Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 43 - Teman atau Pacar?



‍‍‍‍Seperti rutinitas harian biasanya, Lucy yang baru bangun dari tidurnya akan menatap wajah Arya yang masih tertidur. Dia menatapnya dengan penuh kasih dan menikmati momen semacam ini.


Merasa sudah puas, Lucy mencium dahi Arya yang masih tertidur dan beranjak dari kasurnya.


Kemudian, gadis cantik tersebut pergi membereskan rumah, lalu mandi dan memasak untuk sarapan Arya dan David. Dia benar-benar gadis idaman yang sudah paham tentang apa saja yang harus dia lakukan di pagi hari, benar-benar istri idaman.


Ketika memasak, Arya biasanya akan terbangun dari tidurnya. Dia juga langsung merapikan tempat tidur, jadi Lucy tidak terlalu terbebani.


Pemuda tersebut segera menghampiri Lucy yang sedang memasak. Selain itu, dapur juga dekat dengan kamar mandi, jadi dia memiliki dua tujuan saat ini.


Melihat Arya sudah bangun, Lucy memiringkan kepalanya dan memberinya senyuman manis.


"Arya, selamat...!"


Ketika Lucy ingin mengucapkan selamat pagi, mulutnya tiba-tiba terbungkam oleh bibir hangat Arya yang baru bangun tidur itu.


Lucy tidak terlalu terkejut karena dicium tiba-tiba seperti ini. Sejak satu minggu yang lalu, Arya selalu menciumnya setiap habis bangun tidur ataupun sebelum tidur.


Ini membuat Lucy sangat terkejut ketika dia tiba-tiba dicium oleh Arya satu minggu yang lalu, tepat sesaat setelah pemuda itu bangun tidur.


Namun, kini dia sudah terbiasa dan selalu membalas ciuman di pagi hari itu. Selain itu, melakukan ciuman sehabis bangun tidur dapat meningkatkan mood dan mengurangi stres, jadi Lucy tidak mempermasalahkan ini. Dia justru senang dengan ini.


Setelah puas mencium Lucy, Arya menarik kembali bibirnya. Dia menatap Lucy dengan hangat dan memberikan senyum lembut sebelum meninggalkan Lucy ke kamar mandi.


Lucy agak bingung tapi dia hanya mendengus dan menatap punggung Arya sambil tersenyum tipis.


"Sungguh, dia punya kebiasaan pagi hari yang unik."


*****


Di SMA Daeil, saat jam istirahat tiba, Arya dan Lucy sibuk mengobrol di kelas. Keduanya terlihat begitu asiknya mengobrol, mengabaikan orang-orang di sekeliling.


Arya dan Lucy juga melakukan beberapa kontak fisik di depan teman-teman di kelas.


Tentunya, hal tersebut membuat para pria muda di kelas merasa iri pada Arya karena dia bisa bermesraan dengan gadis paling cantik di seluruh SMA Daeil. Tapi, meski mereka iri, mereka hanya bisa menatap dari kejauhan. Jika mereka mengeluarkan suara dan mengganggu Arya dan Lucy yang sedang mesra itu, mereka yakin kalau mereka akan dihajar oleh Arya.


Arya sendiri selalu memberikan tatapan tajam dan dingin pada pria manapun yang berani menatap Lucy lebih dari lima detik.


Ketika Arya mengelus dan mencubit pipi Lucy, semua orang memfokuskan pandangan mereka pada dua orang tersebut.


Lucy hanya tertawa kecil dan tersenyum manis, membuat semua pria muda yang melihatnya merasa damai, tapi mereka juga tambah iri.


Akhirnya, setelah sekian lama Arya dan Lucy bermesraan ada seorang gadis yang berani menghentikan keduanya. Dia menyadarkan Arya dan Lucy yang terlalu mesra itu.


"Permisi, maaf mengganggu waktu mesra kalian, tapi tolong lihat sekeliling jika ingin bermesraan. Lihat, para pria di sana menangis karena iri."


Gadis tersebut, yaitu Helen, menegur Arya dan Lucy tanpa ragu. Dia juga menunjukan pada dua orang itu kalau setidaknya, ada beberapa pemuda yang menangis di pojokan karena iri.


Helen sendiri merupakan teman baik Lucy sejak dia dipindahkan ke kelas 3-3. Dia juga merupakan satu dari sedikit orang yang tidak percaya tentang rumor Lucy yang disebarkan oleh Rui saat itu.


Arya sudah mengkonfirmasi hal ini, jadi Lucy tidak ragu untuk berhubungan baik dengan Helen.


Arya yang mendengar ini segera melihat sekeliling. Benar saja, hampir semua orang fokus padanya dan ada juga sekelompok pemuda lainnya yang sedang menangis di pojokan.


Mengabaikan tatapan orang-orang, Arya membalas mereka dengan tatapan tajam, membuat mereka ketakutan dan mengalihkan pandangannya dari dirinya dan Lucy.


"Maaf, Helen. Aku lengah dan tidak sengaja bermesraan dengan Lucy tadi. Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah menyadarkanku dan Lucy."


Arya tertawa canggung. Dia merasa tidak nyaman ketika bermesraan di depan orang lain tapi terkadang, ketika dia sudah merasa nyaman dia akan melupakan sekeliling dan hanya fokus pada Lucy.


Lucy yang menyadari hal ini memerah karena malu dan dia minta maaf pada Helen.


"Ya ampun, kalian ini..." Helen menghela nafas.


"Sekali lagi, maaf dan terima kasih."


"Yah, terserahlah. Ngomong-ngomong, sejak kapan kalian pacaran? Aku selalu penasaran akan hal itu. Selain itu, aku juga ingin tahu, siapa yang mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Kau atau Lucy?"


"Ah, sepertinya kau salah paham, Helen. Aku dan Lucy tidak pacaran. Kami hanya teman."


Arya menjawab dengan cepat.


Seperti yang dia katakan tadi, dia dan Lucy memang hanya teman tanpa hubungan asmara yang jelas.


Arya dan Lucy memang saling mencintai, tapi mereka bukanlah pasangan kekasih.


Lucy yang mendengar bahwa dia hanyalah teman bagi Arya terkejut dan melebarkan matanya. Dadanya seketika sakit dan sesak. Dia menatap Arya dengan ketidakpercayaan.


Dia pikir selama ini dia adalah orang yang istimewa dan spesial bagi Arya. Tapi hari ini, Lucy jadi tahu kalau dia sebenarnya hanya teman bagi pemuda tersebut.


Jelas, Lucy sangat sedih.


Sudah banyak hal yang mereka lalui bersama. Ciuman pertamanya diambil oleh Arya dan mereka juga sering tidur di ranjang yang sama, jadi seharusnya status Lucy bukanlah teman semata bagi Arya.


"Tidak, tidak mungkin kalian tidak berpacaran. Kalian selalu terlihat bersama dan kalian juga selalu terlihat mesra setiap saat."


"Serius, aku dan Lucy tidak pacaran."


Arya kembali membantah.


Lucy jadi tambah sedih dan merasa sakit di dadanya. Dia hanya mengharapkan Arya berkata kalau mereka adalah sepasang kekasih, tapi sepertinya kalimat semacam itu sulit untuk keluar dari mulut Arya.


Lucy ingin menangis saat ini, tapi dia menahannya.


"Hm..."


Helen membuat tatapan curiga saat Arya berkata kalau dia dan Lucy tidak pacaran.


Helen lalu membuat senyum samar dan berbalik.


"Baiklah, untuk saat ini aku percaya kalau kalian hanya teman."


Helen lalu meninggalkan Arya dan Lucy.


*****


Malam harinya, Lucy masih terlihat sedih dan dia banyak diam sejak istirahat makan siang di sekolah tadi. Selain itu, dia juga menjaga jarak dari Arya, membuat pemuda tersebut merasa kebingungan.


Di ruang TV, terlihat dua orang sedang duduk bersebelahan dengan jarak beberapa kepal tangan. Keduanya tidak lain adalah Arya dan Lucy.


Biasanya, ketika menonton TV bersama, mereka akan saling bersandar dan berpegangan tangan, berbagi kehangatan. Tapi kali ini, Lucy menjaga jarak.


Arya mengerutkan dahinya saat menatap Lucy dengan kebingungan. Tidak biasanga Ratu kesayangannya akan bersikap seperti ini, apalagi menjaga jarak darinya.


Karena penasaran, Arya mendekati Lucy dan bertanya dengan lembut.


"Lucy, apakah ada masalah hari ini? Sikapmu agak aneh hari ini. Maukah kamu memberitahuku, masalah macam apa yang kamu hadapi?"


Arya bertanya selembut mungkin.


Namun, Lucy tetap diam dan hanya meliriknya sejenak dengan dingin sebelum bangun dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Arya begitu saja.


Arya jelas terkejut dan segera mengejar Lucy.


"Tunggu, ada apa denganmu? Ceritakan padaku jika kamu memang memikiki masalah."


Arya mengejar Lucy, meraih lengan gadis tersebut.


Tapi, yang membuatnya lebih terkejut adalah Lucy menepis tangannya dan berteriak marah padanya.


"Masalah? Ya, aku memilikinya dan kamu adalah sumber masalahnya! Semuanya adalah salahmu! Jika saja aku tidak berharap banyak padamu, aku tidak akan merasa sekecewa dan sesedih ini!"


Lucy benar-benar marah pada Arya. Dia memelototi pemuda tersebut sebelum akhirnya berbalik dan pergi ke kamarnya.


Arya semakin kebingungan dengan ucapan gadis tersebut, tapi dia mengabaikan kebingungannya dan kembali mengejar gadis tersebut.


"Lucy, apakah aku membuat kesalahan? Aku minta maaf jika aku memang berbuat salah."


Arya berkata demikian dari luar kamar Lucy karena dia tidak dibukakan pintu.


"Berisik! Aku tidak ingin mendengar permintaaan maafmu! Aku yang salah di sini karena terlalu berharap padamu!"


Lucy tidak mau kalah dan membalas dari dalam kamarnya. Nadanya penuh amarah dan kesedihan disaat yang sama.


Arya semakin kebingungan tapi dia juga sudah mencapai batasnya. Dia membalas Lucy dengan nada yang lebih tinggi, agak marah karena gadis kecil ini tidak memberinya alasan yang jelas dan malah memarahinya tanpa dia ketahui kesalahannya di mana.


Keduanya kemudian berakhir berdebat dan suara mereka cukup keras hingga bisa di dengar dari luar.


Setelah sepuluh menit berdebat, baik Arya maupun Lucy tampaknya kelelahan dan mereka diam selama beberapa saat.


"Lucy, biarkan aku masuk, oke?"


"Arya, cukup. Aku lelah sekarang, jadi kamu boleh pulang."


Lucy terdengar sedih dan nadanya gemetar.


Arya mendengarnya dengan jelas dan ingin masuk ke dalam kamar Lucy. Tapi pada akhirnya, dia menghelas nafas pasrah dan dengan agak bersalah, dia mengucapkan selamat malam pada Lucy.


"Jarang sekali mendengar kalian bertengkar. Apakah kau membuat kesalahan, Arya?"


David yang sejak tadi mendengarkan pertengkaran Arya dan Lucy meledek. Sudah cukup lama sejak terakhir kali kedua adiknya ini bertengkar, jadi dia agak heran dan ingin meledek sedikit.


"Aku tidak tahu apa kesalahanku, tapi aku tiba-tiba dimarahi olehnya seenak jidat."


"Yah, berarti kau memang membuat kesalahan pada Lucy. Jangan terlalu terbawa emosi. Pikirkan apa saja yang telah kamu lakukan seharian ini, sehingga membuat Lucy marah. Pikirkan baik-baik dan jika kamu sudah menemukan jawabannya, minta maaf pada Lucy dan bicarakan semuanya baik-baik, paham?"


David menasehati Arya dengan lembut. Dia juga tidak ingin Arya dan Lucy bertengkar terlalu lama.


Arya mengangguk sebagai jawaban.


Beralih pada Lucy, dia duduk di kasurnya dan memeluk kedua lututnya sambil menahan air mata yang hampir menetes.


Hatinya sangat sakit saat mengingat ucapan Arya yang menganggap dirinya hanya teman.


Banyak pertanyaan melintas di benak Lucy. Dia ingin tahu, sebenarnya Arya menganggapnya teman biasa atau kekasih?


'Jadi, selama ini aku hanya dianggap teman olehnya?'


'Jadi ciuman yang biasa kita lakukan hanyalah sebuah hal yang biasa baginya, kan? Aku hanya teman baginya, jadi tidak masalah jika Arya mencium orang lain yang dia anggap teman juga, kan?'


'Kenapa dia tidak mau pacaran denganku? Apakah karena dia masih mengingat kedua mantannya dulu?'


'Sebenarnya aku apa dimatanya? Teman atau pacar?'


Lucy meneteskan air matanya tanpa dia sadari.


Perasaannya campur aduk antara marah, sedih dan kecewa.


Tiba-tiba, ketika Lucy sedang memikirkan banyak hal tentang hubungannya dengan Arya, suara ketukan pintu terdengar.


Lucy segera menyeka air matanya dan membuka pintu.


Ternyata, yang mengetuk pintu adalah David.


"Lucy, kamu bertengkar dengan Arya, ya? Ada apa dengan kalian, hingga bertengkar seperti ini?"


David tersenyum sambil berkata dengan lembut.


"Semua adalah salah Arya. Dia sungguh jahat padaku!"


Lucy menggertakkan giginya, marah pada Arya.


"Baiklah, ceritakan semuanya pada Kakak. Kakak akan mendengarkan semuanya, oke?"


David menyeka air mata Lucy dengan pelan. Dia sebenarnya agak terkejut ketika mengetahui kalau Lucy sampai menangis karena bertengkar dengan Arya.


Kemudian, David mengajak Lucy ke ruang TV dan gadis itu menjelaskan semuanya pada kakaknya itu.


"Jadi, maksudmu Arya hanya menganggapmu teman, padahal kalian sudah sejauh ini?"


"Iya..." Lucy cemberut.


"Jika itu masalahnya, kenapa kamu tidak tanya saja pada Arya? Tanyakan padanya alasan mengapa dia tidak memacarimu dan hanya menganggapmu teman. Jika seperti itu, kalian tidak perlu bertengkar."


"Tidak mau! Aku ingin Arya menyadari sendiri kesalahannya. Dia yang salah, jadi kenapa aku harus mengalah dengan bertanya padanya?"


Lucy mendengus saat tatapannya tajam, membuat David tidak tahu harus menangis atau tertawa.


Menghela nafas, David menasehati Lucy seperti dia menasehati Arya tadi.


"Adikku, Lucy, dengarkan aku. Arya itu terkadang tidak peka. Yang Arya tahu hanyalah membunuh dan membunuh. Jadi, seandainya kamu memang ada masalah dengan Arya dan Arya tidak peka, ada baiknya kamu memberitahunya kesalahannya, jadi kalian bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik-baik. Jadi, kamu tidak perlu marah-marah padanya."


"Kak, sebenarnya kamu dipihak siapa?"


Lucy mengerutkan dahinya, merasa tidak senang karena David terlihat lebih membela Arya daripada dirinya.


"Aku tidak dipihak siapapun. Aku selalu mendukung kalian berdua. Entah kalian berpacaran atau tidak, Kakak pasti akan selalu dukung. Apakah kamu tahu alasannya?


Lucy menggeleng mendengar ini.


"Alasannya sederhana. Karena aku tahu kalian saling menyukai dan saling mencintai. Hubungan semacam pacaran tidak terlalu penting, karena itu hanya sebuah status. Yang paling penting bagiku sendiri itu perasaan kalian masing-masing. Jadi, besok kamu coba tanyakan padanya, oke?"


"Umm... Oke."


Setelah mendengar nasehat David, Lucy merenung sejenak dan dia menjadi lebih tenang. Tapi meski begitu, hatinya tetap sakit.


*****


Di dalam kamar, terlihat seorang pemuda sedang berbaring di atas kasur, menatap langit-langit.


Yap, pemuda itu adalah Arya. Dia sedang memikirkan maksud dibalik kata-kata Lucy.


Selain itu, berkat nasehat dari David, dia mulai memikirkan semua hal yang telah dia lakukan selama satu hari ini dan mulai mencari di mana titik kesalahannya. Dia dengan sabar mengingat semuanya.


'Lucy terlalu berharap padaku? Apa maksudnya?'


'Dan juga, kenapa Lucy marah sejak pulang sekolah tadi? Dia terlihat baik-baik saja saat istirahat makan siang tadi. Kami juga masih bisa bercanda riang, jadi di mana letak kesalahanku?'


Arya kemudian mencoba mengingat-ingat semuanya untuk kesekian kalinya.


Setelah berpikir cukup lama, Arya menepuk dahinya ketika dia akhirnya sadar kesalahannya yang telah dia perbuat.


Ternyata, Lucy jadi marah padanya sejak Helen menanyakan tentang hubungannya dengan Lucy.


Pada saat itu, dia menjawab kalau dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Lucy dan setelah itu, sikap Lucy berubah.


"Sial, kenapa aku begitu bodoh?"


Arya mencela dirinya sendiri.


Setelah mengetahui kesalahannya, Arya langsung mengambil handphonenya dan menelepon Lucy.


Tapi sayangnya, Lucy sepertinya sudah tidur, jadi teleponnya tidak diangkat.


Melihat jam di handphonenya, Arya menghela nafas mengetahui sekarang telah lewat tengah malam.


Dia dengan pasrah hanya bisa menunggu matahari terbit sebelum akhirnya bisa bertemu dengan Lucy untuk menjelaskan semuanya.