
Di dalam restoran barat, tampak dua orang sedang duduk berhadapan. Satu pria dan satu wanita.
Saat ini, Arya sedang berada di restoran barat bersama dengan seorang wanita cantik berambut pirang dengan matanya yang biru cerah bagai berlian.
Arya memasang ekspresi acuh tak acuh sementara wanita tersebut tersenyum sembari menyenandungkan nada yang menyenangkan.
'Sial, apa yang akan dipikirkan Lucy jika dia melihatku sedang bersama wanita ini? Bukankah aku malah memancing perang dunia ketiga? Ugh, harusnya aku tolak saja ajakan wanita ini...'
Arya berpikir demikian, menghela napas panjang dalam hati.
Dia pergi diam-diam tanpa memberitahu Lucy jika dia akan pergi keluar bersama wanita ini untuk sarapan bersama.
Jadi, ketika Arya membayangkan dirinya ketahuan oleh Lucy sedang bersama wanita lain, rasanya dia bisa merasakan ledakan amarah yang luar biasa meletus dari Lucy.
Lucy jelas akan marah dan merajuk berhari-hari jika dia tahu ini.
"Halo~, apa yang sedang kau lamunkan?"
Wanita tersebut melambaikan tangannya tepat di depan wajah Arya, membuatnya terkejut.
"Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan kekasihku." Arya menggeleng ringan.
"Oh, kekasihmu ya? Tenang saja, ini tidak akan memakan waktu yang lama. Ngomong-ngomong, siapa namamu dan berapa usiamu?"
"Kau bisa memanggilku Arya, usia sembilan belas beberapa bulan lagi. Dan namamu?"
"Perkenalkan, namaku Marissa. Tebak, berapa usiaku?"
Wanita tersebut, Marissa, memasang senyum misterius.
Arya tidak tahu harus menangis atau tertawa mendengarnya. Dia menatap wajah Marissa dan menebak-nebak dalam hatinya.
Dari wajahnya, Marissa masih terlihat muda seperti wanita berusia dua puluh awal. Dia juga tampak semakin cantik dengan rambutnya yang pirang dan matanya yang biru bagai berlian itu benar-benar membuat Arya tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Jika boleh jujur, Marissa memang lebih cantik daripada Lucy.
Tersenyum tipis, Arya menjawab.
"Sekitar dua puluh tahun?"
Mendengar itu, Marissa agak terkejut namun segera tersenyum lebar dan matanya berbinar cerah.
"Um, benar! Usiaku sekitar dua puluh, dua puluh satu tepatnya."
"Oh, aku menebak dengan benar, ya?" Arya terkekeh.
Setelah itu, mereka memesan makanan dan mulai mengobrol lebih banyak sambil mencoba untuk mengenal lebih dalam satu sama lain.
Selama mengobrol, Arya mengetahui jika Marissa cukup bersahabat dan mudah diajak bicara.
Marissa pun begitu. Dia cukup senang karena mendapat seseorang yang bisa diajak mengobrol.
*****
Setelah selesai dengan restoran, Arya dan Marissa berjalan bersama menuju hotel. Mereka berdampingan, namun ada jarak sekitar tiga langkah yang membuat mereka tidak terlalu dekat.
Arya sadar dia memiliki Lucy, jadi dia menjaga jarak dari Marissa.
"Oh, ya. Arya, apakah kamu sibuk setelah ini? Bagaimana jika kamu menemaniku berkeliling kota Vant? Aku berniat ke museum terbesar di kota ini hari ini, maukah kamu ikut?"
Marissa tiba-tiba berkata demikian, menoleh pada Arya ketika ekspresinya penuh harap.
Arya berkedut mendengarnya. Dia agak kesal karena wanita ini sepertinya banyak tidak mendengarkan ucapannya. Dia memiliki kekasih, jadi tidak mungkin baginya untuk pergi bersama Marissa.
"Oh, begitu ya. Tidak masalah, lain kali saja kalau begitu."
Marissa tidak memaksa seperti tadi. Dia hanya mencoba keberuntungannya dengan mengajak Arya, siapa yang tahu jika dia bisa mendapat teman liburan kali ini?
Namun, karena Arya menolak, Marissa tidak bisa berbuat banyak.
Melihat ekspresi Marissa yang tampak kecewa, Arya menghela napas pelan dan segera menghiburnya.
"Jika kau memang ingin memiliki teman liburanmu, bagaimana jika kau berkenalan dengan kekasihku?"
"Eh? Bolehkah itu?"
"Tentu, kekasihku pasti senang mendapat teman baru, apalagi teman luar negeri. Dia pasti sangat senang."
"Baiklah, besok atau lusa, hubungi saja aku!"
Marissa segera bersemangat.
Arya tertawa kecil melihatnya yang begitu bersemangat.
Setelah itu, sembari berjalan menuju kembali ke hotel, Arya dan Marissa mengobrol dan tertawa kecil sesekali.
"Baiklah, terima kasih karena telah menemaniku pagi ini. Dan maaf untuk yang tadi malam."
Ketika tiba di depan hotel, Marissa berkata demikian dengan senyum manisnya.
"Tak apa, Marissa. Sekarang kesalahpahaman itu sudah diselesaikan, jadi tidak perlu dibahas lagi."
"Um, kamu benar. Baiklah, aku akan lanjut berkeliling kota ini sedikit lagi. Bye~"
Marissa melambaikan tangannya sambil tersenyum manis, berbalik dan menjauh dari tempat Arya berada.
Arya membalas lambaian tangannya sebelum dia masuk ke lobi hotel, menuju lift ke lantai enam dan masuk ke dalam kamarnya.
*****
"Halo, kamu sudah kembali? Pergi ke mana kamu sehingga lupa mengabariku?"
Ketika Arya masuk ke dalam kamar hotelnya, dia langsung terdiam membeku di tempat saat mendengar nada dingin datang dari suara yang familiar baginya.
Selain Lucy yang memiliki kunci cadangan kamar hotelnya, siapa lagi yang bisa masuk?
Menatap Lucy, Arya bisa merasa tatapan kemarahan dari gadis itu. Dia duduk di sofa sambil meletakkan kakinya di atas kakinya yang lain, melipat kedua tangannya dan matanya menatap tajam dirinya.
Arya menelan ludah dengan tegukan sebelum menjawab.
"A-aku keluar sebentar tadi, maaf tidak mengabarimu..."
"Oh, sebentar ya? Aku baru tahu, ternyata dua jam itu sebentar!"
Lucy berdiri, langsung menghentakkan kakinya hingga menciptakan bunyi yang keras. Dia lalu berjalan menuju hadapan Arya, menatap mata kekasihnya itu dan menunggu penjelasan darinya.
"Kamu sudah menunggu selama dua jam di sini?" Arya mengangkat alisnya, terkejut.
Jika menghitung waktu kepergiannya bersama Marissa tadi, dia sudah pergi dua jam setengah, yang berarti Lucy sudah di kamarnya sejak setengah jam setelah dia pergi.
Memutar otaknya, Arya berusaha memikirkan alasan yang bagus untuk diberikan pada Lucy. Dia memiliki dahi yang penuh keringat dingin.
"Begini, Lucy. Aku tadi pergi mencari sarapan tadi, aku sangat lapar dan dengan cerobohnya melupakanmu."
"Oh, begitu? Sarapan bersama wanita berambut pirang, benar?" Lucy mencibir.