
Kepala Kepolisian mengerutkan dahi dan ekspresinya berubah. Dari apa yang dia dengar dari empat gadis ini dan Luois, ceritanya berbeda.
Namun, dia hanya mendengar jika Arya datang bersama Luois dan menembak mati para penculik, namun dia tidak mendengar dan tidak tahu kejadian awal bagaimana Arya dan Luois bertemu.
Selain itu, dia sudah memerintahkan beberapa bawahannya untuk mencari barang bukti jika Arya membunuh, namun hasilnya nihil. Jadi, keyakinannya jika Arya membunuh semakin menurun dan sepertinya, pembelaan diri Arya jika dia tidak membunuh benar apa adanya.
Menghela napas tanpa daya, Kepala Kepolisian berkata dengan serius.
"Awalnya saya memiliki kecurigaan pada bocah ini karena dia dilaporkan membunuh, tapi sepertinya itu adalah laporan tak mendasar. Tapi, sebagai kepala kepolisian, saya harus bersikap profesional dan menjalankan tugas dengan benar. Saya perlu mengintrogasi bocah ini dan Anda, Tuan. Bersediakah Anda untuk ditanyakan beberapa hal?"
Mendengar itu, Luois diam. Jika dia menuruti permintaan Kepala Kepolisian ini, itu agak merepotkan. Jika dia menolak, itu akan menimbulkan kecurigaan.
"Luois, apa yang membuatmu begitu lama?"
Tiba-tiba, ketika Luois sedang tenggelam dalam pikirannya, suara wanita terdengar.
Semua orang segera memfokuskan pandangan mereka pada arah datangnya suara tersebut.
Menoleh, Luois sangat mengetahui suara siapa ini. Suara ini tidak lain adalah milik Putri Inggris.
"Maaf, Putri. Saya baru saja berunding dengan Kepala Kepolisian dan kami hampir tiba di akhir kesepakatan." Luois beralasan. Keringat dingin menetes dari pipinya.
Mendengar itu, Putri Inggris hanya mendengus dingin dan mengalihkan pandangannya pada Arya.
Arya yang ditatap Putri Inggris memiliki tatapan terkejut dan tidak percaya. Matanya menunjukkan jika benar-benar terkejut melihat Putri Inggris.
"Ternyata itu benar kamu, Arya. Aku tidak sangka jika kamu akan terlibat dalam penyelamatan penculikan ini."
Putri Inggris berkata dengan nada pelan namun sedikit dingin.
Mengedipkan matanya beberapa kali, Arya mencoba untuk berpikir jika dia salah kenal. Dia juga menggosok matanya berulang kali, berharap jika wanita di depannya ini bukanlah orang yang dia kenal.
"Marissa... Itu kau? Apa yang kau lakukan di sini?"
Suara Arya gemetar. Dia menatap Marissa dengan bingung. Banyak pertanyaan melintas di benaknya.
Selain itu, dia sempat mendengar jika Luois memanggil Marissa dengan panggilan "Putri" dan nada yang digunakan Luois begitu hormat dan sopan.
'Luois adalah pengawal pribadi Putri Inggris. Jika dia memanggil Marissa dengan panggilan "Putri", bukankah itu artinya Marissa adalah Putri Inggris?'
Sebuah pikiran liar melintas di benak Arya. Wajahnya semakin terlihat terkejut dan keringat dingin menetes dari dahinya.
Rambut pirang dengan mata biru cerah bagai berlian serta wajah cantiknya itu, bagaimana mungkin Arya salah mengenali jika wanita ini adalah Marissa?
Tapi hal yang mengejutkannya adalah jika Marissa sebenarnya adalah Putri Inggris! Ini benar-benar diluar dugaannya.
Jika dia tahu Marissa adalah Putri Inggris sejak awal, dia tidak akan berani bersikap kurang ajar dan menggunakan nada seenaknya ketika berbicara dengan Marissa ketika pergi keluar bersamanya saat itu.
Tersenyum penuh makna, Marissa menghela napas pelan. Tampaknya identitasnya sebagai Putri Inggris sudah ketahuan, jadi percuma saja menutupinya.
"Ya, aku memang Putri Inggris. Aku sedang jenuh berada di Inggris, jadi aku pergi berlibur sebentar. Baiklah, cukup penjelasan tidak pentingnya. Sekarang, karena kamu telah membantu Luois menyelamatkanku dari para penculik itu, biar aku bantu kamu lepas dari para polisi ini."
Marissa menunjukkan senyum lembutnya sebelum mengalihkan pandangannya pada Luois dan Kepala Kepolisian.
Saat matanya bertemu dengan mata Marissa, Kepala Kepolisian seketika merinding dan menunduk tanpa dia sadari. Mendengar nada hormat Luois dan percakapan antara Arya dan Marissa tadi, dia jelas mengetahui jika wanita berambut pirang ini memiliki kedudukan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.
"Kepala Kepolisian kota Vant, benar? Saya adalah Putri Inggris, Marissa. Pria yang baru saja berunding dengan Anda tadi adalah Luois, pengawal pribadi saya. Adapun pemuda di sana, dia adalah kenalan saya juga. Saya sudah dengar dari Luois jika pemuda ini dicurigai membunuh. Tapi, saya tidak yakin akan hal itu. Bisakah Anda tunjukkan bukti selain saksi mata?"
Marissa memperkenalkan dirinya, lalu bertanya dengan nada penuh penekanan.
Kepala Kepolisian terdiam cukup lama, memilah kata-katanya agar tidak salah ucap.
"Putri Inggris, benar? Maafkan kelancangan saya karena tidak menyambut Anda dengan baik. Untuk bukti yang Anda minta, bawahan saya sedang mencarinya namun mereka belum menemukannya."
"Oh, begitu. Jadi, bukankah itu artinya jika pemuda ini tidak bersalah? Untuk membuktikan seseorang bersalah atau tidak, itu diperlukan bukti dan saksi mata. Saksi mata memang sudah ada, tapi bukti belum ditemukan. Jadi, Kepala Kepolisian, bagaimana jika kecurigaan Anda terhadap pemuda ini dihilangkan dan biarkan dia pergi? Tapi tenang saja. Jika bukti sudah ditemukan, Anda boleh menemui pemuda ini lagi dan menangkapnya jika dia memang bersalah."
Kepala Kepolisian terdiam seribu bahasa. Jika Marissa sudah berkata demikian, bagaimana bisa dia menolak?
Mengangguk dengan serius, Kepala Kepolisian berkata.
"Seperti yang Anda minta, Putri. Tapi, jika bocah ini benar bersalah, mohon izinkan saya untuk menangkapnya dan memenjarakannya."
Kepala Kepolisian menjadi serius di akhir kalimatnya.
Marissa hanya memberikan anggukan ringan sebelum memberi isyarat pada Luois untuk membawa Arya pergi.
Luois segera melaksanakan perintah. Dia menghampiri Arya, berbisik sedikit untuk menjelaskan situasi dan setelah itu mengajaknya meninggalkan ruangan yang dijadikan tempat interogasi itu.
Melihat kepergian Arya dan lainnya, Kepala Kepolisian menghela napas lega. Rasanya begitu tegang ketika berbicara dengan Putri Inggris yang memiliki kasta yang tinggi.
Adapun Tuti dan empat gadis itu, mereka terdiam sangat lama saking terkejutnya dengan kedatangan Putri Inggris yang membantu Arya lepas dari polisi.