Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 63 - Suapan dari Yuki



Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang dan semuanya mulai menyantap makanan yang mereka pesan masing-masing.


Yuki mendapat spagetinya, tapi tidak langsung memakanannya. Dia mengambil handphonenya, hendak memfoto spageti tersebut.


Spageti yang Yuki pesan memiliki warna yang cantik dan disusun secara rapi. Itu terkesan cantik bagi Yuki, jadi dia ingin memotretnya untuk dipamerkan di sosial medianya. Dia cukup gaul untuk hal semacam ini.


Arya yang melirik dari samping agak terkejut. Dia tidak menyangka jika Yuki cukup gaul.


Mengalihkan pandangannya ke spageti milik Yuki, Arya mengetahui alasan mengapa wanita ini mengambil foto. Itu semua karena spagetinya terlihat cantik.


Merasakan tatapan Arya, Yuki menoleh dan menatapnya.


Mata mereka bertemu, membuat Arya meremas senyum canggung.


"Arya, mau mencobanya?" Yuki bertanya.


"Ti-tidak perlu, Tante."


"Eh? Jangan begitu, kamu yang mentraktirku, jadi tidak masalah jika berbagi sedikit. Ini, buka mulutmu."


Yuki mengabaikan Arya, mengambil satu sendok spagetinya dan membawanya ke hadapan Arya dengan satu tangannya hendak menyuapi Arya sementara tangan lainnya berada di bawahnya.


Arya tersenyum masam dengan perubahan ini. Dia hanya iseng melihat kenapa Yuko memfoto spagetinya, namun tiba-tiba dia malah disuapi seperti ini.


Dia ingin menolak, namun karena Yuki telah memberikannya bahkan mengambil inisiatif untuk menyuapinya, Arya tidak bisa menolak. Jika dia menolak, itu hanya akan membuat Yuki malu.


Membuka mulutnya, Arya memakan spageti yang diberikan Yuki olehnya.


Adegan suap-menyuapi itu terjadi begitu alami, seperti yang biasanya para pasangan kekasih lakukan.


Helen dan Nia tidak bisa menahan perasaan terkejut dan sudut mulut mereka berkedut. Arya sudah memiliki pacar, yaitu Lucy. Jadi, bagaimana bisa dia dengan mudah menerima suapan orang lain, terutama orang itu adalah wanita cantik?


Sekarang, Helen dan Nia semakin yakin jika Arya memiliki semacam hubungan yang tidak biasa dengan Yuki.


Setelah selesai menikmati makan siang mereka, Arya dan lainnya kembali ke topik utama sambil menikmati makanan penutup.


Yuki, Helen dan Nia memesan es krim sementara Arya memesan kopi hitam.


Ketika sedang berbincang masalah hadiah ulang tahun, Yuki menatap kopi hitam Arya dengan heran. Menurutnya, tidak seharusnya seorang siswa muda seperti Arya menikmati kopi hitam. Bukan berarti dia melarang, hanya saja ini pemandangan yang jarang baginya.


"Apakah itu tidak pahit, Arya?"


Yuki bertanya pada Arya yang sedang menyesap kopinya.


"Tidak juga. Apakah Tante ingin mencobanya?"


Arya terkekeh, jelas bercanda. Dia mendorong cangkir kopinya ke depan Yuki.


Yuki agak terkejut, namun dia segera tersenyum dan mengambil cangkir kopi Arya, menyesapnya.


Arya terkejut dan terdiam, tidak menyangka bahwa Yuki akan bertindak demikian. Lagi pula, dia hanya bercanda. Selain itu, yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah Yuki menyesap kopinya di tempat di mana dia menyesap tadi.


Itu jelas ciuman tidak langsung, membuat Arya memerah tanpa sadar. Dia tidak tahu apakah Yuki sengaja atau tidak, jadi dia segera menggelengkan kepalanya.


Setelah menyesap kopinya, ekspresi Yuki berubah dan dia segera mengembalikan kopinya ke Arya.


Yuki berkata. Dia memang tidak begitu menyukai kopi, jadi wajar jika dia bereaksi seperti ini.


Mengambil satu sendok es krim dari mangkuk, Yuki memakannya agar rasa pahit dari kopi tadi hilang. Berpikir sejenak, dia mengambil satu sendok lagi, memberikannya pada Arya.


"Ini, makanlah agar kamu tidak terlalu merasakan pahitnya kopi itu. Tidak baik jika kamu meminum sesuatu yang pahit secara berlebihan. Kamu harus mengimbanginya dengan sesuatu yang manis."


"Ti-tidak, Tante. Aku akan memesan es krim saja lagi, Tante bisa menikmatinya sendiri." Arya menolak, wajahnya masih agak merah.


Seakan mengabaikan Arya, Yuki tetap memaksa Arya memakan es krim yang dia berikan dengan ekspresi cemberut dan tidak senang. Dia menatap Arya dengan kesal dan pipinya agak menggembung, menampilkan sisi imut Yuki.


Arya terpesona, merasa bahwa pesona dan daya tarik wanita dewasa benar-bebar menakutkan.


Memakan es krim yang Yuki berikan padanya, Arya merasa agak malu. Ini adalah kedua kalinya dia menerima suapan dari Yuki, di hadapan Helen dan Nia.


Yuki yang melihat Arya menerima suapannya segera tersenyum manis. Ekspresi cemberut dan ketidaksenangannya menghilang, digantikan ekspresi bahagia.


Helen dan Nia semakin berkedut.


Tidak tahan, Helen mengirim pesan pada Arya melalui handphonenya.


"Hei, tukang selingkuh. Siapa wanita ini? Kau selingkuh, kan?"


Sesaat setelah Helen mengirim pesan, handphone Arya berdering sejenak dan dia segera mengeceknya.


Membaca pesan Helen, dia terkejut dan tidak menahan kedutan di sudut mulutnya.


"Kau gila, bagaimana mungkin aku selingkuh? Wanita adalah ibu dari temanku, Niko. Namanya Yuki, dia memang berpenampilan awet muda, jadi jangan salah paham!"


"Huh, pembohong! Mana mungkin ada seseorang yang mengakui kejahatannya? Jujur padaku, kau selingkuh, benar? Jangan berbohong lagi, atau aku akan memberi tahu Lucy dan memberikannya fotomu dan tantemu ini sedang saling menyuapi."


Helen mengamcam melalui pesannya. Dia tadi secara sengaja memfoto Arya yang disuapi Yuki tadi, baik saat Arya disuapi spageti dan saat Arya disuapi es krim.


Arya terkejut saat membacanya dan segera membalas. Dia menjelaskan secara mati-matian bahwa dia tidak selingkuh dan mengenalkan Yuki secara merinci.


Baru setelah itu, Helen sedikit percaya padanya dan meminta maaf.


Namun, itu bukan berarti dia menghapus foto Arya dan Yuki yang sedang saling menyuapi tadi. Dia malah mengirim foto tersebut pada Lucy dengan sengaja.


Jelas, Helen sengaja melakukannya. Dia ingin melihat, bagaimana cara Arya menangani Lucy yang sedang marah padanya? Ini pasti akan menjadi tontonan yang bagus.


*****


Setelah selesai makan siang dan mengobrol sedikit, Arya dan tiga lainnya mulai pergi mencari hadiah ulang tahun untuk Lucy.


Dimulai dengan Helen, dia pergi ke toko boneka dan berkeliling sejenak sebelum akhirnya membeli dua boneka, satu boneka kelinci sedangkan yang lainnya boneka kucing.


Kemudian Nia, dia pergi ke toko pakaian. Dia berkeliling cukup lama karena tidak terlalu memahami selera pakaian Lucy. Tapi berkat saran Arya, semuanya jadi lebih mudah.


Nia membeli dua pasang pakaian. Satu pakaian kasual, untuk dipakai saat santai, di mana dia memilihnya sendiri sedang satu lainnya merupakan piyama, untuk digunakan saat tidur.


Untuk piyamanya sendiri, Nia dibantu oleh Arya. Tentunya, pemuda itu memilih yang sesuai selera Lucy dan juga seleranya. Jadi, tidak heran jika piyama ini agak provokatif.


Dan terakhir adalah Arya. Dia adalah yang paling lama berkeliling di mall. Dia memilih banyak toko perhiasan untuk membeli kalung sebagai hadiah ulang tahun, namun hampir semua kalung yang dia lihat kurang menarik minatnya.