
Setelah kepindahan Rui, Lucy juga dipindahkan dari kelas 3-1 ke kelas Arya, yaitu kelas 3-3.
Hal ini disebabkan oleh Arya yang meminta Tuti, kepala sekolah untuk memindahkan Lucy ke kelasnya. Tujuannya agar Lucy tidak diganggu oleh beberapa orang yang mungkin menyimpan dendam padanya.
Lagi pula, Lucy tidak memaafkan mereka yang sudah menyebarkan rumornya hanya karena dibayar oleh Rui. Dia sangat marah dan sempat mengatakan hal buruk pada mereka. Jadi, Arya takut Lucy menerima perlakuan buruk.
Tuti tentu saja menyetujuinya dengan mudah. Dia tidak keberatan dengan Lucy yang dipindakan ke kelas Arya karena hal semacam ini bukan masalah besar.
"Arya, aku ingin kau menjawab dengan jujur. Dari mana kau mendapat uang sebanyak itu? Tidak mungkin siswa sepertimu bisa memiliki uang sebanyak itu. Terlebih lagi, dengan sikap ayahmu aku sangat yakin kalau dia tidak akan pernah memiliki uang sebanyak itu. Dan, ayahmu juga merupakan orang yang pelit!"
Tuti bertanya pada Arya yang duduk di sofa dengan santai. Dia dan Arya baru saja membahas kepindahan kelas Lucy.
Sebagai kepala sekolah, Tuti tentu saja mengetahui apa yang terjadi baru-baru ini. Dia sangat terkejut ketika mendengar bahwa Arya membayar ganti rugi pada Ibu Rui sebanyak seratus juta dengan mudahnya.
Ini membuatnya curiga kalau Arya sebenarnya berhutang pada bank. Siswa seperti Arya jelas bukan seseorang yang bisa memiliki uang banyak kecuali dia memiliki latar belakang keluarga yang hebat.
Tapi Tuti tahu dengan jelas bagaimana latar belakang keluarga Arya.
Keluarganya hanya keluarga sederhana. Selain itu, dia memiliki pertemanan dengan ayah Arya dan dia sangat paham kalau ayah Arya adalah orang yang pelit, jadi kecil kemungkinannya ayahnya memberikannya uang sebanyak itu.
Arya tersenyum tipis sambil menoleh ke Tuti.
"Kepsek, apakah kau tahu toko roti yang baru-baru ini ramai dibicarakan?"
"Ah, maksudmu toko roti Arcy Bakery?"
"Ya, Arcy Bakery. Toko itu milikku dan aku adalah bos di sana, jadi wajar jika aku memiliki uang yang banyak."
Arya berkata dengan hidung terangkat, sangat percaya diri dan bangga.
Ngomong-ngomong, dia menamai toko rotinya dengan nama Arcy Bakery.
Kata 'Ar' diambil dari namanya, yaitu Arya. Sedangkan kata 'Cy' diambil dari nama Lucy.
Jadi singkatnya, dia menamai tokonya berdasarkan namanya dan nama Lucy.
Tuti linglung sesaat sebelum akhirnya dia tertawa. Dia tentu tidak mempercayai Arya.
Toko roti sebesar Arcy Bakery tentunya dikelola oleh suatu perusahaan besar, jadi dia yakin kalau Arya hanya mengucapkan omong kosong.
Tapi yang mengejutkannya adalah bahwa ekspresi Arya berubah menjadi tidak senang.
"Kau bercanda, kan?"
"Tentu saja, aku tidak bercanda. Kau boleh memanggil Lucy, Niko ataupun Brent untuk ditanyakan masalah benar atau tidaknya Arcy Bakery milikku atau bukan. Aku bersama Niko dan Brent membuka toko itu bersama!"
Arya mendengus dan buang muka, kesal.
Tuti segera memanggil tiga orang yang Arya sebutkan tadi dan hasilnya, dia terkejut bukan main.
Ternyata apa yang Arya katakan adalah fakta, membuatnya tercengang dan terkejut untuk waktu yang lama.
*****
"Apakah kamu sudah selesai mengobrol dengan kepala sekolah?"
Lucy bertanya dengan senyum manis ketika Arya kembali ke kelasnya.
"Ya, sudah selesai."
Arya mengangguk dan mengelus kepala Lucy sebentar.
Para siswa lain yang melihat adegan ini terkejut, tidak menyangka bahwa Arya bisa bersikap lembut.
Tatapan Arya saat mengelus kepala Lucy tadi terlihat hangat dan penuh kasih sayang. Selain itu, ada senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
"Ini... Apakah itu masih Arya yang kita kenal?"
"Wow, ternyata Arya bisa mesra begitu, ya?"
"Sial, kenapa dia sangat kejam pada yang lain tapi lembut pada Lucy? Ini tidak adil!"
Para siswa, baik itu pria ataupun gadis mengungkapkan keterkejutan mereka dan berbisik satu sama lain.
Biasanya, Arya terlihat selalu memiliki tatapan tajam dan sikapnya dingin pada hampir setiap orang. Dia juga selalu kejam ketika berkelahi dan terkadang aura di sekitar Arya terasa menakutkan, membuat banyak orang takut untuk mendekatinya.
Tapi sekarang, setelah melihat kelembutan Arya pada Lucy, mereka semua langsung mengubah kesan mereka pada Arya.
Pada malam harinya, ketika Arya dan Lucy sudah selesai makan malam bersama, mereka duduk bersebelahan dan saling bersandar sambil menonton TV dengan damai dan tenang.
Arya sendiri sedang menemani Lucy di rumahnya, menunggu kakaknya yang sedang lembur hingga pulang agak terlambat dari biasanya.
Di ruang TV, tidak ada yang namanya sofa, melainkan karpet ambal tebal berbulu yang lembut dan empuk serta hangat.
Duduk di karpet ambal yang lebar, Lucy perlahan menjalinkan jarinya ke jari Arya, mencari kehangatan lebih.
Arya agak tersentak dengan ini. Dia tahu jika Lucy sudah mengambil inisiatif lebih dulu, maka gadis itu ingin bersikap manja padanya.
Arya segera tersenyum dan membiarkan gadis tersebut melakukan apa yang dia inginkan.
"Arya, maukah kamu menginap malam ini? Sudah cukup lama sejak terakhir kali kamu menginap."
"Menginap, ya? Um, itu ide bagus. Aku akan menelepon kakek untuk memberitahunya kalau aku akan menginap di sini."
Arya segera mengangguk. Ini bukan pertama kalinya dia menginap di rumah Lucy. Dia dulu sangat sering menginap di sini.
Lucy segera tersenyum bahagia mendengar ini.
Perlahan, waktu berjalan dengan lambat.
Setelah satu jam kemudian, Arya yang sedang menonton TV tiba-tiba melirik Lucy dengan wajah yang sedikit memerah dan matanya menujukan sedikit kenakalan.
Lucy menyadari hal ini, menoleh dan tersentak, terkejut dengan wajah Arya yang agak memerah.
"Lucy, kemari."
Arya menepuk pahanya, menandakan bahwa dia menyuruh Lucy untuk duduk di pangkuannya.
Lucy sedikit bingung tapi karena dia sedang ingin di manja oleh Arya, dia mengabaikan kebingungannya dan segera berpindah ke pangkuan Arya, duduk manis dengan tenang dan bersandar di dada Arya.
Arya perlahan merangkul Lucy dari belakang lalu membenamkan wajahnya ke pundak Lucy.
Wajahnya masih tetap sama, memerah.
"Lucy, aku ingin sesuatu."
"Apa yang kamu inginkan?"
"Sebuah ciuman. Aku cium, ya?"
Arya berkata tanpa mengangkat kepalanya dari pundak Lucy. Dia agak malu untuk menatap Lucy ketika dia memintanya untuk berciuman.
Lucy jelas terkejut dengan ini. Dia segera merah padam dan pikirannya kosong untuk sementara waktu.
Arya mengangkat kepalanya dan menggosokkan pipinya ke pipi Lucy karena dia tidak mendapat jawaban.
"Boleh, ya? Sekali saja~."
Arya sedikit menggodanya. Dia meraih dagu Lucy dan mengarahkannya ke bibirnya.
Tapi sayangnya, Lucy membuang muka dengan cepat, agak tidak siap dengan permintaan Arya.
Dia memang sedang ini dimanja oleh Arya tapi dia tidak berharap kalau Arya akan meminta ciuman darinya. Selain itu, manja yang dia inginkan adalah seperti saling bersandar, berpegangan tangan atau berpelukan satu sama lain dan semacamnya.
"Tu-tunggu sebentar, jangan memintanya terlalu cepat...! Aku belum siap..."
"Apa yang perlu kamu persiapkan?"
Lucy tidak menjawab.
Perlahan, Lucy menutup matanya sambil mengerucutkan bibirnya.
Melihat Arya yang begitu ingin menciumnya, Lucy merasa agak lucu.
Karena Lucy terlihat sudah siap, Arya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera menempelkan bibirnya pada bibir Lucy dengan gerakan lembut dan pelan.