Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 94 - Jangan Sebut Ibuku dengan Mulut Busukmu!



Para siswa saling memandang dan beberapa mulai menebak, namun tidak berani menyuarakannya terlalu keras. Para gadis itu terlihat bersemangat dengan gosip ini, karena pada dasarnya wanita memang suka bergosip.


"Baiklah, waktu kalian habis. Jawabannya adalah Arya anak dari istri kedua!" Guru James bertepuk tangan ringan, menatap Arya main-main.


"Cukup! Hentikan omong kosongmu!"


Arya berdiri dan berteriak dengan penuh amarah, suaranya menggema di ruang kelas. Matanya yang memerah karena marah menatap Guru James, penuh kebencian. Dia benar-benar ingin membunuh Guru James saat ini juga.


"Oh, Arya. Apakah kau menyangkal fakta itu? Kau memang anak dari istri kedua. Juga, jika aku tidak salah ingat, ibumu mengandung di luar nikah, benar? Jadi, sebenarnya kau itu hanya anak haram yang sebenarnya tidak diinginkan."


"Keparat!!!"


Arya mengutuk dengan keras. Apa yang dikatakan Guru James tentang ibunya yang hamil di luar nikah itu benar-benar omong kosong. Ibunya merupakan orang baik, jadi jelas ibunya tidak mungkin seperti itu.


Guru James tertawa meledek mendengar Arya. Apa yang dia katakan adalah omong kosong. Tapi karena dendamnya pada Vicky, tidak ada salahnya menambahkan minyak pada api.


"Oh, benar juga. Alasan Vicky bercerai dengan ibu Arya adalah karena ayahnya menikah lagi. Sungguh lucu, bukan? Vicky sebenarnya memiliki tiga orang istri! Pria itu benar-benar gila!"


Guru James tiba-tiba tertawa liar, mengejutkan semua orang. Wajahnya yang tampan kini terlihat mengerikan.


Tubuh Arya gemetar hebat. Dia perlahan melangkahkan kakinya dan menuju ke depan kelas. Ekspresi saat ini menggelap, seakan awan mendung menutupi wajahnya. Tidak ada yang tahu seperti apa ekspresi Arya saat ini.


Seluruh siswa memperhatikan Arya dengan gugup, beberapa bergosip sementara lainnya merasa akan datangnya badai kemarahan.


Lucy yang mendengarkan semua ucapan Guru James juga memiliki ekspresi marah. Dia sangat ingin menampar guru itu.


Lylia diam dan memperhatikan Arya dengan takut. Dia jelas tahu jika Arya marah, maka akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa Guru James.


Tiba di hadapan Guru James, Arya berdiri di hadapan pria itu.


"Oh, lihat ini. Sepertinya ada yang marah di sini. Tapi, yang aku katakan itu fakta, jadi seharusnya kau tidak perlu tersinggung. Juga, ingatlah bahwa ayahmu pernah bercinta dengan istriku! Vicky adalah seorang bajingan, jadi jika kau ingin marah, maka marahlah pada ayahmu!"


Guru James menatap Arya penuh kebencian. Ini adalah alasan mengapa dia sangat dendam dengan Vicky. Semuanya dikarenakan dia pernah memergoki istrinya sedang bercinta ria dengan Vicky.


Dia ingat jelas bagaimana istrinya bergoyang di atas tubuh Vicky dengan wajah memerah dan erangan yang menggema di dalam kamar.


Dia benar-benar terkejut saat melihat kejadian itu. Setelah melihat kejadian yang mengoyak hatinya itu, dia segera menceraikan istrinya dan melaporkan perselingkuhan itu ke pihak polisi.


Namun, Vicky sendiri merupakan seorang polisi dengan jabatan, jadi jelas dia memiliki banyak koneksi.


Dengan sedikit penekanan dan ancaman, Guru James tidak hanya kehilangan istrinya tapi dia juga gagal melaporkan perselingkuhan yang terjadi di antara istrinya dan Vicky.


Oleh karena itu, dia sangat membenci Vicky. Tapi meski kebenciannya sangat besar, tapi dia tidak bisa melakukan apapun karena dia hanya seorang guru sedangkan Vicky seorang polisi dengan jabatan.


Karena tidak bisa melampiaskan dendamnya pada Vicky, dia melampiaskan semuanya pada Arya ketika mengetahui pemuda ini menjadi muridnya.


Semua orang yang mendengar jika Vicky pernah bercinta dengan istri Guru James terkejut, segera membuat keributan.


Arya yang wajahnya menggelap tidak bergeming, tetap berdiri di hadapan Guru James. Meski begitu, dalam hatinya dia terkejut mendengar ucapan Guru James tentang ayahnya. Ini membuat kebenciannya pada ayahnya meningkat.


Guru James menundukkan kepalanya dan berbisik dengan dingin pada Arya.


Arya seketika menjadi semakin marah dan mencekik leher Guru James dengan seluruh kekuatannya.


Baginya, tidak masalah jika yang dibicarakan adalah ayahnya, karena Vicky sendiri merupakan seorang bajingan. Tapi Rosa merupakan wanita baik-baik.


Jadi ketika Guru James mengatakan sesuatu tentang ibunya, Arya tidak menahan diri. Kemarahannya begitu besar hingga wajahnya memerah. Dia sudah cukup marah karena rahasia keluarganya terbongkar dan ibunya juga terkena dampaknya.


Guru James terkejut dan mengeluarkan erangan teredam. Napasnya memburu dan dia bisa merasakan jika oksigen tidak masuk ke dalam paru-parunya.


Arya terus mencekik Guru James dan mendorongnya ke dinding, membuat guru tampan itu kesakitan.


Menatap Guru James, Arya melotot padanya.


"Jangan pernah sebut ibuku dengan mulut busukmu itu, keparat!"


Nada dingin Arya terdengar, membuat siapapun merinding.


Guru James, yang dicekik mulai memucat tapi ekspresinya terlihat acuh tak acuh. Dia kemudian meludahi wajah Arya dan menyeringai jahat.


"Lalu kenapa, jika aku menyebut ibumu dengan mulutku? Vicky harusnya bersyukur memiliki istri seperti ibumu. Aku sungguh tergoda oleh tubuhnya. Jika aku bisa menghabiskan malam... Argh!"


Arya tidak menunggu Guru James selesai dengan kalimatnya. Dia segera menguatkan cekikannya lalu membanting Guru James ke samping, membuatnya terjatuh.


Guru James batuk berkali-kali dan menggosok lehernya.


Semua orang yang melihat perkelahian Arya dan Guru James terdiam dalam sunyi, bingung harus melakukan apa.


Lucy yang melihat ini jelas ingin menghentikan Arya. Tapi, mengingat hubungannya dengan Arya baru saja semakin memburuk tadi malam, dia mengurungkan niatnya. Dia yakin jika dia menasehati Arya, sudah jelas pemuda itu hanya akan menjadi lebih marah.


Menendang Guru James, Arya segera menjegalnya dan duduk di atas perut Guru James. Dia mengepalkan tangannya dengan keras dan menghantam wajah Guru James tanpa ragu.


Guru James lengah ketika dia mendapat bogem mentah dari Arya. Dia sedang berusaha menstabilkan napasnya ketika Arya tiba-tiba menendang dan duduk di atas tubuhnya.


Arya tanpa henti memukul Guru James dengan keras, dia selalu mengincar wajah dan hidung, menyebabkan hidung Guru James mengeluarkan darah yang mengalir bagai sungai.


Guru James dijegal dan dia terus-menerus dipukuli, jadi bagaimana dia bisa mencari celah ketika Arya bahkan tidak memberinya sedetik pun untuk bernapas?


"Aku sudah mengatakan padamu, jangan pernah sebut ibuku dengan mulut busukmu, keparat!!!"


Arya tidak berhenti memukul bahkan ketika tangannya dipenuhi darah. Matanya memancarkan cahaya berbahaya yang penuh kebencian.


Napas Arya perlahan memburu dan dia terengah-engah. Menghentikan pukulannya, dia menatap Guru James yang tergeletak lemas.


Guru James terengah-engah dan batuk beberapa kali. Hidungnya mengeluarkan darah yang tak berhenti mengalir. Namun, matanya tidak menunjukan rasa bersalah sedikitpun ketika dia melirik Arya. Dia justru menyeringai mengejek, seakan apa yang dia katakan tentang ibu Arya bukanlah apa-apa.