Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 59 - Kehangatan yang Sempat Hilang



Setelah dibujuk oleh Lucy, Nia menjadi penurut dan dia segera meminta Arya untuk mengantarnya pulang.


Tiba di rumahnya, Nia mengerutkan dahi melihat botol alkohol kosong yang sudah dibuang di depan rumah. Dia memang sering melihat ayahnya membuang beberapa botol alkohol, tapi dia tidak pernah melihat jumlah yang sebanyak ini.


Turun dari motor Arya, Nia berjalan menuju pintu rumahnya. Dia menatap pintu cukup lama, ragu-ragu antara harus mengetuk atau tidak.


Selama di perjalanan tadi, Nia sudah diberitahu oleh Arya bahwa ayahnya telah berjanji untuk berhenti mabuk-mabukan.


Nia awalnya terkejut dengan ini, tapi karena Arya menjelaskan dengan serius, dia agak yakin.


Saat Nia ragu-ragu untuk mengetuk, pintu tiba-tiba terbuka dengan suara derit, menunjukan sosok pria berusia empat puluhan awal dengan wajah familiar.


Nia terkejut saat melihat ayahnya keluar. Ayahnya benar-benar terlihat berbeda saat ini.


Biasanya, ayahnya akan terlihat berantakan dengan wajah merah karena mabuk dan aroma menyengat alkohol akan selalu menempel pada pakaiannya. Tapi sekarang, ayahnya terlihat segar dengan wajah penuh semangat dan aroma alkohol yang menyengat sudah hilang, digantikan oleh aroma harum dari parfum.


Ayah Nia segera keluar ketika dia mendengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Ketika membuka pintu, orang yang dia harapkan pulang akhirnya berada tepat di hadapannya.


"Nia..."


Ayah Nia memanggil putrinya dengan lembut.


"Nia, maafkan Ayah karena selalu menyusahkanmu. Ayah berjanji, Ayah akan berubah mulai saat ini dan menjadi lebih baik. Ayah tidak akan menyusahkanmu lagi dan akan membuatmu bahagia."


Ayah Nia menepuk bahunya dengan ringan dan berkata dengan serius. Matanya menunjukan tekad yang kuat.


Nia terkejut dan tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Dia kemudian tanpa sadar meneteskan air matanya dan bahunya gemetar. Dia tidak menyangka bahwa apa yang Arya katakan di perjalanan tadi merupakan fakta.


Dia sangat bahagia saat ini.


Menyeka air matanya, Nia menunjukkan senyum manis.


"Aku juga minta maaf, Ayah. Maaf karena telah kabur dari rumah."


"Tidak, Nak. Kamu tidak perlu minta maaf. Ayah yang salah di sini."


Ayah Nia menggelengkan kepalanya. Dia kemudian mengelus kepala Nia dengan lembut.


Nia agak terkejut namun dia segera merasakan kehangatan dari tangan ayahnya. Ini adalah kehangatan yang sempat hilang dan sangat dia rindukan.


Di sisi lain, Arya yang melihat pasangan ayah dan anak itu saling meminta maaf dan saling memaafkan sebagai keluarga ikut senang. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa iri pada Nia, karena gadis itu bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ayah.


Untuk sesaat, wajah Vicky melintas di benak Arya, membuatnya segera menggelengkan kepalanya, tidak ingin mengingat wajah bajingan itu.


Setelah itu, Arya menghampiri Nia dan ayahnya. Dia ingin kembali ke rumah, tidak ingin menggangu waktu keluarga Nia.


"Pak, karena Nia sudah pulang ke rumah, aku pamit dulu."


"Ah, jangan terburu-buru. Kenapa tidak masuk dulu dan istirahat sejenak?"


"Sepertinya itu agak sulit. Aku memiliki beberapa urusan di rumah."


Arya berkata, jelas mengatakan omong kosong. Dia hanya ingin segera pulang ke rumah Lucy agar bisa bermesraan dengannya, itu saja.


"Begitu, ya? Baiklah, jika kau sempat atau sedang berada di dekat sini, jangan sungkan untuk berkunjung."


Ayah Nia tersenyum masam sebelum melanjutkan.


"Selain itu, aku sangat berterima kasih padamu karena telah membantuku tentang hutangku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara membalas semua ini.". Dengan helaan nafas panjang, Ayah Nia tampak agak terbebani.


"Soal itu, tolong jangan terlaku dipikirkan, Pak. Aku melakukannya karena aku ingin, jangan terbebani oleh itu." Arya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya.


"Hutang? Hutang apa, Ayah?"


Nia yang mendengarkan sejak tadi bertanya dengan penasaran.


"Ah, Ayah lupa mengatakan ini. Nia, Kakak ini telah melunasi semua hutang Ayah, jadi jangan lupa untuk berterima kasih padanya."


Ayah Nia menjelaskan dengan senyuman lebar.


Nia jelas terkejut dengan ini. Dia tidak menyangka Arya akan begitu berbaik hati dan melunasi semua hutang ayahnya. Dia tahu jelas berapa jumlahnya, jadi dia tidak bisa menahan kejutan ini.


"Apakah itu benar, Ayah?"


Nia bertanya lagi, meragukan ayahnya. Dia yakin Arya hanya membantu sedikit, tidak banyak. Bagaimanapun, hutang ayahnya hampir tiga puluh juta. Tidak mungkin seseorang seperti Arya mau mengeluarkan uang sebanyak itu dengan mudah. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan ayahnya dari dirinya.


Seakan mengetahui pikiran Nia, Ayah Nia berkata.


"Nia, Kakak ini benar-benar membantu melunasi semua hutang Ayah. Dia bahkan memberikan Ayah saran tempat kerja yang bagus. Jangan meragukannya dan cepat berterima kasih padanya!"


Ayah Nia tegas dan serius, membuat Nia mau tak mau mempercayainya.


Berbalik, dia menatap Arya dengan curiga namun dia segera berkata.


"Terima kasih banyak karena sudah membantu ayahku melunasi hutangnya. Aku tidak akan melupakan kebaikan ini."


Nia membungkuk sedikit dan berterima kasih dengan tulus.


Arya hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Nia, siapa sebenarnya dia? Mengapa dia sangat baik pada kita?"


Ayah Niaa bertanya pada putrinya. Dia sangat penasaran siapa sebenarnya Arya ini. Dia bahkan belum mengetahui namanya, namun pihak lain dengan mudahnya bersikap baik, bahkan melunasi semua hutangnya.


"Hm? Namanya adalah Arya. Dia adalah kakak kelasku, Ayah."


"Arya, ya? Apakah dia dari keluarga kaya, Nia?"


"Tidak juga, dia hanya berasal dari keluarga biasa, kurasa? Ah, tapi dia itu sebenarnya bos toko roti Arcy Bakery!"


Nia tiba-tiba ingat mengapa Arya begitu baik hati dengan membantu melunasi semua hutang ayahnya. Semuanya karena Arya adalah bos toko roti terkenal! Ini menjelaskan semuanya.


Adapun dari mana Nia mengetahui hal ini, semuanya dia ketahui karena rumor tentang Arya yang merupakan bos toko roti Arcy Bakery sudah tersebar di seluruh SMA Daeil. Jadi, tidak heran banyak orang yang mengetahui hal ini.


Ayah Nia melebarkan matanya. Dia menatap Nia dengan ketidakpercayaan dan segera bertanya.


"Apakah itu benar? Dia adalah bos toko roti Arcy Bakery yang selalu ramai itu?"


Meski dia sering mabuk-mabukan, Ayah Nia masih mengetahui beberapa hal yang sedang ramai dibicarakan orang-orang, jadi dia tidak terlalu ketinggalan informasi.


Nia mengangguk penuh keyakinan.


"Ya ampun, dia masih muda tapi sudah sukses! Nia, kamu harus bisa merebut hatinya!'


Nia terkejut dengan ini, tidak menyangka ayahnya akan menyuruhnya melakukan hal semacam itu.


"Ayah, dia sudah memiliki pacar!" Wajah Nia memerah.


"Mereka baru menjadi sepasang kekasih, apa yang perlu kamu khawatirkan? Jika kamu menjadi istrinya, bukankah statusmu akan lebih tinggi dari sekedar pacar?" Ayah Nia tertawa kecil.


Esok harinya, Ayah Nia datang ke alamat yang Arya berikan padanya di kartu nama kemarin. Dia hanya datang untuk mencari keberuntungan. Namun, apa yang membuatnya terkejut adalah ternyata alamat yang Arya berikan adalah alamat dari cabang utama Arcy Bakery.


Setelah dia tiba dia sana, dia langsung diterima bekerja tanpa syarat apapun.


Ayah Nia gemetar karena gembira. Jika dia bekerja di tempat ini, gaji yang dia dapatkan jelas cukup, bahkan lebih untuk kehidupan sehari-harinya dengan Nia.


Dengan ini, Ayah Nia tidak khawatir tentang keuangan keluarganya. Dia sekali lagi sangat berterima kasih pada Arya. Jika bukan karena pemuda itu, dia pasti masih menjadi seorang pemabuk.


Adapun alasannya diterima bekerja tanpa syarat apapun, semuanya berkat pengaturan Arya.


Dengan begitu, Ayah Nia mulai bekerja di toko roti milik Arya.


*****


"Bagaimana, apakah Nia sudah berbaikan dengan ayahnya?"


Ketika Arya tiba di rumah Lucy setelah mengantar Nia pulang, dia segera disambut hangat oleh Lucy sesaat setelah dia memasuki ruang tamu. Gadis itu segera berlari padanya dan memeluknya, lalu berkata demikian.


Arya secara alami senang karena dipeluk dan segera meraih pinggang Lucy, membalas pelukan gadis tersebut.


"Ya, Nia dan ayahnya sudah baikan. Juga, karena ayah dan anak itu sudah akur kembali, Nia seharusnya tidak datang ke sini lagi, kan?"


"Siapa yang tahu? Tapi, aku berharap dia tidak datang selama beberapa hari ini. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, Arya."


Lucy menatap Arya, matanya lembab dan sedikit berkaca-kaca. Ekspresinya memohon dan suaranya begitu manis, membuat Arya bahagia dan jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.


Arya tersenyum hangat, lalu mempererat pelukannya.


Lucy membiarkannya dan menikmati kehangatan tubuh Arya dan membenamkan wajahnya ke dada pemuda tersebut. Dari sana, dia bisa mendengar suara detak jantung Arya yang lebih cepat dari biasanya. Ini membuatnya diam-diam tersenyum bahagia.


"Ehem!"


Sebuah suara dehaman datang tidak jauh dari tempat Arya dan Lucy berpelukan. Orang yang berdeham itu secara alami adalah David.


Saat ini, dia sedang duduk di sofa sambil mengerjakan beberapa pekerjaan kantornya, sampai tiba-tiba ada sepasang kekasih yang tidak tahu malu berpelukan di depan matanya, membuatnya tidak bisa menahan rasa kesal dan iri.


Dia seorang single, jadi melihat pasangan kekasih ini saling berpelukan di depan matanya, dia jadi iri.


Sejak SMP, SMA bahkan setelah lulus dan berkerja seperti sekarang, David belum pernah memiliki seorang kekasih. Dia juga ingin merasakan berpegangan tangan, berpelukan dan ciuman. Dia ingin melakukan semua itu. Tapi karena dia single, siapa yang bisa dia peluk?


Oleh karena itu, begitu Arya dan Lucy berpelukan di depan matanya, dia segera memberi kode agar keduanya melepaskan diri.


Mendengar ini, Arya dan Lucy berdecak kesal. Mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bermesraan akhir-akhir ini karena ada Nia. Jadi, saat mereka menemukan waktu yang tepat, mereka ingin segera bermesraan. Tapi, siapa yang mengira kalau akan ada penggangu lain selain Nia?


"Kak, kau harus segera mencari seorang kekasih, jadi kau tidak iri saat melihatku dan Lucy bermesraan." Arya mengejek, tidak melepaskan pelukannya dari Lucy.


Lucy sendiri tetap diam dan membenamkan wajahnya ke dada Arya, sepenuhnya mengabaikan kakaknya.


Sudut mata David berkedut mendengar ini.


"Apakah kau pikir aku ini iri? Omong kosong! Aku hanya tidak nyaman melihat kalian berpelukan di depan mataku. Selain itu, tidak sopan berpelukan di depan Kakak kalian!"


"Kak, kau itu hanya iri. Jangan membuat alasan tidak masuk akal seperti ini!"


David hanya mendengus dingin, terlalu malas untuk berdebat dengan Arya.


Setelah itu, Arya dan Lucy menuju ruang TV dan bermesraan sepuas mereka pada hari itu.