Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 161 - Menyelamatkan Lucy



Di sebuah rumah yang berada di pelabuhan, di dalamnya terlihat sekitar sepuluh orang pria dan lebih dari dua lusin gadis-gadis muda. Setiap gadis itu diikat di kaki dan tangan mereka. Mereka semua menangis dan terus memanggil ayah dan ibu mereka, berharap pertolongan.


Para gadis ini merupakan korban penculikan yang dilakukan oleh sepuluh pria ini. Mereka semua berniat menjual para gadis ini keluar negeri.


Tiba-tiba, ketika para pria sedang mengobrol dan tertawa memikirkan banyaknya gadis yang berhasil mereka culik, seorang pria lainnya masuk dengan tergesa-gesa.


Pria yang baru saja masuk itu terengah-engah dengan wajah pucat dan memiliki luka di tangan dan pinggangnya, berdarah bagai sungai.


"Bos, ada penyusup datang!"


Pria itu berkata dengan berat.


Semua orang terkejut dan seorang pria kekar dengan wajah seram maju, mendekati orang yang baru saja masuk dan terluka itu.


"Ada penyusup? Jelaskan semuanya." Pria kekar berwajah seram itu berkata dan segera, penjelasan dia dapat.


"Ada penyusup yang berhasil masuk dan membunuh anggotaku?"


Pria kekar berwajah seram itu mengerutkan dahinya sambil mengelus dagunya.


Dia merupakan bos pemimpin dalam penculikan kali ini dan baru saja, dia mendapatkan kabar dari bawahannya jika ada dua orang penyusup yang berhasil mengetahui penculikan yang dia lakukan dan membunuh bawahannya.


"Benar, Bos! Saya sudah berusaha bersama yang lain, tapi mereka berdua memiliki pistol! Saya hanya menggunakan belati bersama rekan-rekan yang lain, jadi kami terdesak dan kalah... Saya beruntung bisa berhasil selamat meski terluka!"


Pria yang melapor merupakan pria yang Arya lawan sebelumnya, yang terluka di bagian tangan dan pinggang. Dia berhasil kabur berkat dua temannya mengganggu perkelahiannya dengan Arya.


Berkat dua orang rekannya, dia berhasil kabur setelah mengetahui keadaan tidak menguntungkan.


"Begitu, ya. Bagus, biarkan mereka datang! Hanya dua orang, apa yang perlu ditakuti? Mereka punya pistol, tapi bukankah kita juga punya hal yang sama? Jumlah kita bahkan lebih banyak dari dua orang itu."


Bos tertawa kejam, tidak menganggap serius dua orang penyusup ini. Lawannya merupakan dua orang bersenjata api, namun dia dan bawahannya memiliki hal yang sama bahkan dia lebih unggul dalam jumlah.


Pria yang melapor tadi terkejut, namun dia segera mengangguk. Dia sangat tahu jika bosnya begitu suka perkelahian dan baku tembak.


Di saat Bos dan bawahannya berbincang, seorang gadis berambut hitam memperhatikan mereka dengan dahi berkerut. Dia menatap tajam Bos dan lainnya dengan ketidaksenangan.


'Itu pasti Arya. Tapi kenapa dia bisa memiliki pistol? Siapa sebenarnya yang datang?'


Lucy berpikir demikian. Dia sangat yakin jika yang datang adalah Arya, kekasihnya untuk menyelamatkannya. Di saat-saat terakhir sebelum dia kehilangan kesadarannya saat diculik, dia bisa melihat siluet Arya berlari ke arahnya dengan wajah marah dan kedua belati di tangannya. Jadi, dia sangat yakin datang menyelamatkannya.


Tapi, mendengar jika yang datang dua orang, Lucy merasa aneh dan heran.


Di tempatnya disekap ini, ada lebih dari dua puluh gadis seusianya bahkan beberapa lebih tua diculik bersamanya. Dia tidak tahu tujuan apa dia diculik, namun ini benar-benar membuatnya takut. Hanya kepercayaannya pada Arya yang bisa membuat Lucy tenang.


Dia sangat yakin Arya pasti akan menyelamatkannya.


"Bos, bagaimana ini? Bagaimana jika penyusup itu datang dan menggagalkan rencana kita?" Tanya seseorang.


"Tenanglah, bodoh. Hanya dua orang, apa yang perlu ditakuti?"


Bos menjawab dengan ringan, tertawa kejam tanpa rasa takut. Dia sangat yakin dengan bawahannya yang bersamanya.


Bawahannya yang berjaga di luar merupakan amatir, bahkan beberapa belum pernah membunuh. Tapi bawahannya yang bersamanya kali ini, mereka semua berpengalaman dan sudah tidak terhitung orang yang mereka bunuh selama ini.


Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Bos, mereka datang!"


Orang yang melapor tadi berteriak ketika dia melihat siluet dua orang berlari ke arah rumah yang mereka tempati ini.


"Biarkan mereka datang." Kata Bos dengan santai, menatap bawahannya satu per satu.


Semua bawahannya mengangguk dan senyum jahat menghiasi wajah mereka.


Dalam waktu sekejap, pintu rumah didobrak dan pintu segera terbuka dalam sekejap, menampakkan dua orang yang sedikit terengah-engah. Salah satunya merupakan seorang pemuda, sementara lainnya merupakan pria berusia sekitar empat puluh tahun lebih.


Mereka berdua jelas Arya dan Luois. Mereka berhasil menemukan rumah ini berkat mengikuti orang yang Arya lukai dan kabur tadi.


Semua orang yang berada di dalam rumah tersebut terkejut melihat kedatangan Arya dan Luois. Para gadis yang diculik menatap dua orang ini dengan mata berharap, berharap mereka diselamatkan dan dikembalikan ke keluarga mereka


"Lihat, mereka sudah sampai. Sepertinya kita akan memiliki dua mayat untuk dijadikan makanan ikan di laut nanti."


Bos mencibir saat sudut mulutnya terangkat. Matanya menatap tajam Luois, lalu Arya. Dia agak terkejut ketika melihat Arya.


Dia terlihat masih muda, namun ketika melihat matanya, Bos bisa melihat jika Arya bukanlah sembarang orang. Pemuda ini memiliki mata kejam tanpa ampun dan sepertinya, pemuda ini sudah pernah membunuh banyak sekali orang.


Mengalihkan pandangannya pada sepuluh bawahannya, Bos menyuruh mereka semua bersiap dan mengeluarkan pistol revolver mereka, namun bahkan sebelum suaranya Bos keluar, suara tembakan beruntun terdengar diikuti dengan teriakan kesakitan.


Setengah dari bawahan Bos penculik terjatuh ke lantai dan berguling-guling, mengerang saat tubuh mereka tertembak dan mengeluarkan darah yang banyak.


Suara tembakan itu sendiri berasa dari Arya dan Luois. Mereka menembak dengan cepat tanpa ragu.