
Setelah hampir satu jam mengobrol, Arya yang sedari tadi memikirkan alasan yang bagus untuk meminta izin untuk pergi ke Inggris akhirnya memberanikan buka suara. Dia berdeham sekali, lalu mengerutkan dahinya saat ekspresinya serius.
"Ma, aku sebenarnya memiliki sesuatu untuk disampaikan pada Mama. Aku ingin meminta izin, Ma."
"Izin untuk apa, Nak?" Rosa mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan perubahan tiba-tiba ini.
Memilah kata, Arya kemudian menjelaskan situasinya. Dia mengatakan jika dia ingin pergi ke Inggris dikarenakan mendapatkan undangan dari Putri Inggris secara langsung.
Rosa tentu tidak mempercayai apa yang Arya katakan. Apa yang dia dengar dari putranya itu seperti sebuah kebohongan dan jika ada yang percaya, maka itu adalah anak berusia tiga tahun.
Rosa mau tak mau tersenyum masam dan menggeleng.
"Arya, apa yang sebenarnya kamu katakan? Apakah kamu bermimpi bertemu Putri Inggris tadi malam? Bagaimana mungkin kamu mendapat undangan dari Putri Inggris, Nak?"
Rosa tertawa kecil.
Wajar jika Rosa berkata demikian. Bagaimanapun, tidak sembarang orang yang bisa mendapat undangan dari Putri Inggris. Dia dan keluarganya hanya keluarga biasa dan mereka sama sekali tidak kenal, jadi sangat tidak mungkin Putri Inggris akan mengundang putranya ke kerajaan Inggris.
Arya menunduk karena malu. Meski dia mengatakan yang sebenarnya, namun mendengar tawa kecil ibunya membuatnya merasa malu tanpa sebab.
Melihat Arya tertunduk dan diam, Lucy menghela napas. Tampaknya ini saatnya untuk ambil kendali.
"Ma, apa yang Arya katakan adalah fakta. Dia benar-benar mendapatkan undangan dari Putri Inggris, Ma."
"Lucy, kamu juga? Ada apa ini sebenarnya? Apakah kalian bekerja sama untuk mengerjai Mama?"
"Ma, kami tidak berniat mengerjai Mama atau semacamnya. Aku hanya ingin Mama percaya jika apa yang Arya katakan adalah benar."
"Lucy, cukup. Nak, jangan berbohong pada Mama. Jika kamu berani berbohong, jangan harap Mama akan memberikanmu kesempatan untuk menjadi menantuku."
Rosa perlahan menjadi sedikit kesal, merasa dibohongi oleh putra dan putrinya. Dia menekankan nadanya dan sedikit mengancam. Dengan begini, tidak peduli kebohongan apa yang Lucy buat, gadis kecil ini pasti berkata jujur.
Namun, apa yang dikatakan Lucy selanjutnya mengejutkan Rosa.
"Ma, aku tidak berbohong. Tidak ada gunanya aku berbohong, begitu juga dengan Arya. Ma, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika Arya mendapat undangan dari Putri Inggris secara langsung."
Lucy tidak gentar. Dia menatap dalam mata Rosa dan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun, membuat Rosa terkejut. Ini tidak seperti yang dia harapkan.
Jika Lucy tidak gentar dan berani membalas ucapannya, maka apa yang dikatakan Arya kemungkinan adalah fakta. Namun, tetap saja Rosa memerlukan bukti.
"Jika apa yang kalian katakan ada benar dan fakta, maka berikan aku sebuah bukti. Dengan begitu, aku bisa memberikan izin. Namun, jika kalian tidak bisa memberi bukti, jangan harap kalian bisa menjadi sepasang suami-istri di masa depan."
Nada begitu serius dan nadanya penuh penekanan dan ancaman. Dia tidak main-main kali ini. Jika keduanya tidak memiliki bukti, maka dia tidak akan pernah merestui Arya dan Lucy untuk menikah. Dia tidak membutuhkan putra dan putri pembohong.
Cukup baginya dibohongi ribuan kali saat bersama Vicky dulu.
Mendengarnya, Arya dan Lucy tertegun sejenak dan Lucy segera menoleh pada Arya, berkata dengan sedikit semangat.
"Arya, kartu nama dari Marissa! Keluarkan itu sekarang!"
Arya mengangguk, segera membuka tasnya dan mencari sejenak, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna keemasan dan menyerahkannya pada Rosa.
Rosa menerimanya dan mengerutkan dahinya saat membaca apa yang tertulis dalam kartu nama itu. Dia membaca ada nama "Marissa", beserta sebuah nama keluarga dan ada sebuah cap berwarna merah khas di ujung kartu tersebut.
Setelah membaca apa yang tertulis di sana, Rosa mengambil handphonenya dan mengetik nama yang ada di kartu nama tersebut, mencari di internet apakah nama itu benar sama dengan nama Putri Inggris.
Setelah melihat jika nama Putri Inggris di internet dengan dia kartu nama sama, Rosa terkejut. Namun, itu belum cukup untuk memberinya izin dan kepercayaannya masih kurang. Dia kemudian mencari cap lambang keluarga Inggris dan ternyata, cap yang ada di ujung kartu nama itu dengan apa yang ada di internet adalah sama.
Jika sudah seperti ini, bukankah apa yang dikatakan Arya adalah fakta dan kartu nama ini benar-benar milik Putri Inggris?
Selain itu, tidak mungkin ada orang yang berani memakai cap lambang keluarga Inggris, jadi sudah bisa dipastikan jika cap itu adalah asli.
Rosa tiba-tiba diam seribu bahasa. Dia menundukkan kepalanya untuk menatap kartu nama di tangannya. Matanya gemetar dan menunjukkan ketidakpercayaan. Ini benar-benar tidak masuk akal baginya.
*****
Tiga puluh menit telah berlalu, namun Rosa masih diam. Dia menghela napas berulang kali.
Arya dan Lucy dengan sabar menunggu. Mereka menjadi gugup karena Rosa tak kunjung menjawab. Ini membuat keduanya takut jika Rosa tidak mengizinkan dan masih tidak percaya.
Jika Rosa masih tidak percaya, maka Arya mungkin hanya bisa pasrah dan menolak undangan Marissa dan berakhir menyinggungnya.
"Aku mengerti... Aku mengerti..." Rosa bergumam, menghela napas dengan kasar dan mengangkat kepalanya.
Dia menatap Arya dan Lucy dengan tatapan rumit.
"Mama mengerti dan Mama percaya. Tapi, ini masih sedikit tidak masuk akal bagiku. Bagaimana mungkin putraku bisa mendapatkan undangan dari Putri Inggris secara langsung? Aku benar-benar tidak mengerti."
Rosa menghela napas lagi, membuat Arya dan Lucy tersenyum masam. Mereka tidak berniat menjelaskan lebih detail, karena itu tidak ada gunanya sebab Rosa sudah percaya pada mereka.
"Ma, dengan Mama berkata seperti itu, apakah Mama mengizinkanku pergi?"
Arya bertanya dengan sedikit takut.
"Tentu saja, kamu boleh pergi." Jawab Rosa dengan senyuman.
Arya dan Lucy segera tersenyum lebar mendengarnya. Wajah mereka dipenuhi kegembiraan.
"Tapi ingat, jika kamu pergi ke Inggris, jaga sikapmu dan jangan buat masalah selama berada di sana. Bagaimanapun, kamu akan berada di negara lain dan kamu berada di tempat pemimpin negara tersebut, jadi kamu harus bersikap sesopan dan sehormat mungkin di sana."
Rosa segera mengingatkan.
Arya mengangguk sebagai jawaban. Tanpa diberitahu sekalipun, dia tentu akan bersikap sopan hormat.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong soal pergi ke Inggris, jika kamu pergi, bagaimana dengan janjimu pada Andhika? Kamu berjanji padanya jika kamu akan mengajaknya ke pantai saat kamu pulang study tour, kan?"
"Itu... Sepertinya aku harus menundanya dulu, Ma. Aku akan jelaskan pada Andhika nanti."
"Baguslah jika begitu. Kamu pergi ke Inggris bersama Lucy, kan? Atau hanya kamu sendiri?"
"Entah, Ma. Aku sudah mencoba mengajak Lucy beberapa kali tapi dia terus-menerus menolak."
Arya melirik Lucy di sampingnya, sedikit menajamkan tatapannya.
Dia sebelumnya sudah mengajak Lucy untuk ikut menemaninya di Inggris, tapi entah kenapa Lucy malah menolak. Dia sudah membujuk kekasihnya itu, tapi hasilnya nihil.
Lucy tersenyum masam mendengarnya. Dia tidak mau ikut karena merasa bukan dirinya yang diundang. Selain itu, Marissa sendiri tidak mengatakan apapun padanya, jadi Lucy merasa tidak memiliki hak untuk ikut.
"Ya ampun, sangat disayangkan, Lucy. Jika kamu ikut, mungkin saja kamu bisa membuat kenangan manis di sana. Bagaimanapun, jarang-jarang ada kesempatan kalian pergi ke luar negeri berdua."
Rosa menghela napas, menatap Lucy dengan agak rumit lalu mengalihkan pandangannya pada Arya.
"Kapan kamu berangkat ke Inggris, Nak?"
"Aku berencana pergi besok, Ma. Sebelumnya aku sudah menghubungi Marissa dan dia bilang jika lebih baik aku berangkat bersamanya dan itu adalah besok."
"Besok, ya? Bukankah itu terlalu cepat? Kamu baru saja pulang dari study tour, jadi kamu pasti lelah dan perlu istirahat."
"Tidak apa, Ma. Hari ini aku akan sepenuhnya istirahat di rumah, jadi besok lelahku sudah hilang."
Arya tersenyum lembut, mencoba menenangkan ibunya yang khawatir padanya.
Setelah itu, obrolan dilanjutkan dengan Rosa bertanya tentang bagaimana pertemuan Arya dan Marissa.