Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 56 - Menemui Ayah Nia



Arya pergi meninggalkan Lucy dan Nia. Dia berkendara dengan kecepatan tinggi dan hatinya dipenuhi kemarahan.


Dia juga pernah mengalami kesulitan ekonomi dalam keluarganya, tapi Rosa tidak pernah berhutang ataupun mabuk-mabukan seperti ayah Nia. Tentu saja, ibunya merupakan wanita baik-baik, jadi tidak mungkin ibunya berhutang ataupun mabuk-mabukan.


Selain itu, Arya sangat marah karena ayah Nia memukul putrinya. Nia telah bekerja keras hingga mendapat beasiswa di SMA Daeil di saat dia sedih karena kehilangan ibu dan kakaknya. Ini merupakan suatu hal yang layak dipuji dan Nia pantas diberi hadiah karena kerja kerasnya.


Tapi, ayahnya malah seenaknya mabuk-mabukan dan memukulnya seolah-olah mengabaikan semua kerja keras Nia.


Ini yang membuat Arya marah.


Pada saat ini, Arya sedang menuju rumah Nia. Dia sedang ingin melakukan sesuatu di sana.


*****


Lucy yang melihat Arya pergi menghela nafas. Dia kemudian mengalihkan fokusnya pada Nia yang saat ini sudah berhenti menangis dan mulai menenangkan dirinya.


Tidak lama setelah Arya pergi, David kembali ke rumah dengan membawa satu plastik berisi obat-obatan dan vitamin. Dia menyerahkannya pada Lucy agar adiknya itu memberikannya pada Nia.


David agak terkejut dan bingung saat melihat Nia menangis, tapi dia tidak berniat untuk bertanya. Dia yakin Lucy akan menjelaskannya padanya nanti.


"Oh, ya. Ke mana perginya Arya?"


David bertanya. Dia tidak melihat Arya di manapun saat ini.


"Aku tidak tahu. Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan ke mana dia akan pergi."


Lucy mengatupkan giginya dan nadanya terdengar marah.


David menyadari bahwa sebenarnya Lucy tahu ke mana perginya Arya, tapi sepertinya dia tidak berniat memberitahunya karena sepertinya, gadis ini sedang kesal pada Arya.


David hanya mengangguk pada jawaban Lucy dan segera kembali ke kamarnya, memeriksa beberapa pekerjaan kantornya.


Pada saat yang sama, Lucy memberikan Nia obat yang telah dibelikan David.


"Nia, pergilah tidur dan istirahat. Kamu masih merasa tidak enak badan, kan?"


Lucy berkata demikian, agak khawatir. Bagaimanapun, hujan tadi malam cukup deras dam gadis ini kabur dari rumahnya dengan berlari di tengah hujan deras itu.


Dia takut jika Nia tidak banyak beristirahat, dia akan jatuh sakit dan itu malah akan menjadi lebih merepotkan.


Nia hanya mengangguk sebagai jawaban, namun dia tidak tidur seperti yang Lucy suruh. Dia hanya duduk di sofa dan merenungi beberapa hal tentang ayahnya.


*****


Ketika tiba di rumah Nia, Arya melihat beberapa plastik sampah di depan rumahnya. Ada juga beberapa botol alkohol kosong yang sudah dibuang oleh pemiliknya.


Mengabaikan hal itu, Arya menuju depan pintu dan mengetuk.


Setelah beberapa saat, seorang pria berusia empat puluhan awal datang membukakan pintu. Pria ini memiliki tubuh yang agak kurus dan dia memiliki wajah pucat saat ini. Matanya juga terlihat kebingungan dan panik.


Arya mengerutkan dahi melihat ini. Dia menduga kalau sepertinya, pria ini adalah ayah Nia.


Namun, pria ini benar-benar berbeda dari apa yang Nia katakan tadi. Dia tidak terlihat seperti seorang pemabuk dan malah terlihat seperti seorang ayah penyayang pada umumnya.


"Apakah Nia ada di rumah, Pak?"


Arya bertanya dengan sopan sambil menunjukkan senyum tipis. Dia menyembunyikan kemarahannya dengan sangat baik.


Selain itu, melihat Ayah Nia yang berbeda dari apa yang diceritakan Nia, membuatnya tidak ingin mengambil tindakan gegabah dan ingin melihat sosok asli Ayah Nia.


Ayah Nia tersentak mendengar ini dan dia menatap Arya dari atas hingga bawah. Dia lalu menyimpulkan bahwa Arya kemungkinan besar adalah kekasih Nia, menging usia putrinya yang sudah cukup umur untuk memiliki seorang kekasih.


Dia terkejut dengan ini dan mengerutkan dahinya.


"Apakah kau pacar putriku?"


Ayah Nia bertanya, membuat Arya terkejut dan ekspresinya berubah menjadi jelek. Dia terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.


Ayah Nia terdengar agak panik. Ini jelas alasannya terlihat pucat.


"Bolehkah aku bertanya, kenapa dia bisa kabur?"


Ayah Nia kembali tersentak. Dia tidak mengharapkan Arya akan begitu santai seolah-olah Nia yang kabur dari rumah bukanlah sesuatu yang mengejutkan.


Mengerutkan dahinya dan berpikir sejenak, Ayah Nia menyimpulkan bahwa sepertinya Nia kabur ke rumah pemuda ini dan pemuda ini datang mungkin untuk meminta penjelasan kenapa Nia kabur.


"Masuklah, akan aku ceritakan di dalam."


Ayah Nia berbalik dan mengajak Arya masuk.


Arya pun mengikuti dari belakang. Ketika dia masuk, dia disambut oleh aroma alkohol yang menyengat hidung.


Arya secara alami segera menutup hidungnya dengan tangannya dan mengerutkan dahinya.


'Sepertinya dia benar-benar seorang pemabuk!'


Arya berdecak kesal. Dia awalnya mengira kalau Ayah Nia bukan seorang pemabuk karena penampilan luarnya. Tapi, setelah merasakan aroma alkohol yang menyengat, kesannya pada Ayah Nia berubah drastis.


Ayah Nia yang melihat Arya menutup hidungnya tidak bisa menahan senyum masam, namun dia tidak menyalahkan Arya. Tentu saja, siapapun akan menutup hidung mereka jika mereka mencium aroma alkohol menyengat semacam ini.


Melihat sekeliling, rumah Ayah Nia ternyata tidak terlalu berantakan. Itu masih terlihat rapi dan semuanya berada pada tempatnya. Namun, ketika Arya melihat ke arah dapur, dia menghela nafas.


Di dapur, ada beberapa peralatan makan yang kotor dan belum di cuci.


"Maaf, rumahnya agak berantakan."


Ayah Nia tersenyum masam sambil membereskan sedikit sofa di ruang keluarga.


Arya hanya mengangguk dan melihat sekeliling sekali lagi.


Rumah Nia sebenarnya tidak terlalu besar, hanya ada ruang keluarga, dua kamar tidur dan satu kamar mandi serta dapur.


Di ruang keluarga sendiri ada sofa dan sebuah TV kecil jadul.


"Nah, silahkan duduk."


Kata Ayah Nia setelah selesai membersihkan sedikit sofa dan meja.


Arya tersadar dari lamunannya ketika mendengar ini. Dia kemudian duduk di sofa dan bersandar di sofa. Ayah Nia melakukan hal yang sama.


"Pak, bisakah kau menceritakan kenapa Nia kabur dari rumah?"


"Sebelum itu, apakah kau tahu ke mana Nia kabur?"


"Ya, aku tahu di mana dia. Nia ada di rumah kekasihku." Arya menjawab jujur.


Ayah Nia menghela nafas lega mendengar ini. Bagaimanapun, mendengar bahwa putrinya sedang berada di tempat yang aman membuatnya tenang. Namun, setelah mencerna kata-kata Arya, dia terkejut dan menatap Arya dengan heran.


"Tunggu, Nia ada di rumah kekasihmu? Lalu, kau bukan kekasih putriku?"


"Yah... Tentu saja bukan. Aku hanya temannya."


Arya merasa canggung.


Ayah Nia segera dipenuhi kedutan. Dia menjadi agak kesal.


Awalnya dia mengira bahwa pemuda ini adalah kekasih putrinya. Dia agak berharap karena jika Arya benar-benar kekasih putrinya, maka Nia pasti seseorang yang cukup beruntung karena Arya sendiri terlihat cukup tampan dan dia terlihat memiliki beberapa kekayaaan.


Menghela nafas tanpa daya, Ayah Nia berkata.


"Nia sepertinya kabur karena aku pukul tadi malam. Tadi malam aku mabuk dan secara tidak sadar memukulnya."