Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 138 - Rencana yang Gagal Total



Pada siang harinya, sekitar jam dua siang


Arya dan Lucy berpamitan pada Erwin dan Emily sebelum kembali ke rumah kekasih Arya itu.


Tiba di sana, mereka berencana untuk menghabiskan waktu berduaan. Di jam seperti ini, David seharusnya masih bekerja dan kembali sore hari, bahkan mungkin malam karena lembur. Jadi, keduanya ingin berbagi kemesraan.


Beberapa hari ini, mereka berada di kota Bern di tempat Rosa. Jadi, mereka tidak bisa semesra biasanya karena kehadiran Rosa dan Andhika. Jadi mereka agak kesepian.


Begitu awalnya rencana mereka.


"Oh, akhirnya kalian pulang. Bagaimana perjalanan kalian? Lancar, kan? Oh, ya. Bagaimana kabar mama dan Andhika? Mereka sehat, kan?"


Saat Arya dan Lucy masuk ke rumah, mereka disambut oleh David yang tampak ceria itu.


Arya dan Lucy terdiam dan ekspresi mereka menjadi suram saat melihat David. Wajah keduanya dipenuhi kedutan tanpa henti.


Karena adanya David, bagaimana mereka bisa bermesraan dan berduaan seperti yang mereka rencanakan? Rencana mereka sepenuhnya gagal total!


"Kak, kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu seharusnya masih bekerja sekarang?"


Arya bertanya, nadanya dipenuhi kekesalan dan sedikit ancaman terbesit dalam suaranya.


"Oh, itu? Aku sedang dapat cuti dari bosku selama dua hari. Besok aku baru bekerja lagi."


David menjawab dengan ekspresi ceria dan matanya cerah, sepenuhnya bahagia karena dapat liburan selama dua hari.


Lucy yang mendengarnya mengatupkan giginya. Suara gemeretak dari giginya terdengar begitu mengerikan. Dia mendekati David dengan langkah mantap dan berhenti di hadapannya.


Mengangkat kakinya, Lucy menginjak kaki kakaknya dengan keras sebanyak dua kali, sebelum pergi sambil menghentakkan kakinya. Sepanjang jalan, Arya bisa mendengar Lucy mengutuk David.


David yang kakinya diinjak mengerang kesakitan dan menatap punggung Lucy dengan heran.


"Apa salahku? Kenapa aku diinjak? Itu sakit, tahu!"


"Kamu bertanya kesalahanmu, Kak? Kamu bertanya padaku? Huh, pikir saja sendiri!"


Lucy menoleh pada David dan menatapnya dengan dingin. Di dalam matanya yang dingin itu tampak niat membunuh yang mengerikan.


David bergidik melihat tatapan dingin Lucy. Dia seketika dia. Suasana hatinya yang bagus karena mendapat cuti seketika menjadi buruk karena Lucy.


Mengalihkan pandangannya ke Arya, David bertanya.


"Apakah aku membuat kesalahan? Kenapa kakiku diinjak padahal kalian baru pulang? Di mana letak kesalahanku?"


"Bagaimana lagi, Kak. Semua itu salahmu karena menganggu waktu kami."


Arya hanya bisa menghela napas tanpa daya. Dia tersenyum masam dan pergi meninggalkan David tanpa memberinya penjelasan, membuat kakak Lucy itu semakin kebingungan.


*****


Pada malam harinya.


Di dalam ruang TV, Arya bersama David dan Lucy terlihat sedang berkumpul di sana.


Adapun Lucy, dia duduk di sebelah Arya dan bersandar di bahu pemuda itu, mengabaikan kakaknya. Dia menonton Arya dan David yang tampak bersenang-senang dengan game mereka.


"Arya, bagaimana kabar mama dan Andhika?" David tiba-tiba bertanya, tetap menatap layar TV.


"Mama sehat, Andhika juga sehat. Mereka sepertinya jadi lebih bahagia akhir-akhir ini."


"Jelas mereka bahagia. Kamu selalu mengirimkan uang yang banyak pada mama setiap bulannya."


"Hei, jangan meledekku. Itu sudah kewajibanku sebagai anak untuk menggantikan ayahnya yang tidak berguna untuk memberi nafkah pada keluarganya."


"Ya, kamu benar. Itu kewajiban kita sebagai para pria."


David tersenyum tipis, sementara Arya mendengus pelan.


Bagi keduanya, memberi nafkah untuk keluarga sudah menjadi kewajiban. Terutama David. Sejak kedua orang tuanya meninggal, dia yang menjadi kepala keluarga di keluarganya. Sebagai kepala keluarga, dia jelas harus memenuhi semua kebutuhan yang dibutuhkan keluarganya.


Sementara Arya, dia juga memiliki pemikiran yang sama seperti David. Terlebih lagi, dia tidak ingin menjadi seseorang yang tidak bertanggung jawab seperti Vicky yang hanya bisa menelantarkan keluarganya sendiri hanya demi wanita lain. Dia juga tidak ingin menjadi seseorang yang pelit pada keluarga sendiri.


Dulu, Arya sendiri sering dihasut oleh Vicky. Dia diajarkan hal-hal yang tidak bertanggung jawab, namun karena rasa bencinya pada Vicky yang sangat besar membuat Arya mengabaikan semua kata-kata ayahnya itu. Bahkan sampai saat ini, kebenciannya pada Vicky terus meningkat setiap harinya, meski dia sudah menyiksa ayahnya begitu kejam.


Bahkan sekarang, mendengar nama Vicky saja sudah cukup untuk membuat Arya marah.


Setelah obrolan singkat itu, Arya dan David bermain game mereka lagi sementara Lucy terkadang mengajak Arya mengobrol sesekali.


Tanpa disadari, jam telah menunjukkan pukul sebelas malam.


Arya dan David masih sibuk bermain game, sementara Lucy yang bersandar di bahu Arya menguap, mulai mengantuk.


"Arya, aku ngantuk. Ayo ke kamar, temani aku tidur..."


Lucy mengosok matanya yang berair sehabis menguap.


Mendengarnya, Arya dan David menghentikan game mereka. David menatap Lucy sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke Arya.


"Ini sudah malam, temani dia tidur, Arya."


"Ya, Kak. Selamat malam, Kak. Lucy, ayo."


Arya perlahan bangkit, meraih tangan Lucy untuk membantunya bangun dan keduanya pergi ke kamar sambil bergandengan tangan.


Di dalam kamar, Arya dan Lucy segera berbaring dan mengenakan selimut yang sama.


Arya memeluk pinggang ramping Lucy. Kakinya melingkari kaki Lucy untuk memberinya kehangatan lebih.


Lucy tersenyum hangat dan meringkuk dalam pelukan Arya, merasakan kehangatan yang tak pernah membuatnya bosan. Setiap malam, ketika Arya memeluknya sebelum tidur, dia selalu merasa aman dan nyaman.


"Aku mencintaimu, Lucy."


"Aku juga mencintaimu, Arya."


Sebelum menutup mata mereka, keduanya mengungkapkan perasaan masing-masing dan menutup mata, tertidur dengan senyum bahagia.