
Setelah makan malam, Arya dan Lucy pergi mencuci piring kotor yang mereka gunakan untuk makan tadi. Keduanya mencuci piring bersebelahan, saling bersandar dan tidak mengendurkan kemesraan mereka sedetikpun.
"Arya, apakah kamu besok punya rencana?" Lucy tiba-tiba bertanya.
"Rencana? Entah, mungkin mengajak Mama dan Andhika jalan-jalan seharian. Aku berniat membicarakannya dengan Mama nanti. Bagaimana menurutmu?"
"Aku pikir itu ide bagus. Kita berangkat pagi-pagi sekali dan pulang malam saja sekalian. Jarang-jarang kita bisa menghabiskan waktu bersama Mama dan Andhika, kan?"
"Ya, itulah mengapa aku ingin mengajak mereka jalan-jalan."
Arya mengangguk.
Keduanya kemudian melanjutkan pekerjaan mereka sedikit sebelum kembali ke ruang keluarga, duduk di sofa bersama Rosa dan Andhika.
Andhika yang melihat Lucy begitu menempel pada Arya segera mengerutkan dahinya, tidak senang. Dia menarik tangan Lucy dan membawanya ke dalam pelukannya.
Lucy yang tidak siap itu terkejut ketika merasakan kehangatan dari Andhika.
"Kak Lucy milikku! Jangan dekat-dekat dengannya!"
Arya berkedut mendengar ucapan Andhika. Rasanya begitu kesal melihat kekasihnya direbut di depan matanya. Terlebih lagi yang merebut adalah adiknya sendiri.
Rosa yang melihat itu tertawa kecil. Dia kemudian mendekati Arya dan duduk di sebelahnya.
"Baiklah, jangan marah begitu, Arya. Biarkan Andhika bersama Lucy sebentar. Kamu seharusnya sudah puas bersama Lucy selama bertahun-tahun, kan?"
Arya terdiam mendengarnya. Dia tersenyum masam. Apa yang dikatakan Rosa agak tidak benar, karena hubungannya sempat memburuk dengan Lucy dan mereka baru menjadi dekat lagi selama hampir dua tahun ini.
"Ma, sebenarnya aku dan Arya tidak sedekat ini, tahu? Aku dan Arya sempat bermusuhan, lebih tepatnya Arya memusuhiku. Mama tahu alasannya, kan?" Lucy berkata dari dalam pelukan Andhika, dia tidak bisa lepas karena bocah ini memeluknya sangat erat.
"Um... Ya, sepertinya Mama sedikit banyak tahu alasannya. Semua karena Arya salah paham, benar?"
Arya yang mendengar Lucy dan Rosa mengobrol dan membahas masa lalu tanpa sadar merinding. Dia memiliki firasat buruk dengan ini.
"Nah, apakah Mama tahu? Selama aku memiliki hubungan buruk dengan Arya, dia sebenarnya pergi berkencan dengan dua wanita lain!"
Nada Lucy penuh penekanan. Matanya menatap Arya dengan marah.
Baik Rosa atau Andhika terkejut mendengarnya. Mereka belum pernah mendengar hal ini sebelumnya.
Menyeringai, Andhika menatap kakaknya dengan meledek.
"Jadi, kamu memiliki dua kekasih lainnya, Arya?"
Rosa bertanya, menepuk pundak Arya yang kini telah memucat dan berkeringat dingin.
"Nak, jawab jujur. Kamu memiliki dua kekasih lainnya, kan? Tidakkah kamu kasihan pada Lucy?"
"Tidak, Ma! Dia sama sekali tidak kasihan padaku! Dia selalu bersikap dingin padaku dan sangat mesra dengan kekasihnya. Ma, kekasih pertama Arya bernama Lylia. Dia sangat cantik dan kaya, bahkan lebih cantik daripada aku. Kekasih keduanya, aku tidak tahu siapa dia, Ma. Arya sama sekali tidak mau memberitahuku siapa sebenarnya kekasih keduanya ini."
Lucy menambahkan minyak pada api.
Arya semakin berkeringat dingin dan wajahnya sangat pucat, seakan darah tidak pernah mengalir ke sana.
"Nak, kamu benar-benar keterlaluan."
Rosa menggelengkan kepalanya tanpa daya, merasa agak kasihan pada Lucy. Dia tahu sedikit permasalahan kesalahpahaman Arya terhadap Lucy yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Namun, dia tidak ingin ikut campur dalam urusan anak muda. Terlebih lagi, keluarganya sedang mengalami banyak masalah saat itu, jadi dia tidak sempat memikirkan masalah Arya dan Lucy.
Melihat Rosa menggeleng, Arya tersenyum pahit. Dia kemudian menatap Lucy yang masih nyaman dalam pelukan Andhika.
"Gadis, sepertinya kamu perlu dihukum, benar?"
Nada Arya penuh penekanan, namun Lucy tidak peduli. Dia justru menjulurkan lidahnya dan mengejek Arya.
Rosa tertawa kecil melihat pasangan kekasih ini.
"Ma, apakah Mama sibuk besok?" Arya tiba-tiba bertanya setelah keadaan agak tenang.
"Besok? Tidak, Nak. Mama luang besok. Apakah ada sesuatu yang kamu perlukan dari Mama besok?"
"Tidak juga, Ma. Aku hanya ingin mengajak Mama dan Andhika jalan-jalan besok. Bagaimana menurut Mama?"
Arya berkata dengan lembut, menatap sang ibu.
Mendengar jika Arya mengajak jalan-jalan, Rosa agak terkejut sementara mata Andhika langsung berbinar dan dia terlihat sangat bersemangat.
"Hei! Itu sakit!" Lucy mengeluh, tidak senang sebab Andhika mendorongnya.
"Kak, kita akan jalan-jalan besok? Ke mana?"
Andhika bertanya penuh semangat, sepenuhnya mengabaikan Lucy yang mengeluh.
"Ke mana saja, Andhika. Jika kamu memiliki tempat yang ingin kamu kunjungi, mari kita pergi ke sana. Mama juga begitu. Jika Mama memiliki tempat yang ingin Mama kunjungi, katakan saja. Kita akan pergi ke sana."
Arya tersenyum lembut pada Andhika, lalu Rosa.
Rosa diam agak lama, menghela napas pelan.
"Baiklah, ayo kita pergi jalan-jalan bersama besok. Jarang-jarang kita memiliki kesempatan untuk pergi bersama, kan?"
"Ya, mari kita pergi. Ngomong-ngomong, Mama besok mau ke mana saja?"
"Mama ikut kalian saja, Nak. Jika kalian mau bersenang-senang dan bermain di game center, atau pergi ke bioskop untuk menonton, Mama ikut. Mama tidak memiliki keinginan untuk berkunjung ke manapun, Arya."
Rosa berkata demikian, membuat Arya tersenyum pahit.
"Ma, tidak masalah jika Mama ingin mengunjungi suatu tempat. Kita akan mengikuti Mama, kok."
"Benarkah? Jika begitu, Mama ingin berbelanja pakaian baru untuk kalian. Temani Mama, ya?"
Rosa menunjukkan senyum bahagia.
Arya mengangguk tanpa ragu. Dia senang karena ibunya memiliki tempat yang ingin dikunjungi.
*****
Sekitar jam sebelas malam, Arya, Lucy beserta Andhika dan Rosa masih terjaga di ruang keluarga, menonton TV sambil mengobrolkan beberapa hal.
Menguap, Andhika menggosok matanya. Dia bangkit dari sofa dan hendak ke kamarnya untuk tidur.
"Ma, aku tidur duluan, ya. Selamat malam."
Andhika menghampiri Rosa, mencium pipi sang ibunda dengan ringan sebelum pergi ke kamarnya.
Arya dan Lucy yang melihat itu tersenyum tipis, lalu saling menatap.
"Sepertinya aku belum mendapat ciuman selamat malam kemarin malam." Goda Arya, berbisik.
"Ish, jangan pikirkan itu sekarang! Jika kita melakukan itu, bagaimana jika Mama tidak sengaja melihatnya?"
"Yah, kalau begitu kita harus curi-curi waktu." Arya terkekeh.
"Hei, ada apa ini? Apa yang kalian bicarakan sehingga harus berbisik? Beritahu Mama, dong~."
Rosa yang mendengar Arya dan Lucy berbisik jadi penasaran. Dia mendekat pada Arya dan memasang telinga, siap mendengarkan.
"Tidak ada, Ma. Hanya membicarakan betapa cantiknya Mama malam ini."
"Oh, Nak. Mulutmu sangat manis. Dari siapa kamu belajar kata-kata itu?"
"Aku tidak belajar dari siapapun, Ma. Itu murni dari hati nuraniku."
"Huh, sepertinya memiliki dua kekasih sebelum Lucy membuat mulutmu semanis madu, ya? Ingat, percuma mulutmu manis, tapi hatimu busuk."
Arya terdiam, merasa sakit di dadanya. Dia murni memuji ibunya karena ibunya memang begitu cantik. Namun sayangnya, pujian yang dia berikan tidak diterima dengan baik.
Rosa tertawa kecil melihat reaksi diam Arya. Dia mengulurkan tangannya dan mengelus kepala putranya itu.
"Mama hanya bercanda, Nak. Terima kasih untuk pujiannya, sungguh. Tapi, Mama sudah muak dengan kata-kata manis, tahu? Aku sudah mendengarnya ribuan kali saat hidup bersama ayahmu."
"Dan aku bukanlah Vicky. Aku putramu, Arya." Arya agak tersinggung, merasa disamakan dengan Vicky.
"Kamu benar. Kamu adalah putra kebanggaan dan putra tercinta Mama." Rosa mengacak-acak rambut Arya.
"Baiklah, ini sudah malam. Mari tidur, besok kita akan pergi jalan-jalan, bukan?"
Rosa bangkit dari sofa, mengucapkan selamat malam pada Arya dan Lucy lalu menuju kamarnya.