak boleh tidur bersamamu..." Lylia cemberut.


Dia agak kesal dan kecewa karena Erwin melarangnya tidur bersama Arya, padahal dia sudah menyuap Erwin dengan tiga gepok uang. Tapi, Erwin tetap melarangnya meski kakek tua itu mengambil uangnya dan tidak mengembalikannya.


Arya tersenyum bahagia mendengar penjelasan Lylia.


"Itu berita bagus, Lylia. Dengan begini, kita bisa menghabiskan waktu bersama selama satu minggu ini."


"Ya, kamu benar. Ayo jalan-jalan dan kencan sepuasnya."


Lylia bersandar pada Arya, begitu juga sebaliknya.


Arya menyapu tatapannya di kamarnya. Dia kemudian terkejut saat melihat ada koper besar berwarna merah muda di pojok kamarnya.


Menatap Lylia, Arya bertanya.


"Lylia, koper itu... Itu adalah punyamu?"


"Um, itu punyaku! Aku berniat menginap di sini selama satu minggu!"


Lylia berkata, penuh semangat, membuat Arya terdiam.