Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 49 - Kak Lucy, Aku Menyukaimu!



Bel sekolah berbunyi, menandakan selesainya seluruh pelajaran di sekolah. Para siswa segera meninggalkan gedung sekolah dan kembali ke rumah masing-masing.


Di parkiran motor, Arya dan Lucy terlihat sudah siap di atas motor dan hendak pulang.


Namun, tiba-tiba motor Arya dihalangi oleh seorang gadis berambut hitam.


Gadis itu membuka kedua tangannya dan dia mengerutkan dahinya. Ekspresinya serius dan dia terlihat tidak berniat menyingkir dari hadapan Arya.


Wajah Arya langsung penuh kedutan ketika dia menyadari siapa sebenarnya gadis ini.


Dia secara alami adalah Nia.


"Minggir, atau kutabrak kau!"


Arya berkata dengan kesal.


"Tidak, ada hal yang ingin ku tanyakan pada Kak Lucy!" Nia tetap berdiri di depan motor Arya.


Ekspresinya tidak berubah dan dia menatap Lucy dengan tajam.


Arya dan Lucy lalu turun dari motor.


Lucy menatap Arya dengan kebingungan dan dia bertanya-tanya, siapa sebenarnya gadis ini?


Arya tidak berniat menjelaskan pada Lucy dan segera mendekati Nia.


"Apa lagi yang kau inginkan, sialan?! Jika kau mengatakan omong kosong lagi, aku benar-benar tidak akan segan lagi padamu!"


Arya berbisik pada Nia namun gadis ini mengabaikannya sepenuhnya, membuatnya jengkel bukan main.


Nia hanya mendengus dan melewati Arya, langsung menghampiri Lucy dan berdiri di hadapannya.


'Sial, apa yang sebenarnya gadis ini ingin lakukan?!'


Jantung Arya berdetak kencang. Dia memucat dan keringat dingin memenuhi dahinya.


Dia benar-benar takut jika Nia mengatakan sesuatu yang membuatnya dalam masalah. Lagi pula, gadis ini, Nia, sepertinya benar-benar jatuh hati padanya.


Lucy kebingungan dengan Nia yang tiba-tiba menghampirinya.


"Apakah kamu memiliki keperluan denganku?"


Lucy bertanya dengan agak canggung.


"Ya, aku ingin bertanya padamu, Kak Lucy. Kapan Kakak akan putus dengannya?"


Nia bertanya dengan serius saat dia menunjuk Arya.


Lucy melebarkan matanya dan dia segera mengerutkan dahinya, merasa tidak senang.


Dia dan Arya baru pacaran kurang dari satu minggu, jadi bagaimana mungkin dia putus begitu cepat? Ini membuatnya kesal dan agak marah pada Nia.


Gadis ini tiba-tiba datang padanya dan menanyakan kapan dia akan putus dengan Arya.


"Ah, Lucy... Ini..."


Arya segera buka suara, ingin menjelaskan. Tapi sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Lucy sudah menatap tajam padanya.


"Arya, siapa gadis ini? Kamu sepertinya mengenalnya."


Lucy bertanya dengan dingin. Dia dengan jelas melihat Arya berbisik pada Nia tadi, jadi dia tahu kalau ini bukan pertama kalinya keduanya bertemu.


Arya menelan ludahnya ketika mendengar ini.


"Lucy, apakah kamu ingat aku pernah diikuti oleh seseorang akhir-akhir ini? Ternyata yang mengikutiku adalah gadis ini."


Arya menggaruk pipinya, agak canggung


Lucy mengerutkan dahinya dan menatap Arya lalu menatap Nia.


Nia memiliki ekspresi serius di wajahnya, menunggu jawaban dari Lucy.


Setelah beberapa saat hening, Lucy menghela nafas.


"Apa alasanmu melakukan semua ini? Kau mengikuti Arya dan sekarang bertanya kapan aku akan putus darinya. Kau pasti punya alasan mengapa melakukan semua ini, kan?"


Lucy merasakan sakit kepala. Dia diam cukup lama tadi karena memikirkan beberapa hal dan mencoba menenangkan diri.


Selain itu, dia memiliki kecurigaan bahwa Nia sebenarnya jatuh hati pada Arya dan berniat merebutnya dengan menanyakan kapan keduanya putus.


Jika kecurigaannya ini benar, maka Lucy tidak akan segan-segan pada Nia.


Mengangguk, Nia tersenyum. Matanya berbinar dan dia terlihat menjadi bersemangat.


"Kak Lucy, kenapa kamu menyukai pria sepertinya? Dia itu hobi berkelahi dan sering membuat masalah. Kenapa Kakak malah menyukainya? Dengan kecantikan Kakak, bukankah Kak Lucy bisa mendapatkan yang lebih baik?"


Nia berkata demikian dengan cepat. Dia beberapa kali menunjuk Arya, membuat pemuda tersebut berkedut tanpa henti.


Terlebih lagi, ucapan Nia membuat Lucy semakin tidak senang dan dia agak terkejut dengan ini. Adapun Arya, jantungnya berdebar kencang, ketakutan dan dia berkeringat dingin.


"Kak Lucy, ini tidak adil! Kenapa Kakak malah menyukainya? Aku yang menyukai Kak Lucy lebih dulu, jadi seharusnya Kakak bersamaku, bukan dia!"


Nia tiba-tiba maju dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Lucy, membuat gadis tersebut terkejut dan kebingungan.


Arya terdiam dan wajahnya berubah merah padam karena malu.


Mendengar apa yang dikatakan Nia baru saja, Arya menyadari bahwa Nia sebenarnya menyukai Lucy, bukan dirinya. Ini membuatnya sangat malu pada diri sendiri.


Lagi pula, dia sudah merasa bangga pada dirinya karena ada seseorang yang jatuh cinta padanya. Tapi ternyata, semuanya salah.


Berpindah pada Lucy, dia masih dalam keterkejutan. Nia yang berada dalam pelukannya terus-menerus terkekeh dan bergumam.


"Tu-tunggu, bisakah kau perjelas lagi? Juga, lepaskan aku!"


Lucy akhirnya mendapat kembali kesadarannya.


Nia dengan patuh melepaskan pelukannya dan tersenyum manis pada Lucy.


"Kak Lucy, aku menyukaimu! Putuslah dengan pria ini, jadi tidak ada yang menganggu kita ke depannya!" Nia menunjuk Arya.


Lucy kembali terdiam dan kebingungan mendengar ini.


Arya menghela nafas melihat Nia yang sepertinya tidak akan menyerah dengan mudah ini.


"Jad, maksudmu, kau menyukai Lucy? Alasanmu bertanya kapan aku dan Lucy putus itu karena kau menyukainya? Jika memang begitu, apa hubungannya dengan kau mengikuti beberapa hari terakhir?"


Kini Arya yang buka suara. Dia bertanya dengan bingung.


"Huh, tentu saja aku mengikutimu karena aku ingin kau menjauh dan putus dari Kak Lucy. Kak Lucy itu cantik, jadi dia tidak cocok bersamamu yang sering membuat masalah dan hobi berkelahi!"


Nia mendengus dan nadanya jijik dan ada senyum mengejek di bibirnya.


Arya berkedut dengan ini dan menjadi kesal. Baru kali ini dia mendengar ucapan yang sangat menjengkelkan seperti itu. Jika bukan karena Nia adalah seorang gadis, maka dia sudah lama memukulnya.


"Tunggu sebentar, bukankah ini aneh? Kenapa kau menyukaiku? Seharusnya yang kau sukai itu Arya, bukan aku!"


Lucy berkata setelah diam sesaat.


Dia mengira Nia memintanya putus dengan Arya karena Nia menyukai Arya. Tapi setelah mengetahui alasannya, dia kebingungan dan tidak tahu harus berkata apa.


"Kenapa aku harus menyukainya? Aku menyukaimu, Kak Lucy, bukan dia!"


Nia terdengar kesal dan melirik Arya dengan jijik untuk sesaat.


'Apa yang sebenarnya gadis ini pikirkan? Aku sama sekali tidak paham dengan jalan pikirnya!' Lucy terdiam dan berpikir demikian.


Dia benar-benar tidak paham dengan jalan pikir Nia. Lagi pula, berbicara secara logika, seharusnya Nia menyukai Arya karena Nia adalah seorang gadis dan Arya adalah pria.


Tapi kasus Nia ini, dia malah menyukai Lucy, yang mana keduanya adalah wanita.


'Apakah gadis ini memiliki kelainan?' Pikir Lucy.


Lucy sendiri yakin dengan wajah tampan yang dimiliki Arya, seharusnya tidak masalah untuk menarik beberapa orang untuk membuatnya jatuh hati hanya mengandalkan wajahnya saja.


"Jadi bagaimana, kau mau aku dan Lucy putus?" Arya bertanya, setengah bercanda setengah meledek.


"Ya, tentu saja!"


"Tidak semudah itu. Aku tidak akan menyerahkannya secara cuma-cuma."


"Kalau begitu, aku akan merebutnya darimu!"


Nia lalu kembali memeluk Lucy. Pelukannya begitu erat seakan jika dia melepaskannya, maka Lucy akan langsung dicuri oleh Arya.


Arya yang melihat itu terdiam dan terkejut. Dia tidak menyangka kalau Nia akan begitu agresif sehingga berani memeluk Lucy di hadapan orang lain.


Parkiran motor memang cukup sepi, tapi itu bukan berarti tidak ada orang sama sekali. Ada kurang lebih selusin orang di sini dan mereka semua memfokuskan pandangan ke Nia dan Lucy.


Arya yang menyadari tatapan sekitar merasa agak malu. Dia kemudian meraih kerah belakang Nia dan menariknya.


"Baiklah, lepaskan Lucy sekarang! Jangan buat malu!"


"Ah! Jangan ganggu aku! Aku tidak akan melepaskan Kak Lucy sebelum kau putus dengannya!"


"Baiklah, baiklah! Lepaskan Lucy lebih dulu dan aku akan melakukan apa yang kau inginkan!"


Arya tidak memiliki pilihan lain selain berkata omong kosong untuk saat ini.


Nia langsung melepaskan pelukannya dengan patuh. Matanya menunjukan kebahagian dan dia jadi lebih bersemangat daripada sebelumnya.


Lucy agak terkejut dengan ucapan Arya tapi dia tahu kalau Arya tidak serius.


"Nah, begini lebih baik. Lucy, ayo pulang. Aku lelah meladeni gadis gila ini."


Arya meraih lengan Lucy dan menariknya, mengajaknya naik ke motor lagi.


Lucy tidak mengatakan apapun dan mengikuti dengan patuh.


Arya langsung menancap gas motornya dan pergi meninggalkan Nia.


Ekspresi Nia menggelap seakan awan mendung menutupi wajahnya. Bahu halusnya gemetar dan tidak ada yang tahu ekspresi macam apa yang dia buat.


Dengan bahunya yang gemetar, air mata memenuhi sudut mata Nia. Dia merasa kesal dan merasa ditipu oleh Arya. Baru saja, pemuda itu bilang akan melakukan apa yang dia minta, tapi sesaat kemudian, dia malah ditinggal.