
"Arya, sebenarnya siapa yang kamu cintai? Aku, atau Lucy?"
Lylia menunjuk Lucy yang bersembunyi di balik punggung David.
"Tentu saja aku mencintaimu, Lylia."
Arya berkata, mendekati kekasihnya dan hendak memeluknya. Namun, Lylia segera mundur dan menatap tajam dirinya dengan matanya yang sembab dan merah karena menangis.
"Pembohong! Kamu tidak mencintaiku sama sekali! Sejak awal, kamu tidak pernah menunjukan ketertarikanmu padaku! Kamu hanya selalu tertarik pada Lucy! Aku sudah tahu itu, tapi aku diam karena aku mencintaimu! Tapi kenapa, bahkan setelah semua yang kulakukan untukmu, kamu tetap tidak tertarik dan malah selalu melirik Lucy? Apakah aku kurang menarik bagimu? Apakah aku kurang cantik bagimu? Sebenarnya kamu anggap apa diriku ini?"
Lylia melotot dan marah pada Arya, mengeluarkan semua isi hatinya. Dia terkadang menyadari jika Arya selalu melirik Lucy dan tidak pernah tertarik padanya sejak awal mereka menjalin hubungan asmara.
Arya terdiam, jelas menyadari jika apa yang dikatakan Lylia adalah fakta. Tapi, itu hanya terjadi ketika mereka baru menjalin hubungan asmara.
Sekarang, Arya hanya tertarik dan sepenuhnya melirik Lylia. Perasaannya pada Lucy telah hilang, digantikan oleh rasa cinta dan kasih sayang untuk Lylia. Baginya, Lucy sekarang hanyalah teman.
Arya membuka mulutnya, namun suaranya tidak keluar. Dia merasa bersalah pada Lylia.
Menatap Lylia, Arya mendekatinya dan memeluknya dengan erat meski Lylia memberontak dan mencoba melepaskan pelukannya dari Arya.
"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Aku benci kamu!"
Lylia mendorong dada Arya, namun Arya sama sekali tidak bergeming. Dia telah mengeluarkan semua tenaganya, tapi dia tetap kalah dari Arya. Juga, pelukan kekasihnya ini begitu erat dan hangat, membuatnya agak luluh.
"Lylia, maafkan aku..." Bisik Arya pelan di telinga Lylia.
Lylia tidak menjawab. Dia menangis di dada Arya sambil mengcengkeram pakaian pemuda tersebut.
"Lylia, ayo kita kembali ke rumah dulu, ya? Aku akan menjelaskan semuanya di sana."
Arya mengusap kepala Lylia.
Lylia mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Um, Arya..."
David memanggil dengan pelan, agak ragu.
Arya menoleh dan menatapnya dengan tatapan minta tolong.
David mengerti maksud Arya, jadi dia mengurungkan niatnya untuk mengatakan kepentingannya.
Setelah itu, Arya dan Lylia kembali ke rumah.
Kembali pada Lucy, dia tampak gemetar dan sudut matanya dipenuhi air mata. Melihat Arya menenangkan Lylia dengan begitu lembut membuatnya sakit hati.
Dia masih mencintai Arya, tapi sang pujaan hati telah berpindah hati ke wanita lain.
David yang melihat ini menghela napas. Dia menyeka air mata Lucy dengan lembut dan berkata.
"Lucy, jangan menangis, oke? Kamu tidak melihat apapun tadi. Anggap saja Arya dan kekasihnya tidak ada, oke?"
"Tapi, Kak... Baru tadi malam... Baru tadi malam Arya datang padaku dan menceritakan semua rasa takutnya. Baru tadi malam dia memelukku setelah sekian lama. Dia bahkan tidak meninggalkanku tadi malam. Dia justru menemaniku tidur. Kak, aku selalu mimpi buruk akhir-akhir ini. Tapi tadi malam, karena Arya menemaniku, aku bisa tidur nyenyak. Tapi... Tapi pagi ini, Arya sudah pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi. Ini tidak adil, Kak..."
Lucy terisak, air matanya tumpah deras dan dia meringkuk dalam pelukan sang kakak. Baru tadi malam dia merasakan kehangatan yang sudah lama tidak dia rasakan. Tapi, kehangatan itu pergi pagi ini.
David memeluk Lucy, membelainya dan mencoba menenangkannya.
*****
Tiba di rumahnya, Arya mengajak Lylia masuk ke dalam kamarnya untuk menjelaskan semuanya pada Lylia.
Lylia hanya diam sepanjang perjalanan. Dia sudah berhenti menangis, menyebabkan matanya sembab. Namun, meski begitu, dia masih sangat marah pada Arya.
Di dalam kamar, Arya menatap Lylia yang tidak bersemangat itu dan memeluknya.
"Lylia, maafkan aku." Arya meminta maaf sekali lagi.
Lylia diam dan membenamkan wajahnya ke dada Arya. Dia melingkari pinggang Arya, bukan untuk balas memeluknya, melainkan mencubitnya dengan sangat keras.
"Akh! Lylia, sakit!"
Arya mengerang, melepaskan pelukannya dan mundur seketika. Gadis ini menggunakan kukunya untuk mencubitnya!
"Huh, kamu pantas mendapat itu!" Lylia mendengus.
"Baiklah, sudah cukup marahnya, ya? Kamu sudah mencubitku dua kali pagi ini."
Lylia menatap dingin Arya, membentuk capit kepiting menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya, menunjukkan jika dia akan mencubit Arya lagi.
Arya segera mundur dan melambaikan tangannya.
Diam sejenak, Arya menghela napas.
"Lylia, maukah kamu mendengarkan penjelasanku?"
"Jangan banyak bertanya. Cukup jelaskan saja semuanya. Aku menunggu itu dari tadi, tahu?"
Lylia mengarahkan capit kepitingnya, mencoba mencubit Arya lagi.
Arya tersenyum pahit melihat kekasihnya ini ingin mencubitnya tanpa ampun.
Setelahnya, Arya menjelaskan semuanya pada Lylia. Dia mengatakan semuanya tentang penculikan Lucy dan Willian serta yang lainnya.
Arya awalnya sedikit bingung dalam memilih kata dalam penjelasannya. Dia berusaha sebaik mungkin mengatakan jika dia membunuh William dan lainnya. Sebaliknya, dia mengganti kata "bunuh" jadi kata "berkelahi".
Dia mengatakan pada Lylia jika berkelahi dengan William dan dua kakak kelas yang hilang itu. Dia bilang jika setelah berkelahi dan menang melawan ketiganya, dia segera pergi meninggalkan mereka dan dia tidak berharap jika William dan dua lainnya akan menghilang.
Lylia terkejut dengan ini. Dia tidak pernah berharap jika Arya terlibat dengan kasus hilangnya William.
"Baiklah, aku mengerti jika kamu berkelahi dengan William dan dua kakak kelas itu. Tapi, apa hubungannya semua ini dengan kamu tidur satu ranjang dengan Lucy?"
Lylia bertanya. Dia tidak memedulikan William. Dia hanya peduli dengan Arya yang tidur bersama Lucy. Dia tidak ingin penjelasan tentang William, tapi tentang Lucy.
"Jadi, saat Lucy diculik, dia hampir dilecehkan William dan dua kakak kelas itu, tahu?" Kata Arya.
"Benarkah itu? Bagaimana bisa mereka melakukan hal sekejam itu pada Lucy?" Lylia mengangkat alisnya, terkejut.
"Sebenarnya itu ada hubungannya denganku, Lylia. Apakah kamu ingat aku pernah berkelahi dengan tiga orang di hari pertama sekolah, karena aku membela kamu yang digoda tiga kakak kelas?"
"Tentu saja aku ingat! Itu adalah hari pertemuan pertama kita, Arya!"
Lylia menunjukkan senyum cerah, tapi dia segera mengubah ekspresinya menjadi cemberut dan marah.
Arya tersenyum masam melihat perubahan ekspresi Lylia. Sepertinya gadis ini sebenarnya sudah tidak marah lagi, tapi dia tidak mau mengakuinya.
"Nah, karena aku berkelahi dengan tiga orang itu, dua di antaranya sepertinya menaruh dendam padaku. Tapi, dua orang itu tidak membalaskan dendam padaku, tapi pada Lucy. Mereka mungkin menganggap Lucy media balas dendam yang bagus, atau semacamnya. Yang jelas, mereka hanya bajingan." Arya melanjutkan penjelasannya.
Lylia merenung, sedikit merasa bersalah pada Arya dan Lucy. Jika saja dia tidak diganggu dan digoda oleh tiga kakak kelas saat itu, Arya mungkin tidak perlu berkelahi dan Lucy tidak akan diculik.
Menghela napas tanpa daya, Lylia menatap Arya dan bertanya.
"Jadi, bagaimana kondisi Lucy sekarang? Apakah dia benar-benar dilecehkan?"
"Tidak. Lucy aman karena aku datang tepat waktu dan berkelahi dengan William dan lainnya. Lucy hanya mengalami trauma saat ini."
Lylia menghela napas lega. Namun, dia segera menyadari sesuatu.
"Tunggu! Kamu belum menjelaskan kenapa kamu bisa tidur bersama Lucy!"
Arya tersenyum tipis dan menjelaskan.
Dia mengatakan jika karena setelah berkelahi dengan William, lalu William menghilang setelahnya, Arya panik dan takut. Perasaan waspada selalu memenuhi hatinya selama beberapa hari terakhir.
Karena itu, dia merasa tidak nyaman setiap harinya dan kemarin, dia benar-benar ketakutan dan segera menemui Lucy untuk berbagi cerita, karena hanya Lucy yang tahu persis kejadiannya.
Arya juga bilang jika bukan hanya dia yang ketakutan, tapi Lucy juga begitu dan gadis itu juga menceritakan ketakutannya padanya.
Ketika bercerita, Lucy menangis dan secara alami, Arya memeluknya untuk menenangkannya.
Tanpa disadari, Lucy ternyata tertidur dalam pelukannya.
"Aku lalu membaringkan Lucy di kasur dan menyelimutinya, tapi ketika aku hendak pergi, Lucy mimpi buruk dan memanggil namaku. Dia terlihat ketakutan malam itu, jadi aku tidak tega meninggalkannya. Aku menggenggam tangannya dan menemaninya. Aku tidak sangka jika aku akan tertidur juga. Aku jujur padamu, Lylia."
"Arya, Sayangku, tidakkah kamu pernah berpikir jika Lucy hanya bersandiwara? Dia hanya berpura-pura supaya kamu tetap tinggal dan menemaninya. Dia sebenarnya tidak tidur, dia hanya menggodamu!"
Arya terdiam, keringat dingin membasahi punggungnya. Dia sendiri sebenarnya tidak tahu apakah Lucy benar-benar tertidur atau tidak tadi malam, jadi yang dikatakan Lylia sangat masuk akal. Namun, karena ekspresi teman masa kecilnya itu begitu ketakutan, dia jadi tidak tega.
"Maaf, Lylia..."
Arya meminta maaf, pasrah.